KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG

KEBANGKITAN KEMBALI DEWA PERANG
Episode 118


__ADS_3

"Sialan jika kau memang bukan siap-siapa nya, kenapa kau mengganggu kesenangan kami! Atau kau memang sok ingin jadi pahlawan!"


Salah satu orang yang mencoba menangkap Wei Chan berkata seperti itu dengan sombongnya serta senyjman mengejek.


"Baiklah kawan-kawan cepatlah hajar dia, biar dia tahu bagaimana kekuatan kita yang dari sekte kegelapan!"


Jiang Cixin memerintah orang yang berada di depannya, dengan sebyuman penuh percaya diri kelima orang itupun maju untuk menyerang Xun Zhi.


"Nee nona Wei Chan lwbih baik kau diam saja di belakang, karena ini pertarungan yang cukup bahaya." Begitu ucap Xun Zhi dengan suaranya yang lembut mempertingati Wei Chan.


Xun Zhi mengangkat meregangkan kedua tangannya sambi menunggu musuhnya yang sedang mendekatinya.


Tak lama ayunan tongkat serangan pertama dilayangkan oleh salah seorang komplotan itu mengarah ke leher Xun Zhi. Namun sayang sebelum ayunan keras tongkat itu mengenai Xun Zhi, Xun Zhi memajukan kakinya satu langkah dan melayangkan tendangan keras tepat terkenal telak ke arah dagu lelaki yang mencoba menyerangnya dan lelaki itupun melayang tinggi.


"Sialan tendangannya keras sekali bagaikan batu karang yang menghatam daguku dengan sangat keras." Ucap seeorang pria yang melayang di udara dengan kesadarannya yang akan hilang terkena serangan Xun Zhi.


Tak lama kedua orang di belakannya mencoba membacok Xun Zhi dengan golok besar yang masing-masing mereka pegang.


Akan tetapi Xun Zhi mengelak dengan cara memundurkan satu langkah kakinya ke belakang dan melengkingkan tubuhbya ke belakang bersamaan dengan dirinya berkata, "Wahh bahaya sekali kalian melayangkan golok tajam itu padaku, apakah kalian ingin membunubku?"


Setelah itu Xun Zhi memasang kuda-kuda bertarungnya. Mendengar ucapan Xun Zhi membuat mereka marah, karena ucapan Xun Zhi itu seperti mengejek mereka.


"Sialan kau berani berbicara seperti itu!"


Ke empat orang yang tersia mengepung Xun Zhi sambil menodongkan senjata yang mereka pegang.


Goloknya pun di ayunkan mengarah ke wajah Xun Zhi, namun Xun Zhi nengayun tanganya kanannya ke arah samping kanan menangkis serangan lalu mencoba melayangkan kepalan tangan kirinya ke arah dagu.


Akan tetapi Xun Zhi kalah cepat oleh salah satu komplotan mereka yang berjaga paling belakang melesatkan anak panah mengarah ke kepala Xun Zhi.


Xun Zhi yang memiliki refleks sangat bagus mendangkan kepalanya dan menangkap anak panah itu dengan mulutnya.


"Hau hikir seurangan meurahan ikuh dapat mengebaiku (kau pikir serangan murahan itu dapat mengenaiku)."


Begitu ucap Xun Zhi yang sedang menggigit anak panah sambil melompat memutar badan ke belakang.


Setelah itu Xun Zhi mengambil anak panah dimulutnya, kemudian memutar badannya dan melemparkan anak panah yang ia pegang sambil dilapisi api berwarna biru dengan sekuat tenaga.


Panah yang Xun Zhi lemparkan melesat dengan sangat kencang dan dengan telak menancap sangat dalam di kepala si pengguna golok sampai mati tanpa jeritan dan kepalanya pun terbakar habis.


"Yoshh dua orang sudah di selesaikan. Sekarang aku akan menyelesaikan kalian dengan cepat."


Xun Zhi yang dekat dengan Wei Chan menghunus pedang melik Wei Chan dengan sangat cepat tanpa sepengetahuan Wei Chan.


Setelah itu Xun Zhi melesat menggunakan Ilmu Langkah Cahaya dan menebas leher orang-orang yang tersisa menjadi musuhnya termasuk juga Jiang Cixin.


Untuk bebeeapa detik mereka tak sadar bahwa leher mereka sudah terpotong. Kemudian setelah tiga detik berlalu kepala mereka pun putus terpisah dari badan mereka beramaan dengan darah segar menyembur kencang dan tak lama mereka mati di tempat.

__ADS_1


Zuan Zaogui yang sedang diinjak oleh Jiang Cixin terkejut karena kepala milik Jiang Cixin sudah tergeletak di tanah tepat di hadapannya serta tubuh Zuan Zaogui pun di penuhi oleh bercak darah segar yang menyembur dari tubuh Jiang Cixin.


Sementara itu Wei Chan juga sangatlah amat terkejut, ia tak menyadari bahwa pedang yang ia bawa telah dihunus dari serangakanya oleh Xun Zhi dan dirinya sangat terkejut pula karena orang misterius di hadapannya yaitu Xun Zhi dapat membunuh seorang Kutivator yang sudah berada di kultivasi Qi Penyucian Jiwa tahap akhir serta kultivasi Qi Penyucian Jiwa tahap menengah dengan hitungan detik saja.


"Ahh kalian hanya sekelompok pecundang berani sekali mencari gara-gara. Kuharap setelah ini kalian dihidupkan kembali menjadi seorang yang baik hati dan tak sombong."


Setelah berjata seperti itu Xun Zhi melarikan diri untuk bersenbunyi mengawasi Wei Chan dari jauh.


Sementara itu Wei Chan untuj bebeeapa saat tak bisa berkata-kata melihat kepergian Xun Zhi dan dalam hatinya berkata, "A-Ahh... padahal aku bekum mengucapkan terima kasih kepada tuan misterius itu."


Setelah itu Wei Chan bergegas menghampiri Zuan Zaogui, kemudian Wei Chan memberi pertolongan pertama kepada Zuan Zaogui yang tengah ia derita.


Waktu sudah menjelang sore hari, Wei Chan yang berjalan perlahan mencari teman satu kelompoknya sambil membopong Seniornya yaitu Zuan Zaogui yang terluka, akhirnya telah bertemu dengan salah satu anggota kelompoknya yaitu Cao Pian.


Akan tetapi saat ini Cao Pian sedang duduk fokus berkultivasi menyerap Bunga Es Peony yaitu salah satu dari tanaman tingkat 8 untuk meningkatkan kultivasi.


Wei Chan dan Zuan Zaogui yang tak ingin mengganggu Cao Pian yang sedang berkultivasi pun perlahan berjalan mendekati Cao Pian dan duduk yang jaraknya agak jauh dari dirinya.


"Haa...!"


Teriakkan kencang berbarengan dengan hembusan angin dan cahaya berwarna biru menyebar dari sekeliling Cao Pian bertandan bahwa ia telah berhasil menyerap Bunga Es Peony, setelah itu Cao Pian Perlahan membukakan matanya.


"Selamat sudah berhail menyerap Bunga Es Peony dan meningkatkan Kultivasimu." Begitu ucap Wei Chan yang sedang duduk menjerkan badannya di pohon tak jaih jaraknya dari Cao Pian.


"Wei Chan! Bagiamana kau bisa disini?" Jawab Cao Pian dengan tampang terkejut melihat Wei Chan yang berada di sampingnya dengan wajah kelelahan.


Cao Pian dengan cepat dan cekatan mengobati luka Zuan Zaogui, sementara itu Wei Chan yang sedang menyenderkan badannya, perlahan mulai memejamkan matanya karena tubuhnya sudah merasakan amat sangat lelah dan hingga akhirnya Wei Chan tertidur.


Beberapa saat kemudian, Cao Pian telah selesai mengobati luka Zuan Zaogui, melihat hari sudah sangat sore, Cao Pian melirik ke arah Wei Chan dan berkata, "Wei Chan lebih baik kita berburu dan mencari kayu ba-."


Ucapan Cao Pian terhenti setelah melihat Wei Chan yang tertidur lelap.


"Ahh apakah kau secapek itu, sampai-sampai kau tertidur dengan posisi seperti itu. Yosh, yasudah kalau begitu, lebih baik aku sendiri saja berburu untuk makan malam dan mencari kayu bakar."


Cao Pian menghela nafas panjang, setelah itu dia pergi untuk menjalankan tujuanya.


Di tempat lain dimana jaraknya tak jauh dari Wei Chan. Saat ini Xun Zhi sedang bertarung dengan beberapa orang murid dari sekte Shan Shu dan beberapa orang dari sekte Kegelapan juga yang ingin mengambil kesempatan menyerang Wei Chan dan Zuan Zaogui yang sedang lemah.


Xun Zhi mengalahkan satu persatu orang-orang itu dengan jurus kung fu miliknya tanpa menggunakan ilmunya sedikit pun.


Xun Zhi bertarung dengan mudahnya mematahkan batang leher serta tangan para musuhnya seperti mematahkan ranting pohon. Hingga tidak memakan waktu lama, Xun Zhi dapat mengalahkan sepuluh orang sekaligus olehnya sendirian tanpa mengalami luka sedikit pun.


Sementara yang menjadi musuhnya, mereka semua tak sadarkan diri terkapar di tanah.


"Sialan dasar para kroco-kroco ini, berani sekali mereka melawanku dengan kekuatan yang masih seujung kuku."


Xun Zhi berjalan mendekati orang-orang yang telah ia serang dan mengambil kantung ruang penyimpanan mereka satu per satu.

__ADS_1


"Wahh lumayan juga isian kantung ruang penyimpanan para murid-murid ini."


Xun Zhi tersenyum senang melihat harta-harta mereka yang lumayan bagus, dimulai dari tanaman obat, senjata tingka 5 serta uang yang cukup banyak.


Setelah menjarah harta para orang-orang yang ia kalahkan dan dibunuh oleh tangannya sendiri. Dirinya bersembunyi kemabli sambil terus menjaga Wei Chan dari kejauhan.


"Haa... kau ini kenapa sih? Kenapa kau melakukan hal yang merepotkan begini?" Ucap Long Hei'andi dala pikiran Xun Zhi seperti itu dengan nada suara yang malas.


"Berisik! Apa kau taj mengerti, jika aku muncul dan memberitahu identitasku sekarang, Wei Chan pasti akan terkejut dan terus menempel mengikutiku kemanapun aku pergi."


"Haahh kau i i banuak saja alasan, bilang saja kau malu dan tak berani menemuinya karena kau masih merasa sangat bersalah pergi tanpa pamit bertemu dengannya kan!"


"Urgh!"


Xun Zhi memegang dadanya, ia merasakan sakit akan ucapan Long Hei'an yang tepat.


Setelah beberapa puluh menit kemudian lain tempat, yaitu dimana Wei Chan yang saat ini baru saja membuka matanya dengan perlahan bangun dari tidurnya.


Saat pertama dia lihat adalah api yang menyala di depannya serta suara khas kayu terbakar.


"Ohh kau sudah bangun yah Wei Chan,"


Cao pian berkata seperti begitu melihat Wei Chan yang baru bangun dari tidurnya.


"Ahh..., emmm..., tak terasa hari sudah gelap ternyata yah,"


Wei Chan membalas perkataan Cao Pian sambil melihat sekeliling yang sudah gelap akibat gelapnya malam tanpa cahaya bulan tak memancar ke bumi.


"Lebih baik sekarang kita makan dulu Wei Chan, kau pasti sudah lapar kan," Kata Zuan Zaogui yang teah duduk di sebelah kiri Cao Pian.


"Ohh senior! Ternyata kau sudah sadar yah?"


Wei Chan sedikit terkejut melihat Zuan Zaogui telah sadar dan bisa berbicara kembali.


"Yah begitulah, namum aku masih belum pulih sepenuhnya Wei Chan. Dan juga Wei Chan, terima kasih kau telah menolongku,"


Zuan Zaogui membungkuk berterima kasih dengan tulus kepada Wei Chan yang menyelamatkannya. Wei Chan pun melambaikan kedua tangannya kepada Zuan Zaogui merasa tidak enak kepada Zuan Zaogui dan berkata, "Tidak, tidak senior, kau tidak perlu berterima kasih kepadaku. Karena yang menolongmu danaku dari serangan para murid Sekte Kegelapan bukanlah aku, melainkan orang yang misterius yang kukenal di sebuah restoran,"


"Meski begitu... aku berterima kasih padamu kaeena tidak meninggalkan aku yang terluka dan kau malah membantuku sampai sini dan masih hidup sampai sekarang ini,"


"Sama-sama kalau begitu senior, aku meneeima terima kasihku,"


"Yasudah kalau begitu, lebih baik kita makan sekarang."


Akhirnya mereka bertiga pun memulai makan malam dengan daging rusa bakar hasil buruan Cao Pian sore tadi.


(BERSAMBUNG)

__ADS_1


__ADS_2