
Seminggu telah berlalu, hari itu di pagi yang cerah berbanding terbalik dengan keadaan di Sekolah Tanah Mengapung sedang berduka karena kematian Grand Master Yujin, para master serta beribu-ribu murid yang meninggal dunia akibat serangan dari pihak Tang Ming.
Mereka semua yang mati dalam pertempuran itu di kuburkan di satu tempat yang sama yaitu di bukit kuburan yang berada di belakang sekolah Tanah Mengapung.
Satu per satu para mayat dimakamkan di lubang kubur yang telah dibuat oleh para murid. Para keluarga, kerabat serta semua orang yang ada disana menangis tersedu-sedu saat melihat mayat temannya, mayat masternya dan Mayat Grand Master Yujin yang dikebumikan.
Saat itu Xun Zhi hanya melihat di balik pohon saat proses pemakaman berlangsung. Ia tertungkul dengan menggunakan jubah. Kemudian tak lama Patriak Chang Lu menghampirinya.
"Xun Zhi apakah kau yakin akan keluar dari sekolah ini?"
"Yah benar sekali Patriak Chang Lu. Terima kasih telah mendidikku selama ini, mulai sekarang aku akan menjalani jalan hidupku sendiri!"
Mendengar ucapan dari Xun Zhi, Patriak Chang Lu hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian tak lama Patriak Chang Lu berkata kembali.
"Memang kenapa kau ingin pergi dari sekolah Tanah Mengapung ini Xun Zhi?"
"Aku sudah memberitahumu seminggu yang lalu kan!"
"Apakah benar itu?"
Patriak Chang Lu membuat wajah bingung bersamaa dengan memiringkan kepalanya bersikap imut. Xun Zhi yang mendengar jawaban dan tingkahnya Patriak Chang Lu pun membuat Xun Zhi kesal dan menahan amarahnya itu dan berkata.
"Dasar pak tua sialan kau, masih saja membuatku kesal di akhir-akhir begini?"
Xun Zhi menahan kepalan tangannya yang ingin menonjok Patriak Chang Lu. Namun ia mecoba bersabar dan menghela nafas panjang-panjang menenagkan amarahnya. Lalu berkata
"Begini yah Guru Patriak Chang Lu yang sangat imut namun keriput. Aku berkata saat itu bahwa aku akan membalaskan dendamku dan juga menyelinap keluarga Xu untuk mencari tahu kenapa mereka ingin sekali membunuhku! Apakah jelas dan paham?"
"Ahh aku paham, aku paham murid songong!"
Dengan wajah yyang agak kesal Patriak Chang Lu menjawab perkataan Xun Zhi.
"Ohh iya satu lagi Patriak Chang Lu, aku ingin menitipkan ini kepadamu."
Xun Zhi menyerahkan sebuah surat yang dilipat kepada Patriak Chang Lu. Patriak Chang Lu pun merasa heran dan bertanya kepada Xun Zhi.
__ADS_1
"Maksudnya apa ini Xun Zhi?"
"Aku menitipkan surat ini kepada Patriak Chang Lu untuk Patriak Chang Lu seragkan kepada Wei Chan dan juga sampaikan perkataan maaf ku kepadanya."
"Hmm.. kukira kau membuat surat cinta untukku hahaha..."
"Patriak Chang Lu ini, mana muungkin aku membuat surat cinta untuk badot bau tanah sepertimu hahaha..."
"Sialan kau ini! Begini-begini aku masih gurumu somplak!"
Ujar Patriak Chang Lu bersamaan dengan jitakan yang keras kepada kepala Xun Zhi. Setelahitu mereka berdua pun tertawa bersama untuk beberapa saat. Tak lama Xun Zhi berkata kembali.
"Guru apakah aku boleh memelukmu untuk sekarang?"
Denga wajah serius Xun Zhi berucap kepada Patriak Chang Lu. Dan Patriak Chang Lu pun terkeujut karena baru sekarang ia di panggil guru setelah sekian lama.
"A-ahh... boleh..."
Xun Zhi memeluk erat Patriak Chang Lu sambil berkata.
"Sialan kau Xun Zhi kau ingin berpisah denganku atau meledekku. Setidaknya untuk sekarang kau bicara yang benar padaku."
"Ahh guru aku kagum padamu. Semoga suatu hari kita ada umur di pertemukan kembali disini."
"Yahh semoga itu terjadi."
Xun Zhi pun melepaskan pelukannya dari Patriak Chang Lu, Patriak Chang Lu pun sama melepaskan pelukannya.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat Patriak Chang Lu!"
"Yah..."
Kemudian Xun Zhi berbalik dan berlari dengan cepat meninggalkan Patriak Chang Lu untuk pergi berkelana benua ini. Patriak Chang Lu yang melihat kepergiannya pun meneteskan air mata sambil berkata.
"Semoga kau sehat selalu Xun Zhi."
__ADS_1
Begitu ucapnya Patriak Chang Lu. Setelah melihat Xun Zhi melangkah jauh, ia pun kembali menuju ke sekolah Tanah Mengapung karena pemakaman telah selesai.
Di pertengahan jalan pulang ia bertemun dengan Wei Chan yang sedang berjalan pulang ke sekolah juga.
"Wei Chan,"
Wei Chan melirik ke arah Patriak Chang Lu yang memanggilnya.
"Hormat Patriak Chang Lu. Ada apa Patriak Chang Lu memanggil hamba?"
"Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu."
Patriak Chang Lu memberikan surat kepada Wei Chan. Wei Chan kebingungan melihat sepucuk surat yang di pegang oleh Patriak Chang Lu.
"Itu apa Patriak Chang Lu?"
"Ambillah kau puun nanti akan tau. Dan juga si pemberi surat ini meminta maaf kepadamu."
Wei Chan pun mengambil surat dari tangan Patriak Chang Lu.
"Terima kasih Patriak Chang Lu,"
Kemudian Wei Chan berjalan kesamping duduk di akar pohon yang menonjol dari tanah untuk membaca surat itu.
Wei Chan duduk dan mebuka surat itu. Isinya mengatakan.
Wei Chan ini aku Xun Zhi. Wei Chan maaf aku harus keluar dari sekolah ini karena ada orang yang ingin mencoba membunuhku di kerajaan ini. Aku takut karena aku yang berdiam diri disini membuat nyawa kalian dan yang tak berdosa pun menjadi bahaya. Dan juga titip salam kepada ibu serta ayahku. Kau bilang saja aku baik-baik saja kepada orangtua ku oke. Dan juga satu hal lagi. Jangan pernah kau mencariku karena ini bahaya. Terima kasih.
Setelah membaca surat itu, Wei Chan pun meremas-remas suratnya dan melempar membuang surat itu. Wajahnya menjadi kesal dan berkata.
"Kenapa ia selalu membawa masalahnya sendiri sih! Sial, SIALAN KAU XUN ZHIIII...!"
setelah berkata begitu Wei Chan, ia secara tiba-tiba air matanya menetes keluar.
"Sialan kau Xuun Zhi awas saja suatu saat aqku menemukanmu, aku akan menebaskan pedang ini ke kepalamu dan mengambil semua isi otakmu yang bodoh itu!"
__ADS_1
(BERSAMBUNG)