
"Baiklah kita masuk ke dalam . aku tunjukkan kamarmu."
Shendi memasuki rumah diikuti Lingga dengan kopernya. Lingga berdecak kagum. Rumah ini dari luar terlihat sederhana hanya terbuat dari kayu. Namun ketika sampai didalam. Ternyata bangunannya terlihat jelas sangat kokoh . Interiornya klasik , simpel namun berkelas.
Satu lagi Lingga mulai mengenal lebih dalam karakter Shendi. Selain sederhana , bosnya juga menyukai barang barang antik. Piano , vespa hijau itu , bufet kaca , dan barang barang lain yang terpajang diruang depan. Tidak banyak yang dipajang namun justru terlihat menonjol.
"Kamu pakai kamar itu," Shendi menunjuk kamar yang terletak disamping kamar utama.
"Sebelahnya adalah kamarku. Dan dilantai atas sana kamar Yas dan Ramanda. Satu lagi adalah kamar Tiara."
"Jadi Aubery pernah benar benar tinggal disini ya mas?" Lingga keceplosan. Ia segera menutup mulutnya. "Maaf mas, sudah lancang."
Berita berita itu sangat heboh . Bahkan sampai sekarang. Tidak ada konfirmasi sama sekali dari Aubery Tsang maupun Shendi yang sosoknya masih misterius. Sangat sulit mencari Informasi tentang Shendi. Sampai sekarang, Publik percaya , Shendi adalah hanyalah orang biasa yang mendapat keberuntungan semata .
" Awalnya aku berniat memberi dia pelajaran. Membawanya kemari agar mengerti bagaimana rasanya menjadi orang susah. Mencari sesuap nasi dengan tangan sendiri. Tanpa mengandalkan warisan orang tua."
Shendi memasuki kamar yang masih kosong itu. Lingga mengikuti dari belakang. Mendengar dan mencoba memahami setiap kata yang keluar dari bibir Shendi.
"Selama 14 hari disini. Aku melihat Aubery memiliki sisi berbeda. Dia menyayangi adik adikku. Sifat keibuannya ternyata membuat adik adikku mulai tergantung padanya."
"Dan aku ... , yang awalnya tidak tulus. Tanpa aku sadari menjadi tulus dalam proses itu, aku mulai memakai perasaan," Shendi duduk ditepi ranjang. Tertawa sekilas menyadari dirinya lemah dalam hal pendirian.
"Tiara, aku mencintainya ..." Pandangan Shendi kembali kosong menatap keluar jendela.
Flashback on
"Mas, mas Shendi ... "
Shendi yang sedang berbaring diranjang sambil mata terpejam. Ia sedang mendengarkan musik dengan headset di telinganya. Hingga sikembar harus menggoyang tubuh kakaknya karena beberapa kali dipanggil namun kakaknya tidak merespon.
"Apa ... " jawab Shendi tanpa membuka matanya. Yas menarik headset dari telinga Shendi. Seketika Shendi langsung membuka mata dan menatap adiknya.
Mood kakak laki lakinya sedang tidak bagus. Langsung masuk ke kamar setelah uring uringan diruang belakang. Shendi lagi galau karena Tiara. Kakak cantik yang dia bawa pulang , sudah mencuri hatinya.
Ramanda mengerling pada Yas.
Ayo mulai...
Yas paham lalu mengangguk.
"Mas Shendi ... "
Shendi mengernyit. Ada yang tidak beres dari nada adik perempuannya. Siapa yang tidak hafal dengan kebiasaan mereka jika sedang ada maunya . Kita lihat apa mau dua setan kecil ini.
"Kepang rambutku seperti yang biasa Ibu Tiara lakukan?"
"Apa?" Shendi menatap Yas dengan rambutnya yang berantakan belum disisir .
"Kamu sudah tahu mas tidak bisa mengepang, dan satu lagi...," berhenti sejenak.
__ADS_1
"Sandiwara sudah selesai. Dia bukan ibu kalian lagi!" pungkasnya sambil memakai kembali headsetnya.
"Kalau begitu bawa dia kembali. Kami sangat merindukannya. Apa mas tidak merindukan kakak Tiara??" Ramanda kini kembali menarik headset.
"Hah..." Shendi membuang nafas berat. Ditatapnya adik adiknya satu persatu. Membawa Tiara kembali kesini memangnya semudah membeli kambing dipasar. Cocok , bayar , bawa pulang.
"Dia sudah kembali di kehidupannya sendiri. Hidup tenang dirumah besar dengan banyak pelayan."
"Disini bukan rumahnya..." ucapnya pelan. Berharap adik adiknya mengerti.
"Lagipula ... , sekarang dia sangat membenci mas Shendi. Bahkan lebih dari sebelumnya..." manyun bibir Shendi mengingat kejadian semalam.
Tiba tiba Aubery melabraknya ,memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Tatapannya penuh kebencian. Sambil menunjukkan berita di layar hpnya.
Seorang pria bernama Shendi membawa lari Aubery Tsang.
Aubery tidur seranjang dengan kekasihnya.
Dan kabar yang paling heboh. Sebuah kisah yang terjadi didepan rumah sakit Ibu dan anak. Aubery menuntut Shendi untuk menjelaskan yang terjadi .
Aubery sangat marah. Bahkan hadiah tamparan kembali dia dapat. Berkali kali Aubery mengucapkan bahwa ia sangat membencinya.
"Mas ... " Melihat Shendi kembali melamun sikembar memeluk kakaknya dengan kasih sayang. Mereka tahu kakaknya lebih merindukan Tiara. Kalau tidak, mana mungkin Shendi bicara seolah olah sedang ada Tiara disekitarnya. Kakak kesayangan sedang menderita kangen yang begitu berat.
"Mas Shendi sudah susah payah membesarkan kami berdua. Merawat kami dengan penuh kasih sayang. Mas seperti seorang Ayah sekaligus Ibu buat kami."
"Ch... kalian ini lagi ngomong apa sih??" Shendi malah gugup Adik adiknya serius begini.
Shendi terdiam menatap Ramanda.
"Mas Shendi hanya sibuk mengurus kami. Bekerja keras mencari uang siang dan malam. Tanpa memikirkan diri mas sendiri." lanjut Ramanda.
"Mas ... , kita sudah besar. Tahun ini kita 8 tahun. Mas Shendi sudah tidak perlu terlalu menghawatirkan kami. Kejarlah apa yang menjadi cita cita mas Shendi. Impian mas Shendi." Yas mulai berkaca kaca. Nada suaranya juga mulai berubah cengeng. Yas menangis??
Ramanda mulai terisak. Dipeluknya lebih erat tubuh Shendi.
"Kalau mas menyukai kakak Tiara. Kejarlah... berjuanglah untuk mendapatkan cintanya kembali."
"Kami juga sangat menyukai kak Tiara. Jadikan dia kakak ipar kami... "
Shendi terhenyak dengan ucapan sikembar. Apa mereka sedang mendorongnya untuk mengejar Aubery.
Ah... Anak anak lebih cepat peka. Maafkan diriku yang terlambat dewasa.
"Kami tahu , mas tidak akan mudah menyerah. Mas Shendi ganteng dan cukup kaya. kak Tiara pasti akan kembali menyukaimu"
"Hei..." Shendi mendelik mendengar ucapan terakhir Ramanda. Kaya atau ganteng bukan senjata Shendi untuk menarik perhatian para gadis. Ia cukup percaya diri meski dirinya miskin sekalipun. Banyak kok yang mengejar ngejar cintanya. Contohnya mbak Sari . Mbak Sari tahunya dia hanya seorang pemasok telur dan ayam kampung.
"Mas Ayolah... , semangat untuk mendapatkan kak Tiara lagi. Kami mendukungmu." Yas membela Ramanda.
__ADS_1
" Dan jangan terlalu pelit. Belilah mobil yang bagus seperti punya Samy. Sekaligus rumah yang besar seperti rumah kak Tiara!"
"Mas sudah punya simanis , mau mobil yang seperti apa lagi. Dan soal rumah jangan terlalu berharap. Sebelum kalian dewasa dan memiliki prestasi. Mas tidak akan membeli rumah."
"Mas bilang mau merekrut orang. Berarti jumlah keluarga kita bertambah satu. Mas yakin akan tetap mengandalkan simanis??" Ramanda serius menatap Shendi.
"Kalau begitu beli mobil saja, belilah yang sesuai dengan selera mas Shendi. Dan perjuangkan cinta mas Shendi. Kami mendukungmu!!"
" Kalian ini kenapa tiba tiba menjadi matrealistis. Mas tidak pernah mengajarkan kalian seperti ini." ucap Shendi mengelus kepala kedua adiknya.
Malam itu. Mereka tiga bersaudara mengobrol sampai hampir larut malam.
Sikembar kembali ke kamar mereka ketika jam sudah menunjuk ke angka 9.
Setelah berpikir cukup lama. Shendi memutuskan untuk menuruti kemauan sikembar membeli mobil. Ia menghubungi Arif tengah malam. Membuat janji untuk menemaninya membeli mobil.
Flashback off
"Mas, biar saya yang menyiapkan makan malam!"
Shendi yang hendak keluar dari kamar Lingga mendadak menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah Lingga.
"Bagaimana mungkin aku membiarkanmu bekerja sedangkan kamu baru tiba."
"Santailah ... , jangan terlalu kaku. Aku senang jika kamu menganggapku sebagai temanmu atau saudaramu."
Lingga tak tau harus menjawab apa. Kesan pertamanya setelah tiba di rumah kayu. Shendi orangnya mudah akrap. Santai tentu saja. Dan adik adiknya cukup manis dan patuh.
Semoga semuanya lancar. Pekerjaan baru , semangat juga harus baru.
.
.
.
.
.
. Bersambungπ€
.
.
.ππππππππππππππ
.ππππππππππππππ
__ADS_1
.β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ