
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
panggilan video masuk dari Bobby di gawai Boy membuat wajah Boy yang sedari tadi murung tampak bahagia,
" Daddy...." teriak Boy dengan semangat
" bagaimana, kabar kamu nak..."
" Hm..."
" betah disana..." tanya Bobby, namun tidak ada tanggapan dari Boy, sepertinya Bobby tahu jika sang anak sedang tidak baik-baik saja
" kita buat sambungan buat bunda juga yah..."
ucap Bobby
" Loh Daddy, sudah pulang .." tanya Boy
" iya, tadi Daddy sempat mampir sebentar di ruko..."
" maka nya masih kangen Mommy..." ucap Bobby
sambungan video tersambung, ada tiga wajah yang tampil
setelah mengucapkan salam, masing-masing dari mereka melempar lelucon
" Eh..."
" mana adik kamu, nak..." tanya Bobby
" adik ada di kamarnya,.."
" kita tambahkan saja, Dad...." ucap Boy santai
sekarang ada empat wajah di dalam satu frame
" wah...."
" lagi dimana nih, anak laki-laki, Daddy..." tanya Bobby pada Rio
" di mansion opa Hamid.." sahut Rio
" enak saja anak laki-laki, kamu..."
" anak gue..." sahut Evan yang tiba-tiba nimbrung di frame video yang sedang berlangsung
" anak laki-laki aku dong,.."
" kalau di J***..." ucap Bobby dengan jumawa
" wah..."
" kalau begitu , Boy juga anak aku dong, kalau di S***..." ucap Evan yang tidak mau kalah jumawa
" wah..."
" Capek deh..." sahut Boy, Rio, dan Lolita secara bersamaan
" kalian kompak yah..." ucap Evan dan Bobby secara bersamaan
" memangnya kalian tidak kalah kompak..." sahut Lolita, ucapan Lolita di sambut Boy dan Rio dengan anggukan kepala dari mereka
membuat mereka semua tertawa, mereka kembali bercengkerama melalui sambungan video pada smartphone mereka masing-masing,
mulai dari lelucon yang tidak penting di bahas, hingga banyak topik lainnya yang mereka kritik, tak jarang juga Lolita dijadikan aksi jahil mereka,maklum saja nasib paling cantik , tentu kena goda,
tanpa di sadari Evan jika sang ibu masuk dan sedikit mendengar percakapan mereka
benar Lolita sudah dekat dengan seorang pria, artinya dia akan segera menikah, dan kenapa anak aku dekat dengan pria itu...
sungguh tidak masuk di akal aku, dengan sifat Evan, apakah ada yang terlewat oleh aku atau ada yang tidak aku ketahui, gumam Zubaidah, saat di perjalanan turun kembali ke kamar utama....
.
.
" Dad...." ucap Zubaidah
" Hm..." sahut Hamid singkat
" Dad...."
" ada yang aneh dengan Evan..." ucap Zubaidah, yang sudah menjatuhkan diri ke dalam pelukan suaminya
" aneh...?.."
" aneh bagaimana, sayang..."
" kamu itu yang aneh akhir- akhir ini..."
__ADS_1
" ada yang ingin kamu katakan pada aku, sayang...." ucap Hamid yang mencoba membujuk isterinya untuk jujur
" Evan, Dad.."
" bukan , Mommy..." sahut Zubaidah yang merajuk pada suaminya
" iya..."
" Evan yang aneh, .."
" Daddy yang aneh..."
" Mommy tidak aneh..." sahut Hamid mengoda isterinya
Zubaidah terdiam, kemudian dia memukuli dada suaminya, dengan pelan
" artinya Mommy tetap yang aneh..." ucap Zubaidah
" Loh..."
" tidak..."
" siapa yang bilang...." ucap Hamid
" Daddy, lah..."
" siapa lagi..." ucap Zubaidah yang sedikit merajuk, dan itu membuat Hamid tertawa dengan kelakuan isterinya yang selalu mendampinginya selama kurang lebih lima puluh tahunan ini
" Dad..."
" Mommy hanya ingin Evan bahagia..."
" anak-anak bahagia
" cucu-cucu kita juga..." ucap Zubaidah
" kita doakan saja, sayang..."
" itu tugas kita..."
" selanjutnya biar kan mereka menjalani takdir kehidupan mereka masing-masing...."
" mereka berhak memilih pilihan mereka sendiri..." ucap Hamid
" tidak untuk Evan..."
" dia pasti masih butuh kita..." ucap Zubaidah
" dia bukan lagi anak kecil, yang dibujuk mainan akan menuruti kehendak kita..."
" kita hargai saja pilihan nya..."
" jika itu buruk, baru tugas kita untuk memberikan teguran kepada Evan...." ucap Hamid mencoba menenangkan jiwa sang isteri
" jika Mommy tidak ada.."
" bagaimana Rio, .."
" Daddy harus bisa menjaga Rio, melindungi Rio...."
" cucu kita Rio , cucu yang paling menderita dalam hidupnya..."
" Rio akan kekurangan kasih sayang...."
" bukan karena Rio spesial, tapi karena orangtuanya bercerai,.."
" Mommy takut jika dia akan berjalan diluar jalur...."
" banyak anak korban divorce berakhir dengan merusak masa depan mereka..."
" Mommy takut itu terjadi pada Rio, Dad...."
" takut.."
" takut sekali...."
" Hu..hu...hu...." ucap Zubaidah yang berubah menjadi sebuah tangisan yang memilukan di telinga Hamid
Hamid masih setia mendengarkan curhatan dari sang isteri , karena dia pun sama, mengkhawatirkan masa depan Rio, jika Rio mengetahui kenyataan tentang status orang tua nya
apakah Rio akan menerima nya dengan lapang dada, menerima nya dengan ikhlas, atau dia akan melarikan diri ke arah yang tidak baik, memikirkan masa yang akan datang memanglah membuat seseorang menjadi penuh kekhawatiran, hanya berserah diri, dan terus berdoa, bersimpuh kepadaNya , sedikit menenangkan jiwa yang tergerus luka dan duka
mungkin ini adalah ujian yang harus di hadapi. mereka di usia senja nya,
Hamid menyeka airmata isterinya
" kita sholat, yuk..."
" biar hati tenang..."
__ADS_1
" semoga Allah mendengar setiap doa yang kita panjatkan...." ajak hamid pada isterinya
" iya, ..." sahut Zubaidah
Hari berganti, hingga hari ini terakhir Rio berada di kota S***, dan Rio ditemani sang abang dan sang Daddy,
kemana pun mereka bertiga pergi, selalu menjadi pusat perhatian, melihat Evan yang cukup matang berjalan dengan dua remaja tampan menjadikan Evan sosok pria dengan julukan hot Daddy, di kalangan wanita dewasa
sedangkan anak laki-laki nya menjadi pusat perhatian para gadis seusia mereka, jangan di tanya karena apa, tentu saja karena pesona mereka, dengan karisma mereka masing-masing tentu nya
Evan mengambil penerbangan malam di hari Jumat, agar bisa lebih lama berada di J***,
kehadiran mereka bertiga sudah di nanti, oleh Lolita, dan Bobby
jangan ditanya kenapa ada Bobby, tentu saja, jika Evan sampai menginap di ruko maka disitu ada Bobby, Bobby hanya tidak ingin kecolongan,takut jika Evan salah langkah lagi,yang akhirnya membuat Bobby tidak bisa bersama kekasihnya, sedangkan Evan merasa aman,dengan adanya Bobby , dapat mengingatkan Evan untuk tidak melakukan kesalahan,
camilan malam tersedia, mereka berencana melakukan makan bersama,alat- alat untuk steamboat sudah disediakan dengan berbagai macam jenis, baik sayuran dan lainnya,ada juga yang mengatakan ini Shabu - Shabu, tergantung literatur nya yah, pokoknya bumbu tom*y.am, atau bumbu Shabu- shabu sudah di buat banyak versi, yang suka pedas, ada di satu panci, , dan yang lainnya terpisah, sesuai selera
perjalanan yang dimulai dari penerbangan hingga ke ruko tentu saja melelahkan, namun melihat ramainya orang yang menyambut mereka bertiga tentu saja membuat mereka kembali segar, apalagi setelah mereka menguyur tubuh mereka dengan air,
Bobby memimpin acara makan-makan nya diikuti oleh para karyawan Lolita yang memilih ikut bergabung, beberapa minggu bertemu membuat Mona dan salah satu bodyguard Bobby masih saja awet, awet untuk bertengkar, mereka tidak pernah akur, bahkan di acara ini saja mereka masih perang , tidak perang tatapan, mereka berperang sumpit, yang hampir saja membuat kuah tom*y.am keluar dari panci nya, tatapan mata Bobby dan Evan membuat mereka menghentikan aksi pertengkaran mereka
" apa kalian, mau sampai kami menikahkan kalian saja,..."
" biar kami nyaman..." ucap Bobby
" baik, aku sangat bersedia menjadi saksi nikahnya..." sahut Evan
membuat Mona terdiam, begitu pun dengan bodyguard Bobby
" kalau menikah dengan pak Evan, aku mau...." ucap Mona asal
" wah..."
" silahkan Mona..."
" aku dengan senang hati mendengar hal ini...." ucap Bobby dengan tertawa sangat bahagia
Evan mendelik ke arah Mona, mendengar penuturan dari Mona,sedangkan yang dilirik mesem- mesem, menahan malu
" maksud saya.."
" kalau tampangnya seperti pak Evan ,aku kok, tidak akan menolak...." ucap Mona lagi
membuat suasana kian ramai,
" apa, kamu bilang..." ucap Evan dengan melempari Mona kacang goreng, yang sudah dia kupas, yang hendak dia makan,
" siapa tahu, bapak mau sama Mona..."
" suka gitu, sama Mona...." ucap mona lagi dengan asal, sekedar lelucon garing
Evan sudah tidak bisa menahan geramnya, sedangkan Bobby sangat bahagia mendengar lelucon dari mulut Mona, untuk yang lainnya para pemirsa tertawa terbahak-bahak, akan lelucon Mona , karena sukses menghidupkan suasana
Mona tidak serius akan ucapan nya, dia hanya kesal dengan bodyguard Bobby yang selalu usil jika berada di dekatnya,
muka jutek tapi jahil, sungguh menyebalkan , apa sih nih cowok, gumam Mona dalam hati
makanya dia menjahili salah satu pria yang menyukai boss nya, tanpa disadari Mona ucapannya membuat berang Rio
" Mom...."
" mommy...."
" pecat aunty Mona sekarang juga..." ucap Rio serius, dengan wajah memerah,
mereka pikir sedang bercanda ternyata Rio sungguh- sungguh dengan perkataan nya,
bahkan Rio dengan lantang mengusir Mona, mendadak semua orang bergidik ngeri, bahkan Lolita yang membujuk Rio, mengatakan jika Mona hanya sekedar bercanda, tidak di gubris oleh Rio, jari telunjuknya lantang tepat berada di wajah Mona
" pergi..!!!...." teriak Rio dengan tegas
Mona terdiam, niat hanya bercanda berakhir dengan pengusiran dirinya, sungguh diluar dugaan Mona
" Mommy...." ucap Mona dengan suara pelan , namun masih masih terdengar orang, jangan di tanya raut wajah Mona yang sudah nampak mulai pias dari sebelumnya
." jangan panggil Mommy, Rio..!!!..." ucap Rio dengan wajah memerah karena tubuh anak kecil ini diliputi emosi yang kian membuncah
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒