
Tak terasa hari sudah pagi, mereka bertiga telah bangun dan keluar dari gua itu dan berdiri di depan gua. Pagi itu terlihat cerah tanpa adanya awan ataupun kabut yang menghalangi matahari bersinar.
"Baiklah kalau begitu Wei Chan, Jun LinMei kita lanjut saja perjalanan untuk mengambil bendera ujian kelulusan ini!"
"Baiklah ayo!"
Keduanya menjawab peekataan Xun Zhi dengan semangat. Mereka berlari kembali dengan cepat menuju ke perbatasan hutan GingZi dan Gunung Naga.
Mereka berlari tanpa hambatan. Lalu siang itu akhirnya mereka telah sampai di perbatasan Hutan GingZi. Para peserta ujian lainnya pun mulai terlihat. Mereka dengan ricuh, sedang bertarung memperebutkan bendera yang tertancap di ujung pohon beringin yang besar.
"Baiklah ini kesempatan kita Wei Chan, Jun LinMei. Kita akan mengambilnya dengan cepat tanpa sepengetahuan mereka, oke."
"Baiklah."
Mereka berriga bergerak dengan menuju ke pohon beringin dan menaiknya untuk mengambil bendera yang tersisa.
Xun Zhi dengan cepat memakai langkah cahanya menaiki pohin beringin itu dan mengambil bendera merah yang hanya tersisa 10 buah.
Sementara itu Wei Chan menyentuh pohon beringinnya dan memakai Qi Elemen tumbuhannya. Bendera biru yang terikat di ranting pohon beringin yang tinggi pun tiba-tiba melengkung ke bawah, menghampiri Wei Chan dengan sendirinya.
Wei Chan langsung mengambil bendera itu lalu berlari dengan cepat kembali ke arah menuju dalam hutan kembali.
Namun disisi lain Jun LinMei tampak kesusahan, ia yang berhasil mendapatkan benderanya, berhasil terjegat oleh beberapa peserta ujian wanita lainnya.
Ia dikelilingin oleh 4 wanita yang bersiap menyerangnya untuk merebut bendera di tangannya.
"Baiklah nona Jun, sekarang anda tak bisa lari. Karena anda sudah terkepuung oleh kami berempat hahaha..."
Ucap wanita yang ada did depannya dengan senyum senang.
"Hah... kau pikir kalian semua bisa menghentikaku, kalian ini hanya sekelompok semut di hadapanku!"
Dengan sombong dan suaranya yang lantang ia berkata kepada keempat wanita yang mengepungnya. Sontak mereka pun marah.
"Dasar kau sombong, baiklah terima saja ini!"
__ADS_1
Begitu ucap wanita yang berdiri di belakangnya dan ia pun menghunus tongkatnya yang ia taruh di punggunya, kemuudian memukulkannya ke punggung Jun LinMei.
Akan tetapi Jun LinMei dengan mudah menghindarinya dan setelah serangan yang di hindarinya itu, dengan cepat datang kembali tebasan pedang dari wanita yang berada di depannya.
Karena tak ingin mengenai wajah cantiknya, Jun LinMei pun menghunuskan pedang yang ia gantung di pinggang sebelah kirinya dan menahan tebasan itu.
"Heeee perempuan ******, berani sekali kau ingin melukai wajah cantikku ini, lihat saja jika ada goresan di wajahku walaupun setipis benang sutra. Tanpa ampun aku akan menyiksamu."
Akan tetapi kejadian yang di ucap Jun LinMei pun menjadi kenyataan. Kedua wanita yang memegang tombak di samping kiri dan kanannya mengarakan serangan lurus tepat ke arah wajahnya.
Akan tetapi Jun LinMei yang tak menghindari serangan itu dengan sempurna. Tombak yang mereka arahkan pun, salah satunya berhasil menggores wajah Jun LinMei.
Lalu wajah Jun LinMei pun berubah menjadi seram seperti topeng dewa kematian. Angin mulai bergemuruh mengelilingi Jun LinMei dan membuat pusaran seperti tornado.
Keempat wanita yang mwngelilingi Jun LinMei pun menjerit dan mulai menjaga jarak dengannya. Kemudian Jun LinMei pun berkata.
"Inilah akibatnya jika kalian melukai wajahku ini, jadi terimalah kemurkaan ku ini, Meriam Angin."
Lalu angin di sekitar Jun LinMei berubah menjadi 4 bulatan yang berukuran seperti sebuah peluru meriam. Kemudian Jun LinMei pun mengibaskan tangannya ke arah keempat wanita yang berada di sekelilingnya.
Sementara itu disisi lain Xun Zhi dan Wei Chan yang sudah jauh jaraknya dari Jun LinMei, dengan tiba-tiba Wei Chan berhenti dan Xun Zhi pun ikut berhenti.
"Wei Chan kenapa kamu berhenti? Apakah ada sesuatu yang tertingga?"
"Ahh... aku hanya cemas akan Jun LinMei yang tadi di kelilingi oleh empat wanita!"
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang...?"
"Sekarang aku akan kembali untuk menemuinya, kau duluuan saja Xun Zhi!"
Kemudian Wei Chan pergi dengan terburu-buru kembali ke arah Jun LinMei. Lalu Xun Zhi yang berhenti disana pun berlari melanjutkan perjalanannya dengan cepat.
Lalu siang itu saat di perjalanan kembali menuju sekolah. Xun Zhi melihat Cao Pian berada di depannya, kemudian ia pun berlari lebih cepat, mencoba untuk menyusul Cao Pian.
"Cao Pian bagaimana apakah kamu telah mendapatkan benderanya?"
__ADS_1
Begitu ucap Xun Zhi yang sudah berada di samping Cao Pian, Cao Pian puun terkejut akan kehadiran Xin Zhi yang tak terasa dan berkata.
"Ehh Xun Zhi kah! Yah aku telah mendapatkannya."
"Ohh begitukah! Yasudah kita berlomba saja, siapa yang cepat sampai di sekolah!?"
"Jadi ceritanya kau menantangku yah!"
"Yah begitulah, jadi bagaimana?"
Keduanya pun tersenyum dan saling tatap. Kemudian Cao Pian berkata.
"Baiklah kalau begitu kita mulai di kehitungan ketiga oke!"
"Baiklah tak masalah!"
"Baiklah kau siap Xun Zhi, satu...tiga!"
Cao Pian melangkah dengan cepat dengan ilmu anginnya yang keluar dari kakinya dan meringankan tubuhnya dan berhasil mengelabui Xun Zhi yang tertinggal di belakangnya.
Xun Zhi merasa tertipu. Ia pun mengeluuarkan ilmu langkah cahayanya untuk mengejar Cao Pian yang agak jauh di depannya.
Semakin lama jarak antara Cao Pian dan Xun Zhi pun semakin menipis. Daun-daun yang berguguran di tanah pun berterbangan kembali akibat angin yang di hasilkan oleh kecepatan berlari mereka berdua.
Kemudian beberapa gerombolan orang yang telah mendapatkan bendera sebelum mereka berdua pun telah terlewati.
Dan akhirnya Xun Zhi dapat menyamai kecepatan Cao Pian dan sudah berada di sampingnya.
"Yo Cao Pian, siap-siap untuk kalah dariku yah!"
Dengan senyuman yang perlihatkan kepada Cao Pian Xun Zhi pun berlari lebih cepat dan melesat jauh meninggalkannya.
Cao Pian terkejut melihat Xun Zhi yang sudah jauh di depannya. Ia pun mengerahkan semua kekuatannya untuk mengejar Xun Zhi. Akan tetapi Cao Pian tak berhasil mendekatinya sama sekali dan menyerah mengejar Xun Zhi.
(BERSAMBUNG)
__ADS_1