
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Percakapan yang terjadi dalam keadaan emosi hanya berakhir dengan pertengkaran, perlu bersikap dewasa menyingkirkan ego, dan berbicara dengan baik-baik, mungkin kalimat yang tepat untuk Bobby dan Lolita saat ini.
" halah "
" padahal kamu suka kan "
" di sosor - sosor begitu, ..."
" biar kalian berdua bisa CLBK lagi " ucap Bobby dengan ketus, membuat Lolita sedikit berang dengan ucapan Bobby, segera menyingkirkan lengan Bobby, dan mendorong tubuh Bobby menjauh dari posisinya, yang sedang mendekap tubuh Lolita.
Melihat penolakan dari Lolita , Bobby berpikir jika Lolita mengusir dirinya, karena Lolita sudah menggeser posisi Bobby di hati Lolita saat ini, kehadiran Evan membuat Bobby merasa tersaingi, dan takut ditinggalkan oleh Lolita, Bobby merasa takut luar biasa, sehingga emosinya tersulut menghilangkan logikanya yang selama ini membuat dirinya bersikap baik.
" kamu mengusir abang "
" Hah ! "
" iya ! " teriak Bobby memuntahkan emosi yang sejak tadi sudah tertahan agar sang kekasih tidak mengetahui kebenaran yang terjadi padanya semalam bukanlah sesuai dengan prediksi Maria, tapi karena perbuatan sang mantan suaminya sendiri. Lolita segera membalikkan tubuhnya kearah belakang, membelakangi Bobby, karena dia tidak pernah menyangka jika Bobby akan meneriaki dirinya, padahal dia kesal karena Bobby tidak percaya kepadanya, tubuh Lolita bergetar, dia mencoba menahan suara isakan tangis, Lolita menangis dalam diam,
Bobby masih mencoba mengatur ritme nafas nya, dengan beberapa kali mengucapkan kalimat istighfar.
.
.
" ayang beibs, maaf " pinta Bobby dengan suara lembut, namun Lolita tidak menggubrisnya, bahkan Lolita memalingkan wajahnya kearah lain agar tidak melihat ekspresi wajah Bobby
" honey, bunny, sweetie "
" forgive me "
" please " ucap Bobby dengan suara sangat lembut, memegang dagu lancip Lolita kembali menatap ke arah wajah tampannya Bobby, namun Lolita terus menerus menepis tangan Bobby yang mencengkram dagu lancip Lolita, dan masih memalingkan wajahnya kearah lain
suara ketukan, dari pintu kamar Lolita, membuyarkan aura tegang diantara mereka
" sebentar " sahut Bobby
Lolita mencoba untuk bangun dari posisi sebelumnya,
" ayang beibs "
" abang mohon maafkan abang yaah, sayang " ucap Bobby sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Lolita, bekas air mata, masih saja berlinang di pelupuk mata Lolita,
Bobby menyapukan nya dengan jemari Bobby
" abang tidak percaya sama Lolly "
" lebih baik..." ucap Lolita hendak menyelesaikan kalimatnya terhenti karena jari telunjuk Bobby menempel di tengah bibir imut Lolita
" abang percaya Lolly "
" akan tetapi abang tidak percaya mantan suami kamu, sayang "
" maka dari itu mohon izinkan abang menginap, Hm " pinta Bobby sambil menatap dalam manik mata Lolita
" memangnya abang pikir Lolly perempuan malam, yang suka di sosor sana di sosor sini "
" Lolly tidak mau, Lolly tidak suka "
" huhuhuhuhuhu........" isak tangis Lolita pecah, setelah mengucapkan kalimat terakhir nya
Bobby memeluk tubuh kecil Lolita
" iya "
" iya "
" abang yang salah "
" sudah "
" sudah dong nangisnya, maafkan abang yah, sayang "
" Hm " ucap Bobby dengan lembut
Tok...Tokk....Tok.....
suara ketukan berasal dari pintu lagi, Maria terpaksa mengetuk pintu kamar, karena dia cukup lama berdiri di depan kamar Lolita
salah nian kamu Maria, nasib ...nasib....ucap Maria dalam batinnya
Bobby membuka pintu kamar,
" maaf ,tuan "
" saya menganggu " ucap Maria dengan merasa sungkan
" tidak apa-apa "
" nyonya sudah berada di kamar mandi "
" tolong kamu bantu kekasihku " ucap Bobby sambil keluar menuju lantai dua. Tanpa menunggu lama Maria segera menuntaskan yang sudah menjadi pekerjaan nya,
" nyonya "
" kenapa mata nya sembab begini "
" apakah nyonya habis menangis yah ? " ucap Maria dengan penasaran
" memang begitu nampak, Maria " ucap Lolita dengan polosnya
" ya iyalah, nyonya "
" mana suara nyonya parau begini, khas habis menangis gitu "
" siapa yang tidak tahu kalau ibu habis menangis " ucap Maria dengan jujur
" yah sudah "
" kamu jangan membahasnya dengan siapapun " ucap Lolita
" masalahnya apa , nyonya ? " ucap Maria dengan penasaran
" ish....dasar kamu kepo urusan mommy " ucap Lolita dengan malu
" lagi ribut nih dengan tuan Bobby yah " ucap Maria dengan hati- hati
" ish, mau tahu saja deh kamu "
__ADS_1
" dasar kepo "
" sudah - sudah "
" kita selesaikan saja memakai arm sling ini, " ucap Lolita dengan mengerucutkan bibirnya
" jangan sering- sering begitu ,nyonya "
" nanti di sosor tuan Bobby loh " ucap Maria menggoda Lolita yang dalam mode on merajuk
" iih "
" kamu " ucap Lolita , sambil mencubit pipi Maria dengan gemas
" Maria , kamu betah kerja sama saya "
" maaf yah, saya merepotkan kamu terus " ucap Lolita dengan sedikit sungkan
" sudah menjadi tugas saya, ibu "
" seharusnya saya mengucapkan banyak terima kasih, karena nyonya sangat baik sama saya " ucap Maria
" mohon betah - betah sama saya yah ,nyonya "
" biar jasa saya di pakai pak Bobby tiga sampai empat bulan akan datang " pinta Maria
" inshaallah "
" kamu nya yang sabar sama saya, yah, Maria " ucap Lolita, mereka berdua sama-sama tersenyum. Maria merasa beruntung mendapatkan pasien yang memperlakukan dirinya dengan baik, sedangkan Lolita merasa beruntung memiliki teman sampai empat bulan kedepan
Boy dan Rio yang menyelesaikan rutinitas harian nya baru pulang ke ruko sebelum pukul delapan malam, dengan alasan jalanan macet sebagai alasan kuat mereka berdua pulang terlambat. Bobby menyajikan masakan , yang dibeli oleh bodyguard nya, sedangkan Evan yang pulang bersama Boy dan Rio membawa tiga box pizza untuk mereka nikmati ketika makan malam
" makan dulu yuk " ajak Lolita pada semua orang, tanpa terkecuali. para penghuni ruko ,mereka makan dengan lahap. Evan memilih duduk di lantai bersama lainnya, sedangkan Bobby duduk di meja bar dapur, bersama Lolita.
Sesekali Evan melirik ke arah Bobby dan Lolita,
apalagi Bobby dengan telaten membantu Lolita mengupas kulit kerang,...salah satu menu kesukaan Lolita
" kamu mau pizza, tidak, sayang " tanya Bobby
" tidak , Ah "
" Lolly sudah menghabiskan satu porsi tumis sambel kerang "
" mana nasi yang abang berikan ke Lolly tadi cukup banyak "
" tidak sanggup deh perut Lolly "
" kalau salad , Lolly mau sih "
" Lolly tidak akan menolaknya " ucap Lolita dengan senyuman manis di wajah cantiknya
" yah, sudah, ayok "
" abang akan membantu duduk di sofa, biar kamu bisa menonton televisi "
" salad nya akan abang siapkan terlebih dahulu " ucap Bobby
" bosan Ah, menonton televisi melulu "
" bagaimana , kalau weekend ini kita pergi menonton saja, bang ? " ucap Lolita
" terimakasih, bang "
" bagaimana Rio "
" Boy "
" kalian mau kemana weekend ini ? " ucap Lolita sambil mengaduk salad
Boy dan Rio saling pandang, mereka segera berdua saling menempel, segera searching movie yang lagi hit saat ini, mereka berdua memutuskan untuk menonton film yang saat ini lagi booming menjadi trendseller di setiap bioskop
" Mommy mau nonton movie yang bagaimana ? " tanya Rio
" ikut kalian saja ,nak "
" tapi NO untuk film dewasa, kalian belum cukup umur untuk menonton film itu " ucap Lolita
" yes "
" movie ini saja, Mom " ucap Rio sekalian dia beranjak dari posisi sebelumnya, memperlihatkan film yang akan akan mereka tonton di bioskop
" bagaimana, bang ? " tanya Lolita mempertimbangkan film yang akan mereka tonton setelah di review oleh kedua anaknya
" tidak apa-apa sih "
" khas cowok banget "
" malah nanti kamu nya yang bakal tidak suka ? " ucap Bobby sambil ikut mencomot salad yang Lolita akan masuk ke mulut Lolita
" suka-suka saja sih, bang "
" kecuali horor "
" Lolly tidak suka " ucap Lolita sambil memasukkan salad ke dalam mulutnya, tanpa terlalu melihat film apa yang diinginkan oleh kedua anaknya
kalau di masa lampau , Evan sering menjahili Lolita dengan mengajak mantan isteri nonton film genre horor, apalagi saat mereka bertengkar, agar Lolita nemplok di tubuh Evan. Evan tersenyum- senyum sendiri mengingat-ingat masa lalunya bersama Lolita dimana momen-momen Evan menjahili Lolita, hingga dia harus kembali ke masa kini melihat percakapan antara Lolita dan Bobby, beserta Rio dan Boy.
Evan hanya mencoba menjadi pendengar yang baik ,dan juga sambil menilai bagaimana sosok laki-laki yang menjadi saingan cintanya, apakah satu frekuensi dengannya, sedikit culas dalam menggaet perhatian Lolita
" ya sudah, kita pesan, movie yang ini "
" recommended dari anak-anak " ucap Bobby
" aku ikut " ucap Evan dengan semangat
membuat semua orang menatap ke arah Evan tanpa terkecuali
" seriously, Dad ? " tanya Rio , terkejut dengan permintaan Evan, dijawab Evan dengan anggukan kepalanya sambil tersenyum ke arah Rio, membuat Rio langsung berjingkrak senang,
suara teriakan hore, meluncur di bibir Rio, akan tetapi tidak dengan Bobby dan Lolita, mereka saling menatap, pasti akan ada drama apa nantinya, membuat Bobby dan Lolita sedikit khawatir. Bobby menenangkan hati Lolita, dengan menggenggam telapak tangan Lolita
" bukan kah, kamu akan pulang, mas ? " tanya Lolita dengan halus
" iya "
" mas , bisa pulang, senin pagi, kan bisa "
" mas ambil penerbangan pagi, atau malam..." sahut Evan agar tidak melewatkan momen seperti ini
__ADS_1
" nanti, biar mas saja yang memesan tiket nya " ucap Evan
" tidak perlu, aku saja yang memesannya " ucap Bobby , aksi saling serang melalui tatapan mata mereka, membuat Lolita jengah,
jangan lagi deh....ucap Lolita dalam batinnya
" tidak usah mas, Lolly mau mengajak sekalian karyawan Lolly, juga Hannan dan Maria "
" jadi, biarkan Lolly saja yang memesan tiket " ucap Lolita
" biar mas saja, sayang " ucap Evan dengan nada suara yang lembut, Bobby hendak menjawab ucapan Evan, Namun Lolita segera menatap wajah Bobby dan mengelengkan kepalanya pelan,
" bang, sudah deh, mengalah saja dulu yah "
" tidak akan bakal menang "
" mengalah juga tidak akan merugi "
" dan tidak akan menjadikan kita sebagai orang yang kalah, bang " ucap Lolita dengan lembut, Bobby mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba mengalah demi Lolita.
Hannan dan Maria tidak ikut berkomentar, mereka menikmati makanan di depan mereka saja, kecuali terjadi baku hantam ,mungkin mereka akan ikut membantu melerai, tapi sepertinya tidak mungkin mereka akan melakukan perang terbuka, karena ada anak-anak diantara mereka, walaupun saat ini terjadi perang dingin
.
.
.
.
" Honey "
" Lolly mengantuk " ucap Lolita
" ayok "
" kita isya terlebih dahulu, baru setelah itu kita tidur " ucap Bobby sambil ancang- ancang mengangkat tubuh Lolita,
" Maria, ayok "
" ikut kami, tolong kamu bantu nyonya "
" untuk ambil wudhu "
" dan lain nya " ucap Bobby, membuat Maria mengekori Bobby untuk ikut ke lantai paling atas, Evan hanya memindai gerakan mereka melalui sorot mata nya.
Tanpa aba-aba, Lolita tertidur dengan pulas setelah menunaikan ibadah nya, dan mengkonsumsi obat untuk di makan malam hari , berkali-kali Bobby melayangkan tangan nya di depan Lolita, memanggil nama Lolita ,namun tanpa respon dari Lolita
jadi dia melakukan itu, tanpa di ketahui Lolly, br.e***e.k....umpat Bobby dalam batinnya
.
..
Bobby turun ke lantai dua, untuk membereskan sisa makanan, dan bekas wadah kosong yang masih berserakan, Rio sudah tertidur dengan remote diatas tubuh nya, Boy masih berkutat dengan handphone nya, dan Evan sepertinya masih konsentrasi dengan laptopnya, dengan beberapa tumpukan file di atas kursi
" Boy "
" kamu sudah menunaikan isya?
" sudah menyikat gigi kamu ? " tanya Bobby, sambil membopong tubuh Rio yang sudah tertidur
" sudah, Dad " sahut Boy dengan singkat
" kalau sudah "
" tidur lah."
" besok kalian masih harus bangun pagi " ucap Bobby lembut namun serius, Boy langsung mengekori Bobby menuju kamar mereka. Setelah mengurus anak-anak nya, Bobby membereskan lantai dua yang masih sedikit berantakan,
" maaf "
" aku tidak bisa ikut membantu, aku masih banyak pekerjaan " ucap Evan tanpa menatap Bobby
" tidak masalah " Sahut Bobby
" besok, akan ada pembantu yang akan mengerjakan pekerjaan rumah " ucap Evan, namun Bobby tidak menanggapi ucapan Evan, itu sih terserah Evan, Bobby sendiri sudah memilih pekerja yang akan membantu Lolita dalam kesehariannya, namun karena dia cukup selektif, hingga kini belum mendapatkan pekerja yang sesuai dengan kriteria nya
" kamu belum pulang ? " tanya Evan lagi tanpa menatap lawan bicaranya
" aku akan menginap " ucap Bobby tegas tanpa menghentikan pekerjaannya, membuat Evan langsung mengalihkan perhatian ke arah Bobby
" kenapa ? " tanya Evan sedikit ketus
" tidak perlu ada penjelasan"
" aku pikir, kamu pasti sudah tahu maksud aku kan "
" aku akan menginap " ucap Bobby menghentikan pekerjaannya, menatap tajam ke arah Evan
" alasannya ? " ucap Evan tak kalah tajam bahkan dia memicingkan matanya
" kamu cukup paham alasannya "
" apakah Lolly sudah mengetahui perbuatan kamu, Hah ! "
" bagaimana kalau Lolly sampai tahu ? "
" kamu yakin tidak akan mengulanginya lagi kepada Lolly ? "
" kamu yakin Lolly tidak akan mengusir kamu dari sini ? " ucap Bobby dengan menahan amarahnya yang membuncah,terlihat dari suaranya yang penuh penekanan di setiap kata
" saya mengikhlaskan kondisi kita saat ini , dan saya memberikan kamu kesempatan, akan tetapi bukan kesempatan seperti itu " ucap Bobby dengan tegas, menatap tajam ke arah Evan, masih dengan nada penuh penekanan, membuat Evan terdiam, dia tersadar, akan perbuatan nya tadi malam,itu salah, sangat salah, bagaimana jika Lolita mengetahui, apa Lolita sudah mengetahuinya, berbagai macam pertanyaan hadir di pikiran nya saat ini.
" apa yang Lolly sampaikan kepada kamu ? " tanya Evan dengan suara yang terdengar cemas dan khawatir , merasa ketakutan jika apa yang dikatakan Bobby ternyata benar. Jika sampai Lolita mengetahui perbuatan Evan malam itu, ucapan Bobby bukan hanya isapan jempol, pasti Lolita akan mengusir Evan, dan image Evan akan semakin buruk di mata Lolita, Evan tidak menginginkan itu.
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
🍒🍒