
Xun Zhi yang sedang beristirahat atas perjalanan panjangnya langsung tertidur di kasur bulu yang beralaskan kain putih. Ia terus berguling-guling di kasur itu hingga akhirnya tertidur lelap.
Di dalam tidurnya Xun Zhi memimpikan suatu kejadian yang dulu waktu menjadi Zhi Guang dan sebelum menjadi Dewa Perang.
Ia yang dulu sebagai pendekar biasa yang memakai tombak, gemar akan ilmu beladiri dan juga ilmu-ilmu kultivasi. Namun saat ibu dan ayahnya dibunuh oleh para prajurit saat peperangan antar dua Kerajaan tersebut membuat ia murka.
Setelah itu Ia mencari ilmu yang bisa membuat manusia menjadi dewa. Dan pada saat itu pula Zhi Guang selalu berperang membunuh semua manusia yang akan gila perang untuk mencari informasi akan ilmu yang bisa membuat menjadikan nya dewa.
Hingga sampai tak terhitung jumlahnya prajurit-prajurit dan juga pendekar yang Ia bunuh dan juga banyaknya pusaka yang dia dapat. Akan tetapi tetap saja dia tak pernah mendapatkan petunjuk apapun tentang ilmu yang menjadikannya Dewa.
Lalu pada suatu hari saat dia akan menuju ajalnya. Dia berjalan menuju sebuah gunung terbesar di daratan bumi di benua yang dikenal sebagai nama Xun Tong.
Dia berjalan menuju puncak gunung yang terdapat sebuah kuil. Walaupun hujan deras dan petir yang sangat dasyat menyambar kemana-mana Zhi Guang terus melangkah.
Walaupun sambil tertatih-tatih dan tombak yang dia pegang dijadikan tongkat untuk ia berjalan. Tak lama ia sampai di puncak gunung itu. Terlihat ada sebuah bangunan Kuil besar didepannya.
Zhi Guang berjalan mendekati kuil itu dan masuk kedalamnya namun badannya yang sudah tua tak mampu untuk berdiri lagi dan akhirnya tersungkur di depan patung buddha yang besar. Dengan bajunya yang basah kuyup juga dipenuhi oleh darah dan berkata.
"Wahai buddha akankah aku menemukan ilmu yang membuatku menjadi dewa dan membuat dunia ini menjadi damai?"
Namun yang terdengar hanya suara gemuruh petir, hujan disertai angin kencang. hingga pada akhirnya dia tak bisa menahan kesadarannya kembali lalu pingsan.
Xun Zhi terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
~tok tok~
"Xun Zhi cepat keluar waktunya kita makan malam."
Ucap Ru Long yang mengetuk pintu.
"Baiklah aku segera datang." Jawab Xun Zhi bersamaan bangun dari tempat tidurnya.
Lalu Ia membukakan pintu. Dia melihat dengan matanya yang masih tertutup kearah Ru Long.
__ADS_1
"Ayo Xun Zhi aku akan mengantarmu ke ruang
makan sekarang."
Xun Zhi menggisikan matanya hingga matanya terbuka kembali dan mengikuti Ru Long yang sudah berjalan agak jauh darinya.
Di sepanjang jalan menuju ruangan makan Xun Zhi terus memikirkan impiannya yang tadi dan hatinya berkata.
"Bagaimana aku bisa memimpikan kejadian itu kembali setelah 300 tahun lamanya."
Sambil memikirkan impian itu. Xun Zhi dan Ru Long terus menyusuri koridor asrama dan melewati kamar-kamar sebelah kiri dan kanannya.
Tak lama mereka akhirnya tiba di ruang makan yang luas dan sangat besar tempatnya. Banyak orang yang mengantri mengambil makanan masing-masing seperti prasmanan dan juga tersedia meja dan bangku panjang untuk mereka duduk memakan makanannya.
"Baiklah kalau begitu kamu silahkan mengambil makan seseuka hatimu saja Xun Zhi." Ucap Lu Rong padanya.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Xun Zhi sambil mengangguk.
Xun Zhi berjalan dan ikut mengantri mengambil makanan. Ia mengambil mulai dari nasi, daging, ikan , sayur dan masih banyak lagi seperti orang yang tidak pernah dapat makan. Mereka semuapun menatap Xun Zhi seperti orang-orang yang heran dan Xun Zhi dalam hatinya berkata.
Namun Xun Zhi tak menanggapi tatapan mereka dan terus memakan makanan yang dia ambil. Kemudian ada tiga orang laki-laki menghampiri ke arah meja Xun Zhi dan ada satu orang laki-laki yang duduk di depannya lalu menggebrak mejanya dan berkata.
"Hoy bocah miskin cara makanmu membuatku jijik. Siapa namamu ?" Ucapnya dengan nada menahan marah.
"Memang apa masalahmu ? Kamu siapa ?"
Ucap Xun Zhi kepada laki-laki di depannya.
"Hey kamu tidak kenal siapa dia. Dia adalah tuan muda
Xu Yulan dari keluarga Xu yang salah satu berkuasa dari empat keluarga di kerajaan ini." Ucap pemuda yang di sebelah Xu Yulan.
"Memangnya aku peduli, kalian hanya mengganggu makan ku saja."
__ADS_1
"Brengsek kamu bocah kuberi pelajaran kau ...!"
Ucap Xu Yulan sambil mengarahkan pukulan ke arah Xun Zhi, namun Xun Zhi dengan santai nya mengelak sambil memegang mangkok dan sumpit makannya, tak lama serangan datang lagi dari Xu Yulan dan dua anak buahnya yang ikun menendang ke arah wajahnya.
Akan tetapi Xun Zhi melompat dari tempat duduknya dan tidak lupa akan mangkuk dan sumpit yang melekat ia pegang. Dan akhirnya Xu Yulan tak bisa mengendalikan amarahnya lagi.
Xu Yulan langsung menghunuskan pedangnya kemudian menebaskannya ke arah leher Xun Zhi. Akan tetapi sesaat akan mencapai leher Xun Zhi. Ia dengan sigap mencapit ujung pedang Xu Yulan dengan menggunakan sumpit yang ia pegang di tangan kanannya dan melemparkan mangkuk yang ada tangan kirinya ke arah muka Xu Yulan.
Xu Yulan mengerang kesakitan sambil memegang mukanya dan meronta-ronta.
Xu Yulan mengusap mukanya dengan tangannya. Ia terkejut saat memegang hidungnya dan melihat telapak tangannya ternyata hidungnya berdarah.
Sementara itu Xun Zhi yang di depan Xu Yulan tertawa terbahak-bahak dan sambil meledek melihat Xu Yulan yang hidungnya terluka dan mukanya yang penuh amarah.
"Hahaha mana yang namanya tuan muda Xu Yulan dari keluarga besar, apakah hanya segini kemampuannya hahaha."
Sontak Xu Yulan murka. Seketika ia mencabut pedang anak buahnya lalu berteriak menyerang Xun Zhi.
"DASAR KAU BOCAH SIALAH RASAKAN JURUSKU TEBASAN BULAN."
Pedang yang di tebaskan oleh Xu Yulan mengelurkan cahaya biru terang. namun karena Xun Zhi pun tak mau kalah. Xun Zhi mengepalkan kedua tangan nya sehingga tangannya mengeluarkan api. Kemudian melancarkan pukulan nya ke arah muka Xu Yulan dan berkata dengan santai.
"Rasakan seranganku juga pukulan lava."
Namun sesaat serangan mereka berdua akan saling bentrok. Seorang guru melompat dan menahan serangan mereka berdua dan memegang tangan mereka berdua sambil berkata.
"Ada apa ini disini bukanya tempat bertarung namun disini tempat untuk makan kakian berdua ikut ke ruang hukuman." Ucap guru muda itu sambil menyeret Xun Zhi dan Xu Yulan
Lalu pada akhirnya mereka berdua dibawa oleh guru itu ke tempat hukuman, dan dikurung di ruangan yang seperti sel masing-masing.
Mereka di dalam sel saling lempar ejekan dan akhirnya setelah pagi mereka di bebaskan dari hukuman. Dengan muka kesal Xu Yulan berkata kepada Xun Zhin.
"Tunggu saja pembalasanku kau bocah miskin." Ucapnya sambil berjalan duluar keluar dari koridor tempat hukuman itu.
__ADS_1
(BERSAMBUNG)