
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di belahan bumi yang berbeda , di negara yang hanya memiliki dua musim, musim kemarau, dan musim hujan,
dua saudara yang tidak sekandung melewati sepuluh hari tanpa hadirnya sang mommy, membuat mereka larut dalam pemikiran masing-masing
jika Rio menyesali diri, karena tingkah laku nya terakhir kali bertemu Lolita, maka Boy menyesali diri, karena dekapan dan kecupan yang Lolita berikan saat itu,bahkan senyuman manis menatap sayang padanya, adalah momen terakhir antara dirinya dengan sang mommy
Rio menatap kearah kaca jendela, rintik air hujan yang membasahi bumi, mengalir dengan deras, begitu juga dengan airmata yang semakin deras turun membasahi wajah Rio yang semakin lama semakin terlihat ketampanan nya , sedangkan Boy yang sudah semakin lama semakin dewasa menatap foto wallpaper dirinya dan Lolita yang tersenyum dengan bahagia, yang didapat pada saat itu , ketika Boy dan Lolita hanya berdua untuk me time mereka, karena Rio sedang berkunjung ke kota sang Daddy Evan
Boy mengajak sang mommy mengabadikan momen mereka berdua, setelah mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdua,
Boy membuka satu persatu foto pada galeri handphone nya di buka dengan tampilan slide, airmata Boy jatuh dengan sendiri tanpa suara, bahkan suara tangisan yang keluar dari bibirnya, hanyalah sebuah isak tangis saja, dengan tubuh bergetar menahan luapan kesedihan yang menghujam perasaan nya di relung hati yang paling dalam
mereka berdua baik Rio maupun Boy , mereka terdiam di dalam kamar masing-masing di ruko, sedangkan Evan masih berkutat dengan pekerjaannya di kantor, sambil terus mengecek handphone milik nya, siapa tahu orang- orang kepercayaan nya akan memberikan kabar gembira baginya
sedangkan Bobby yang selama ini begitu teratur hidupnya saat bersama Theo, dan semakin membaik saat Lolita memberikan support kepada nya , kini begitu memprihatinkan, dia menghabiskan waktu nya hanya di dalam apartemen miliknya, dan dia kembali menegak berbagai macam wine, setelah selama sepuluh hari tidak ada kabar berita dari kekasih hatinya, setelah adegan ketika Lolita datang ke hotel dimana dia dan Olivia bersama, dan Lolita pergi entah kemana, keluar dari hotel tanpa diketahui oleh Bobby, padahal saat itu, adalah rencana Olivia dan Melani,
Bobby merasa sangat bersalah, ingin rasanya Bobby menjelaskan kejadian yang sesungguhnya, namun sampai hari ini Lolita tidak ditemukan kemana dia berada, beberapa titik tidak ada akses CCTV membuat pencarian semakin sulit
kehilangan Lolita membuat Bobby kehilangan arah dan tak tahu kemana lagi mencari informasi tentang Lolita,selama sepuluh hari, Bobby mengerahkan segala kemampuan nya, bahkan Bobby melupakan makan dan minum, bahkan kapan terakhir kali nya dia tidur
Ubaidillah Affandy yang datang ke apartemen Bobby bersama istrinya Melani , untuk melihat keadaan anak kandungnya,
Ubaidillah Affandy menatap sendu kearah anaknya yang tergeletak di atas lantai dengan kondisi apartemen yang begitu gelap, dan dipenuhi oleh aroma alkohol yang menyengat,
" By ...." ucap Ubaidillah Affandy memanggil anaknya
" Obby..." ucap Ubaidillah Affandy lagi
lampu apartemen yang baru saja dihidupkan oleh Melani membuat Bobby memicingkan kedua bola matanya...
begitu menyilaukan , namun beberapa saat kemudian kedua matanya sudah menyesuaikan kondisi terang, mulai terlihat wajah sang ayah dan ibu sambungnya
Bobby menepis lengan sang ayah dari tubuhnya
" pergilah kalian..."
" puas kalian menghancurkan hidup aku..."
" atau ini mau nya Daddy, HaH..!!! ..."
" bunuh aku...."
" bunuh saja aku..."
" dimana Lolly...."
" dimana Lolly ku..!!!!........" ucap Bobby dengan berteriak dengan suara yang sangat keras, hingga dia tidak mampu mengontrol diri nya, Bobby berteriak dengan histeris, bahkan menghancurkan semua barang yang ada di dekatnya
" bunuh!!!!!!....."
" aku...."
" jangan ambil Lolly dalam hidup aku..." ucap Bobby dengan histeris, bahkan Bobby menangis dengan terisak- isak, begitu menyebutkan nama wanita yang sangat dia cintai
Ubaidillah Affandy terjatuh dari posisi nya, dia begitu terkejut melihat kondisi anak satu-satunya, yang begitu terpukul kehilangan wanita itu,bahkan Bobby menangis dengan pilunya membuat perasaan nya sebagai seorang ayah terpanggil
__ADS_1
ternyata keputusan Ubaidillah Affandy untuk mengikuti permintaan isterinya salah, Bobby begitu kehilangan Lolita, Ubaidillah Affandy begitu menyesali perbuatannya,
Melani hendak menyentuh tubuh Ubaidillah Affandy, namun Ubaidillah Affandy segera menepis nya, bahkan kilatan amarah melalui sorot matanya menunjukkan jika saat ini dia sudah tidak mampu menahan emosinya yang selama ini selalu dia pendam, demi rumah tangga nya,namun apalah daya, hubungan darah lebih kental dari hubungan yang lain
" mulai hari ini, kamu bukan lagi isteri aku ..."
" aku menalak kamu dengan talak tiga.."
" akan aku selesaikan urusan kita di pengadilan agama..."
" tinggalkan mansion aku .." ucap Ubaidillah Affandy dengan tegas dan serius
" Robin...."
" kamu mendengarkan nya...."
" bawa perempuan ini pergi dari mansion aku ..."
" bawa semua barang-barang dia dari mansion aku tanpa sisa .."
" jangan ada yang tertinggal di mansion...."
" segera urus perceraian aku dengan para pengacara....."
" singkirkan juga Olivia dari hidup Bobby...."
" jangan sampai aku dan Bobby melihat Melani dan Olivia dalam hidup kami lagi....." ucap Ubaidillah Affandy dengan tegas
Melani menangis dengan terisak- isak, dia menyesali perbuatannya, yang membuat Bobby sampai seperti ini, Melani berfikir jika dia adalah ratu dalam hidup Ubaidillah Affandy, semua ucapan nya bagaikan titah seorang ratu yang pasti dituruti oleh sang suami
" sayang...."
" maaf..."
" maaf kan aku...." ucap Melani sambil terisak- isak, namun Ubaidillah Affandy sudah tidak memperdulikan nya lagi ucapan Melani
Bobby tertawa terbahak-bahak melihat drama kedua orang tuanya, Bobby berusaha berdiri dengan terhuyung- huyung, sambil memegang botol minuman yang telah kosong
berjalan menuju tumpukan botol botol lain yang sudah dia kumpulkan diatas meja
Bobby mengambil lagi minuman wine yang masih tersisa, dia segera menegaknya kembali
Bobby tertawa terbahak-bahak melihat Melani yang masih membujuk Ubaidillah Affandy untuk menarik kata-kata nya kembali
" bravo...." ucap Bobby yang berusaha untuk berdiri tegak , walaupun tubuhnya tidak bisa berdiri sempurna,
" drama...."
" Ek...Ek...."
" drama yah...."
" oke...."
" aku akan memberikan drama yang menyenangkan bagi kalian berdua..."
" agar kalian puas..." ucap Bobby yang sudah tidak terdengar jelas
__ADS_1
Bobby memukulkan botol minuman keatas kepalanya, Bobby mengulangi nya kembali, lagi dan lagi, sampai dia kehilangan kesadaran,
Ubaidillah Affandy melihat secara langsung bagaimana Bobby menghukum dirinya sendiri di hadapannya, apalagi darah segar sudah mengalir deras dari kepala Bobby
membuat Ubaidillah Affandy berteriak dengan sangat keras, membuat semua bodyguard nya bergerak dengan cepat untuk membawa Bobby ke rumah sakit terdekat yang terbaik,
Ubaidillah Affandy mencekik leher Melani
" pergilah dari hidup aku dan Bobby...." ucap Ubaidillah Affandy dengan tegas sebelum menjatuhkan tubuh Melani diatas lantai
asisten pribadi Ubaidillah Affandy bergerak dengan cepat...
memerintahkan para bodyguard nya untuk membereskan kekacauan di apartemen Bobby, membawa Bobby ke rumah sakit, menjalankan perintah Ubaidillah Affandy tadi, untuk mengusir Melani dari mansion, dan memberi tahu kepada para tim pengacara Ubaidillah Affandy untuk mengurus berkas perceraian tuannya
Robin tersenyum smirk melihat Melani tersungkur di atas dinginnya lantai...
Hm....rasakan itu, ini akhir kekejaman kamu baj*** ucap Robin dalam batinnya
Robin sangat tahu sepak terjangnya Melani, namun karena dia hanya lah asisten pribadi tuan Ubaidillah Affandy, dia hanya harus memenuhi semua perintah tuannya, sudah lama Robin menantikan Melani terusir dari hidup tuannya, namun Robin tidak pernah menyangka Melani akan berakhir dengan keadaan sangat menyedihkan seperti ini, apalagi di dalam perjanjian pra nikah, tertulis dengan jelas, jika Melani tidak akan mendapatkan hak apapun kecuali atas keinginan tuan Ubaidillah Affandy sendiri
dengan kondisi saat ini, sudah dipastikan Melani tidak akan mendapatkan hak apapun, kecuali barang- barang yang sudah menjadi hadiah dari tuan Ubaidillah Affandy, namun apakah itu bisa menunjang gaya hidup Melani yang sudah terbiasa glamor
Ubaidillah Affandy berada di dalam mobil yang sama dengan anak satu-satunya , Bobby
bahkan salah satu bodyguard Ubaidillah sudah melakukan tindakan pencegahan dalam keadaan darurat, agar darah di kepala Bobby berhenti mengalir...
namun lupa robek yang cukup besar membuat darah Bobby masih saja mengalir cukup deras membuat beberapa potongan baju sudah basah....
bahkan beberapa kali bodyguard tuan Ubaidillah Affandy Menganti pakaian berbahan katun itu beberapa kali
" cepat !!!...." ucap bodyguard Ubaidillah Affandy yang mengerti ilmu medis, karena nadi pada tangan dan pada bagian leher Bobby mulai melemah, untung saja sang sopir dulunya pernah menjadi salah satu pembalap liar yang cukup terkenal di masanya
" tuan..."
" berpegang dengan kuat..."
" kalian fokus saja pada tuan muda..."
" aku akan melakukan tugas aku dengan segera..." ucap sopir dengan tegas, tanpa aba-aba, sang sopir melajukan mobilnya dengan sangat kencang, karena nyawa Bobby sebagai taruhannya....
*
*
*
*
*
*
*
*
🍒🍒
__ADS_1