
💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧
Posisi Evan masih sama, dia masih tersungkur di lantai, dia masih bersimpuh di hadapan semua orang, menundukkan wajahnya,tubuhnya bergetar hebat, menandakan bahwa saat ini dia sedang tidak baik- baik saja, bahkan suara Isak tangis yang tertahan kian terdengar,
begitupun Zubaidah, airmata kian lolos saja di pelupuk matanya, semua pria disana menghela nafas mereka masing-masing, ini berat, sungguh berat,
memaksa Lolita menerima Evan juga tidak mungkin, tidak baik juga jika di teruskan
Amelia sudah mendekati mantan besannya, memeluk tubuh Zubaidah,dan Zubaidah menerima nya dengan pasrah, dia butuh menyandarkan dukanya pada orang, memberinya kekuatan
Lolita melihat mantan suami nya yang bertekuk lutut di hadapan nya, bukan kebahagiaan yang dia dapatkan, bukan ini yang dia maksud, dia hanya ingin Evan menerima kenyataan jika mereka tidak mungkin lagi bersama
Lolita menyingkirkan meja kecil di hadapannya, dengan menggeser meja itu sedikit menjauh agar dia bisa duduk dihadapan mantan suami nya
" mas..." ucap Lolita yang juga berlutut di hadapan Evan, memposisikan tubuh yang sama dengan Evan
Lolita pun menangis melihat duka sang mantan suaminya, melihat sang mantan mertuanya,
" mas..."
" maaf..."
" pasti ada perempuan soleha yang lebih baik dari Lolly..."
" mas Evan baik, bertanggungjawab, pria sempurna..." ucap Lolita dengan suara parau khas menangis
" kenapa bukan kamu,..."
" mas hanya ingin kamu, sayang...." ucap Evan tak kalah lirih, bahkan suaranya semakin mengecil karena parau
" Lolly bukan terbaik untuk kamu, mas..."
" mengertilah..."
" Lolly sayang dengan mas, tapi bukan sebagai seorang pria, ..."
" ayolah, mas..."
" Lolly mohon, mengerti lah..." ucap Lolita
" kamu masih membenci aku, ..."
" hingga kamu menolak aku..." ucap Evan yang sudah mengangkat kepalanya, menatap wajah cantik Lolita
" tidak..."
" aku tidak membenci kamu, mas..."
" kita hanya sudah berbeda rasa..."
" ada hati yang harus Lolly jaga...."
" karena Lolly sudah membuka hati Lolly untuk nya.."
" please..."
" buka lah hati kamu mas, untuk cinta yang baru, rasa yang baru...''
" jika kita bersama, kita hanya akan saling menyakiti..." ucap Lolita dengan menggenggam telapak tangan Evan
" tidak..."
" tidak..."
" kamu pasti membenci aku..." ucap Evan dengan putus asa
" lebih baik aku mati.."
" aku tidak bisa hidup tanpa kamu..."
" yah, mati saja..."
__ADS_1
" mati saja...."ucap Evan memukul - pukul dirinya sendiri
" aku memang bodoh..."
" bodoh..."
" bodoh..." ucap Evan sambil terus menyiksa dirinya sendiri, Evan sudah berada di ambang perasaan yang sangat putus asa
" mas..." teriak Lolita
" anakku..." teriak Zubaidah
" Evan...." teriak semua orang di dalam ruangan
Evan mencoba berlari melompat keluar dari jendela ruangan, namun dengan cekatan Harun menahan Evan, namun Harun kalah tenaga, Hamid turut membantu, begitu pula Buya Yahya, namun tenaga tiga pria yang berusia lanjut tentu tidak sebanding dengan Evan, teriakan dan tangis mewarnai ruangan,
Lolita berfikir cepat, dia segera men-;dial nomor kontak Jhon,karena sebelum masuk kedalam ruangan ini Lolita sempat menyapa Jhon
" bang...."
" to...tolong cepat kesini, bang...." ucap Lolita dengan cepat dan dengan suara bergetar, dibalik sambungan telepon terdengar teriakan dan tangisan dari tempat Lolita,
Hamid hanya memperkirakan saja, dia takut terjadi apa-apa pada proses mediasi ini, nyatanya benar sesuai dugaan nya, Evan bertingkah seperti ini, melihat putera nya sangat putus asa, hati orang tua mana yang tidak sakit,tapi ini adalah harga yang harus dibayar , akan ada yang di tuai dari apa yang kita tanam, Evan Hanya tidak ingin menerima imbalan yang dia tanam, terlalu menyakitkan baginya
Jhon dan beberapa bodyguard mengunci tubuh Evan yang hampir terjatuh di gedung pencakar langit ini, lebih tepatnya di lantai 30 , akan mati seketika jika Evan berhasil memenuhi keinginan nya
dilanda kepanikan, bahkan Zubaidah sudah tidak sadarkan diri, melihat Evan yang sudah berada di ujung balkon, jantungnya tidak sanggup melihat kematian sang anak
Hamid memerintahkan agar anak dan isterinya segera di bawa ke rumah sakit terdekat
.
.
.
.
.
di ruangan terpisah, tuan Hamid saat ini sedang menunggu isteri nya siuman, dan meminta penjelasan akan penyakit yang dia sembunyikan selama ini, Hamid terpekur memandangi wajah cantik isterinya yang sudah tidak muda lagi, terkikis usia,
Oh ya Allah, aku tahu ini ujian darimu, bantulah aku menghadapi ini, sangat menyesakan dada, terlalu berat ku pikul,ya Allah, gumam tuan Hamid sambil menyusutkan air mata di pelupuk matanya
sedangkan di ruangan berbeda ada tuan Harun yang menjaga Evan, karena Amelia dan Lolita harus kembali ke lokasi untuk mengurus anak-anak nya,
setelah tersadar, Evan ingat siluet kejadian terakhir, Evan kembali mencabut selang infus yang menempel di punggung telapak tangannya, hingga rembesan darah mengalir pada punggung telapak tangannya dengan lumayan deras,
Harun menekan tombol bell emergency,
" Van..."
" Evan, sadar nak..."
" istighfar, nak...." ucap Harun mencoba menyadarkan Evan akan perbuatannya
" bodoh..."
" ck..."
" bodoh..." gumam Evan masih menggerutu i dirinya sendiri, dalam pikirannya hanya bunuh diri, sudah itu saja, bagaimana cara nya, dia harus mati, Evan memberi perintah pada otak nya,
" Jhon..."
" Jhon...." teriak Harun dengan suara beberapa oktaf, sambil terus memegang tubuh Evan agar tidak berniat nekat mencederai diri nya sendiri
Jhon dan beberapa bodyguard segera masuk kedalam ruangan, membantu tuan Harun, bersamaan dengan tim medis masuk kedalam ruangan intermediate rumah sakit itu
setelah Evan berhasil di tenangkan,dokter meminta pihak keluarga untuk menemui dokter, karena dokter akan menjelaskan keadaan pasien,
Harun meminta dokter untuk menunggu, karena saat ini banyak yang mereka urus, cucu- cucu mereka, isteri tuan Hamid, dan Evan,
__ADS_1
beberapa waktu lalu, Farel yang mendapatkan kabar dari sang ayah melalui sambungan telepon, Farel segera bergegas untuk meluncur ke rumah sakit tempat sang ibu dan adiknya yang saat ini sedang dalam penanganan medis
, untung saja saat ini Farel berada di kota S***, tidak bisa dibayangkan oleh Farel jika sang Daddy yang sudah cukup senja harus menjaga dua anggota keluarga nya, yang kini menjadi pasien di salah satu rumah sakit,
" Dad..." ucap Farel yang berada di ruang rawat inap ibunya
" kamu harus menjaga Mommy kamu dahulu, nak...."
" dokter sudah dari tadi meminta Daddy menemuinya..." ucap tuan Hamid dengan wajah yang sudah tidak terlihat baik- baik saja
" apa yang terjadi, Dad...." tanya Farel dengan khawatir
" nanti Daddy jelaskan kepada kamu..."
" Daddy selesaikan dulu masalah nya satu persatu..."
" jaga dulu Mommy..." ucap tuan Hamid
" baik, Dad..." ucap Farel dengan raut wajah yang lesu
tuan Hamid segera mendatangi ruangan tempat Evan di beri tindakan medis, sudah terlihat wajah tuan Harun yang sudah lusuh, apalagi beberapa kancing baju nya sudah terlepas, kemungkinan Evan memberikan Harun perlawanan yang cukup sulit di tangani tuan Harun
" maaf..." ucap tuan Hamid dengan lirih, bahkan dia tidak sanggup mengangkat kepalanya
" tidak apa-apa..."
" bagaimana kondisi isteri kamu, Ham..." ucap tuan Harun
" tidak baik-baik saja, Har..." ucap Hamid terdengar sangat lirih, pertanda saat ini dia sangat terpuruk dengan keadaan keluarganya
" istighfar..."
" Allah sedang mengingatkan kamu..."
" perbanyak ibadah..."
" Allah hanya rindu kepada kamu ..."
" mungkin kamu sedikit lalai dengan Nya..." ucap Harun memperingatkan mantan besannya, yang juga dulu teman sepermainan nya saat masih kecil
" terimakasih, Har..." ucap tuan Hamid
" pergilah ke ruang konsultasi dokter, ..."
" beliau menunggu kedatangan kamu,..."
" Evan biarlah aku yang menjaganya,.."
" kamu tenang lah..." ucap tuan Harun memberikan support pada tuan Hamid
Hamid menuju ruangan konsultasi dokter, seorang dokter pria itu menyambut tuan Hamid dengan sangat ramah,
dokter jaga yang saat ini sedang berdinas di gedung IGD, juga menjelaskan kepada Hamid, bahwa jenis penyakit yang di derita Evan bukan lah ranah dia sebagai dokter umum,
kalau pun harus di rawat inap, dokter yang akan merawat Evan adalah spesialis di bidangnya, karena rumah sakit ini adalah rumah sakit untuk penanganan medis pasien dengan gejala fisik, tentu saja kurang tepat jika Evan di rawat disini, perlu ada perlakuan khusus yang di dapat Evan, dan dokter khusus juga yang menangani kasus penyakit yang diderita Evan, dengan kata lain Evan harus di rujuk ke rumah sakit khusus yang ada dokter psikiatri
mendengarkan penuturan dari sang dokter, membuat tuan Hamid menekan bagian dadanya sebelah kiri, tuan Hamid cukup shock mendengar diagnosis awal tentang Evan, bisa kah dia menerima kenyataan ini, bisakah sang isteri menerima berita ini, apa yang harus mereka lakukan setelah ini, bagaimana mengurus Evan, bagaimana jika kembali berulah, apalagi Evan pria dewasa yang sudah memiliki akal pikiran, dia bebas kemana saja, mansion Hamid bukanlah satu-satunya tempat dia singgah, ada rumah dan apartemen yang dimiliki Evan, bisa saja Evan mengakhiri hidupnya di tempat yang tidak diketahui tuan Hamid dan anggota keluarga lainnya,
dengan langkah gontai tuan Hamid melangkahkan kakinya, pikiran nya terbang melayang, kalimat sakti, selalu dia dengungkan, memberikan ketenangan pada jiwa nya yang terluka
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒