KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG

KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG
Episode 106


__ADS_3

Sementara itu di waktu yang sama Bun Zu, Shiu Lun, Xin Taohu serta satu orang jenderal yang sedang membawa mayat rekannya di suruh oleh Tun Tiang untuk mencuri patung buddha emas pun tengah kembali di depan gerbang kediaman Tun Tiang.


Mereka berempat belum membuka pakaian penyamarannya hingga membuat keenam orang prajurit penjaga gerbang pun langsung mengacungkan tombak mereka berempat.


"Hei siapakah kalian? Berani sekali yah kalian datang kesini. Apakah kalian sudah bosan hidup!" ucap salah seorang penjaga gerbang dengan tegas memperingati.


"Heee... ternyata sekarang kau berani membentak atasanmu hah!" Jawab Bun Zu dengan tegas pula bersamaan dengan ia membuka penutup wajahnya.


Para prajurit yang tadinya menodongkan senjata pun langsung berlutut memberi hormat kepada Bun Zu.


"Maafkan kami jenderal, kukira tadi anda adalah orang mencurigakan yang akan menyerang kediaman ini." Ucap seorang prajurit yang tadi menegur Bun Zu.


"Iya, iya. Untuk sekarang cepat buka gerbangnya, karena aku ingin segera masuk kedalam untuk membuat laporan kepada tuan." Begitu ketus Bun Zu.


Tak lama para penjaga membukakan gerbang, lalu Bun Zu, Shiu Lun, Xin Taohu serta satu orang jenderal yang membawa mayat rekannya pun masuk ke dalam kediaman Tun Tiang. Sampainya di aula perkumpulan, terlihat ada Tun Tiang yang sedang duduk dengan santai serta raut wajah sombongnya menunggu kedatangan jenderal-jenderalnya.


"Akhirnya kalian datang juga. Jadi bagaimana apakah kakian berhasil mendapatkan patung buddha emas dari tangan Ling Mei?" Begitu tanyanya dengan suara yang berat.


Keempat jenderal yang mendengar pertanyaan dari Tun Tiang tak bisa menjawab. Lalu Tun Tiang pun sadar bahwa ada yang kurang, yaitu satu orang jenderal yang tidak menghadap kepadanya, "Jadi kemana seorang jenderal yanv aku utus Bun Zu?"


Bun Zu menundukkan kepalanya, "Un-Untuk itu tuan, di-dia terbunuh saat disana dan itu dia mayatnya."


Tun Tiang langsung bangkit seketika dari bangkunya karena terkejut serta matanya membelalak.


"Apa kau bilang ia mati, sial, ****, ***** parah kalian!" Maki Tun Tiang dengan marahnya kepada para jenderak miliknya dan sambil menunjuk-nunjuk mereka berempat.


"Bagaimana kalian bisa gagal mengerjakan pekerjaan mudah seperti ini dan juga kalian juga malah membuat salah satu dari kalian mati? Jawab aku dengan cepat!"

__ADS_1


"Maafkan kami tuan, tapi dua penjaga Ling Mei sangatlah ahli dalam bertarung dan juga kultivasinya melebihi kami. Seorang wanita yang berada di Kultivasi Qi Penyucian Jiwa Tahap Akhir serta seorang pria muda dengan Kultivasi Qi Setengah Dewa Tahap Akhir yang sangat mengerikan dan juga si lelaki itu bisa mengeluarkan api berwarna hitam seperti di legenda."


Tun Tiang sontak sangat terkejut akan ucapan Bun Zu, karena api hitam yang di omongkan Bun Zu membuat ia teringat kembali akan cerita dari salah satu informannya bahwa yang membunuh Ketua klan Xun dan juga Raja Ba Rong dari Kerajaan Daun Emas adalah pemuda berkekuatan api hitam tak lain tidak bukan ia adalah Xun Zhi.


"Bun Zu apakah orang yang mengeluarkan api hitam itu adalah seorang pria muda brrambut panjang serta memakai tombak?" Tanya Tun Tiang dengan suara agak panik bergelombang.


"Ahh itu benar sekali tuan Tun Tiang, ia adalah seorang pria muda berambut panjang serta senjata yang pria itu gunakan adalah tombak."


"Sial kenapa bocah itu bisa ada disini sih dan juga bagaimana aku mendapatkan patung buddha emas itu sekarang dari tangan Ling Mei jika dia yang menjaganya." Batin Tun Tiang berkata begitu dengan sikap gelisah sambil melangkah mondar-mandir di tempatnya bersamaa dengan menggigit ujung kuku jempolnya.


Lalu Tun Tiang pun melihat ke arah Bun Zu dan ketiga orang lainnya dan berkata, "Untuk sekarang lebih baik kalian kembali saja dan juga untuk mayat yang kalian bawa buang saja ke pembakaran."


Tun Tiang pun mengurut-urut kepalanya sendiri, mulai merasa pusing karena masalahnya mulai menjadi rumit. Melihat tingkah Tun Tiang yang tak seperti biasa membuat Bun Zu serta yang lainnya pun merasa heran, akan tetapi mereka tak bisa bertanya dan pada akhirnya Bun Zu serta jenderal lainnya pun menuuti apa yang di perintahkannya.


"ARRRGGGHHH...!" Teriakan keras Tun Tiang setelah para jenderal keluar dari ruangannya.


"Iya Tuan Tun Tiang?"


"Aku perintahkan kau temui para penjaga gerbang utama Kerajaan Kabut Hitam yang ada di timur dan di barat sekarang juga. Sampai kepada para penjaga bahwa perketat penjagaan dan juga jangan sampai ada yang keluar dari kerajaan ini," ucap Tun Tiang dengan raut wajah yang serius.


"Baik tuan akan saya laksanakan." Jawab Ceng Man.


Setelah mendapatkan perintah dari Tun Tiang, ia langsung berangkat hilang dengan cepat dari samping Tun Tiang seperti orang yang berteleportasi.


Waktu subuh pun tiba. Seperti yang di rencanakan oleh Xun Zhi, Xun Zhi Ling Mei serta Shuin pun telah bangun dan sudah mempersiapkan persediaan mereka di perjalanan untuk menuju ke kerajaan Tian Zhu.


Setelah meeeka berada di luar paviliun, terlihat sudah ada tiga ekor kuda yang siap untuk di tunggangi.

__ADS_1


"Baiklah karena perjalanan kita jauh dan berjalanan kaki pun akan sangat lama dan melelahkan. Jadi aku sengaja menyiapkan kuda, ayo naik." Setelah berkata begitu dengan senyuman, Ling Mei pun langsung menunggangi kuda.


Kemudian Xun Zhi dan Shuin pun menuturi ucap Ling Mei dan tanpa sungkan langsung menunggai kuda mereka masing-masing.


"Baiklah ayo berangkat! Hiya." Dengan gembira Ling Mei memecut tali kekang kuda bersamaan dengan tepakan kedua kakinya ke tubuh kuda.


Gerakan Ling Mei pun diikuti oleh Xun Zhi dan Shuin dan kuda yang mereka bertiga tunggangi pun langsung berpacu secara perlahan dan semaki lama semakin cepat dan stabil menuju ke gerbang utama sebelah timur, karena menurut Xun Zhi itu lebih baik dan juga gerbang utama sebelah timur sangat jauh dari kediaman Tun Tiang.


Lalu setelah aepuluh menit kemudian mereka bertiga menunggangi kuda, mereka pun yengah sampai di gerbang utama sebelah timur kerajaan Kabut Hitam, saat itu perjalanan mereka tak ada hambatan dan berjalan sangat lancar keluar gerbang utama sebelah timur kerajaan Kabut Hitam.


Namun selang beberapa menit kemudian Ceng Man pun baru saja sampai dan langsung menghadap kepada sepuluh penjaga gerbang yang sedang berdiri.


"Hei kalian, kemana ketua kalian yang menjaga gerbang ?!" Begitu perkataan Ceng Man dengan ketusnya kepada salah satu prajurit yang ada di hadapannya.


"Ketua sedang tidak hadir tuang Ceng Man. Memangnya ada keperluan apa?"


"Aku dapat perintah dari tuan Tun Tiang untuk orang yang sudah di dalam kerajaan untuk tidak dulu keluar kerajaan, apalagi untuk seorang wanita yang bernama Ling Mei."


Prajurit itu seketika terkejut bukan dari perkataannya untuk tidak dulu ada orang keluar kerajaan, melainkan karena Ling Mei yang baru saja melintas keluar kerajaan Kabut Hitam.


"Maaf tuan Ceng Man, tetapi nona Ling Mei dari keluarga Ling, baru saja keluar melewati geebang ini bersama dua orang yang katanya pengawalnya."


Ceng Man seketika terkejut yang bercampur dengan rasa kesal karena, orang yang di incae oleh Tun Tiang pun sudah melarikan diri daei kerajaan Kabut Hitam.


"A-Ahhh... begitu yah, yasidah kalau begitu aku kembali." Dengan rasa kesal Ceng Man pun bergegas kembali menuju ke kediaman Tun Tiang.


(BERSAMBUNG)

__ADS_1


__ADS_2