KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG

KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG
Episode 58


__ADS_3

Cao Pian dan Fu TianBo yang melangkah menaiki panggung pertandingan pun di iringi oleh suara tepuk tangan dan sorakan dari para penonton.


Setelah melangkah melewati tangga. Mereka berdua berjalan secara perlahan menuju ke tengah arena, lalu bertatap muka.


Kedua memberi hormat dan Fu TianBo pun berkata.


"Lama tidak bertemu Cao Pian, bagaimana kabar ayah serta ibumu sehat?"


"Yah lama tak bertemu tuan muda Fu, ayahku sehat, akan tetapi ibuku telah meninggal 3 tahun yang lalu. Lalu bagaimana dengan kabar tuan besar Fu apakah sehat?"


"Aku turut berduka atas kematian ibumu. Seperti yang kau lihat ia nampak sangat sehat sekarang ini."


Begitu ucap Fu TianBo yang melihat ke arah ayahnya yang berada di podium di balik Cao Pian. Cao Pian pun membalikkan badannya melihat ke arah tuan besar Fu TianLing lalu memberinya salam. Tuan besar Fu TianLing pun membalas dengan anggukkan.


Fu TianBo dan Cao Pian dulunya adalah teman saat mereka kecil dulu dan juga ayahnya Cao Pian adalah tangan kanan kepercayaan tuan besar Fu, akan tetapi 8 tahun yang lalu karena ibunya Cao Pian sakit-sakitan, jadi dia memutuskan berhenti bekerja dengan Tuan besar Fu dan pindah ke pinggiran kota.


"Baiklah kalau begitu tidak usah banyak bicara lagi mari kita mulai saja pertarungan kita berdua."


Fu TianBo langsung memasang kuda-kudanya dengan serius terlihat seperti tidak ada cela untuk menyerangnya. Tak lama Cao Pian memasang kuda-kuda menyerangnya.


"Baiklah mari kita mulai."


Keduanya terdiam selama beberapa detik. Suasana menjadi tegang saat mereka berdua terdiam, lalu Cao Pian maju dengan cepat sambil melayangkan tinjunya yang dilapisi Aura Qi miliknya yang bewarna biru samar ke arah Badan Fu TianBo.


Akan tetapi Fu TianBo sudah siap, kedua telapak tanganyya pun telah di lapisi oleh Aura Qi berwarna hijau dan menangkis pukulan Cao Pian dengan sempurna.


Namun serangan Cao Pian tak terhenti di situ saja, ia melayangkan kepalan sebelah kirinya ke arah wajah Fu TianBo lalu disusul dengan tendanga kaki kirinya ke arah pinggang Fu TianBo.


Tapi pukulan dan tendangan Cao Pian dihindarinya dengan sempurna oleh Fu TianBo, kemudian Fu TianBo maju dengan cepat dan memukul Ulu hati Cao Pian dengan telapak tangan kanan sekuat tenaga.


"Ark...!"

__ADS_1


Suara berat di keluarkan Cao Pian terkena serangan Fu TianBo, lalu Fu TianBo meneruskan serangannya. Ia melesatkan pukulan telapak tangan kirinya dengan cepat ke arah dagu Cao Pian, hingga Cao Pian pun terlempar terkena serangan Fu TianBo namun masih bisa berdiri menerima serangan Fu TianBo dan berkata.


"Hehehe ternyata tuan muda Fu sekarang sudah cukup kuat."


"Yah karena sudah beberapa tahun ini karena aku adalah pewaris tunggal sekte krluarga Fu. Namun ini masih belum seberapa, aku masih belum mengeluarkan sepenuhnya kekuatanku!"


Dengan senyuma bangga Fu TianBo berkata kepada Cao Pian. Cao Pian pun tersenyum.


"Hehehe akupun sama belum mengeluarkan sepenuhnya kekuatanku!"


Keduanya memasang kembali kuda-kuda mereka sambil mengeluarkan Aura Qi milik mereka secara maksimal. Angin bertiup kecang dari tekanan Aura Qi milik mereka berdua sampai menghembus ke bangku para penonton.


Disisi lain Xun Zhi yang menonton agak terkejut karena melihat kekuatan mereka berdua.


"Ternyata mereka berdua cukup kuat yah Long Hei'an!"


"Yah Xun Zhi, mereka berdua hampir sama kekuatannya denganmu sekarang ini."


"Heee... jadi siapa kemungkinan yang menang di pertandingan ini Long Hei'an?"


Lalu Fu TianBo yang sudah siap langsung menyerangnya dengan Ilmu Seratus l Panah kayu yang muncul dari tangannya, Namun Cao Pian bisa menahan serangannya dengan Ilmu Perisai Angin.


Angin berputar kencang di depan Cao Pian menangkal Ilmu Panah Kayu milik Fu TianBo yang banyak. Namun tak lama Fu TianBo menyerang kembali dengan tusukan pedangnya yang tiba-tiba ke arah perut Cao Pian, dengan cepat Cao Pian menghunus pedangnya menangkis serangan Fu TianBo.


~creeett...~


Suara gesekan yang panjang dari kedua pedang mereka yang beradu.


~tring~


Suara pedang mereka yang beradu bersamaan mereka berdua melompat menjaga jarak serang dan memasang kuda-kudanya kembali. Mereka melangkah berputar sambil tak melepaskan tatapan mereka berdua.

__ADS_1


Kemudian dengan cepat Fu TianBo menyerang Cao Pian dengan tebasan pedangnya ke arah kaki, tapi Cao Pian melompat menghindari tebasan ke kakinyya dan tebasan Fu TianBo pun hanyan menebas angin kosong.


Lalu Cao Pian menusukan pedangnya ke arah leher Fu TianBo, namun Fu TianBo dengan cepat memutar pergelangan tangannya yang memegang pedang dan menangkis tusukan pedang Cao Pian dan memutar cepat pedangnya yang menempel dengan pedang milik Cao Pian hingga pedang milik Cao Pian terpental jauh.


Tak menyia-nyikan kesempatan itu Fu TianBo menodongkan pedangnya sampai beberapa milimeter hampir menusuk tenggorokkan Cao Pian.


Cao Pian tidak bergerak, keringatnya mengucur dan menetes ke pedang Fu TianBo dan Cao Pian pun berkata.


"Aku menyerah...!"


Fu TianBo langsung mengela nafas panjang sambil merunkan pedang yang ia todongkan. Para penonton langsung bersorak meriah. Sementara itu Xun Zhi hanya tersenyum tertunduk melihat pertandingan keduanya.


"Tadi itu sangat ketat yah...?"


"Yah benar sekali tuan muda Fu."


Namun saat pertandingan itu usai tiba-tiba ada bola-bola api yang sangat besar dan banyak seperti sebuah meteor menyerang Sekolah Tanah Mengapung. Semua yang disana pun panik berlarian untuk menghindari bola api itu.


Grand Master Yujin, para tetua serta para pemimpin keluarga besar pun mengeluarkan ilmu andalan mereka masing-masing untuk menahan bola api itu. Akan tetapi ada beberapa bola api yang tak tertahan hingga jatuh dan meledak ke arah murid yang tak bisa menghindari api itu.


Murid-murid yang terkena serangan tersungkur meringis kesakitan dan ada juga yang meninggal dunia.


Xun Zhi pun terkejut akan serangan yang tiba-tiba, dan ia langsung berlari kw podium arena untuk mencari Wei Chan. Tak lama mencari, terlihat Wei Chan terkapar di dekat murid-murid lainnya disana.


Xun Zhi langsung berlari se kencang-kencangnya ke arah Wei Chan yang terkapar itu sambil menghindari beberapa puing-puing podium yang rusak dan runtuh.


"WEI CHAN, WEI CHAN..."


Begitu ucap Xun Zhi dari kejauhan , Wei Chan dengan mata setengah tertutup memandang Xun Zhi dengan pandangan buram.


"Xun Zhi..., Xun Zhi..."

__ADS_1


Suara pelan dan lemas hampir tak terdengar yang dilontarkan Wei Chan. Kemudian Xun Zhi sudah di pinghir Wei Chan dan mengegendongnya, lalu berlari menjauhi arena.


(BERSAMBUNG)


__ADS_2