KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG

KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG
Episode 102


__ADS_3

Setelah beberapa puluh menit kemudia Xun Zhi, Shuin serta Ling Mei telah sampai di dalam Paviliun penginapan yang dimiliki oleh keluarga Ling Mei. Ketiganya berjalan dengan santainya dan dengan wajah yang ceria setelah mendapatkan barang-barang yang bagus di menangkan di pelelalngan.


"Pelayan cepat bikinkan aku makanan yang paling enak, karena aku ingin merayakan hatiku yang sedang senang ini!"


Ucap Ling Mei kepada salah satu pelayannya yang ada disana dengan wajah yang gembiranya bukan main. Kemudian pelayan pria yang mendengar pun menunduk dan menuruti perkataan Ling Mei.


Kemudian Ling Mei, Xun Zhi serta Shuin berjalan menuju ruangan makan VIP yang mereka tempati.


Disisi lain kira-kira jaraknya lima puluh kilometer dari paviliun milik keluarga Ling Mei. Di suatu kani bukit ada sebuah rumah besar nan megah bergaya china kuno berdiri di tanah yang luas nya sekitar ratusan hektar dimiliki oleh Tun Tiang.


Saat waktu sore menjelang malam itu ia sedang duduk di bangku mewahnya sambil meminum segelas teh barley dengan perlahan dan menikmatinya. Dan di sampingnya ada seorang pemuda yang umurnya kira-kira dua puluh sembilan tahunan, ia adalah prajurit ke percayaan Tun Tiang yang bernama Ceng Man.


Ia berkulit putih, sebelah matanya terlihat ada bekas tebasan yang panjangnya sekitad lima belas cm, memakai baju serba hitam dan juga ia memiliki dua pedang di dalam serangka berwarna hitam pula dengan motif naga hitam Long Heian yang tersanggah di belakang punggungnya.


Tun Tiang yang telah meneguk teh dengan perlahan pun menaruh kembali gelas teh nya secara perlahan.


"Ceng Man. Aku ingin kau memberi tahu kepada para komandan prajurit untuk segera kesini karena ada urusan penting yang ingin aku bahas."


Dengan mata yang tertutup dan juga nada suara yang cukup lembut Tun Tiang berkata kepada Ceng Man.


"Baiklah tuan Tun Tiang akan aku lajsanakan segera."


Kemudian Ceng Man yang berdiri di samping Tun Tiang bergegas pergi dengan cepat seperti angin yang berhembus untuk melaksanakan perintah dari Tun Tiang untuk memanggil para komandan yang Tun Tiang punya.


Tun Tiang pun tersenyum setelah kepergian Ceng Man dan perlahan mulai menunjukkan wajah kesal sambil menggenggam gelas teh nya erat-erat hingga membuat retakan di gelas itu.


"Sialan ****** itu berani sekali ia mempermakukan ku serta derajatku di pelelangan tadi. Tunggu saja sesaat lagi aku akan membalas perbuatan mu dan membuatmu sadar bahwa perbuatan yang kau lakukan itu adalah sebuah kesalahan ****** Ling Mei dari keluarga Ling!"


Setelah selesai berkata begitu, gelas yang di genggam sangat erat oleh Tun Tiang pun pecah berkeping-keping hingga pecahanya pun berserakan di ruangan itu dan air teh yang tersisa di dalam gelasnya pun membasahi tangan Tun Tiang, meja serta karpet yang sangat mewah di ruangan itu.


Sementara itu di sisi lain Ceng Man yang telah berada di halaman dan sedang berjalan susah sampai di sebuah bangunan yang seperti pilar namun besar dan berwarna merah bercampur hitam.


Ceng Man pun bergegas melangkah mendekati pintu bangunan rumah yang seperti pilar itu, lalu tak lama sudah di depan pintu ia mengetuknya dengan perlahan.


"Permisi Bun Zu apakah kau ada di dalam?"


Dengan sopan Ceng Man berkata begitu.


"Yah aku ada disini silahkan masuk."

__ADS_1


Ceng Man yang telan mendapatkan jawaban dari seorang lelaki yang suaranya begitu tinghi dan berat pun membuka pintu dan masuk ke dalam rumah yang di tinggali oleh Bun Zu salah satu dari lima jenderal pasukan milik Tun Tiang. Wajahnya nampak lebih muda dari Ceng Man seperti umur dua puluh tahunan akan tetapi pada kenyataannya umurnya Bun Zu lebih tua dua puluh tahun dari Ceng Man. Bun Zu memiliki rambut berwarna putih serta matanya yang berwarna merah menyala seperti ruby dan ia adalah yang terkuat dari kelima jenderal lainnya.


"Salam kepada atasan Ceng Man."


Ucap Bun Zu sambil membungkuk memberi hormat kepada Ceng Man.


"Bun Zu aku datang kesini karena kau mendapatkan panggilan dari tuan besar Tun Tiang serta mau juga harus memanggil tiga empat komandan lainnya untuk menghadap ke ruangan tuan besar."


"Baiklah kalau begitu tuan setengah jam lagi kami akan menemui tuan besar."


Setelah bercakap begitu Ceng Man pun kembali menuju ke ruangan yang di tempati oleh Tun Tiang, sementara Ceng Man yang sedang memakai baju santainya pun bergegas mengganti pakaian nya dengan seragam yang biasa ia kenakan dan tak lupa jirah besi yang berwarna merah.


Setelah persiapan ia selesai ia pun berangkat menuju ke kediaman ke'empat jenderal lainnya untuk menyampaikan pesan yang baru saja di sampaikan oleh Ceng Man.


Setengah jam pun berlalu, kelima jenderal bawahan milik Tun Tiang pun telah berkumpul dan sedang berdiri tegap di hadapan Tun Tiang yang sedang duduk.


"Baiklah karena semuanya sudah disini aku akan menyampaikan sesuatu yang penting."


Ucap Tun Tiang dengan wajah serius serta eajah yang nampak kesal. Para jenderal pun terkejut karena baru sekarang ini mereka melihat wajah pemimpinnya yang t nampak kesal.


"Ada hal penting apa yang ingin anda sampaikan tuanku?"


"Karena kalian adalah jenderal ku yang sangat ku percaya, aku memberikan sebuah perintah khusus kepda kalian. Aku ingin kalian merebut patung buddha yang siang tadi di menangkan oleh Ling Mei dari keluarga Ling."


Kelima jenderal pun sangat terkejut mendengar pernyataan dari Tun Tiang dan untuk beberapa detik mereka berlima terdiam tanpa berkata apa-apa. Lalu tak lama kemudian jenderal yang bernama Shiu Lun pun berkata.


"Tuan Tun Tiang apakah anda tidak terlalu gegabah? Jika kita mencoba mengusik keluarga pedagang Ling yang kekuatan tempurnya sama dengan kerajaan kabut hitam kita ini, itu akan mengakibatkan negara kita ini dalam kekacauan besar?"


"Aku tidak peduli soal itu! Jika kita membiarkan keluarga Ling memiliki patung buddha emas itu maka kekuatan mereka akan bertambah besar dan menjadi ancaman buruk bagi kerajaan kita!"


Shiun Lun tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar perkataan Tun Tiang debgan nada yang keras.


"Tuanku apakah benda patung buddha emas yang dimiliki oleh keluarga Ling itu sebegitu istimewanya?"


Ucap Bun Zu yang penasaran ajan kekuatan patung buddha emas.


"Patung buddha itu adalah patung yabg sangat istimewa karena patung itu bisa meningkatkan kekuatan tempur pengunanha serta para prajurit atau pengikutnya dan juga teman serta sekutunya menjadi tiga kali lipat serta meningkatkan pertahanan mereka sampai lima kali lipat dalam psrtarungan setelah mereka mendapatkan ilmu rahasia yang ada di dalam patung itu!"


Bun Zu yang nengetahuinya nampak sangat terkejut dan membayangkan kekuatan patung buddha jika ada orang yang sudah mencapai kultivasi setengah dewa dan memaikainya bisa menjadi sekuat dewa.

__ADS_1


"Untuk kalian semua para jenderalku, ini perintah dariku. Cepat kalian rebut patung buddha emas dari tangan Ling Mei bagaimanapun caranya!"


"Baiklah tuan Tun Tiang!"


Jawab kelima jenderal dengan tegas dan setelah itu kelimanya pergi dari ruangan itu meninggalkan Tun Tiang dan juga Ceng Man. Setelah kelimanya pergi Tun Tiang tersenyum lebar.


"Hahaha rasakan kau Ling Mei si wanita ****** dari keluarga Ling, malam ini kau nikmati balas dendamku karena telah menghinaku serta mengambil barang yang harusnya menjadi milikku hahaha..."


Begitu ujar hati Tun Tiang.


Ling Mei yang setelah selesai makan di ruangan Vip di paviliun milik keluarganya pun tiba-tiba merasa merinding dan tingkanya itu terlihat oleh Shuin dan Xun Zhi.


"Hei Ling Mei kenapa kamu?"


Ucap Shuin yang sedang duduk di sampingnya.


"Aku tidak tau, tiba-tiba tubuhku menjadi merinding!"


"Palingan ada yang sedang ngomongin nona Ling Mei."


Setelah berkata begitu Xun Zhi tersenyum kecil.


"Ku harap yang membicarakanku tidak membicarakan yang jelek-helek yah."


"Yasudah kalau begitu Ling Mei sekarang lebih baik kita segera ke kamar yuk aku ingin segera istirahat."


"Yasudah kalau begitu Shuin. Ohh iya Xun Zhi apakah kau akan kembali ke kamarmu juga?"


"Ahh akupun akan kembali nanti ke kamarku dan mencoba untuk berisitirahat karena besok ada sesuatu yang ingin aku coba. Kalian boleh ke kamar kalian duluan nona-nona."


"Yasudah kalau begitu kami duluan yah."


"Hmmmpp..."


Ling Mei dan juga Shuin pun berjalan menuju ke kamar yang mereka berdua tempati semalam. Srmentara itu Xun Zhi melamun tak berkata apa-apa.


Sekitar beberapa menit kemudian, Xun Zhi pun berdiri dari duduk nya dan berjalan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


(BERSAMBUNG)

__ADS_1


__ADS_2