
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Suara ketukan di dinding pintu, tak berselang lama pintu terbuka tanpa mengeluarkan suara decitan pada pintu kamar rawat inap yang di huni oleh pria tampan, yang masih setia menutup matanya,
pria tampan itu seakan-akan merasa lebih nyaman untuk berada di dalam dunia mimpi daripada terbangun menghadapi dunia nyata yang menyakitkan baginya
kedatangan dokter jaga dan dua perawat jaga yang mendampingi seorang dokter melakukan visite di setiap ruangan yang ada di rumah sakit
" dokter...."
" ini pasien a.n. bla bla...umur bla bla......"
" dengan keluhan bla bla indikasi bla bla....."
" tindakan medis yang telah diberikan bla bla..."
" sebelum nya dengan terapi bla bla...dengan dokter bla bla...." ucap salah satu perawat jaga yang telah membawa catatan dari perawat jaga sebelumnya saat mereka melakukan handover pada jam pergantian shift jaga,
Ubaidillah Affandy yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung mendekat kearah dokter
" bagaimana , dokter....."
" keadaan anak saya..." ucap Ubaidillah Affandy dengan sopan
" sejak pasca operasi, apakah tuan Bobby sudah siuman pak....." ucap dokter dengan
sopan
" sudah..."
" akan tetapi setelah itu, anakku tidak lagi terbangun...." ucap Ubaidillah Affandy
" HaH....!!!...." ucap dokter menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya
" lebih baik kita segera membangunkan tuan Bobby, tuan....."
" pasien harus segera makan, minum obat,..."
" jika tuan Bobby mau istirahat lagi, tidak masalah...."
" setidaknya tuan Bobby harus sedikit beraktivitas agar lebih cepat proses penyembuhan nya...." ucap dokter dengan sopan
" By....."
" Obby....."
" kamu segera bangun dulu, nak....." ucap Ubaidillah Affandy dengan suara lembut, sambil menggoyangkan bahu Bobby
terdengar suara lenguhan dari mulut Bobby, Bobby menggerjap-ngerjapkan kedua bola matanya, Bobby masih belum tercharger dengan sempurna, beberapa bagian otak nya masih mengumpulkan kesadarannya,
Bobby menatap wajah semua orang yang ada di dalam ruangan, kemudian memori dalam otak nya terkumpul sempurna, dengan wajah datar, Bobby segera duduk dari posisi sebelumnya, Bobby menarik paksa jarum infus yang melekat di punggung telapak tangannya, darah mengalir di punggung telapak tangan Bobby, karena Bobby menarik nya dengan paksa, membuat pembuluh vena Bobby terluka,
perawat yang melihat kejadian itu secara langsung sempat meringis, karena baru kali ini mereka menyaksikan secara langsung orang melepaskan jarum infus dengan paksa, dokter jaga yang melihat punggung telapak tangan Bobby terluka berusaha menahan gerakan Bobby yang hendak turun, namun dengan kasar Bobby mendorong tubuh dokter cantik itu dengan kasar, membuat dokter cantik itu terhuyung hampir terjatuh, kalau saja tidak di sanggah oleh bodyguard Ubaidillah Affandy
Bobby membuka secara paksa pintu kamar rawat inap nya, sambil berjalan dengan terhuyung-huyung, karena tubuhnya masih sangat lemah
Lolly.....
Lolly.....
dimana kamu , beibs
dimana kamu sayang, kamu meninggalkan aku....
please....
sayang ku,....gumam Bobby bermonolog dengan dirinya sendiri sambil terus berjalan kearah yang tidak dia tahu, tatapan mata Bobby begitu kosong, hanya memikirkan satu hal ...Lolita....
__ADS_1
Ubaidillah Affandy berusaha menyusul langkah kaki Bobby yang tidak tahu melangkah ke arah yang mana, namun dari siluet tubuh Bobby sangat mudah dikenali
" By ...."
" Obby...." ucap Ubaidillah Affandy sedikit menaikkan nada suaranya beberapa oktaf saat melihat Bobby berjalan tanpa arah
" By...."
" sadar lah, nak..." ucap Ubaidillah Affandy yang sudah berhasil mencegat Bobby
" heh..."
" mau apa lagi..."
" Oh, iya...."
" aku belum mati, maka nya kamu masih belum puas yah,...." ucap Bobby dengan sarkas, sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya, senyuman yang terlihat menyeramkan bagi orang yang menatap Bobby saat ini
naas tidak dapat di tolak, seorang perawat berjalan melewati Bobby dan Ubaidillah Affandy sambil mendorong dressing trolley atau instrumen trolley yang terdiri dari tiga rak, berbahan stainless steel tebal, yang berisi perlengkapan alat-alat kesehatan, kasa steril, perban gulung, antiseptik, infuset, gunting, cairan infus tentunya, yang saat ini akan digunakan untuk membersihkan luka, dan memasang selang infus kepada pasien yang akan menganti selang infus sebelumnya ke posisi tangan lainnya, karena tangan sebelumnya yang sudah membengkak
gerakan mata Bobby bagaikan slow motion saat melihat gunting khusus dan khas rumah sakit , Bobby mengambil secara cepat gunting yang berada diatas trolly dorong,
gerakan tiba-tiba dari Bobby membuat perawat jaga yang sedang mendorong trolley nya secara tidak sengaja menatap Bobby
namun perawat itu tidak bisa mencegah perbuatan Bobby, matanya menatap wajah tampan Bobby yang sudah tidak terurus dengan gerakan mengelengkan kepalanya
NO ....... teriak perawat dengan cepat
Robin berlari melesat melewati perawat, tuan Ubaidillah Affandy mencoba meraih gunting yang berada di genggaman tangan Bobby, sedangkan Bobby tersenyum puas melihat wajah ayahnya yang dia pikir sang ayah saat ini tersenyum melihat tingkah nya
Lolly....ucap Bobby di dalam hati nya dengan tatapan kosong pada kedua matanya, sambil menggores urat nadi pada lehernya
aku akan datang, sayang...
tunggu lah aku ......ucap Bobby lagi dengan tersenyum
TIDAK......... teriak Ubaidillah Affandy dengan naik beberapa oktaf, terjadi keheningan setelah teriak Ubaidillah Affandy menggema di koridor rumah sakit
" TIDAK....!!!!!!......." ucap Ubaidillah Affandy dengan suara tangisan nya yang kian menggema
Robin melemparkan gunting menjauh dari posisi mereka, Robin juga segera melepaskan kaos yang dia pakai, dengan gerak cepat bodyguard Ubaidillah Affandy lainnya, mendorong kursi roda ke arah Robin mengangkat tubuh Bobby dengan cepat melesat menuju ke emergency room, agar Bobby segera mendapatkan penanganan medis dengan cepat
Ubaidillah Affandy terpekur di dinginnya lantai rumah sakit, sambil *******-***** wajah nya, Ubaidillah Affandy menyesal, sangat menyesali perbuatan yang akhirnya membuat anak satu-satunya menjadi sosok seperti ini, yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya,
kemana perginya senyuman khas Bobby yang selalu bersemangat, meskipun dia harus hidup bersama ibu sambungnya setelah kematian isteri pertama tuan Ubaidillah Affandy,
kemana sikap Bobby yang selalu humble, yang selalu hebat dalam karier , kemana perginya,....
Ubaidillah Affandy tidak pernah menyangka jika Lolita begitu berarti bagi putra kesayangannya
" tuan...." ucap salah satu perawat jaga dengan hati-hati
" anda di tunggu di ruangan emergency room..."
ucap perawat jaga itu lagi dengan hati-hati
Ubaidillah Affandy berusaha berdiri meskipun dengan gontai, dia mengikuti langkah kaki perawat jaga yang menuntunnya menuju ruangan yang disebutkan tadi, Robin dan bodyguard Ubaidillah Affandy yang lainnya sudah menunggu kehadiran Ubaidillah Affandy
" bagaimana....." ucap Ubaidillah Affandy dengan nada suara yang sudah terdengar bergetar hebat
" masih menunggu, tuan..." ucap Robin dengan hati-hati
Ubaidillah Affandy hendak terjatuh, dengan cepat Robin memapah tubuh tuan Ubaidillah Affandy menuju kursi, dan memberi kode kepada salah satu bodyguard nya untuk memberikan tuan mereka minum air mineral agar tuannya lebih tenang
.
.
__ADS_1
Hari yang sama, saat Bobby mengalami insiden, yang membuatnya harus mendapatkan penanganan medis dengan segera , duel antara Boy dan Rio terjadi,
" aku merindukan kamu, Obby..." ucap Theo dengan serius, karena bagi Theo Bobby sangat membantu kinerjanya, bahkan tidak jarang Bobby sering menutupi hal-hal yang bisa membuat Theo dan Asha mengalami turbulensi dalam pernikahan, karena Theo adalah pria tampan dan mapan, tentu saja banyak sekali wanita yang menggoda Theo, bahkan menyerahkan diri nya kepada Theo dengan sukarela, jika saja Bobby sejujur Azriel sudah dipastikan nasib rumah tangga Theo pasti sudah mengalami kehancuran, sama seperti nasib Evan sebelumnya
" bagaimana kabar Bobby, bang.." ucap Evan yang sudah duduk di samping Theo
" buruk....." ucap Theo dengan singkat
" aku akan menjenguk dia , bang...." ucap Evan dengan lirih
" besok saja ..."
" hari ini, kita istirahat saja...."
" kalian silahkan jika masih ingin di sini...."
" aku harus segera pulang..."
" Asha pasti menunggu aku pulang...." ucap Theo yang sudah berdiri, melangkahkan kakinya ke arah lobby hotel yang sudah ada pak sopir di depan mobilnya,bahkan membukakan pintu mobil untuk Theo
Evan menanyakan kedua putranya, apakah mereka masih mau disini atau pulang...
dengan kompak Rio dan Boy menjawab " pulang..."
artinya mereka akan pulang ke ruko dimana tempat ternyaman bagi mereka
Rio yang saat ini berada di hadapan kedua orang tua Evan, menundukkan wajahnya, sambil bersimpuh di lantai yang beralaskan kasur berbulu tebal,
Hamid dan Zubaidah menatap wajah tampan Rio yang sudah di penuhi lebam,
" opa...."
" oma...."
" mohon maafkan Rio..." ucap Rio dengan suara yang sudah bergetar
" bangunlah, cucuku...." ucap Hamid dengan suara bergetar pula, Zubaidah menyeka airmata nya
Rio memeluk tubuh Hamid dan Zubaidah secara bersamaan, Hamid menciumi puncak kepala cucunya, sedangkan Zubaidah mengelus-elus punggung lebar cucunya yang telah beranjak dewasa
" mohon maafkan , Rio...." ucap Rio lagi dengan terisak-isak, Hamid dan Zubaidah hanya mengangguk-anggukan kepala mereka, katena mereka tidak sanggup menjawab ucapan Rio
mereka tidak lagi membahas tentang apa yang mereka bahas sebelumnya...
Zubaidah berdiri, memeluk tubuh kekar Boy
" terimakasih....."
" maafkan oma sebelumnya...." ucap Zubaidah dengan suara parau, dan menangis di pelukan Boy
" tidak apa-apa, oma..."
" Boy tahu diri...."
" boy bukan.......
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒