Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
tidak menyesal


__ADS_3

🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


Melihat kursi studio yang menanjak, Lolita segera turun dari kursi roda, sebenarnya dia sudah bisa berjalan, hanya saja sedikit pelan dari langkah biasa, kaki nya masih butuh latihan untuk bisa cepat pulih, namun karena film yang akan mereka tonton segera akan di putar, Evan dengan sigap langsung mengendong tubuh Lolita ala bridal style, karena kaget, dengan spontan Lolita merangkul leher Evan, saat ini Lolita sungguh merasa bersalah pada kekasihnya, siapapun pasti tidak akan tahan jika sang kekasih bersama pria lain,


Lolita mengendurkan rangkulannya,


" mas...." ucap Lolita dengan wajah terkejut


" pegangan yang benar, sayang..."


" nanti kamu terjatuh..." ucap Evan dengan lembut, aroma mint dari mulutnya masuk ke rongga penciuman Lolita, bahkan aroma tubuh Evan masih sama seperti dulu saat mereka bersama


Lolita menatap wajah kekasih yang berjalan di belakang punggung Evan


Bobby tahu akan arti tatapan kekasihnya,.. Bobby mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti maksud dari sang kekasih, Bobby bahkan berusaha memberi kekasihnya senyuman di buat se natural mungkin, menutupi hatinya yang terluka, bagaimanapun dia pria normal melihat pemandangan di hadapannya jika dia bisa melakukannya, dia ingin segera mengakhiri hidup Evan, namun apalah daya, ini jalan percintaan nya yang penuh drama


sesaat setelah duduk Lolita segera menggenggam tangan kekasihnya, dan mengelus- elus nya, Bobby memberi kecupan pada genggaman tangan mereka,yang saling berkaitan, Lolita tersenyum dengan bahagia


Evan melihat kejadian itu tepat di depan matanya, kedua matanya terasa panas, begitupun seluruh tubuhnya, suhu ruangan atau suhu tubuhnya yang bermasalah, dengan AC yang menyala, kenapa dirinya merasa panas, bahkan air es yang Evan seruput, masih belum mendinginkan suhu tubuhnya, Evan mati-matian menyalahkan AC ruangan bioskop yang salah....


tapi kenapa Lolita terus mengusap lengannya sedari tadi...


Evan segera mengalungkan jaketnya yang telah dia buka sedari tadi karena kepanasan,


" tidak usah, mas..." ucap Lolita


" pakai saja, sayang..." sahut Evan mencoba tersenyum, sama seperti Bobby


belum ada sejarah, nge- date bareng bertiga, akan tercetak dalam sejarah mereka bertiga kisah ini


tapi ini hanyalah salah satu bentuk perjuangan bagi Evan untuk meluluhkan hati wanita yang dahulu dia sakiti, jika ini harus dia lalui, wajar, sesakit apapun akan dia lakoni, asal Lolita tidak menikah dengan pria lain selain dirinya


dan untuk Bobby , apapun yang terjadi, dia harus bertahan, mempertahankan cintanya bersama Lolita bukanlah hal mudah, masih tersandung restu dari sang Mommy dan putra sambungnya, tapi itu setimpal, karena Lolita lah Bobby menemukan arti hidup baru, yang selama ini dia nelangsa akan hidupnya, Lolita lah tujuan hidupnya,


Lolita bukannya harus memilih, dan dia berada di dua pilihan yang sulit, saat ini Lolita sudah menentukan pilihan nya, untuk menata hidup yang baru bersama Bobby yang menerima kekurangan dan kelebihannya, pria dewasa yang mengerti dirinya, padahal dia sudah menunjukkan sisi buruknya, namun pria ini tetap bertahan, dan Lolita juga mengetahui masa kelam sang kekasih,


menata hidup yang baru bersama, merintis ulang bersama, mungkin inilah kebahagiaan baru bagi nya, hanya saja saat ini, Lolita harus sedikit bertahan untuk membuat anak kandungnya mengerti suatu saat nanti, tugasnya saat ini membuat Rio nyaman, selalu dicintai ibu dan ayahnya, memiliki cinta seutuhnya dari kedua orang tuanya, meski mereka memilih jalan berbeda


suasana studio sudah mulai gelap, pertanda film akan segera di mulai, ....


film yang cukup apik garapan an**di ser**kis, yang di dibintangi Tom Ha**rdy, meninggalkan jejak di memory mereka...


" wow..."


" keren ...." ucap Boy


" iya, bang .."


" tidak menyesal..."


" gege geming, bang...." ucap Rio dengan antusias


Jika awal masuk mereka di suguhi suara sang operator, jika pintu utama telah di buka, maka kali ini kebalikan nya, pertanda film telah usai...


Bobby bisa saja bersikeras untuk berada di dekat Lolita, namun saat ini ada Rio, demi menghormati hak anak nya Lolita, dia menyingkirkan ego yang bersemayam di hatinya


Evan kembali mengendong Lolita ala bridal style, padahal Lolita telah mengatakan jika dia mau turun ke lantai dasar cukup berjalan saja, seakan tuli, Evan tidak mengindahkan permintaan Lolita

__ADS_1


Oh iya, studio bioskop satu ruangan itu, sudah cukup di huni mereka saja, bahkan tidak ada kursi kosong, bayangkan saja, bodyguard dari tiga orang, belum lagi para karyawan Lolita yang turut hadir meramaikan weekend mereka


saat memilih restoran, Bobby yang menawarkan diri untuk membayarkan bill, namun Theo segera melarangnya, atas permintaan Asha, karena Asha tidak ingin acara weekend mereka diwarnai drama saling pamer, apalagi cost atau biaya masuk bioskop ditanggung oleh Evan, lengkap dengan camilannya


" kamu pilih apa, beibs..." tanya Bobby yang duduk bersebelahan dengan Lolita


Lolita masih sibuk memilih menu, sambil membuka semua pilihannya, namun tidak satu pun yang dia sukai, padahal di dalam menu terlalu banyak masakan yang menggugah selera


" entah lah sayang, aku sedang tidak ada nafsu makan..." sahut Lolita yang masih setia membuka tiap lembar buku menu


" tidak ingin mencoba Ratatouille..." tanya Bobby, menahan tawa dengan menggigit bibir bagian bawahnya


" Ratatouille..." ucap Lolita mengulangi ucapan kekasih nya


setelah mengingat-ingat nya, yang butuh waktu tidak terlalu lama, Lolita langsung tertawa, Lolita membekap mulutnya agar suara tawanya tidak terlalu kencang


" baiklah..."


" Lolly pesan itu..." ucap Lolita masih menahan tawanya


" apa itu..?..." tanya Evan, sedikit mencari menu masakan yang belum pernah dia coba


" Oh..."


" Ratatouille , salah satu menu masakan dari perancis, kalau tidak salah...." sahut Bobby , ekspresi wajah nya sama dengan kekasih nya, menahan tawa mereka


" lalu apa yang membuat kalian tertawa..." ucap Evan dengan wajah curiga, bahkan Evan mengernyitkan dahi nya


" Oh..."


" tidak ada apa-apa ,mas..." ucap Lolita , meletakan buku menu di tumpukan menu lainnya yang ada di tangan Bobby


" serius, mas..." ucap Lolita, dengan ekspresi terkejut


" memangnya kenapa..." tanya Evan masih dengan nada curiga


" Ehem..."


" waktu itu, Boy, ngajak nonton film tuh..."


" judul nya Ratatouille..."


" ternyata film itu mengisahkan tentang seekor ti***ku.s yang menjadi seorang chef..."


" kamu tidak bisa membayangkan nya, jika kamu makan masakan yang chef nya seekor ti***ku.s....."


" ini nih orang nya yang mau mencoba nya......." ucap Bobby, menceritakan sejarah Lolita kenapa memilih Ratatouille,


Evan ikut tertawa, membayangkan jika mereka harus makan masakan yang dibuat oleh seekor ti**k.us,...


" Wah...."


" tidak bisa aku membayangkan...."


" kalau sang chef yang berada di dapur saat ini seekor....." ucap Evan


" apalagi chef nya , yang tidak sengaja tergelincir masuk kedalam kuali,.."

__ADS_1


" sang ko chef nya pas angkat tuh olahan menu masakan,..."


" harus membawa seekor chef ke rumah sakit, atau bagaimana nih...." sambung Bobby


membuat Lolita, Evan, dan Bobby tertawa bersama, dan obrolan hangat mencair di meja mereka, sebelum makanan di sajikan di meja mereka


jika mereka asik mengobrol dengan berbagai banyak tema obrolan, maka di meja yang dihuni oleh Asha dan Theo menggambarkan keromantisan dua orang insan dimabuk cinta, seperti dunia hanya milik mereka, yang lain numpang lewat saja, mereka tidak menghiraukan orang lain....


sedangkan di meja yang di huni anak - anak, sibuk membahas para karakter yang mereka pilih,berapa jatah top up yang diperbolehkan sang Mommy, apa saja yang yang mereka dapatkan, pembelian diamond, emoticon yang mereka miliki di game yang digandrungi mereka saat ini, yah anak muda kekinian...


para karyawan Lolita yang berjenis kelamin perempuan,, mereka sibuk ber-selfie ria, kapan lagi makan di restoran super mahal, dengan menu yang dibagi tiga tahap, yang pasti tidak akan kenyang versi rakyat +62 yah, tapi lagi-lagi demi gaya, dan sebuah kenangan, kapan lagi momen ini terjadi, bahkan mereka tidak harus membayar, sesuatu banget kan,


namun tidak untuk Siska, dia gadis berwajah dingin,selalu saja mode siaga, membuat Mona terkadang mengerjainya,hanya agar Siska merespon , seperti saat ini saat semua tersenyum, Siska masih saja lempeng tanpa ekspresi bahagia, sampai- sampai Mona menarik kedua pipi Siska agar tersenyum, yang membuat orang disekitarnya tertawa melihat tingkah Mona dan Siska


jangan di tanya para bodyguard, mereka sama saja, tanpa ekspresi, yang pasti mereka sudah menjadi tiga kubu, sesuai tuannya masing-masing, mereka saling memindai satu sama lain hanya lewat tatapan mata mereka


bukan sebagai lawan, bukan pula sebagai kawan, cukup tahu mereka dari pihak mana, cukup sampai di situ, mereka tenang kembali saat makanan sampai di hadapan mereka,


kecuali meja yang ada Mona, tentu saja, tidak ada Mona tidak ramai, ...


dari mengeluh makanannya se-imprit, namun tetap dia posting sebelum masuk ke dalam tenggorokan nya , belum lagi suara sendok yang berbenturan dengan sedikit nyaring, membuat semua orang meliriknya sambil menggelengkan kepala mereka, pakai ngomong,


" aku mah enaknya pakai tangan makan ini...."


" aku mah suka nya rendang...."


" bla...bla...bla...." ...


membuat Maria harus menutup mulut Mona, sambil berbisik di telinganya,


" Mona.."


" kalau kamu masih banyak ngomong...."


" nanti dikeluarkan dari sini...."


" tuh...satpam restoran sudah melihat kamu dari tadi...." ucap Maria sedikit menakuti Mona agar Mona segera diam, padahal yang di tunjuk bukan lah satpam, tetapi seorang pelayan yang berdiri di sudut ruangan untuk menjalankan tugasnya,


jangan di tanya respon gadis lain ketika Mona tiba-tiba diam, artinya kalimat pembungkam yang Maria keluarkan manjur....


kali ini Bobby dan Evan sangat akur, saat appettizer,dan dessert yang mereka pilih berbeda, mereka saling mencicipi menu makan mereka termasuk Lolita,


waah....akur yah....kalau di dunia nyata gini, mau dong ...he..he...he...😁


.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


🍒🍒


__ADS_2