
Sampainya Xun Zhi di lantai dasar dan saat itu sudah berada tepat di samping Ling Mei. Akan tetapi saat Xun Zhi melihat ke arah wajah Ling Mei, terlihat Ling Mei merasa tidak senang.
"Hei kalian. Bagaimana sih kerja kalian! Aku dan para tamuku tadi di serang oleh orang-orang yang tak di kenal. Aku ingin tanya kepada kalian. Kenapa kalian tadi bukannya menolong aku dan tamuku melainkan kalian malah bersembunyi di balik tembok dan malah menontin kami bertarung jawab?" Teriak Ling Mei kepada para pelayan laki-laki yang berdiri berbaris rapi sambil diam tertunduk di hadapannya.
Namun mereka tak bergemim menjawab pertanyaan Ling Mei sama sekali. Ling Mei pun menggelengkan kepalanya bersamaan dengan tangan kirinya mengusap mukanya serta helaan nafas yang panjang.
"Kenapa kalian hanyabterdiam ketika aku bertanya kepada kalian, HEI CEPAT JAWAB!" Begitu Tegas Ling Mei kepada para pelayan laki-laki kembali.
"Waaaahh... kaget aku!" Ucap Xun Zhi yang sangat terkejut sambil mengelus-ngelus dadanya dengan refleks akibat mengdengar omongan Ling Mei yang nyaring dan tegas.
Ling Mei yang mendengar ucapan Xun Zhi pun langsung memalingman wajahnya ke arah Xun Zhi dan secara tiba-tiba wajah Ling Mei pun agak memerah.
"Hmm... maafkah aku Xun Zhi, aku tak bermaksud mengagetkanmu, dan lagian itu salahmu sendiri datang dan berdiri di sampingku tanpa ku ketahui." Dengan raut wajah yang agak malu ia menjawab perkataan yang di lontarkan oleh Xun Zhi.
Para pelayan pria yang melihat tingkah Ling Mei , karena ini baru kali pertama mereka melihat bahwa majikannya tertarik kepada seorang lelaki.
"Hei kalian kenapa kalian masih saja diam disini, cepat sana bereskan semua kekacauan ini malam ini juga. Dan juga esok pagi kalian datanglah ke tempat meeting paviliun, karena besok aku ingin mendengarkan penjelasan kalian satu per satu!" Ucapnya kepada para pelayan pria dengan lantang serta tatapan tajam seperti seorang pembunuh yang siap kapan saja menancapkan pedangnya.
Para pelayan pria langsung berlarian dengan panik, dan kemudian mereka dengan cepat membereskan kekacauan bekas penyerangan orang yang tak dikenal tadi.
"Ohh iya Xun Zhi kenapa kau ada disini, bukannya kau harus menjaga Shuin?" Ucap Ling Mei kepada Xun Zhi.
Lalu Xun Zhi pun menjawab, "Ahh tidak aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu. Dan untuk nona Shuin aku telah memberinya obat dan sekarang ia sedang tidur untuk memulihkan tubuhnya."
"Ehh begitu yah syukurlah kalau Shuin baik-baik saja. Terus Xun Zhi ucapmu barusan ingin menanyakan sesuati padaku, jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Ucap Ling Mei sambil terus memandang Xun Zhi.
Xun Zhi pun menjadi agaka ragu untuk menanyakan apa yang ingin dia katakan, dan untuk beberapa detik ia hanya bisa terdiam dan tak menjawab pertanyaan Ling Mei.
__ADS_1
Ling Mei pun memiringkan kepalanya dan berkata kembali, "Hei Xun Zhi kenapa kau .alah terdiam begitu sih! Jadi apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan padaku?!"
"Ahh maafkan aku Nona Ling Mei, sebenarnya kalau boleh aku tidak ingin membicarakannya disini, bagaimana kalau aku dan anda ke kamarku ?" bisik Xun Zhi yang mendekatkan wajahnya ke kuping sebelah kiri Ling Mei.
"Yasudah kalau begitu mari kita ke kamarmu." Begitu jawab Ling Mei.
Kemudian Xun Zhi dan juga Ling Mei berjalan dengan perlahan untuk menuju ke kamar Xun Zhi.
Sampainya di kamar, Xun Zhi pun menyerahkan sebuah bangku kayu yang ada di diruangan itu kepada Ling Mei.
"Duduklah." Dengan lembutnya Xun Zhi menyuruh duduk kepada Ling Mei. Ling Mei yang tanpa segan pun duduk di bangku itu dengan santai.
"Jadi sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan kepada ku Xun Zhi sampai-sampai kau ingin merahasiakannya."
"Jadi nona Ling Mei apakah kau tahu siapa yang tadi menyerang kediamanmu ini?" Tanya Xun Zhi dengan wajah yang serius.
"Emmm jadi begitu yah." Jawab Xun Zhi dengan memasang ekspresi wajah yang serius bersamaan dengan mengusap-usap dagunya. Perlahan Xun Zhi pun berpikir dan mulai membayangkan apa yang telah terjadi di hari ini dimulai dari pagi hari mengahdiri pelelangan, kemudian persaingan sengit harga dengan Tun Tiang untuk mendapatkan patung buddha emas dan yang terakhir penyerangan yang baru saja terjadi.
"Nona Ling Mei apakah kau tidak curiga bahwa kejadian ini pastinya ulah Tun Tiang?"
"Yahh kalau untuk itu aku agak mencurigai dia sih. Memangnya kenapa?"
"Tidak aku curiga saja kepadanya, karena ia secara terang-terangan sekali melihatmu dengan tatapan kebencian serta aura membunuh yang kuat setelah dia meninggalkan ruang pelelangan dan juga kalah pelelangan darimu."
Mendengar ucapan Xun Zhi, Ling Mei pun tekejut akan hal Tun Tiang yang menatapan kebencian kepadanya.
"Apakah benar itu Xun Zhi!"
__ADS_1
"Ahh tak salah lagi nona, semua itu benar." Ucap Xun Zhi mempertegas akan ucapannya agar Ling Mei yakin akan ucapan yang dikatakanya benar.
Kemudian Xun Zhi pun berkata kembali, "aku yakin nona, penyerangan ini pun pasti ada kaitannya dengan dia. Namun kita tak memilik bukti untuk menuduhnya, andai saja tadi orang yang di bunuh oleh nona Shuin tak dibawa oleh mereka, pasti saat ini juga kita bisa tau mereka diutus oleh siapa."
"Sudahlah Xun Zhi lebih baik kita tak memikirkan ini lagi, toh kita pun selamat ini,"
"Aku tahu itu nona, namun untuk sekarang lebih baik kita pergi dulu dari Kerajaan Kabut Hitam ini dan menyerahkan patung buddha emas itu ke kediaman keluarga inti anda. Karena jika tidak Tun Tiang pasti akan mencoba merebut patung buddha emas dari tanganmu dan membunuhmu!" Begitu ucap Xun Zhi dengan mata mendelik serta memegang kedua pundak Ling Mei erat-erat.
Tingkah laku Xun Zhi yang di lakukan kepada Ling Mei pun membuat Ling Mei sergah dan kemudian ia berkata, "Baiklahh jika itu yang terbaik subuh nanti aku akan pulang ke kediamanku. Tapi padahal aju punya rencana lebih baik loh Xun Zhi, apa kamu mau dengar?"
"Rencana apa nona Ling Mei?" Seru Xun Zhi dengan wajah penasaran.
"Bagaimana kalau kau, aku dan juga Shuin menyerang kediaman Tun Tiang dan membunuhnya, jadi dia tidak akan macam-macam lagi hehehe...," ucap Ling Mei sambil memasang senyum indah.
Ucapan Ling Mei pun membuat Xun Zhi marah dan kemudian Xun Zhi mencubit pipi Ling Mei dengan sangat kencang, "Nona Ling Mei aku tak tau jika kamu bisa bicara sebodoh dan segila itu! apa kau tau bahwa Tun Tiang itu adalah pejabat tinggi di kerajaan ini dan juga pengaruhnya sangat besar di kerajaan ini. Jika kau menyerangnya, sama saja kita menyerang kerajaan Kabut Hitam ini, dan juga aku dan Shuin sudah menjadi buronan tingkat tinggi, jika aku membuat keributan di kerajaan ini dan para keturunan Raja Ba Rong dari Kerajaan Daun Emas mengetahui kami ada disini. Kami bisa mati melawan dua kerajaan sekaligus!"
"Awwhhh... saukit-saukit touloung mauwafkan akhu, akhu tak beurfikir sampai sejaih itu." Jawab Ling Mei dengan kurang jelas karena Xun Zhi yang mashi mencubit dan menarik-narik kedua pipi Ling Mei.
"Pokoknya kita harus berangkat besok ke kediamanmu. Karena jika kita kabur hari esok, pasti Tun Tiang akan kembali mengerahkan pasukannya dengan sekuat tenaganya untuk menyerangmu." Ucap Xun Zhi dengan tegas.
Setelah mendengar perkataan Xun Zhi, Ling Mei mengangguk mengiyakan apa yang di rencanakan Xun Zhi, yaitu untuk kembali ke kerajaan Tian Zhu. Dan juga Xun Zhi pun telah berjanji akan mengantarnya ke kerajaan Tian Zhu dan mengurungkan niatnya untuk mengikuti turnamen yang akan di selenggarakan oleh kerajaan Kabut Hitam.
Setelah berbincang-bincang, Ling Mei berpamitan kepada Xun Zhi untuuk kembali ke kamarnya mengistirahatkan badannya yang cukup capek. Lalu Ling Mei membuka pintu kamar Xun Zhi, "Baiklah Xun Zhi, selamat istirahat."
"Iya."
Ling Mei yang terdiam di depan ointu keluar sambil memegang gagang pintu pun membuka pintunya lebar-lebar dan berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Xun Zhi dengan sopan.
__ADS_1
(BERSAMBUNG)