
Setelah Xun Zhi dan Shuin keluar dari kamar dan berlari dengan terburu-buru ke arah keributan yang terjadi di lantai dasar tempat di penginapan ini yang dijadikan bar.
Xun Zhi dan Shuin pun melihat ada seorang wanita muda dengan pakaian dekil banyak lumpur dan kalau dilihat dari wajahnya kira-kira umur wanita itu sama seperti Xun Zhi. Saat ini ia yang sedang mengacungkan tongkat besi dipegang olehnya ke arah tiga orang pria bekepala botak di hadapannya.
Sementara itu disisi lain beberapa pelayan penginapan serta lelaki yang berada di balik meja resepsionis tak berani untuk melerai kejadian tersebut. Mereka semua hanya bisa terdiam bersembunyi di balik meja resepsionis tidak berani keluar karena mereka hanya warga biasa yang takut terbunuh.
Lalu disisi lainnya para penghuni kamar juga tidak ingin mengalami kejadian yang bisa merenggut nyawa berharga mereka. Dan setelah melihat kejadian tersebut pun mereka semua masuk kembali ke dalam kamar mereka masing-masing terkecuali Xun Zhi dan Shuin yang tetap berdiri di atas melihat kejadian itu.
"Hei Ling Mei cepat serahkan Ilmu Kitab Penjara Halilintar yang telah kau curi dari sekte kami!"
Ucap pria botak yang ada di berdiri di tengah pria botak lainnya tepat jaraknya agak jauh di hadapan wanita yang bernama Ling Mei.
"Tidak! Tidak akan ku serahkan! Karena ini bukanlah milik sekte kalian, melainkan milik kakek buyutku yang sudah meninggal dan tetua sekte kalian yang telah mencurinya dari kakek ku!"
Dengan tegas serta mata yang menatap tajam ke arah ketiga lelaki berkepala botak di hadapannya.
"Sialan kau wanita kau diberi kesempatan oleh kakak tertua untuk menyerahkan kitab itu dengan tanpa adanya keributan, kau malah ingin mencari keributan!"
Ucap salah seorang pria di samping kiri yang dari orang yang di panggil kakak tertua, setelah berkata begitu ia langsung melompat menyerang Ling Mei sambil menghunuskan goloknya yang di taruh di pinggang sebelah kirinya untuk menebas Ling Mei.
Namun saat goloknya akan mengenai kepala Ling Mei, Ling Mei memutar badannya sambil sekuat tenaga mengayunkan tongkat besi yang di pegang dengan erat memukul menyerang daerah samping perut pria botak yang sedang melompat ingin menyerangnya.
Serangan tongkat besi Ling Mei berhasil mengenai daerah samping perut pria yang menyerangnya hingga pria itu terpental dan badannya membanting ke meja yang ada pojokan sampai meja yang terbuat dari kayu pun hancur.
"Wanita keparat berani sekali kamu melukai kakak kedua ku! Terima Jurusku ini Pukulan Telapak Kematian!"
Begitu ucap pria botak yang paling muda bermaan dengan akan menerjang Ling Mei dengan cepatnya serta telapak tangannya yang di lapisi oleh Qi berwarna merah gelap.
Ling Mei pun menampakkan ekspresi wajah yang panik tak bisa menghindari serangan jurus yang dilancarkan kepadanya karena kekuatan nya sudah terkuras habis selagi di kejar-kejar oleh mereka bertiga.
Namun hingga sekitar beberapa senti lagi Jurus Pukulan Telapak Tangan dari pria botak akan mengenai, Xun Zhi dari atas melompat bersamaan dengan menggunakan ilmu Langkah Cahaya nya dan seketika Xun Zhi pun sudah memegang pergelangan tangan pria botak yang akan menyerang Ling Mei seperti orang yang berteleportasi.
Pria botak yang di pegang terkejut akan hal yang dilakukan Xun Zhi.
"Hei kisana tidak baik loh untuk melukai seorang wanita apalagi wanita muda seperti dia."
Dengan gagahnya Xun Zhi berkata begitu
"Hei bocah berani sekali kau menghentikan seranganku, apakah kau ada hubungannya dengan urusan kami ini?!"
"Memang tidak ada urusannya tuan, namun kelakuanmu itu tidak baik untuk melukai wanita."
Xun Zhi pun meremas pergelangan tangan pria botak yang di hadapannya setelah itu Xun Zhi mengangkat tangannya.
"Cihhh... jangan ikut campur kau bocah."
Ucap pria botak yang di remas pergelangan tangannya oleh Xun Zhi dengan tubuh gemetar menahan sakit remasan Xun Zhi. Kemudian ia pun dengan seketika melancarkan pukulan tangan kirinya ke arah wajah Xun Zhi, namun serangannya kalah cepat oleh Xun Zhi yang melayangkan pukulan telapak tangan dengan kekuatan tangannya saja.
"Urghh..."
Erangan kesakitan dari pria botak yang dihadapi Xun Zhi karena terkena pukulan telak tepat di ulu hatinya. Lalu Xun Zhi melepaskan genggaman tangannya yang memegang erat pergelangan tangan pria botak yang di hadapinya kemudian Xun Zhi menendang perutnya dengan keras hingga pria botak nya pun terlempar jauh membentur tembok yang jaraknya belasan meter.
"Sialan kau beranis sekali memukul adik bungsuku!"
Ucap pria botak yang paling tua di kelompok mereka bertiga yang ingin menyerang Ling Mei. Ia pun gemeretakan giginya serta mengepalkan tanganya kuat-kuat menahan kekesalan akan tingkah laku yang Xun Zhi lakukan kepada adik terbungsunya.
__ADS_1
"KEPARAT AKAN KUBUNUH KAU DISINI SEKARANG JUGA KARENA TELAH MENGGANGGU URUSAN KAMI...!!!"
Pria botak di hadapan Xun Zhi berkata begitu dengan kerasnya dan juga tatapan yang murka, lalu tak lama pria botak yang di hadapan Xun Zhi maju dengan cepat sambil menghunus pedang yang ada di punggungnya dengan niat membunuh yang kuat.
"Terima jurusku ini Delapan Tebasan Kemurkaan."
Begitu ucapnya sambil mengarahkan tebasan pedangnya yang ke arah Xun Zhi. Namun melihat jurusnya lumayan berbahaya, Xun Zhi mengambil tongkat yang di pegang oleh Ling Mei dan langsung melapisi tongkat itu dengan Qi Api miliknya seketika menahan delapan tebasan yang di lancarkan pria botak itu ke arah organ vital Xun Zhi dengan tongkat yang ia pegang.
Pria yang menyerang Xun Zhi pun mundur menjaga jarak sambil gemeretakkan giginya.
"Sial ternyata dia bisa menahan seranganku, siapakah bocah ini sebenarnya?!"
Begitu ucap dalam hatinya dengan wajah yang terua memandang tajam ke arah Xun Zhi. Tak lama kemudian kedua orang yang telah terkena serangan pun bangkit kembali mendekati kakak tertuanya.
"Kakak tertua bagaimana sekarang? Apakah kita serang bersama-sama saja mereka berdua?"
Bisik adik ketiganya sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit akibat terkena serangan Xun Zhi.
"Benar, lebih baik kita serang bersamaan adik ketiga dengan ilmu serta jurus pamungkas yang kita miliki!"
Begitu jawabnya dengan bisikan juga.
Kemudian di sisi lain Shuin yang melihat Xun Zhi serta wanita yang ada di sampingnya yaitu Ling Mei merasa heran kenapa ada wanita muda yang di kejar-kejar oleh ketiga pria botak.
"Hei Xun Zhi apakah kau membutuhkan bantuanku?!"
Teriak Shuin yang berada di lantai dua.
Xun Zhi serta orang-orang yang ada di sekitar Xun Zhi pun melirik ke arah Shuin dan wajah ketiga pria botak itupun terkejut melihat wajah Shuin yang tampa cadar.
Ucap pria botak adik tertua mereka yang menunjuk ke arah Shuin dengan ekspresi wajah yang ketakutan. Shuin oun tersenyum meluhat ke arah ketiga pria botak yang ada di lantai dasar.
"Ehh ternyata aku cukup terkenal juga hingga kalian bisa mengenal julukanku."
"Aku tidak butuh bantuan anda nona, kau kan tahu sendiri jika aku itu lebih kuat darimu."
Dengan senyauman yang lembut Xun Zhi berkata begitu kepada Shuin. Shuin yang mendengar perkataan Xun Zhi pun menghela nafas panjang serta memegangi kepalanya.
"Ahh... dasar kau bocah, yasudah kalau begitu urus mereka dengan cepat, karena hari ini sudah malam dan juga jangan buat kerusakan Xun Zhi ingat itu, ingat itu."
"Yahh aku nona, tak perlu kau tegaskan itu."
Setelah selesau dengan ucapannya, Xun Zhi langsung menggunakan Ilmu Langkah Cahayanya dan seketika sudah ada di belakang ketiga pria botak dan langsung memukul kakak tertua dari para pria botak itu dengan tongkat hingga terpental jauh keluar penginapan.
"Ba-Bagaimana dia sudah ada di belakang."
Dalam hati kedua pria botak yang menjadi lawan Xun Zhi dengan tubuh yang gemetar. sementara itu disisi lain Ling Mei yang melihat nya pun terkejut bahwa Xun Zhi yang seumuran dengannya sudah bisa sekuat ini.
"Aku memberi dua pilihan kepada kalian berdua. Pertama kalian pergi dari sini dengan cara damai. Kedua apa kalian ingin aku mengusir kalian dengan cara paksa?"
Begitu ucap Xun Zhi dengan aura yang sangat mencekam serta niat membunuh yang sangat kuat. Tak lama kemudian Xun Zhi berkata kembali.
"Baiklah Aku beri kalian waktu tiga detik untuk menjawabnya pilihan yanh kuberikan. Satuu... Dua..."
"Baik-baik kami akan pergi dengan damai!"
__ADS_1
Begitu ucap kaka kedua pria botak itu dan langsung berlari menghampiri kakak tertua mereka yang terpental jaug keluar dan sedang tak sadarkan diri.
"Sialan! Hari ini kau beruntung Ling Mei. Namun kakian berdua jangab senang dulu karena kami akan membalas perbuatan kalian berdua ingat itu!"
Begitu ucap nya sambil lari terbirit-birit dan membopong kakak tertuanya yang tak sadarkan diri menjauhi Xun Zhi serta Ling Mei.
"Apa kau tidak apa-apa nona?"
Ucap Xun Zhi dengan nada suara yang lembut.
"Yaa.. aku baik-baik saja. terima kasih yah tuan telah menyelamatkanku."
Ling Mei menunduk memberi hormat kepada Xun Zhi. Xun Zhi pun melambai-lambaikan tangannya.
"Itu tidak apa-apa sudah menjadi tugasku untuk melindungi wanita yang sedang kesusahan dan juga tak usah terlalu formal begitu memanggilku hehehe..."
Tak lama kemudian Shuin serta beberapa pelayan penginapan dan juga pria yang ada di balik meja resepsionis yang sebagai pemilik penginapan pun muncul berjalan mendekati Xun Zhi dan Ling Mei.
Pemilik penginapan pun memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil berlutut menampakkan raut wajah yang sedih melihat ke sekitar ruangan karena meja serta trmbok yang hancur oleh kejadian yang baru saja terjadi.
"Bagaimana ini bisa terjadi di penginapan ku, kehancuran ini bisa-bisa membuatku bangkrut Ahhhh....!"
"Tenang saja pemilik penginapan semua kerusakan akh yang bayar, apakah seginj cukup."
Ucap Xun Zhi kepada pemilik penginapan sambil mengasihkan dua koin emas. Pemilik penginapan yang bermuka sedih seketika berubah menjadi berbinar-binar bersamaan dengan gerakan tanganya yang cepay mengambil dua koin emas yang ada di telapak tangan Xun Zhi.
"Ohh ini cukup sekali tuan, senang bisa berbisnis dengan anda."
Dengan senyuman menjijikan ia tampakkan kepada Xun Zhi. Xun Zhi yang melihatnya pun hanya bisa menjawabnya dengan senyuman canggung. Kemudian saat Xun Zhi melihat penampilan Ling Mei yang dekil, Xun Zhi pun berkata kembali kepada pemilik penginapan.
"Ohh iya tuan, apakah ada kamar mandi untuk membersihkan badan?"
"Oh tentu saja tuan kami memiliki pemandian air panas di belakang. Apakah anda ingin berendam?"
"Bukan, bukan aku yang ingin mandi. Tapi bagus jika ada kamar mandi. Nona Shuin lebih baik anda membawa wanita ini untuk membersihkan tubuhnya di pemandian agar telihat lebih menawan."
Ucap Xun Zhi yang meligat ke arah Ling Mei serta Shuin.
"Ohh itu ide yang bagus Xun Zhi, kebetulan akupun ingin berendam di pemandian air panas. Yasudah kalau begitu pelayan bawakan aku dua botol sake ke pemandian oke."
"Ehh tapi apakah ini tidak akab merepotkanmu?!"
Ucap Ling Mei terkejut perihal tingakh Shuin yang tiba-tiba mengajaknya mandi dan belun mengenal akan dirinya.
"Tidak, tidak apa-apa. Baiklah pemilik penginapan antarkan kami ke pemandian air panas itu."
"Siap nona! Kalau begitu ikuti aku nona-nona."
Si pemilik penginapan berjalan menuju ke sebuah lorong, lalu di belakangnya ada Shuin dan Ling Mei berjalan mengikutinya menuju ke trmpat pemandian air panas.
"Ahhh sambil menungguereka berdua selesai mandi, lebih baik aku ke atas bersantai di kamarku."
Gumam Xun Zhi dengan kedua tangannya di tatih di belakang kepala, setelah itu Xun Zhi pun berjalan dengan santai kembali menuju ke kamar tidurnya.
(BERSAMBUNG)
__ADS_1