
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Terlarut dalam dekapan orang yang dicintai, memang semakin membuat tubuh nyaman, dan terhenyak dalam ,ke dalam alam mimpi, rasa nyaman dan lelah menyatu, membuat mereka bertiga tertidur dengan pulas, jika Evan tertidur karena semalaman tidak bisa tertidur dengan nyenyak, maka Bobby tertidur karena merindukan dekapan hangat sang kekasih, sedangkan Lolita tertidur karena dirinya lelah, secara fisik maupun mental, menghadapi masalah yang selalu lebih banyak timbul nya daripada tenggelam,
" Dad...." ucap Boy menggoyangkan tubuh Bobby
" Dad...." ucap Rio menggoyangkan tubuh Evan,
namun mereka masih larut dalam mimpi, membuat Boy dan Rio memutuskan untuk menindih tubuh Daddy mereka masing- masing, yang sontak membuat Bobby dan Evan merasa terhenyak
" hentikan..."
" Daddy tidak bisa bernafas,..." ucap Evan sambil meringis kesakitan
" Ugh...."
" Boy, kamu berat sekali, tubuh Daddy sesak nafas...." ucap Bobby sambil meringis kesakitan
mereka berdua terbangun , dengan muka bantal, beberapa kali menguap, dan merenggangkan otot - otot tubuh mereka yang terasa kaku
jika Evan setiap bangun tidur menuju dispenser untuk minum air baru ke kamar mandi untuk menuntaskan hajat kecil nya , maka Bobby setiap bangun tidur menuju kamar mandi, menuntaskan hajat kecilnya, baru dia akan meminum air mineral,
Bobby mengelengkan kepalanya melihat kedua putranya malah mengantikan posisi mereka sebelumnya,, Evan yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat tingkah dua remaja tanggung itu ikut mengelengkan kepalanya, seringai licik di wajah Evan, menatap wajah Bobby, mereka berencana untuk membalas perbuatan kedua anak mereka yang baru saja menjahili dirinya dan saingan cintanya
mereka mengambil posisi ke arah anak mereka masing-masing, dan bersiap untuk membalas, jika Evan mengelitik tubuh Rio , maka Bobby menindih tubuh Boy yang sudah hampir sama tinggi dengan dirinya,
suara gelak tawa dua lelaki remaja, dan dua lelaki dewasa menganggu tidur Lolita, Lolita terduduk dari posisi sebelumnya, dan mendapatkan big hug dari empat pria yang posesif...
" Oh...."
" jadi ini ,kerja kalian yah...." ucap Amelia bersedekap di depan pintu kamar Lolita,
membuat ke-lima orang yang duduk di atas kasur, memperlihatkan deretan gigi putih mereka,
" sholat..!!!!....." perintah Amelia dengan tegas dan keras , membuat semua orang tanpa terkecuali lari tunggang langgang menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu,
sholat di pimpin oleh tuan rumah, dan Boy berperan sebagai iqomah, untuk doa, Bobby yang mengambil alih,
setelah selesai mereka melanjutkan dengan makan siang dengan sistem prasmanan, dan duduk di karpet berbulu tebal, yang cukup nyaman ..karena rumah Hamid tidak terlalu besar seperti mansion Hamid, namun dengan kesederhanaan tidak menyurutkan kebahagiaan bagi penghuni rumah
" kalian mau kemana..." tanya Harun
" Hm, abang mau ke Noko selayar.."
" kata nya disana seperti pulau Karibia..."
" wisata bawah laut nya keren..."
" abang mau snorkeling, Mom..." ucap Boy
" tapi itu jauh dari sini,..."
" daerah Gr***, sayang....."
" dan kita perlu menginap...." ucap Lolita sambil berfikir
" Bromo, Mom..." ucap Rio sambil mengedipkan matanya seperti mata kelinci, dengan di buat seimut mungkin di wajah tampannya
" masyaallah...." ucap Lolita menekan dahinya
" rafting, di Malang, Love .."
" seru loh....."pinta Evan, sambil mengedipkan matanya seperti mata kelinci, dengan di buat seimut mungkin di wajah tampannya, sama seperti anaknya, mereka bagaikan pinang tanpa dibelah, sangking samanya
Lolita hanya bisa pasrah akan permintaan ke-tiga pria di hadapannya, karena waktu yang akan mereka habiskan tidak akan sedikit, pasti menghabiskan waktu lebih dari satu minggu,
" kamu mau kemana, bang..."
" Hm...." tanya Lolita sambil menyipitkan kedua bola matanya
" ke penghulu...." ucap Bobby sambil memperlihatkan deretan gigi nya yang putih, bersih, dan rapi
" Hah..!!!...."
" penghulu...!!!!...." ucap semua orang tanpa terkecuali
" he...he...he...."
__ADS_1
" yuk...." ucap Bobby lagi sambil cengengesan..
" Hu......"
" mau nya...." ucap sorak sorai para penonton,...
hanya Boy yang mengaminkan, dan Lolita tampak malu-malu, membuat rona merah di pipinya, namun Lolita segera menyadarkan dirinya segera,
" Hm..."
" ya sudah...."
" bagaimana nih...." ucap Lolita
" ya sudah, hari ini kita santai di rumah saja, sambil packing pakaian..." ucap Evan dengan santai
" yah mereka mana ada yang bawa pakaian banyak, terus untuk pakaian dingin nya..." ucap Bobby
" ya sudah, kita hunting pakaian dulu, sore ini, ..." ucap Evan lagi dengan nada yang sama
" Daddy dan Mommy mau ikut...." tanya Lolita
" yah, terserah..." ucap Amelia
" kita ikut saja, Mom.." ucap Harun, sebenarnya Harun sangat malas mengikuti acara muda mudi, yang masih suka traveling, masih suka menikmati destinasi wisata di beberapa kota, namun demi melindungi status putri nya yang sudah tidak gadis lagi, dan tidak menikah, tentu sangat krusial mendapatkan cibiran dari banyak pihak, apalagi di pepet dua pria dewasa yang posesif nya nauzubillah, membuat sakit kepala, dan tidak ada yang mau mengalah, tentu atas dasar itu lah Harun mengikuti langkah Lolita apalagi di kota ini yang masih sangat kental akan adat istiadat dan nilai moral, tentu Harun harus menjaga nama baik kedua pihak keluarga, bahkan ketiga pihak keluarga yang memiliki nama yang cukup terpandang
" baiklah, kalau begitu.."
" mami prepare pakaian kita, ..." ucap Amelia
" tidak ikut kami, oma..."
" ke Mall....." tanya Rio
" tidak perlu, Rio...."
" pakaian oma dan opa masih banyak yang bagus, dan layak pakai,..."
" kalian carilah pakaian kalian,..."
" jangan boros dan jangan pulang larut malam, besok habis subuh kita sudah harus berangkat...." ucap Amelia
Evan, Lolita,dan Bobby melihat ke arah tumpukan koper
" ini mah..."
" seperti tumpukan koper jemaah umroh..." celetuk Lolita,yang mendapatkan anggukan kepala dari dua pria yang berdiri di samping Lolita, mereka sedikit menertawakan para koper dari masing-masing orang
" baiklah...."
" sekarang aku telepon sopir ekspedisi khusus untuk membawa koper, supaya kita nyaman di mobil nanti, ..."
" dan sopir khusus untuk kita,..." ucap Evan
" bodyguard kamu berapa..." tanya Evan
" enam..." ucap Bobby
" ya sudah, mereka kita bagi dua mobil..."
" untuk mereka..."
" satu mobil di depan kita, satu lagi di paling belakang..." ucap Evan
" terus kita..." tanya Lolita
" biar nyaman, dua mobil juga..." ucap Evan
" Mami sama Daddy satu mobil..."
" kamu sama aku dan Rio...." ucap Evan kepada Lolita
" enak saja..."
" lah kami..." ucap Bobby
" sama Mami juga lah ..." ucap Evan dengan santai
__ADS_1
" itu enak di kamu, tidak enak di kami..."
" ogah..."
" kamu saja yang di mobil mami dan Daddy..." ucap Bobby dengan ketus,
perdebatan mulai terjadi, dan semakin sengit, membuat Lolita jengah dengan tingkah dua pria dewasa yang bersikap kekanak-kanakan, di tambah lagi dua anaknya memihak Daddy mereka masing-masing
" stop.....!!!!....."
" Lolly biar sama mami dan Daddy..." ucap Lolita sambil menaikkan kedua tangan nya memberi tanda STOP
" Oh ...."
" NO....."
" Mommy...." teriak empat pria di hadapan Lolita dengan wajah memelas
" ya sudah..."
" kita satu mobil...." ucap Evan dengan lirih
" iya..."
" tidak apa-apa deh..."
" asal satu mobil...." ucap Bobby, yang sudah mengulurkan tangannya ke arah Evan, dan Evan menerima uluran tangan dari Bobby, mereka kini berjabatan tangan...
" terserah deh..."
" pusing aku..."
" aku mau bobok..."
" capek...." ucap Lolita yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur tebal yang sudah dilapisi ambal sebelumnya,
" pagar dan pintu sudah di kunci..." tanya Evan pada salah satu bodyguard nya...
" sudah tuan...." sahut nya
" baiklah..."
" istirahat kan tubuh kalian, besok kita akan berangkat
mereka semua langsung merebahkan tubuhnya mereka di spot masing-masing, sudah tidak tahu lagi yang mana bodyguard nya Evan dan yang mana bodyguard nya Bobby, mereka juga sudah saling mengenal satu sama lainnya, dan mereka tidak mengubris lagi perkelahian yang terjadi diantara bos mereka, kecuali mereka berdua terlihat adu jotos, tentu saja mereka harus melindungi majikan masing-masing
naas bagi Lolita, saat dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, empat pria mengapit tubuh nya, Lolita di apit dengan posesifnya, dan masing-masing memilih spot yang nyaman bagi mereka,
ingin rasanya Lolita teriak,
" aku sesak...."
" di antara kalian...." teriak Lolita dengan lantang dan keras, namun teriak kan itu hanya ada di dalam khayalan nya saja, pada kenyataannya dia hanya bisa pasrah
" bik..."
" bik Tati..."
" tolong matikan lampu nya..." pinta Lolita dengan nada suara yang kian melemah
" sudah, non..." ucap Tati
" terimakasih, bibik..." ucap Lolita masih dengan suara lemah, yang mulai masuk ke dalam alam mimpi nya, yang diikuti para penghuni dadakan di rumah Harun yang terbilang cukup sederhana,
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
ππ