Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
video mommy


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Menangis lah bila harus menangis, karena menangis adalah bentuk sebuah rasa yang begitu menyentuh relung hati setiap insan.


Apakah itu karena rasa bahagia, rasa haru, atau rasa sedih. jangan sekali-kali menahan nya, karena itu sulit, dan terasa sakit, menyebabkan seluruh tubuh bagaikan terhimpit di dalam ruangan sempit.Meskipun dengan menangis tidak akan terselesaikan sebuah masalah, setidaknya mengurangi beban yang menyesakkan perasaan dan pikiran


Evan memberikan Boy ruang dan waktu untuk dia bersama Bobby, agar Boy bisa memastikan apa yang akan menjadi prioritas bagi Boy, walaupun sebenarnya Evan sangat berat harus berpisah dari Boy, bagaimana pun kebersamaan mereka membuat terjalin hubungan emosional yang begitu erat.


berat, sangat berat bagi Evan, apalagi Rio masih sangat membutuhkan Boy untuk berada di sisi Rio, namun Evan juga tidak boleh egois apalagi saat ini Bobby sangat membutuhkan support ,


Jika beberapa waktu lalu , Lolita dengan setia berada di sisinya , menemani nya dengan segala posisi nya, saat ini Bobby bahkan tidak ada siapapun disisinya, hanya seorang ayah yang dengan tega menyakiti hati dan perasaan nya, walaupun sudah menyadari kesalahannya, tetap saja Bobby merasa kosong, seakan-akan dunia runtuh tidak tersisa baginya


Evan mengajak Rio untuk masuk ke dalam ruangan rawat inap Bobby bagian dalam, setelah beberapa jam Boy ada di dalam ruangan, setelah meminta izin kepada tuan Ubaidillah Affandy,


Tanpa ketukan pintu, Evan menggeser sliding door penghubung dua ruangan, terlihat Boy dengan wajah tertunduk di bibir ranjang pasien


Evan menepuk bahu Boy dengan pelan. Boy yang merasakan adanya sentuhan membuatnya menoleh ke arah Evan


" Dad " ucap Boy dengan suara parau


Evan meraih tubuh Boy yang sudah sama tinggi dengan Evan, memeluk tubuh putra angkatnya, dan Boy menangis di dalam dekapan sang ayah, Rio memeluk tubuh Boy yang sudah bergetar hebat,.


Mereka bertiga saling menguatkan, akan musibah yang menimpa mereka secara beruntun seperti ini


" kita akan menginap " ucap Evan dengan suara rendah, karena selain dia lelah, Evan juga sedih melihat keadaan Bobby seperti ini


" tuan Ubaidillah Affandy " ucap Boy


" Daddy sudah meminta nya untuk pulang "


" kita bertiga akan menjaga Bobby " ucap Evan


" kita " ucap Boy


" iya "


" Daddy sudah meminta uncle Jhon untuk membawakan kebutuhan kita "


" termasuk kasur tambahan "


" tubuh kita tidak cukup di satu kasur single itu " ucap Evan menunjuk dengan jari telunjuknya kearah kasur yang diperuntukkan untuk keluarga pasien yang menginap.


Dengan refleks mereka bertiga tertawa di sela lelah mereka


tidak berselang lama sliding door bergeser, wajah tampan Jhon terlihat dengan membawa banyak paperbag, bahkan dua orang lagi membantu nya menyiapkan kasur tambahan


" Van "


" aku pulang "


" Hanan sudah aku beritahu ,kamu akan menginap disini "


" besok kamu kerja " ucap Jhon dengan wajah lelah


" terimakasih "


" iya "


" aku akan masuk kerja, tetapi mungkin agak siang aku datang " ucap Evan


setelah percakapan yang tidak terlalu lama, Jhon segera pulang ke apartemen nya, karena dia juga butuh istirahat untuk besok


" baiklah "


" istirahatkan tubuh kalian " ucap Evan yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur


" Hm " ucap kedua pria muda itu secara bersamaan


" Dad " ucap Boy


" Hm " ucap Evan yang hanya berdehem saja, namun beberapa saat kemudian Evan memiringkan tubuhnya kearah Boy

__ADS_1


" tidur lah "


" kita butuh istirahat "


" besok kita pikirkan lagi " ucap Evan dengan manik mata yang kian meredup, dan beberapa kali menguap, Boy dan Rio segera menutup kedua mata mereka, segera menyusul Evan di pulau mimpi


Suara cuitan burung di pinggir balkon, sinar masuk ke dalam kamar rawat inap Bobby , membuat ketiga pria tampan itu bergantian untuk memanfaatkan kamar mandi,


pada waktu subuh , mereka habiskan dengan membaca Alquran, untuk diri mereka agar merasa lebih baik, kemudian mereka baru beranjak secara bergantian mengunakan kamar mandi


Bobby terbangun mendengar suara dari ketiga pria tampan itu,saat mereka mengobrol menantikan waktu mereka memulai aktivitas


gerakan dari ranjang pasien membuat Evan, Rio, dan Boy menghentikan obrolan mereka


" bang " ucap Evan


" Dad " ucap Rio dan Boy secara bersamaan


" morning " ucap ketiga pria tampan itu dengan memberikan Bobby seutas senyuman di wajah mereka


dokter dan seorang perawat yang memeriksa kondisi Bobby, sudah melepaskan nasal canule ,yang semalam masih mengunakan sungkup,dan digantikan dengan nasal, dan untuk pagi hari ini Bobby sudah mampu bernafas tanpa bantuan


Bobby menatap wajah Evan, Rio dan Boy secara bergantian, namun tatapan matanya begitu kosong, tanpa ada respon Bobby untuk menjawab sapaan dari mereka bertiga


" bang " ucap Evan, menekan bahu Bobby


" jangan seperti ini "


” kasihan Boy "


" Lolly pasti tidak suka melihat kondisi kamu seperti ini " ucap Evan dengan nada suara yang lembut


Sedangkan di dalam pikiran Bobby kembali ke masa dimana Lolita tidak membalas sambungan telepon dari Bobby, hanya pesan singkat di pesan chat, yang menyatakan bahwa dia sedang menjaga Evan yang saat ini sedang berada dalam perawatan rumah sakit, dengan telaten Lolita mengurus Evan yang membutuhkan dirinya saat itu, bahkan Lolita sama sekali tidak membalas sambungan telepon yang Bobby lakukan, bahkan saat Bobby memutuskan untuk menyusul Lolita di kota S, dengan mengajak Boy


Melihat kondisi Lolita yang begitu lelah , apalagi berat badan Lolita yang kian menyusut sudah dipastikan Lolita mengurus Evan dengan begitu baik,


Dan kini dirinya membutuhkan Lolita, kemana perempuan yang sangat dia cintai, sama sekali tidak ada. Bobby merasa Lolita tidak adil terhadap dirinya, Evan di masa lalu begitu menyakiti nya, namun Lolita masih membuka pintu maaf dengan lebar, sedangkan untuk Bobby , hanya melakukan satu kesalahan, dan itu bukan juga satu kesalahan, hanya kesalahpahaman saja , karena ada campur tangan Melani menjebak dirinya bersama Olivia,


Bobby merasa, Lolita tidak adil, tanpa memberikan Bobby kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi, Lolita meninggalkan dirinya sampai saat ini, bahkan disaat dia dalam kondisi terpuruk nya.


Untung saja Evan segera menahan tangan Bobby yang hendak mencabut selang infus, Boy dan Rio segera membantu Evan , jika Rio menekan emergency bell , maka Evan menekan tombol yang sudah diberitahu oleh Ubaidillah Affandy untuk memanggil para bodyguard yang sedang berjaga di depan, siapa tahu Bobby melakukan tindakan yang akan melukai dirinya lagi,


Tidak butuh waktu untuk dokter, dan perawat segera masuk ke dalam ruangan rawat inap dengan tergesa-gesa, begitu juga dengan para bodyguard tuan Ubaidillah Affandy


mereka membantu Evan, dan kedua putranya, sebenarnya tidak perlu sebanyak ini juga bodyguard untuk mengurus Bobby, apalagi tubuh Bobby yang saat ini sangat lemah, hanya seorang Evan saja bisa mengatasi Bobby, hanya saja saat itu, Evan panik, takut tidak bisa mengatasi Bobby seorang diri


Bobby terpaksa harus di ikat di atas ranjang pasien sebelum dia akan menyakiti dirinya sendiri lagi,


Evan sedikit mengingat kejadian ini saat dia diperlakukan sama , Evan terduduk ....


Oh ..itu,


Evan baru menyadari ternyata Bobby memang sungguh merasakan kehilangan Lolita, akan tetapi bagaimana menyelamatkan Bobby, sedangkan saat ini Lolita sedang tidak ada, bagaimana cara nya ?


Evan meremas wajah tampannya,


" Dad "


" bagaimana kalau kita bernyanyi seperti saat kita di kota M,


" yah " ucap Evan menatap wajah Rio


" tanpa mommy ? "


" bagaimana bisa " ucap Evan dengan frustasi


" kita putar video saat kebersamaan kita bersama mommy "


" kalau kita tampil live, saat ini Daddy dalam perawatan "


" itu tidak mungkin kita lakukan " ucap Boy

__ADS_1


" akan Daddy pertimbangan "


" dan kita butuh persetujuan dari tuan Ubaidillah Affandy " ucap Evan


" baik "


" Daddy " ucap kedua anak Evan dengan semangat


Boy dan Rio mulai membuka laptop, untuk melihat video mereka saat itu, dan membuat kolase foto yang akan di pakai untuk membuat video lainnya yang akan dimanfaatkan untuk Bobby kembali bersemangat, tidak seperti ini,


Ubaidillah Affandy yang mendengar kabar dari salah satu bodyguard nya, mengenai Bobby yang kembali berulah, membuat Ubaidillah Affandy datang ke rumah sakit. Kali ini Ubaidillah Affandy terduduk lemas di sofa melihat keadaan Bobby yang harus diikat di setiap sisi bibir ranjang


" tuan "


" anak- anak memiliki ide untuk membangkitkan semangat Bobby untuk hidup "


" kami membutuhkan izin dari tuan " ucap Evan dengan hati-hati


Tuan Ubaidillah Affandy mendengar penuturan dari Evan membuatnya mengangkat kepalanya dan menatap wajah Evan dengan serius


" ide ? "


" lakukan saja apa yang kalian mau "


" asal Bobby kembali seperti dia yang dulu, yang penuh semangat, dan kembali baik seperti sediakala " ucap tuan Ubaidillah Affandy dengan antusias


" kami membutuhkan layar besar, untuk menampilkan video yang akan di putar "


" kami membutuhkan manekin atau bantal berukuran besar untuk bisa berbentuk tubuh dan wajah Lolly " ucap Evan


" kalau untuk layar besar, kita bisa membawa televisi berukuran paling besar, "


" untuk bantal ukuran besar bisa kita pesan sekarang juga "


" tapi untuk manekin, setidaknya kita membutuhkan waktu " ucap asisten pribadi Ubaidillah Affandy


" tidak bisakah dilakukan dalam satu hari, Robin


" aku akan membayar lebih untuk itu " ucap Ubaidillah Affandy


" tidak bisa, tuan "


" maaf " ucap asisten pribadi Ubaidillah Affandy dengan hati-hati


" itu saja sudah cukup, tuan " ucap Evan dengan sopan


" anak-anak " ucap Evan dengan seutas senyuman di wajah tampannya


" yosh "


" baik, Dad " ucap Rio dan Boy dengan semangat


Mereka berdua segera menyeleksi foto Lolita yang akan dijadikan wallpaper pada bantal, melihat semangat anak-anak nya membuat Evan semakin mengkokohkan semangat nya menghadapi hari-hari tanpa Lolita


Lolly, kami akan selalu menunggu kamu,


pulanglah Lolly,.....ucap Evan dalam batinnya, menerawang menatap langit yang sedikit mendung, pagi hari itu,


Lolly........


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


πŸ’πŸ’


__ADS_2