Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
laporan kehilangan


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Theo yang baru saja menuruni anak tangga, menuju meja makan, untuk dia sarapan pagi itu, sangat terkejut dengan tingkah isterinya yang nampak kalut,


" kamu kenapa, honey..." tanya Theo dengan serius


" Lita...."


" eh Lolly..."


" mommy nya Rio dan Boy..." ucap Asha dengan panik


melihat tingkah isterinya yang sudah labil, Theo menuntun tubuh isterinya untuk duduk di kursi, Theo memberikan satu gelas air mineral agar sang isteri lebih tenang


" Lolly, bee...."


" semalaman masih belum pulang...."


" aku baru saja telepon Boy...."


" anak-anak Lolly sudah pada menangis di ruko, suara mereka sudah terdengar parau..."


" mereka hanya berdua saja di dalam ruko..." ucap Asha sambil menyeka airmata nya


" Bobby atau Evan...."


" sudah tahu..?...." tanya Theo dengan tenang agar sang isteri juga bisa lebih tenang


" bang Obby sudah menuju ruko..."


" bang Evan sudah dalam perjalanan kesini..."


ucap Asha dengan cepat


" kita sarapan dulu ..."


" sambil berpikir apa yang harus kita lakukan..."


" dan langsung ke ruko juga, menanyakan kronologis kejadian kemarin, mendengar cerita anak-anak , siapa tahu kita bisa runut kejadian, kemana perginya Lolita...." ucap Theo


mereka makan sarapan pagi itu dengan sedikit terburu-buru, dan segera bergegas menuju ruko, tak lupa Asha menyiapkan bekal sarapan pagi,untuk dibawa ke ruko, siapa tahu anak-anak Lolita belum makan ,


Theo dan asha sudah sampai di ruko, ternyata Bobby sudah sampai disana terlebih dahulu, berbagai pertanyaan di lontarkan oleh Theo,


" kamu ada rapat penting hari ini kan..."


" pergilah dulu, selesai kan urusan kamu..."


" disini biar aku yang handle, nanti aku kasih kabar untuk kamu...." ucap Theo kepada Bobby, Theo tahu saat ini Bobby dalam kesulitan dan sekarang ditambah Lolita menghilang tanpa jejak


Bobby yang sedang duduk menyugarkan rambut ke arah belakang, dan sedikit meremasnya,dia mengusap wajahnya yang terlihat lelah dan sendu, dia harus menyelesaikan permasalahannya di kantor, harus menemukan kekasih hati nya, belum lagi anak-anak di ruko yang tak kalah binggung kemana perginya Lolita,


berat hatinya, sangat berat, melepaskan anak-anak di ruko , apalagi kondisi seperti ini, namun rapat hari ini sangat penting, dan tidak dapat dia tinggalkan dengan alasan apapun, karena akan berdampak besar bagi dirinya dan perusahaan,namun dia segera bangkit menyelesaikan permasalahan yang melilitnya saat ini, selanjutnya dia akan segera ikut Theo mencari keberadaan Lolita, kekasih hatinya


" nak...."


" Daddy pergi dulu, nanti Daddy datang lagi..." ucap Bobby, sambil memeluk tubuh Boy dan Rio secara bergantian,


Boy dan Rio hanya menganggukkan kepala mereka saja, karena mata mereka sudah sembab, suara mereka sudah parau, dan tubuh mereka lelah, sangat lelah karena tertidur barang sebentar sejak semalam


tanpa menunggu lama, Theo dengan segera, sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk melacak posisi terakhir Lolita, lokasi terakhir menurut GPS, terletak di suatu tempat, Theo pergi bersama anak buah nya menuju titik terakhir posisi Lolita


namun tempat pembuangan akhir, posisi terakhir Lolita, lebih tepatnya ponsel Lolita yang terlacak melalui GPS


" tuan..." ucap bodyguard Theo, namun Theo terdiam, tanpa bisa berkata apa-apa, dia kehilangan jejak keberadaan Lolita,


"coba kalian menyebar ke rumah sakit di kota ini...." ucap Theo dengan cepat


" pak, kita ke kantor polisi..."


" untuk membuat laporan kehilangan...."


" Oh iya, kita pergi untuk cetak foto terlebih dahulu...." ucap Theo kepada sopir nya, Theo memijat dahi nya yang tiba-tiba terasa sakit,


kemana kamu,dik....gumam Theo sambil menekan pelipis nya,



__ADS_1


Evan telah tiba di kota J, dia tidak perlu mengantri mengambil kopernya di conveyor, karena dia hanya membawa travel bag khas laki-laki yang sudah ada simbol dari merk ternama dari salah satu brand tas terkenal,


Evan berjalan dengan tergesa-gesa, menuju pintu keluar kedatangan, sang sopir telah menanti nya sedari tadi,


" cepat, pak...." perintah Evan dengan mutlak, yang dijawab sang sopir hanya sebuah anggukan kepala saja, segera sang sopir starter mobil tidak berselang lama dari perintah sang majikan,


Evan masuk kedalam ruko, disana pegawai Lolita begitu khawatir dengan owner mereka, wajah- wajah mereka bermuram durja, akankah owner mereka hanya pergi, tapi batin mereka mengatakan jika owner mereka pasti terjadi sesuatu, selama mereka bekerja dengan Lolita, tidak pernah sekalipun Lolita bertingkah seperti ini,


Evan mengucapkan salam, yang membuat penghuni ruko langsung menoleh kepada Evan


" tuan....." ucap mereka bersamaan


" kemana anak-anak...." tanya Evan dengan cemas


" di atas, tuan...."


" mereka tidak baik-baik saja..."


" bahkan Mona, tidak bisa membujuk Rio..."


" Rio....." ucap salah satu karyawan Lolita dengan ragu


" kalian kerjakan tugas kalian..."


" handle pekerjaan nyonya..."


" tolong bantu pekerjaan nyonya..." pinta Evan kepada karyawan Lolita


" baik ,tuan...." ucap para karyawan Lolita dengan lemah, dan terlihat di wajah mereka masih khawatir kemana perginya Lolita


Evan bergegas menuju lantai dua, Evan melihat Mona berusaha membujuk Rio untuk sarapan pagi yang sudah kesiangan,


" Daddy......" teriak Rio dengan kencang, dan segera Rio memeluk tubuh Evan dengan kencang


" Dad...." ucap Rio yang sudah bercampur dengan tangisan, terdengar sangat pilu, bahkan Mona mendengar nya pun menitikkan airmata


" Rio salah,..."


" Rio salah, Dad...."


" mommy pergi meninggalkan Rio...."


Boy yang terdiam ikut menitikkan airmata tanpa bersuara, karena Boy mendengar pertikaian yang terjadi antara Rio dan Lolita sehari sebelum Lolita meninggalkan ruko,


dan pernyataan Rio baru saja sangat mengejutkan Evan, apa yang sebenarnya terjadi, selama kurang lebih sepuluh menit Rio masih memeluk tubuh Evan masih dengan tangisan yang terdengar pilu, Evan membawa tubuh Rio untuk duduk di sofa, Evan memberi kode kepada Mona untuk memberikan Evan air mineral, dan Evan meminta Rio untuk meminumnya,


Evan memberi waktu untuk Rio tenang, dan akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi,


" katakan kepada Daddy, ..."


" apa yang terjadi, nak...." ucap Evan selembut mungkin, namun Rio terdiam, dia takut mengungkapkan apa yang terjadi


" katakan, nak...."


" supaya kita bisa cari kemana mommy..." ucap Evan lagi dengan nada yang sama


" mohon maaf kan Rio,..Dad...."


" Rio salah...." ucap Rio yang masih kembali menangis tanpa visa dia hentikan airmata jatuh di pipinya


" iya...."


" Rio salah apa, sayang...." ucap Evan yang mendekap tubuh Rio


" kemarin, Rio membentak mommy..."


" Rio memaksa mommy untuk rujuk sama Daddy...." ucap Rio dengan suara yang sudah parau,


pernyataan Rio membuat Evan terkejut, dengan refleks Evan memberi jarak antara dirinya dan Rio


" ka...ka...kamu..."


" tahu darimana, Rio...." tanya Evan dengan gelagapan


" Rio tidak sengaja mendengar percakapan opa Hamid dan oma Ida...."


" kalau Daddy sudah bercerai sama mommy...." ucap Rio dengan terisak


" oma Ida mau menjodohkan Daddy dengan anak teman oma..."

__ADS_1


" oma mau Daddy menikah, dan harus menikah,..."


" karena mommy akan menikah dengan Daddy Bobby...."


" Rio tidak mau punya ayah tiri ataupun ibu tiri...."


" Rio tidak mau....Dad...."


" tidak mau...." ucap Rio sambil terisak-isak


Mona, Boy, dan Evan terdiam....


jika Mona dan Boy ikut menitikkan airmata, karena ikut merasakan kesedihan Rio,


Evan menangis karena merasa bersalah,


dirinya lah yang membuat hal ini seperti ini terjadi , kesalahannya, perbuatannya, dan ini yang terjadi, hal yang tidak bisa di elaknya lagi, Rio mengetahui kenyataan yang terjadi, Lolita menerima resiko kemarahan Rio atas kesalahan nya di masa lalu


Evan terdiam dalam beberapa waktu, lalu dia turun dari sofa, menggenggam telapak tangannya Rio


" Rio....."


" maafkan Daddy, nak...." ucap Evan dengan terbata-bata


" maksud Daddy...." tanya Rio


" kamu pasti berfikir jika mommy mengkhianati pernikahan Daddy dan Mommy, atas dasar kedekatan mommy dengan Bobby...." ucap Evan dengan lirih


" iya...."


" Rio minta mommy untuk menjauhi Daddy, Ah bukan Om Bobby..."


" om Bobby buat mommy berpisah dengan Daddy,..."


" Rio tidak suka dengan om Bobby...."


" Rio dekat dengan om, biar om tidak bisa berpacaran dengan mommy..." ucap Rio dengan suara sedikit emosi, namun dengan suara parau


" bukan mommy yang salah, nak..."


" bukan...."


" bukan Bobby juga yang bersalah akan kedekatan mommy dan Bobby, ..."


" tapi Daddy lah yang hadir di antara mereka berdua..."


" karena Daddy masih mengharapkan mommy untuk menerima kembali , Daddy...." ucap Evan dengan perasaan tertekan


" ma...ma.. maksud Daddy...." ucap Rio sambil mengernyitkan dahinya


" Daddy yang bersalah pada mommy kamu, isteri Daddy...."


" Daddy sering kali kasar, main tangan, bahkan Daddy sering...." Evan tidak mampu mengucapkan kembali kesalahan- kesalahannya nya di masa lalu


" tapi Daddy sudah minta maaf kan sama mommy..."


" tidak mungkin mommy tidak memaafkan Daddy..." tanya Rio dengan serius


" Daddy...."


" intinya Daddy yang bersalah, nak..." ucap Evan, namun Rio masih tidak bisa menerima alasan yang di anggap Rio terlalu kecil, yang membuat Lolita tidak mau memaafkan Daddy nya


" mommy memergoki Daddy bersama perempuan lain..." ucap Evan sambil menautkan jemarinya, dengan suara sangat pelan, nyaris tidak terdengar, bahkan hanya terdengar oleh Rio saja,


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


🍒🍒


__ADS_2