
Di dalam di balik pintu emas itu terlihat lorong yang membentuk jalan setapak yang tidak begitu luas dan dihiasi oleh nyalanya obor di sepanjang lorong itu. Lantai serta tembok-temboknya pun terbuat dari batu yang telah dipoles rapi tampa adanya benjolan sama sekali saat diinjak maupun disentuh.
Xun Zhi melangkah masuk menyusuri lorong itu dengan perlahan sambil memasang kewaspadaannya. Langkah kakinya yang sudah pelan pun masih tetap terdengar di lorong yang sepi itu. Tak lama ada sebuah tangga yang yang menurun, di bawahnya terlihat gelap tak ada cahaya sama sekali.
Xun Zhi menyalakan Api di tangannya dan melangkah menuruni tangga itu. Tak lama angin berhembus agak lencang dari dari bawah tangga sampai suara angin itu pun terdengar agak kencang.
Sampainya di bawah, ia melihat lorong itu bercabang menjadi dua. Di sisi lorong sebelah kanannya terlihat ada cahaya merah terang dari obor api, dan di sisi sebelah kirinya gelap gulita tidak terlihat cahaya sama sekali.
Xun Zhi menjadi bingung, entah jalan mana yang harus ia pilih.
"Jalan mana yang harus aku pilih ini sekarang duh..."
Dengan suara pelan ia bergumam sendiri, kemudian secara tiba-tiba terdengar suara orang yang mengobrol di lorong sebelah kanannya. Mereka berdua mengobrol dengan santainya.
Xun Zhi langsung mematikan api yang ada di tangannya dan berlari sembunyi menuju lorong sebelah kirinya.
"Jadi sebenarnya siapa mereka itu?"
Seorang wanita berkata begitu kepada teman mengobrolnya.
"Akupun tak tau. Katanya sih mereka adalah tamu penting untuk tuan besar Xu,"
Ujar seorang lelaki dengan nada suara yang berat membalas perkataan wanita itu.
"Namun tampaknya mereka itu bukan orang baik menurutku. Dari aura yang di pancarkan dari tubuh mereka, mereka memiliki aura gelap."
"Ehh apakah benar itu?"
"Yah tidak mungkin salah karena instingku selalu benar."
Begitu ucap mereka berdua sambil terus berjalan menuju ke arah tangga di dekat Xun Zhi.
Tak lama mereka berdua muncul dari belokan lorong itu. Terlihat mereka adalah satu orang prajurit wanita muda bertubuh bohai, dengan rambut yang bewarna hitam serta satu prajurit pria seram yang tampaknya lebih tua dari wanita itu, mereka berdua prajurit penjaga yang berpakaian sama dengan prajurit penjaga yang berada di luar.
Kemudian salah satu prajurit penjaga yang berbicara instingnya kuat pun berhenti. Teman yang di sebelahnya pun kebingungan akan tingkahnya, lalu berkata.
"Hei Tun Tiang kenapa kau berhenti?"
Begitu ujar prajurit lelaki tua itu melihat wanita muda itu ketakutan.
"Entah kenapa Tung Tung aku merasakan hawa yang tidak enak di sekitar sana."
Begitu ucapnya denga raut wajah yang ketakutan sambil menunjuk ke arah Xun Zhi yang bersembunyi di lorong yang gelap itu. Tung Tung pun terkejut akan ucapan Tun Tiang. Xun Zhi pun terkejut akan hal itu juga.
"Yang benar? Ohh iya diarah itu kenapa gelap sekali yah?"
"Katanya sih tempat penyimpanan barang-barang yang sudah tidak terpakai."
__ADS_1
"Berarti mungkin itu hanya hawa dari aura barang-barang langka kali."
"A-Ahh mungkin."
"Yasusah ayo kita keluar sekarang kita harus segera berganti dengan penjaga yang berada di luar."
"Ok ayo."
Sementara itu Xun Zhi menjadi was-was akan kedua penjaga itu dan berencana membunuhnya agar rencananya tidak gagal.
Semakin lama kedua penjaga itu semakin dekat berjalan menuju ke tangga di dekat Xun Zhi. Tun Tiang pun menjadi ragu dan melangkah di belakang Tung Tung.
"Kau ini kenapa ketakutan sekali seperti itu sih, tadi kau tidak setakut ini!"
Ucapnya kepada Tun Tiang yang bersembunyi di belakangnya dengan tubuh yang gemetar. Saat Tung Tung melangkahkan langkah pertamanya menuju anak tangga. Xun Zhi dengan cepat menebas lehernya Tung Tung dengan tombak yang ia pegang hingga Tung Tung mati seketika.
Tun Tiang pun mencoba untuk berteriak, namun entah kenapa suaranya tidak bisa keluar, tubuhnya bergetar dengan kencang matanya melotot serta mulutnya terus menganga, melihat wajah Xun Zhi yang terkena cipratan darah dari Tung Tung yang baru saja ia bunuh.
Xun Zhi membekam mulut Tun Tiang dengan cepat menggunakan tangan kanannya.
"Shuttt... jangan berisik."
Begitu ucapnya Xun Zhi kepada Tun Tiang.
Tun Tiang pun hanya bisa melotot dan mengangguk menuruti perintah Xun Zhi. Kemudian Xun Zhi menurunkan tangan kanannya yang membungkam Tun Tiang.
Xun Zhi mengeluarkan token emas miliknya dari cincin ruang penyimpanannya yang dulu ia terima dari Master Shen Long dan menunjukannya kepada wanita itu lalu berkata.
"E-Ehh ja-jadi anda murid dari sekolah Tanah Mengapung yah."
"Sekarang lebih baik kamu menuruti perkataanku, jika tidak aku akan membunuhmu seperti orang itu!"
Tun Tiang pun memasang wajah takut bercampur tegang setelah memdengar omongngan Xun Zhi.
"Baiklah-baiklah aku akan menuruti perkataanmu!"
"Bagus. Kalau begitu bisa kau tunjuka dimana mereka yang memakai baju hitam serta baju bewarna kuning emas mewah serta pengawalnya mengadakan pertemuan dengan tuan besar Xu?"
"Mereka semua ada di atas sana jika kau melewati lorong itu, disana ujung sana nanti ada pintu besar yang tak dijaga oleh siapapun!"
Begitu ucap Tun Tiang sambil menunjuk ke arah lorong yang ada cahaya obor. Kemudian Xun Zhi pun mengeluarkan dua buah kuba yang bertudung bewarna hitam lalu berkata.
"Begitukah! Baguslah. Kalau begitu kau ikut denganku untuk menjadi penunjuk jalanku. Dan juga pakailah jubah ini."
Ucap Xun Zhi sambil mengasihkan jubah bewarna hitam yang baru ia keluarkan dari cincin ruang penyimpanannya. Kemudian mereka berdua pun memakai jubah mereka masing-masing dan tudung itupun menghalangi pandangan orang yang melihat wajah Xun Zhi serta Tun Tiang.
"Baiklah kita mulai berangkat."
__ADS_1
Ujar Xun Zhi begitu, Tun Tiang pun mengikuti perintah omongan Xun Zhi dan melanjutlan perjalanan untuk menemui kedua orang misterius tadi yang bertemu dengan tuan besar Xu.
Kemudian Tun Tiang dan Xun Zhi berlari di lorong itu dengan cepat untuk menuju ke tempat pertemuan para orang-orang yang di curigainya ada hubungan dengan kejadian orang yang ingin membunuhnya.
"Jadi kalau boleh tau siapa namamu?"
Ucap Xun Zhi yang berlari di belakangnya sambil menatap punggungnya.
"Namaku Tun Tiang tuan."
"Pfft... hahaha..., nama apa itu? Aku baru mendengar ada nama seseorang seperti itu hahaha..."
Xun Zhi tertawa lumauan keras, hingga tawanya pun menggema di lorong itu. Tapi lain halnya dengan Tun Tiang, ia merasa terhina karena namanya diejek dan berkata.
"Berisik kau! Bukan mauku memiliki nama ini. Namun apa dikata karena ini adalah nama pemberian almarhum kedua orangtuaku jadi aku harus bangga!"
Ujarnya dengan suara yang kesal.
Xun Zhi terkejut mendengar perkataan Tun Tiang, ia merasa bersalah karena meledek nama pemberian orangtuanya yang telah meninggal.
"A-Ahh maafkan aku karena berkata buruk kepadamu."
"Ahhh tidak apa-apa kok tadi aku cuman bercanda ngambeknya kok. Tapi kematian kedua orangtuaku memang benar adanya hehehe..."
Dengan senyuman seperti dipaksakan ia berkata begitu.
"Tapi body tububmu itu terlihat bagus juga, hmm.. hmm..."
Ucap Xun Zhi yang melihat ke arah pantat Tun Tiang.
"Tu-Tunggu tuan. Apa yang kau lihat?"
"Hmm tentu saja body belakangmu ini hehehe..."
Ujar Xun Zhi sambil memegang pantat Tun Tiang. Kemudian Tun Tiang berhenti dan berbalik ke arah Xun Zhi dengan wajah yang memerah bercampur dengan rasa kesal akan tingkah laku Xun Zhi kepadanya.
"Hei tuan padahal kita baru bertemu dan akupun belum mengenali namamu, tapi kau sudah berani menyentuhku!"
Begitu ujar Tun Tiang sambil menunjuk-nunjuk ke arah Xin Zhi tepat di depan matanya. Namun Xun Zhi haqnya tersenyum kecil lalu membalas perkataan Tun Tiang.
"Maaf-maaf, habisnya tubuhmu itu terlalu menggoda jadi aku tak bisa mengendalikan tubuhku hehehe..."
"Hehehe jidatmu!"
"Yasudah kalau begitu panggil saja aku Xun. Ayo cepat lanjutkan kembali perjalanannya."
Begitu ucap Xun Zhi dengan santainya sambil melihat ke arah jalan yang bercabang kembali. Lalu di perjalanan itu banyak sekali melewati jalan bercabang dan terus bercabang namun mereka berdua tak menghentikan perjalanan mereka.
__ADS_1
(BERSAMBUNG)