
š“š“š“š“š“š“š“š“š“š“š“š“š“š“
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, baik Boy maupun Rio, mengucapkan kalimat salam sebelum pergi sekolah ,dan tak lupa salim kepada Lolita dengan penuh takzim. Evan mengajak Lolita kembali ke lantai tiga, sebelum mengantar anak-anak nya sekolah, sedangkan
Jhon sudah menunggu Evan di lantai dasar,
tidak perlu waktu yang lama, mobil yang dikendarai oleh sopir yang akan menjadi sopir khusus untuk Evan yang dipersiapkan oleh Jhon untuk menyambut Evan di kota J, sang sopir melajukan kendaraan menuju rute pertama, mengantarkan anak-anak menuju ke sekolah , tempat biasa Boy dan Rio beraktivitas
" Dad "
" saat libur sekolah nanti, Rio mau pulang " ucap Rio dengan semangat, pulang yang Rio maksudkan adalah pulang ke kota asalnya
" Ok "
" kita mau kemana jika sampai disana ? "
" Rio yang akan pilih destinasi nya,yah " ucap Evan
" yupz "
" kali ini Rio ajak abang yah, Daddy "
" kan opa Hamid dan oma Ida belum berkenalan sama abang " ucap Rio dengan antusias
" Oh, tentu saja "
" kita ajak Mommy sekalian " ucap Evan tak kalah senangnya dengan Rio
" kamu mau kan, bang " Evan menatap Boy
.....Glek......
Gaswat.....gawat sangat, bukankah daddy Bobby sudah planning jauh-jauh hari mau ke ngajak ke Bangkok, ngajak Mommy traveling
, Boy berdiam diri sibuk dengan alam pikirannya sendiri
" bang "
" abang " ucap Rio menggoyang-goyangkan lengan atas Boy
" Eh "
" Oh "
" i...iya, Daddy "
" tapi nanti mau bertanya pada Mommy terlebih dahulu, Dad " ucap Boy mencari kalimat yang aman
Rio dan Boy berada di dalam kawasan sekolah yang sama, untuk Boy lebih leluasa menjaga adiknya,meski tidak satu gedung, dan memudahkan Lolita ataupun karyawannya jika menjemput mereka berdua, itulah alasan Lolita memilih sekolah yang lengkap dari beberapa tingkat sekolah, kecuali universitas saja, terpaksa Lolita mencari universitas sesuai dengan bidang yang ingin Boy inginkan. Mau tidak mau Boy dan Rio akan terpisah untuk tahun depan, karena saat ini Boy sudah mulai mempersiapkan diri untuk ujian tingkat akhir.
setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah, Evan kembali masuk ke dalam mobil
" kita kemana lagi, masbro " tanya Jhon
" langsung ke perusahaan "
" dua atau tiga hari lagi, aku cabut ke S"
ucap Evan
" bagaimana langkah kamu selanjutnya, Van ? " tanya Jhon
" mungkin aku akan menetap disini " ucap Evan
" bukankah kamu tidak suka berada disini, karena sering banjir kalau datang musim hujan " ucap Jhon
" anak isteri aku disini, yah aku harus berada disini "
" Lolly saat ini sudah tidak mau menuruti lagi semua kehendak aku "
" aku yang harus mengalah kali ini, dan akan selalu belajar mengalah dari Lolly " ucap Evan dengan tersenyum di wajah tampannya
" heh "
" kamu yakin "
" jika Lolita bakal menerima kamu lagi "
" sedangkan saat ini sudah ada pria yang jelas-jelas sudah ber status kekasih " ucap Jhon dengan hati-hati
" asem, kamu "
" bukannya menyemangati aku "
" malah menjatuhkan semangat aku " ucap Evan sembari menendang kaki Jhon yang sedang duduk di samping Evan, membuat Jhon merintih kesakitan, karena perbuatan Evan
" serius nih masbro "
" tipis banget harapan kamu "
" maaf, bukan aku mau membuat kamu terluka "
" aku akan selalu tetap support perjuangan kamu untuk mendapatkan Lolita kembali "
" tapi kamu juga harus menyiapkan mental "
" apabila kamu tidak berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan " ucap Jhon dengan raut wajah yang serius
" Hm "
" kita lihat saja nanti "
" yang penting aku harus berusaha sampai titik darah penghabisan "
" gaspol, masbro "ucap Evan memberikan semangat kepada diri nya sendiri
" kamu sudah mencarikan apa yang sudah aku minta ? "tanya Evan
" sudah "
" kapan kamu akan menyurvei lokasi " ucap Jhon
" besok " ucap Evan
" Oh "
__ADS_1
" kamu membeli mansion, berarti untuk apartemennya kamu tidak jadi membeli nya " ucap Jhon
" siapa bilang tidak jadi ? "
" aku tetap akan membeli apartemen dan mansion "
" membosankan jika aku tinggal sendirian di mansion saat ini "
" mansion itu akan aku huni saat Lolly menerima menikah dengan aku lagi " ucap Evan
" apakah kamu yakin, Lolita akan menerima pernikahan yang akan kamu tawarkan kembali kepada Lolita ? " ucap Jhon dengan hati-hati, bukan apa-apa, Jhon hanya merasa takut jika Lolita tidak berhasil dimiliki oleh Evan, mansion itu akan terbengkalai, padahal harga yang dibanderol untuk kawasan itu sangat mahal
" meyakinkan diri sendiri dulu saja ,Bro "
" biar sedikit mengurangi rasa tidak nyaman di dada aku ini " ucap Evan sambil menerawang ke luar jendela mobil
" aku tidak pernah menyangka "
" sungguh tidak pernah menyangka "
" kalau kisah hidup aku bakal berakhir seperti begini "
" selama ini, Lolly selalu mengerti aku "
" menurut apapun yang aku perintahkan kepadanya "
" aku tahu, yang aku lakukan dulu, itu salah "
" aku sudah menyakiti Lolly baik secara lahir dan batin nya "
" aku pikir Lolly pasti akan memaafkan aku seperti yang sudah-sudah "
" ternyata, dia meninggalkan aku "
" hal yang tidak pernah terpikirkan dan terbayangkan oleh aku "
" dia meminta cerai sama aku "
" dengan bodohnya aku menuruti kemauan dia "
" kalau aku tahu hidup aku bakal seperti ini tanpa dia "
" perasaan aku dan hidup aku tanpa dia "
" setelah aku kehilangan dia dalam hidup aku, aku seperti hidup dalam kegelapan, hidup aku gersang dan hampa "
" aku kehilangan arah dan tujuan hidup aku "
" seharusnya saat itu, meskipun Lolly menangis darah sekalipun, aku tidak akan pernah melepaskan Lolly dalam hidup aku " ucap Evan dengan menghelakan nafasnya dengan berat
" semoga sekarang dia mau mengerti "
" mau menerima aku lagi, dalam hidupnya "
" walaupun kemungkinannya sangat kecil sekalipun akun akan tetap mencoba nya "
" aku harus bisa meyakinkan Lolly, kalau aku yang sekarang pantas mendampingi hidupnya, berada di sisinya "
" aku mohon kamu mendoakan aku, masBro " ucap Evan berbicara agak panjang, dengan tetap memandangi jalanan ibukota, yang dihiasi gedung pencakar langit. Jhon hanya mampu mengucapkan kata Amin dalam batinnya, sesuai dengan permintaan Evan kepada nya bukan dengan paksaan, Jhon mengucapkan kata itu dengan tulus, tapi , entah terdengar oleh Tuhan atau tidak, karena Jhon dan Evan berbeda keyakinan setidaknya dia sudah berniat baik , semoga tuan nya sekaligus sahabatnya dapat memperoleh kebahagiaan setelah masa beratnya beberapa waktu silam
.
.
.
.
.
di ruko,
Setelah jarum jam menunjukkan angka tujuh lewat, para pegawai Lolita mulai berdatangan
" Mommy "
" tuh, bodyguard Mommy di lantai dasar "
" masih saja tertidur, mana dia mendengkur "
" liur nya...Uih "
" menjijikkan " ucap Mona sedikit sebal, sedangkan Lolita tertawa, mendengarkan penuturan dari Mona,
" ya sudah, kamu suruh dia bangun, dan pinta dia temui mommy sekarang " ucap Lolita menengahi kekesalan salah satu pegawai nya.
setelah drama membangunkan sang bodyguard, si musuh baru Mona, segera menemui Lolita di ruang kerjanya
" nyonya " ucap Hannan dengan sopan setelah mengetuk sekat di lantai dua
" masuk " ucap Lolita
" maaf, Hannan "
" membangunkan tidur kamu " ucap Lolita
" saya yang salah, nyonya "
" tidak semestinya saya bangun kesiangan " ucap Hannan dengan menundukkan kepalanya
" coba kamu mengajak Maria sarapan pagi "
" kalian belum sarapan pagi kan "
" tapi saya tidak bisa menjamu kalian "
" kalau kamu masih mengantuk, boleh tidur di kamar Boy setelah kamu sarapan pagi dan mandi " ucap Lolita dengan seutas senyuman, karena Lolita tahu jika Hannan tidak tidur semalaman
" terima kasih, nyonya " ucap Hannan dengan cepat, dan segera meninggalkan Lolita
" Mommy " teriak Mona dengan suara cempreng khas dari karyawan Lolita satu ini, namun Mona jugalah yang menghidupkan suasana di ruko
" Mommy "
" handphone Mommy dari tadi terus berdering "
__ADS_1
" niih yayang bebeibs Mommy yang telefon " ucap Mona sambil menaikkan dan menurunkan alisnya, menggoda Lolita. Lolita segera meraih handphone milik nya yang berada di genggaman tangan Mona,percakapan via sambungan telefon, langsung aktif setelah Lolita menekan simbol telefon bewarna hijau
cukup lama percakapan mereka lakukan, namun tidak berselang lama sambungan telefon langsung diganti menjadi video call, Bobby semakin semangat menjalani hari nya dalam bekerja. Namun sesaat kemudian Bobby sedikit memicingkan matanya,
" beibs, coba singkirkan rambut kamu, sebelah kanan, sayang " ucap Bobby dengan serius
" sebelah kanan, seperti ini " ucap Lolita sambil mengarahkan handphone ke posisi yang di pinta kekasihnya
" iya " ucap Bobby, melihat itu, Bobby segera berdiri dari posisi nya semula, Bobby mencoba mengatur ritme nafas nya...
" kenapa, Honey ? " tanya Lolita dengan polos nya, sedangkan Bobby masih terdiam, dan Lolita tidak tahu kesalahan nya membuat Lolita juga terdiam, lama sambungan video call terhubung, dengan posisi mereka saling terdiam, tanpa mengatakan apapun
" kapan Evan pulang ke S ? " tanya Bobby
"dua atau tiga hari lagi, katanya tadi sih begitu " ucap Lolita dengan sedikit mengingat ucapan Evan
" abang kerja dulu yah, "
" nanti jam 5 abang akan segera pulang, langsung ke ruko " ucap Bobby, membuat Lolita mengangguk an kepala nya,
" ya sudah, selamat kerja, Honey " ucap Lolita dengan manja
" K**i.ss nya mana " pinta Bobby , kemudian Bobby tersenyum, setelah mendapatkan mood booster, Bobby harus segera menyelesaikan pekerjaan, kalau dia tidak mau pulang terlambat. Lolita kembali ke rutinitas harian nya, walaupun terkadang dia menghentikan beberapa aktivitas nya, pada saat sakit kepala menyerang Lolita. Bahkan Lolita tertidur dalam kondisi duduk di meja kerjanya. Bobby yang datang melihat posisi tidur Lolita, segera mengendong tubuh Lolita ala bridal style kembali ke lantai paling atas. Bobby segera menyingkirkan rambut Lolita ke arah belakang, terlihat warna merah, sebuah tanda ki*ss ma*r.k, dan itu tidak hanya satu saja di bagian leher, Bobby segera membuka beberapa kancing kemeja Lolita, terlihat lagi dua tanda bekas ki*s.s m%r.k, Bobby hanya ingin memastikan apa yang dia lihat melalui sambungan video call tadi tidak lah salah, setelah Bobby merasa yakin, Bobby segera menutup kembali kancing yang dia buka, dengan mengepalkan tangannya, raut wajah Bobby berubah warna, aura amarah menyeruak di wajah nya, berkulit putih yang berubah menjadi kemerahan, membuatnya semakin terlihat jika saat ini, hatinya sedang tidak baik-baik saja, Bobby diliputi emosi, buku-buku tangannya semakin pias memutih, saat kepalan tangan semakin kuat, bahkan rahangnya mengeras,dengan gigi bergemeletuk.
Bobby berusaha mencoba menguasai dirinya, agar tidak memuntahkan emosi langsung kepada Lolita, Bobby segera bangkit dari duduknya,menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar Boy selain meredakan emosi nya, dia harus segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket
" ayang "
" ayang Beibs "
" ayolah "
" bangun " ucap Bobby dengan sangat lembut, dibelainya wajah Lolita, namun Lolita tetap terlelap, disitu Bobby yakin jika Lolita tidak tahu jika semalam dirinya telah mengalami p.el***o.ce.h.an s.e.k.s®l oleh mantan suami nya sendiri, Bobby segera meminta Maria menyiapkan kebutuhan Lolita mandi, dan Maria dengan sigap melakukan perintah dari tuannya
" Lolly, bangun sayang " ucap Bobby, setelah ******* bibir Lolita, Lolita berusaha mengerjap- ngerjapkan kedua mata nya ketika Bobby sudah sangat menganggu dirinya
" kamu sudah pulang ,sayang " ucap Lolita dengan suara parau nya khas bangun tidur, sambil mengelus pipi Bobby
" Hm "
" mandi,gih " pinta Bobby,
Lolita mengangguk-anggukan kepalanya
Bobby segera membopong tubuh Lolita dengan gaya ala bridal style
setelah Lolita mandi, Bobby menghujami Lolita dengan serangkaian pertanyaan,
dimulai dari kegiatan apa saja yang dilakukan Lolita setelah Bobby pulang ke mansion ayahnya, terus semalam Lolita tidur jam berapa,dengan siapa, Lolita menceritakan semuanya tanpa di tutupi, sampai menceritakan keluhan di sekitar daerah belakang nya,yang diprediksi Maria akibat c.el%%ana d.a.m yang terlalu sempit atau terlalu lama pemakaian
Akan tetapi hal itu sudah teratasi karena setelah diberikan salep untuk menghilangkan rasa perih, pada daerah itu, dan meminta Mona membelikannya ****** ***** baru berbahan katun, namun raut wajah Bobby kembali memerah, menahan amarahnya,
" kenapa bang, Lolly salah apa " tanya Lolita dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menyadari jika kekasih hatinya menatap dirinya dengan tatapan yang terlihat sedih dan marah secara bersamaan, Lolita tidak tahu apa yang terjadi, namun Bobby mengelus-elus rambut Lolita
" boleh abang menginap ? " ucap Bobby, namun
Lolita nampak ragu menjawab pertanyaan dari Bobby
" izinkan abang menginap sampai Evan pulang ke S "
" kamu haru memberitahu abang bila Evan sedang berkunjung ke ruko, kapan pun, dimana pun jika kalian hanya berdua, kamu wajib memberitahu abang " pinta Bobby
" iya, tetapi begitu mas Evan pulang, abang tidak boleh menginap lagi "
" pamalik bang " ucap Lolita dengan hati-hati
" iya, abang tahu itu "
" maka nya "
" ayok kita menikah, ayang beibs "
" biar tidak pamalik lagi "
" kan repot sendiri kalau seperti ini " ucap Bobby yang mulai tersenyum meski terpaksa
" idih, mau nya "
" sebenarnya Lolly juga risih ,bang "
" dengan adanya mas Evan disini "
" tapi mau bagaimana lagi ,coba "
" Lolly tidak bisa menolak maunya Rio "
" tapi mas Evan ,sedikit - sedikit nyosor "
" kesal Lolly " ucap Lolita
" Halah "
" padahal suka kan "
" di sosor - sosor begitu "
" biar kalian berdua bisa CLBK lagi " ucap Bobby dengan ketus, membuat Lolita sedikit berang dengan ucapan Bobby, segera menyingkirkan lengan Bobby, dan mendorong tubuh Bobby menjauh dari posisinya, yang sedang mendekap tubuh Lolita
*
*
*
*
*
*
*
šš
.
__ADS_1