
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Bobby masih enggan melepaskan dekapannya di tubuh Lolita, dia masih merindukan aroma tubuh Lolita, masih ingin terus bermanja-manja dengan kekasih hatinya,
hanya saling bertukar kabar di pesan chat , tentu sangat berbeda jika langsung melihat dan menyentuh tubuh kekasihnya
" baby..."
" tubuh kami semakin kecil..." tanya Bobby dengan sedikit menyematkan nada khawatir di setiap kata nya
" Oh..." ucap Lolita hanya ber Oh ria
" bang..."
" duduk saja, biar enak,..." ucap Lolita yang mulai mengubah posisi dari posisi sebelumnya
" nanti kamu pusing lagi, sayang..." sahut Bobby
" bang..."
" kita tidur satu kasur, dilihat mami dan Daddy, gimana..."
" bisa- bisa langsung di suruh nikah..." ucap Lolita
" ayo..." sahut Bobby dengan antusias,
wajah Boy langsung penuh semangat...
" serius, mom..." tanya Boy yang tidak mau kalah antusias dengan sang Daddy
bola mata Lolita langsung mendelik,
" kamu yah bang..." ucap Lolita sambil mencubit perut sixpack Bobby, teriak' an suara kesakitan dari mulut Bobby menggema di kamar Lolita, bersahutan dengan suara gelak tawa Lolita, karena Bobby membalasnya dengan menggelitik tubuh Lolita
" ampun, bang..."
" sumpah, ampun bang..." ucap Lolita menahan rasa geli
" ampun apa dulu...." pinta Bobby
" ampun bang jago..." sahut Lolita,masih menjahili Bobby, dan Bobby tidak menghentikan gerakannya yang menggelitik tubuh Lolita,
" ampun, ampun ,abang ganteng..."
" ganteng nya se antero bumi,jagat raya, bima sakti..." ucap Lolita sedikit lebay
" sudah,bang..."
" Lolly capek...." ucap Lolita yang sudah tidak berdaya, menyenderkan tubuhnya ke tubuh Bobby yang kekar
" baby...."
" kenapa pada saat itu kamu tidak angkat telepon..." tanya Bobby serius, namun pintu kamar Lolita di buka oleh Amelia dari luar hendak masuk ke dalam kamar
Boy segera membantu sang oma, yang saat ini membawakan makanan yang berada di dalam nampan
" Lolly, makan dulu, nak...." ucap Amelia dengan lembut
" terimakasih, mi...." ucap Lolita
" mi..."
" bantuin Lolly ke kamar mandi..." ucap Lolita dengan lembut pada ibu sambungnya, dan Amelia membalasnya dengan anggukan kepala saja,
tanpa di sangka, Bobby sudah membopong tubuh Lolita ke dalam kamar mandi yang terletak di dalam kamar Lolita, dan Boy pun turut memegangi botol cairan infus agar lebih tinggi dari posisi Lolita, supaya darah tidak naik ke dalam cairan infus, selanjutnya Lolita dibantu oleh Amelia
begitupun saat keluar kamar mandi, dengan sigap Bobby dan Boy melakukan hal yang sama seperti hendak masuk ke dalam kamar mandi, Amelia menyunggingkan senyuman melihat tingkah laku Bobby dan Boy, yang dengan kompak merawat Lolita
jika Lolita menikah dengan Bobby, didalam relung hati Amelia , sangat berharap Bobby tidak akan berubah, tidak akan mengkhianati Lolita seperti yang di lakukan Evan dahulu, walaupun saat ini Evan telah menyesali perbuatannya, tetap saja takkan sama, takkan pernah sama lagi seperti awal
" Lolly, makan dulu, yah..."
" mami tinggal..."
" ada Bobby dan Boy yang akan membantu kamu..."
" kalau mau ke kamar mandi, beritahu mami saja, mami ada di lantai bawah..." ucap Amelia sembari menutup pintu kamar Lolita
" terimakasih, mi..." ucap Lolita dengan seutas senyum di wajah cantiknya
" kamu makan lah dulu..."
" sini abang suapin yah , sayang..." pinta Bobby
" Hm..."
" jangan lah, bang...."
__ADS_1
" Lolly masih bisa makan sendiri..." ucap Lolita menolak secara halus
Lolita menghabiskan bubur yang dibuat oleh ibu sambung Lolita,
" bang..."
" pada saat itu, anak-anak dan Lolly sedang berada di hotel miliknya Daddy Hamid, setahu Lolly sih itu..."
" terus,.. anak-anak pada main air tuh di kolam renang nya, sedangkan Lolly, Daddy, Daddy dan Mommy nya mas Evan, dan ada juga Buya dan umma, yang pastinya ada mas Evan..."
" di saat itulah ternyata mas Evan menyampaikan perasaan nya..."
" untuk rujuk kembali...." ucap Lolita
" kamu menerima permintaan Evan..." ucap Bobby dengan nada serius
" tidak..."
" Lolly menolak nya dengan halus..."
" Lolly meminta mas Evan bersikap dewasa, bagaimana pun juga ada Rio diantara kami, bang..."
" Rio prioritas bagi Lolly saat ini, maaf yah Boy, ..."
" Mommy hanya ingin melindungi perasaan Rio..."
" Mommy tidak ingin Rio merasa kecewa, dan terluka..."
" merasa kehilangan sosok ayah dan ibunya
...."
" tentu kamu tahu bagaimana tidak enaknya perasaan itu di hati kamu, kan nak..." tanya Lolita menatap wajah anak angkatnya
" off course, Mom..." ucap Boy mengerti maksud dari ucapan sang Mommy
" Lolly harap abang juga mengerti, bagaimana pun anak-anak menjadi prioritas Lolly daripada diri Lolly sendiri..." ucap Lolita
" iya..."
" terus..." sahut Bobby, yang masih ngedusel, yang masih melekat di samping tubuh Lolita
" terus...."
" mas Evan tidak bisa menerima keputusan Lolly..."
" yah kaget lah, semua orang termasuk Lolly, ..."
" semua bodyguard sudah ikut membantu mas Evan, di tengah kepanikan, Mommy Ida terjatuh karena pingsan, yah langsung tidak sadarkan diri, ..."
" langsung saja mereka berdua di bawa ke rumah sakit, Mommy tidak sadarkan diri, dan mas Evan masih terus mengamuk hendak melakukan bunuh diri,...jadi di bawa ke rumah sakit...."
" Lolly pada saat itu tidak bisa ikut, karena harus urus anak-anak terlebih dahulu, sambil menunggu kedatangan bang Yudha..."
" untuk mengurusi nak- anak..."
" setelah selesai, Lolly mau ke rumah sakit kan, tahu-tahu Daddy kasih kabar di pesan chat, kalau mereka membawa mas Evan ke rumah sakit itu, ..."
" awalnya Lolly binggung kenapa di bawa ke sana...."
" ternyata , bla...bla...bla..." Lolita memberikan penjelasan kepada Bobby apa yang terjadi setelah itu, dan menceritakan kronologis kejadian yang baru saja terjadi,
Boy cukup dewasa mendengarkan cerita dari Lolita, maka nya Lolita membiarkan Boy untuk ikut mendengarkan percakapan yang terjadi antara Bobby dan Lolita
Bobby sempat tertegun sampai Lolita mengakhiri cerita nya,dan Lolita terdiam saja, tanpa bisa bertanya, atau pun lanjut bercerita, karena kali ini Lolita menanti jawaban dari Bobby
terus terang, keadaan Evan masih harus terus di observasi dalam kurun waktu tiga sampai beberapa bulan kedepan tanpa tahu waktu yang pasti, kondisi Evan seperti itu, pasti mempengaruhi perhatian dan tingkah laku Evan terhadap Lolita
pria mana yang akan mampu menahan perasaannya, yang melihat pasangan nya bermanja-manja, dan sedikit intim dengan pria lainnya, tentu saja itu membuat Bobby pusing tujuh keliling
" kita..."
" menikah saja..." ucap Bobby dengan nada serius ..
deg.....
deg....
deg.....
detak jantung Lolita sedikit keluar dari ritme seharusnya,
" siapa yang akan menikah..?..." tanya Harun
" Daddy,...." ucap Lolita pelan
" lebih baik kami menikah saja, Dad...." pinta Bobby dengan serius
__ADS_1
Harun menatap anaknya,
" menikah lah nak..."
" jika Bobby , adalah pria pilihan kamu.." ucap Harun
" tapi...." ucap Lolita dengan khawatir
" Evan lambat laun akan mengerti...."
" dan begitu pula dengan Rio..."
" gapai lah masa depan kalian masing-masing..." ucap Harun
" tapi...."
" mas Evan masih butuh Lolly, Dad..."
" Ok menikah, dan mas Evan akan tetap seperti itu pada Lolita, yakin abang tidak akan marah, yakin abang tidak bertindak yang tidak di duga..."
" seperti menalak Lolly, karena cemburu...." tanya Lolita menatap Bobby
" abang bilang kan, abang pria normal yang akan terluka melihat pasangan nya bersama pria lain, meskipun abang mengenali nya, yakin abang bertahan dengan Lolly, ...." ucap Lolita dengan nada lembut
Harun menghela nafasnya dengan berat, begitupun dengan Bobby, mereka terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan dari Lolita,
Sedati nya seorang pria sangat egois tidak ingin miliknya di miliki oleh orang lain, namun suka memiliki semuanya tanpa terkecuali, hanya iman saja yang bisa mengontrol diri dari nafsu,
" kalian pikirkan lagi nanti, bagaimana baiknya.."
" masalah kalian hadapi ini hanya lah cara Allah menguji hubungan kalian, pasti ada hikmah dari setiap ujian...."
" minta kepada Allah yang mana yang terbaik..."
" jika kalian memilih berpisah, berpisah lah dengan baik-baik seperti awal kalian kenal..."
" jika kalian memilih bersama, hadapi ini dengan lapang dada, semua ujian pasti akan ada masanya, tidak akan terus-menerus bergulir, pinta lah kepada Allah, solusi terbaik, hanya pertolongan Allah yang kita butuhkan...." ucap Harun sebelum keluar dari kamar Lolita
" nasib- nasib..."
" gagal terus menuju halal...." ucap Bobby menghelakan nafasnya yang agak berat
" nikah mah gampang , bang..."
" tinggal ijab kabul, kelar deh..."
" menjalankan pernikahan nya yang sulit, jalannya naik ,turun, belok, berbatu, bukan seperti melewati jalan tol, lempeng doang ..." ucap Lolita
" cieee.... cieee..."
" yang sudah berpengalaman..." ucap Bobby menggoda Lolita, membuat Lolita tertawa
" yah benar, itu, bang..." ucap Lolita
" susah dong, sayang..."
" kan abang yang mengucapkan kalimat ijab kabul nya...."
" pasti susah dong buat abang yang masih pemula..."
" terus belum lagi mendaki puncak, susah dong perlu tenaga...." ucap Bobby dengan santainya, dan Lolita sudah menghujami perut sixpack Bobby dengan capitan kepiting, memelintir dengan kuat, sampai Bobby teriak kesakitan
" kalau ngomong tuh, kudu ati- ati..."
" ada anak, sih bang..." ucap Lolita sedikit mendelik kan kedua bola matanya, membuat Bobby gemas akan tingkah Lolita
" yah...kita jalani saja seperti ini dulu saja, sayang...."
" yang penting kamu percaya abang, dan abang pun percaya kamu..."
" semoga Allah mempercayakan niat baik kita dan menyatukan kita dalam sebuah pernikahan..." ucap Bobby dengan lembut,
dan mereka berdua, mengaminkan ucapan mereka, termasuk Boy yang duduk di sofa ,
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
🍒🍒