
Sesampainya Patriak Chang Lu di depan asrama, dia bertemu dengan Ru Long yang sedang berpatroli tengah malam itu.
"Ru Long apakah Xun Zhi sudah kembali ke asrama?"
"Ehhh!, belum senior Chang Lu. Bukannya dia masih dirawat di ruang Pengobatan murid?"
"Dasar bocah sialan kemana lagi kaburnya dia!"
Dengan wajah yang kesal Patriak Chang Lu berdiam diri memikirkan Xun Zhi yang menghilang kembali entah kemana.
"Yasudah kalau begitu jika tidak ada aku permisi dulu."
"Baik senior."
Lu Rong yang memberi hormat bersamaan dengan Patriak Chang Lu yang berjalan menjauhinya. Patriak Chang Lu yang tak ingin ambil pusing tentang keberadaan Xun Zhi akhirnya kembali kerumahnya untuk beristirahat.
Sementara itu Xun Zhi yang sudah menyelesaikan peningkatan kultivasinya dia beranjak dari dalam batu itu dan mulai berlari kembali menuju ruang pengobatan murid untuk beristirahat.
Satu jam kemudian sesampainya di ruang pengobatan murid Xun Zhi yang melihat di ruangan tak ada siapa-siapapun membuatnya bernafas lega seakan dia tidak akan mendapatkan masalah di esok hari, dia pun berbaring kembali di kasur bekas nya dan tidur.
Tak terasa Matahari mulai bersinar Xun Zhi yang sedang menikmati tidurnya tiba-tiba beranjak langsung dari kasurnya karena dikagetkan oleh kehadiran Patriak Chang Lu di hadapannya dengan hawa yang membunuh.
"Hooo selamat pagi bocah nakal ternyata kamu sudah bisa bergerak dengan normalkah?"
"Ohh ternyata Patriak Chang Lu kukira ada orang yang ingin membunuhku, jadi ada apa Patriak Chang Lu disini?"
__ADS_1
"Heehh sebenarnya aku ingin membunuhmu."
Ucapnya begitu bersamaan dengan dia mengibaskan kipasnya yang ada di tangannya.
Angin yang kencang keluar dari kibasan Patriak Chang Lu ke arah Xun Zhi.
"Patriak pasti bercanda kan?" Dengan wajah yang sedikit panik dia berkata begitu.
Namun dia tak mendengarkan perkataan Xun Zhi dan mengibaskan kembali kipasnya bersamaan dengan Jurus Pusaran Anginnya yang menyerang ke arah Xun Zhi. Akan tetapi Xun Zhi dengan sigap menghindarinya.
Jurus yang dikeluarkan Patriak Chang Lu pun mengahajar tembok Ruang Perawatan murid yang terbuat dari kayu hingga berlubang besar.
Melihat serangan itu Xun Zhi dengan panik berlari keluar ke arah lubang itu memakai JurusLangkah Cahayanya.
Akan tetapi Xun Zhi tak mendengar perkataan Patriak Chang Lu karena sudah agak jauh meninggalkannya. Setelah itu Patriak Chang Lu mengeluarkan Jurus Langkah Anginya untuk mengejar Xun Zhi.
"Awas, awas tolong minggir."
Ucapnya dengan berteriak kepada para murid yang ada di hadapannya. Murid-murid yang ramai pun pada menyisi setelah Xun Zhi berteriak begitu.
Angin berhembus kencang mengibaskan baju dan buku-buku yang para murid bawa disaat Xun Zhi dan Patriak Chang Lu melewati mereka. Para murid wanita yang dilewati Xun Zhi dan Patriak Chang Lu pada menjerit panik dan yang laki-laki juga menunjukan ekspresi kaget.
Hingga sesampainya di danau dekat rumah Patriak Chang Lu akhirnya Xun Zhi tertangkap. Patriak Chang Lu langsung mengeluarkan tali yang ada di cincin ruang penyimpanannya dan mengikat Xun Zhi.
"Pak tua apa yang akan kau lakukan kepadaku."
__ADS_1
Xun Zhi yang meronta-ronta seperti cacing yang kepanasan ketika tubuh dan tangannya diikat oleh Patriak Chang Lu.
"Diam ini adalah hukumanmu karena kau tak menuruti perintahku."
"Memang apa salahku pak tua sialan."
"Berani kau berkata begitu padaku hah."
Ucap Patriak Chang Lu dengan raut wajah yang kesal dan hati yang panas akibat perkataan Xun Zhi dia langsung melempar Xun Zhi ke tengah danau.
"Pak tua jangan begini padaku aku tidak bisa berenang."
"Jangan berpura-pura kau Xun Zhi, kau diam disana dan renungkan kesalahanmu, jika kau kabur aku akan menambahkan hukumanmu lebih berat."
"Ayolah pak tua jangan menghimku seperti ini tubuhku masih sakit." Ucap Xun Zhi yang berpura-pura masih sakit.
"Lalu kenapa kau kemarin masuk kedalam hutan bocah nakal sialan jika kau masih sakit."
"Ahh itu sebenarnya..."
"Baiklah jika kau tak mau menjawab perkataanku kau akan berdiam diri disana sampai kau mati kedinginan."
Mendengar begitu Xun Zhi tak bisa mengelak lagi dari Patriak Chang Lu dan akhirnya diam tanpa kata. Sementara itu Patriak Chang Lu melangkah menuju ke rumahnha kembali.
(BERSAMBUNG)
__ADS_1