
Keesokan harinya Tuan besar Xu pun dihukum mati dengan cara di pancung di depan semua masyarakat karena telah berkhianat kepada Kerajaan Tanah Suci untuk membantu musuh menghancurkan kerajaan dan juga telah menjadi salah satu dalang penyerangan sekolah Tanah Mengapung serta kematian orang-orang yang tidak berdosa.
Kemudian semua gelarnya dicopot serta harta yang dimilikinya disita semua dan keluarganya yang tersisa sama dihukum pancung. Saat itu semua orang sangat banyak dan antusias melihat kematian Tuan besar Xu yang di tunggu-tunggu karena selalu saja menyiksa kaum lemah dan tak bersalah.
Ia di tertawai, dihina oleh warga yang menontonnya. Sementara tuan besar Xu hanya tertunduk merenungi ajal yang mendekat. Kemudian hukum pancungpun dilaksanakan dan warga yang telah selesai menyaksikan pun berpulang kembali kepada aktifitasnya masing-masing.
Setelah itu Xun Zhi yag melihat dari kejauhan atas hukuman yang diterima oleh tuan besar Xu pun mulai melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke kerajaan Daun Emas. Ia berjalan tanpa mengetauhui ke arah mana ia harus ke arah mana tempat kerajaan Daun Emas terletak.
Lalu setelah melangkah jauh ke sebelah utara dari kerajaan Tanah Suci. Di perjalanan ia melihat seorang wanita kira-kira berumur 30 tahunan yang memakai tudung kepala terbuat dari bambu, memakai baju pendekar bewarna putih biru serta pedang yang ia pegang dengan tangan kirinya dibalut oleh kain putih , Xun Zhi pun bertanya kepadanya.
"Permisi nona pendekar aku mau bertanya bolehkah?"
Wanita itu terdiam untuk beberapa saat tak membalas perkataan Xun Zhi sambil memegangi tudung kepalanya yang ia tarik ke bawah agar wajahnya tak nampak.
"Yah mau bertanya apa anak muda?"
Ucap wanita itu dengan nada agak ketus seperti berhati-hati kepada Xun Zhi.
"Saya ingin menanyakan, apakah anda tahu kemana jalan menuju ke arah Kerajaan Daun Emas?"
"Aku mengetahuinya. Namun kenapa kau ingin kesana Anak muda?"
Xun Zhi menjadi bingung akan wanita itu yang berbalik bertanya kepada Xun Zhi. Namun Xun Zhi tak berpikir aneh dan menjawab perkataan wanita itu.
"Aku ada keperluan disana, aku ingin mengetahui sesuatu tentang diriku!"
Wanita itu terkejut akan perkataan Xun Zhi, kemudian ia tersenyum kecil dan berkata.
"Baiklah, kau ikuti saja aku. Karena akupun memiliki urusan di Kerajaan Daun Emas juga."
Wanita itupun melepas tudung bambunya dan memperlihatkan wajah aslinya. Wajahnya sangat cantik dan kecil, matanya berwarna merah darah serta rambut panjang sepunggung bewarna perak bersinar terang.
"Baiklah anak muda boleh aku mengetahui siapa namamu?"
Xun Zhi untuk beberapa saat terpesona akan wajah wanita itu dan tidam cepat menjawab perkataannya. Wanita yang di depan Xun Zhi yang tadinya tersenyum kecil pun berubah kembali menjadi cemberut lalu berkata.
"Anak muda boleh aku mengetahui namamu?!"
Xun Zhi agak terkejut dengan ucapannya itu dan tersadar kembali dari lamunanya yang sesaat.
"Ahh maaf-maaf nona pendekar. Namaku adalah Xun Zhi."
__ADS_1
Wanita itu tampak terkejut setelah mendengar perkataan Xun Zhi tak lama ia teesenyum kembali.
"Ehh Xun Zhi kah!"
Ucap wanita itu dengan jelas.
"Baiklah Xun Zhi, kau bisa memanggilku dengan mana Shuin."
"Baiklah kalau begitu nona Shuin!"
Jawab Xun Zhi dengan tegas. Lalu Shuin pun berjalan melalui jalan setapak yang menuju ke sebuah hutan di depannya dan Xun Zhi pun mengikutinya dari belakang.
Setelah masuk kedalam hutan Xun Zhi pun teus menatap punggung wanit itu dan berkata.
"Ohh iya nona Shuin, aku ingin bertanya ada tujuan apa kamu ke kerajaan Daun Emas?"
Lalu Shuin pun melirik ke arah Xun Zhi yang berada di belakangnya kemudian menjawab perkataan Xun Zhi.
"Aku. Kalau aku disana untuk mencari seseorang sama sepertimu."
"Ehh begitukah!"
Xun Zhi terkejut karena tujuannya hampir sama sepertinya.
"Tanya apa lagi?"
"Aku ingin tau seberapa jauh jarak kita untuk mencapai ke kerajaan Daun Emas?"
"Kalau itu mungkin sekitar tiga hari kita akan sampai jika tak ada hambatan."
Jika tak ada hambatan! Maksudnya hambatan apa?
Begitu ucap kata hati Xun Zhi setelah mendengar perkataan Shuin. Tak lama mereka berjalan di dalam hutan. Tiba-tiba ada 4 orang yang melompat dari balik semak-semak langsung menyerang mereka menggunakan pedang yang mereka pegang.
Shui yang dikejutkan serangan itu dengan cepat menghunuskan pedangnya yang bewarna biru terang bagaikan warna sebuah es dan menangkis semua serangan keempat orang itu.
Lalu keempat orang orang itu yang tertangkis serangannya langsung berdiri mengelilingi Shuin dan Xun Zhi.
Hahh... jadi inikah hambatan yang ia maksud
Ucap kata hati Xun Zhi dibarengi dengan hembusan nafas yang panjang. Kemuudian Xun Zhi mengambil tombaknya yang ia gantungkan di punggungnya dan membuka lapisan kain putih yang melapisi mata tombaknya kemudian memasang kuda-kudanya.
__ADS_1
"Hei Bulan Perak hari ini kau tak bisa kabur, karena hari ini kami akan membunuhmu disini bersama orang itu."
Ucap salah seorang lelaki dengan tato api di mukanya kepada Shuin dan Xun Zhi dengan sangat tegas san wajah yang seram.
"Hah jangan harap kau bisa mengalahkanku dengannya Pi Piang Si Api Gila, kau pikir kau siapa? Kau hanya cecunguk yang disuruh oleh pak tua sialan itu kan!"
Jawab Shuin kepada orang yang berada di hadapannya dengan senyuman kecil seperti meledek. Pi Piang orang yang di depannya pun tampak menunjukan wajah yang sangat marah setelah mendengar ucapan Shuin, Pi Piang langsung menyerang Shuin dengan pedangnya yang mengarah langsung ke lehernya.
Akan tetapi Shuin dengan cepat memutar kepalanya kebawah menghindari tebasan pedang yabg diayunkan tangan Pi Piang. Kemudian ketiga orang yang melihat Pi Piang bertato api di wajahnya itu menyerang mereka langsung menebaskan pedang mereka kearah leher dan badan Xun Zhi secara bersamaan.
Namun Xun Zhi dengan cepat melompat ke arah pohon yang berada di sampingnya menghindari serangan mereka bertigan dan menebas salah satu yang menyerangnya itu. Tebasannya pun berhasil mengenai pundak salah satu dari mereka bertiga, namun tebasan Xun Zhi terlalu dangkal hingga tak terlalu parah melukai orang itu.
Lalu Xun Zhi pun mendarat di batang pohon tinggi itu dan langsung mengeluarkan Ilmu Hujan Tombak Api Biru kepada musuh yang berada di bawahnya dan ilmu Xun Zhi berhasil membunuh dua orang dari tiga orang yang menyerangnya.
Satu orang yang tersisa pun terkejut melihat dan berkata dengan panik kepada orang yang sedang bertarung sengit dengan Shuin.
"Ka-Kakak pertama... Ka-kakak kedua dan ketiga telah mati dibunuh oleh Pendekar muda itu."
Pria yang wajahna bertato itupun mundur beberapa langkah menjaga jarak dengan Shuin dan berkata.
"APA maksudmu adik ketiga! Maksudmu bocah itu bisa mengalahkan adik pertama dan kedua !"
"I-iya benar sekali Kakak pertama, lebih baik kita kabur saja Kakak!"
"Hari ini aku melepaskanmu karena ada pendekar muda itu. Namun saat kita bertemu kembali kau akan mati Bulan perak!"
Begitu ucap pria bertato api diwajahnya dan mereka berdua kabur menjauhi Xun Zhi dan Shuin. Kemudian Xun Zhi pun melompat turun menghampiri Shuin.
"Jadi nona Shuin sebenarna mereka yang menyerang mu itu siapa?"
"Mereka adalah anak buah dari Raja Ba Rong yang memimpin Kerajaan Daun Emas."
Ucapnya dengan wajah yang masih kesal dan nafas yang terengah-engah karena Pi Piang hampir mengalahkannya. Xun Zhipun terkejut karena ia yang menyebutkan nama Ba Rong.
"Lalu ada masalah apa memangnya kamu dengan Raja Ba Rong, sampai-sampai ia mencoba membunuhmu?"
"Itu ceritanya panjang, nanti saja kuceritakan. Sekarang lebih baik kita melanjutkan perjalan kita sebelum malam tiba."
"Baiklah."
Kemudian Shuin dan Xun Zhi pun berjalan kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju ke kerajaan Daun Emas.
__ADS_1
(BERSAMBUNG)