Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
berjanjilah


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sebelum magrib tiba, Evan membuka kedua matanya, Evan masih berusaha memberontak untuk melepaskan tali fixir yang mengikat tubuhnya,


" Love..." ucap Evan dengan mengiba


Lolita mendekati tubuh Evan yang terikat di atas ranjang pasien


" apa, mas..."


" lepaskan ini..."


" ini menyakiti aku..." ucap Evan


"mas..." ucap Lolita sambil mengelus pipi Evan dengan raut wajah yang tersirat kesedihan di dalam manik matanya


" Love...." ucap Evan lagi, menatap manik mata Lolita, bukannya Lolita tidak tahu arti tatapan mata Evan, hanya saja, dia dan Evan bukanlah muhrim, tapi dalam kondisi seperti ini, anggap saja membantu seorang abang, mungkin itu yang membuat Lolita bergerak memeluk tubuh Evan dan memberi kecupan di pipi Evan, yang membuat Evan, memindahkan posisi kecupan ke arah bibir, Evan berusaha menahan tubuh Lolita agar menerima kecupan darinya, namun karena Evan dalam kondisi terikat tentu saja membuat Lolita berhasil melepaskan diri dari Evan


" mas..."


" di dalam ruangan ini tidak hanya kita berdua...."


" ada Jhon juga berada disini, ..."


" tidak enak dilihat orang, mas..." ucap Lolita dengan hati-hati , dan sedikit berdalih menjual nama Jhon, agar Evan tidak merasa tersinggung


perawat masuk ke dalam ruang rawat inap Evan untuk mengecek kondisi pasien,


sebanyak ruangan, hanya ruang VIP inilah tidak di lengkapi CCTV ,kamera pengintai, yang berfungsi untuk melihat kondisi pasien, gerak gerik pasien,


kenapa tidak di fasilitasi dengan hal yang sama, alasannya cukup simpel, karena pada ruangan ini, pasien di monitor oleh keluarga nya sendiri, sedangkan ruangan lainnya tidak, dengan jumlah pasien yang cukup banyak, apalagi untuk ruangan kelas tiga, yang dihuni pasien sangat banyak, memonitor pasien melalui CCTV sangat membantu pekerjaan perawat dalam menjaga kondisi pasiennya,


agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh pihak rumah sakit


bagaimanapun rumah sakit bertanggung jawab pada setiap pasiennya, selama dalam pengawasan rumah sakit, coba bayangkan dalam satu ruangan, yang dihuni lebih dari enam, bahkan ada lebih dari tiga puluh pasien dalam satu ruangan, walaupun saat mereka beristirahat mereka akan kembali ke kamar masing-masing yang bisa diisi enam pasien, dijaga perawat hanya sekitar tiga atau empat perawat jaga, itupun jika tidak ada yang berhalangan hadir, seperti sakit misalnya,


kemungkinan terjadi pada pasien , khusus nya dengan gangguan kejiwaan, terjadi saling baku hantam, saling menyakiti tentu saja bisa terjadi, apalagi ada pasien tidak suka berisik, sedangkan ada pasien sukanya teriak- teriak, ini akan membuat kondisi tidak kondusif, sedangkan mereka dalam satu kelas yang sama, para perawat harus memutar otak mereka agar tidak terjadi pertikaian diantara mereka


berjam-jam menghabiskan waktu kerja mereka mengurus pasien dengan kebutuhan khusus, yang bahkan terkadang keluarga pasien sudah tidak mau mengurusi kehidupan mereka lagi, bahkan sudah hilang rasa empati terhadap saudara, ibu ,ayah, suami, isteri, yang lebih rela meninggalkan si pasien bertahun-tahun di rumah khusus ini dengan alasan capek, lelah, karena perbuatan pasien ...


tapi perawat dengan kesungguhan hati mereka, merawat, menjaga, para pasien dengan tulus, bukan karena gaji yang mereka peroleh lebih besar, tunjangan mereka lebih besar, bukan itu....


malah lebih enak jika merawat pasien dengan kondisi fisik saja dari pada dengan kebutuhan khusus ini, karena keluarga pasti menjaga pasien, tidak akan mengalami cidera, terkadang perawat di rumah sakit khusus ini harus berjibaku dengan pasien yang memberi reaksi agresif, mengigit, meludah, bahkan ada yang memukul,


pada kenyataannya sebagian besar perawat pasti mengalami hal ini, minimal kena tumpahan air liur, yang pasien lemparkan ke wajah perawat secara tiba-tiba


kembali ke cerita awal,


perawat masuk ke dalam ruang rawat inap Evan untuk mengecek kondisi pasien,tak lama kemudian dokter jaga di shift itu datang melihat kondisi pasien terkini,


" bagaimana, nona..." tanya dokter ke Lolita


" mas Evan, minta dibuka ikatannya..." ucap Lolita


" kalau dari saya sih, belum memperbolehkan nya, nona..."


" apalagi melihat kondisi tuan Evan saat di IGD tadi kan...."


" bahkan nona, saja sampai diciderai oleh tuan Evan, meskipun tanpa sengaja..." ucap dokter memberikan saran


" mas, dengarkan..."


" belum boleh..."


" nanti yah, kalau mas sudah merasa baikan..." ucap Lolita kepada Evan dengan sangat lembut


" lepaskan, Love..."


" aku janji, tidak akan kemana- mana..."


" asal kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku..." ucap Evan dengan terisak-isak

__ADS_1


Lolita ikut menangis, saat ini dia harus bagaimana...


Evan kondisi nya seperti ini, ada peran besar karena disebabkan oleh Lolita, tapi dia tidak mungkin bersama Evan dalam ikatan pernikahan lagi, karena hatinya masih menyimpan luka, sulit untuk menerima kehadiran Evan sebagai seorang suami, sangat sulit, tapi..ini...harus bagaimana....


Lolita menangis, menangisi kondisi Evan, dan kondisi dirinya sendiri, oh Tuhan, apa yang engkau inginkan...gumam Lolita dalam batinnya


" mas...." ucap Lolita sambil mengelus- elus rambut Evan


" berjanjilah..."


" sembuh, dan sehat...."


" kuatkan hati kamu, mas..."


" Lolly akan mensupport mas, bagaimana pun kondisi mas..."


" Hm..."


" Lolly akan terus sayang dengan mas,...."


" Hm..."


" semangat untuk sembuh, yah..." pinta Lolita dengan nada suara sangat lembut


yah, pak...makanya, jangan suka selingkuh, menyesalkan sekarang,wajar juga sampai bapak ini sebegitu nya, mantan isteri nya cantik begini, Ck...Ck....hidup memang banyak godaan....banyak- banyak istighfar dan bersyukur mungkin hanya itu kunci menghadapi hidup sih....gumam dokter D, dalam batinnya


" dokter...."


" boleh saya lepas ikatan nya..." tanya Lolita menatap kearah dokter dan perawat yang berdiri bersisian


" silahkan..."


" di jaga yah, nona..."


" dan resiko di tanggung keluarga, karena kami tadi telah menyarankan agar tidak di buka terlebih dahulu ikatan tali fixir nya, karena kalau dari kami sih, itu hanya agar pasien tidak melukai dirinya sendiri dan orang lain...." ucap dokter jaga


" oh, iya..."


" biar saya yang bertanggung jawab..."


" kalau begitu silahkan mengisi form penolakan tindakan restrain, nona...." ucap dokter


" iya, dokter..." sahut Lolita dengan mantap


Lolita mengisi form atau blangko persetujuan atau penolakan tindakan restrain yang di sarankan oleh pihak rumah sakit, dengan alasan akan menjaga Evan dan menjamin bahwa Evan tidak akan melakukan tindakan yang baru saja dia lakukan saat berada di ruang isolasi


Lolita membuka ikatan tali fixir, tali yang hanya berfungsi sebagai tali pengaman yang sangat aman dikulit pasien,di bantu oleh Jhon


Evan ingin mandi, namun Lolita takut jika Evan akan melakukan hal yang tidak diinginkan jika sendirian, tapi Evan meyakinkan Lolita jika dia hanya harus membersihkan tubuhnya dari rasa gerah, walaupun Lolita sangsi dengan ucapan Evan, Lolita harus mengikhlaskan Evan mandi di kamar mandi sendiri, karena tidak mungkin lagi dia membantu kegiatan Evan


Jhon sudah menawarkan diri,namun tatapan mata Evan masih mendominasi , membuat Jhon terdiam tanpa mampu melawan


" Love...."


" disini tidak ada bathtub..."


" bahkan mandi harus mengunakan gayung...."


ucap Evan yang sudah memberikan komplain atas fasilitas yang ada di rumah sakit


" cepat sembuh yah, mas...."


" kamu nikmati dulu yang ada..."


" mas butuh ketenangan disini..." ucap Lolita dengan lembut


" aku butuh kamu...,"


" Lolly..." ucap Evan langsung meraup bibir Lolita dengan haus, bahkan bermain apik menyesapnya dengan penuh damba


Lolita tidak mampu menolak, daam batinnya Lolita saat ini dia merasa sebagai pendosa besar, bagaimana dia menerima sentuhan dari seorang pria yang bukan muhrimnya, tapi dia hanya bisa pasrah, agar Evan cepat pulih, tentu akan membuat anaknya Rio tidak akan merasa kecewa pada Lolita

__ADS_1


apalagi jika Rio tahu penyebab sang ayah sampai seperti ini karenanya, Lolita tidak sanggup jika Rio akan menghakimi nya


Evan memegangi pinggang Lolita, mere**nya untuk membangkitkan hasrat Lolita, perlahan menyelusuri perbukitan, Lolita berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Evan tanpa membuat Evan terluka


" mas...." ucap Lolita menatap wajah Evan,dengan raut wajah sedih


Evan tersadar dengan perbuatan nya, dia meletakkan kepala nya di curug leher Lolita,


" maaf..."


" asal kamu selalu bersamaku..."


" jangan tinggalkan aku..." ucap Evan dengan posesif, mengeratkan pelukannya di tubuh Lolita


" aku tidak bisa berjanji, mas..."


" namun aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkanku...." ucap Lolita dengan lembut


" cukup seperti ini .."


" jangan pergi.."


" jangan tinggalkan aku.."


" aku takut...."


" lebih baik aku..." ucap Evan kembali risau, dan tubuhnya seperti akan kembali ke fase sebelum nya


" mas...." ucap Lolita sambil mengelus- elus punggung lebar sang mantan suami nya


" tidak akan meninggalkan kamu,..."


" Hm..."


" kita hanya perlu ruang, masing-masing..."


" Hm...."


" ok...." ucap Lolita berusaha membuat Evan menenangkan Evan


" kembali ke tempat tidur, atau mau apa..." tanya Lolita


" terserah..."


" asal bersama kamu...." ucap Evan masih dengan tingkah posesif nya, bahkan Evan menatap tajam kearah Jhon


" mas..."


" tidak boleh seperti itu, dengan abang Jhon..." pinta Lolita


tingkah Evan seperti singa menatap lawannya, tentu saja Lolita harus memperingatkan Evan agar tidak berlaku agresif terhadap teman yang selama ini selalu bersama dia


" maaf, bang..." ucap Lolita pada Jhon


" tidak apa-apa, nyonya..." ucap Jhon


Jhon masih berharap Lolita kembali bersama sahabatnya, karena dia sangat menyukai couple ini, dari semasa zaman putih abu-abu


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


🍒🍒


__ADS_2