
Xun Zhi akhirnya telah sampai di depan halaman perpustakaan. Ia terdiam di sebuah pohon apel sambil menyenderkan badannya terus menatap bangunan perpustakaan yang tinggi dan besar seperti sebuah menara pencakar langit.
Xun Zhi melihat ke arah depan perpustakaan banyak sekali murid yang keluar masuk dari perpustakaan itu. Dan juga banyak sekali murid yang berbeda beda warna seragam. Dan saat Ia akan melangkah ke dalam perpuatakaan, dengan tiba-tiba matanya ditutupi oleh tangan seseorang yang ada di belakangnya.
"Coba tebak siapa?" Ucap orang itu.
Xun Zhi memegang tangan yang menutupi matanya lalu berkata.
"Hmm pasti ini adalah Wei Chan."
"Cihh... kenapa kamu bisa tau sih." Ucapnya sambil melepas tangannya yang menutup mata Xun Zhi.
"Oh iya Wei Chan kamu disini mau ngapain."
"Aku disini ingin masuk perpustakaan untuk mencari buku jurus yang cocok untukku, kalau kamu ?"
"Akupun sama mencari buku jurus juga, oh iya kamu di tetapkan di murid tingkat apa disini ?"
"Aku di tingkat murid luar, kalau kamu Xun Zhi murid tingkat apa ?"
"Sama aku juga di tingkat murid luar. Yasudah kita masuk saja sekarang."
Keduanya melangkah menuju perpustakaan sambil terus mengobrol hingga pintu depan perpustakaan. Dan sesampai pada pintu masuk perpustakaan. Ada seorang pria tua duduk yang memakai pakaian putih sambil memegang kipas ditangan kananya dan berkata kepada Xun Zhi dan Wei Chan.
"Hey mana tanda izin kalian ?" Ucapnya dengan suara yang agak keras.
Saat Xun Zhi melihat tulisan di atas kayu di depan mejanya. Terrnyata dia adalah penjaga perpustakaan yang duduk di samping pintu masuk perpustakaan dan dusuk di meja yang ada di samping pintu perpustakaan.
Lalu Xun Zhi dan Wei Chan mengabil gulungan surat izin dan token murid yang di beri dari Master mereka masing-masing yang di simpan dalam lipatan dalam baju mereka dan menyerahkannya kepada penjaga itu.
"Hmm Wei Chan kamu ke lantai 5 dan ambil yang kamu perlukan disana sedangka Xun Zhi kamu tunggu dulu disini."
Ucapnya sambil mengasihkan kembali token yang terbuat dari logam yang bewarna emas dengan tulisan nama Master mereka di atas logam itu.
Wei Chan menuruti perkataan orang tua itu, lalu berkata kepada Xun Zhi.
"Aku duluan yah Xun Zhi." Sambil melambaikan tangannya bersamaan dengan langkah kakinya yang melangkah masuk ke dalam perpustakaan.
Sedangkan Xun Zhi berdiri menunggu izin dari penjaga perpustakaan itu. Tak lama penjaga perpustakaan itu berkata.
"Jadi kau murid barunya si Shen Long kah." Ucapnya Dengan nada bicara yang meremehkan.
"Benar Master aku muridnya Master Shen Long."
__ADS_1
"Baiklah aku akan memberimu izin masuk ke lantai 7. Namun jika kamu melebihi lantai itu aku tidak akan tanggung jawab kalau ada kecelakaan." Ucapnya dengan melihat dekat muka Xun Zhi
"Memangnya ada apa Master ?" Tanya Xun Zhi yang penasaran.
"Tidak ada apa-apa nanti kau juga tau sendiri. Dan satu hal lagi jangan panggil aku Master panggil aku Patriak Chang Lu yah."
"Baiklah kalau begitu Patriak Chang Lu."
Patriak Chang Lu adalah salah satu bawahan langsung dari Grand Master Yujin dan juga penanggung jawab di perpustakaan.
Lalu Xun Zhi masuk dengan rasa penasaran di hatinya akan ruang perpustakaan di sekolahnya.
Setelah Xun Zhi sudah di dalam perpustakaan. Ia terkagum akan isi perpustakaan itu, pandangannya terpaku seperti terhenti waktunya beberapa detik melihat akan ruang perpustakaan yang begitu tinggi nan besar.
Warna putih dalam bangunan perpustakaan dengan ukiran-ukiran membuat ruangan itu indah dan banyaknya buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak buku yang besar.
Namun di ruangan perpustakaan itu terasa sedikit tekanan aura kepada tubuhnya dan dalam benaknya berkata.
Oh jadi ini yang di maksud Patriak Chang Lu itu menarik sangat sangat menarik.
Xun Zhi pelahan naik ke lantai pertama, akan tetapi tidak ada yang menarik perhatiannya. Setelah itu Xun Zhi terus naik kembali hingga sampai di lantai 5.
Disitu ia terus melangkah sambil mencari dan mencari buku yang bisa menarik perhatiannya namun tidak ada. Sesampainya Xun Zhi di ujung lorong lantai 5, Xun Zhi melihat Wei Chan dari balik rak buku dan berniat menghampirinya.
Akan tetapi sesaat akan menghampirinya, terlihat oleh Mata Xun Zhi kala itu Wei Chan sedang diganggu oleh Xu Yulan dan dua orang anak buahnya.
Buku yang di lempar Xun Zhi tepat mendarat ke arah mukanya hingga membuat Xu Yulan terjatuh. Karena tak terima Xu Yulan berkata dengan nada keras.
"SIAPA YANG BERANI MELEMPAR BUKU PADAKU."
"Aku memangnya apa kau mau mencari gara-gara lagi Xu Yulan." Ucap Xun Zhi yang muncul dari balik rak buku dengan muka marah.
"Xun Zhi untung kamu datang tolong aku Xun Zhi." Ucap Wei Chan sambil berlari ke belakang tubuhnya Xun Zhi.
"Kau lagi bocah sialan." Ucapnya dengan muka yang marah.
"Heh namaku bukan bocah tapi Xun Zhi ingat itu." Jawab Xun Zhi sambil menaruh dua tanganya di pinggang.
"Awas saja kau nanti akan ku balas, ayo keluar." Ucap nya pada Xun Zhi sambil mengajak dua anak buahnya keluar.
Setelah mereka pergi amarah Xun Zhi mulai mereda dan Wei Chan yang berdiri di samping Xun Zhi berkata.
"Terima kasih yah Xun Zhi telah menolongku."
__ADS_1
"Iya sama-sama Wei Chan. Apakah kamu kenal mereka?"
"Dia itu adalah Xu Yulan salah satu anak petinggi di Kerajaan ini dan juga tingkatannya sama dengan kita menjadi murid luar."
"Ohh dasar anak sialan akan aku ingat, Oh iya apakah kamu sudah dapat buku jurus yang kamu cari ? "
"Sudah Xun Zhi aku ingin memakai jurus ilmu pengendali tanaman Xun Zhi, kalau kamu gimana ?
"Aku belum Wei Chan yasudah kalau begitu aku akan meneruskan ke lantas atas siapa tau ada yang menarik."
"Yasudah kalau begitu."
Setelah itu keduanya berpisah. Xun Zhi mulai naik lagi ke lantai 7 sama seperti yang tadi di perintahkan oleh Patriak Chang Lu. lalu Xun Zhi mulai merasakan tekanan aura yang lumayan besar membebani tubuhnya.
Xun Zhi melangkah menyusuri rak buku satu per satu. Namun tetap saja tak menemukan buku yang menarik. Ia melirik ke kiri dan kanan di ruangan itu ternyata hanya ada sedikit murid yang masuk ke dalam ruangan ini berbeda sekali dengan lantai bawah yang ia lewati sebelumnya.
Setelah itu Xun Zhi naik kembali ke lantai 8 dan tekanan aura di ruangan itu lebih besar dari sebelumnya dan muridnya pun semakin sedikit bisa terhitung oleh jari. Tubuh Xun Zhi pun serasa terbebani oleh batu besar yang beratnya puluhan ton sampai ia berjalan membungkuk.
Namun tekanan itu tak mengecilkan nyali Xun Zhi untuk mencari buku jurus yang membuat ia tertarik. Setelah lama ia mencari dan terus mencari ada buku yang membuat dia lumayan tertarik yaitu buku tentang jurus tombak api biru.
Xun Zhi mengambilnya dari rak itu sambil memaksakan tubuhnya berdiri dan mulai membacanya dan setelah membacanya ia memutuskan untuk menaruhnya kembali dan berkata.
"Kukira ilmu itu lebih hebat dari ilmu tombak cahaya matahari ku ternyata tidak."
"Hahaha padahal itu ilmu bagus anak muda." Seseorang di samping Xun Zhi berkata begitu.
"Namun ini hanya ilmu ranah jiwa tingkat menegah." Ucap Xun Zhi kepada pemuda itu.
"Kalau begitu biar aku saja yang mengambilnya." Ucapnya.
Kemudian Xun Zhi menyerahkan buku itu kepada pemuda tadi dan pemuda itu pergi keluar. dalam hatinya berkata.
"Siapakah orang itu dan murid dari tingkat mana dia sepertinya lumayan kuat.
Dan Sepertinya aku harus naik lagi ke lantai 9 namun aku harus membuka aura dewaku.
Tapi jika ku keluarkan pasti hanya akan bertahan beberapa menit saja dan aku pasti tidak bisa berjalan setelah itu gimana yah."
Xun Zhi memikirkan terus akan rencananya. Dan pada akhirnya Xun Zhi memutuskan untuk naik ke lantai selanjutnya dan membuka aura dewanya. Ia berjalan menuju tangga lalu memfokuskan pikiran dan jiwanya sambil duduk di depan tangga. Tak lama aura putih keluar dan menyelimuti tubuhnya.
Xun Zhi mulai berlari dengan tergesa gesa menuju lantai 9. Tapi yang dia lihat hanya ada 3 rak buku disana mencari dan mencari.
Hingga akhirnya ia menemukan buku yang menarik yaitu Jurus Api Phoenix Biru dan Lotus Hijau. Tak banyak tingkah Xun Zhi langsung mengambil buku itu. Lalu langsung berlari ke arah tangga dan meninggalkan ruangan itu sambil menuruni tangga, Ia menutup aura dewanya.
__ADS_1
Sesampainya diluar ia menghampiri Patriak Chang Lu yang berada di meja resepsionis dan pingsan di hadapannya.
(BERSAMBUNG)