Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
baik kita mulai


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah dengan penolakan dari Evan, dan diakhiri dengan persetujuan, pada akhirnya Lolita bisa duduk tenang di sini, di samping tuan Hamid yang duduk bersebelahan, dan di hadapan mereka saat ini sudah duduk seorang dokter L, SPKJ, yang sudah melalang buana di dunia medis, sangat berpengalaman di bidang nya


" bagaimana, dokter..."


" kondisi anak saya..." ucap tuan Hamid dengan gelisah, begitupun Lolita yang berusaha untuk tenang, meskipun hatinya tidak


" baik akan saya jelaskan diagnosis saya sebagai dokter..."


" saya harap bapak bisa menerima apa yang akan saya sampaikan..." ucap dokter L dengan raut wajah serius namun lembut dari nada bicaranya


" inshaallah, dokter..." ucap Hamid dengan pasrah, Lolita menatap Hamid dengan wajah yang terlihat sedih, mewakili perasaannya yang terdalam, Lolita menyentuh telapak tangan tuan Hamid dan memegang nya dengan hangat


" Daddy..." ucap Lolita tanpa sanggup mengatakan apapun, seperti isi kepala terlalu berat untuk menyebut satu kata pun setelah kata Daddy, Hamid menumpuk tangan Lolita, seperti mereka saling menyalurkan kekuatan


" baik kita mulai..."


" dari pemeriksaan saya, dan laporan dokter jaga yang berdinas siang kemarin,..."


" dan juga dari sesi konseling saya bersama tuan Evan, di kamar rawat inap Evan, tadi..."


" bisa saya simpulkan saat ini, jika tuan Evan menderita suicidal thoughts, atau yang lebih kita kenal dengan indikasi bunuh diri,...." ucap dokter menatap manik mata tuan Hamid dan berbicara dengan nada yang sangat sopan, bukan apa-apa, keluarga pasien dengan kondisi khusus seperti ini cenderung belum bisa menerima apa yang terjadi pada anggota keluarga nya, apalagi seorang anak,


" apa bisa di sembuhkan , dokter..." tanya Hamid


yang telah menekan tangan nya menjadi bulatan atau genggaman yang kian mengepal


" inshaallah..."


" apalagi tuan Evan cepat dibawa kesini..."


" tentu akan sangat berpengaruh besar, akan pemulihan pada tuan Evan..."


" semakin lama menunda pengobatan akan semakin memperparah keadaan pasien..."


" itu yang sering terjadi..."


" namun, anda telah memutuskan yang terbaik.."


" saya yakin itu tidak mudah bagi anda, tuan..."


" tapi yakinlah...."


" inshaallah, tuan Evan akan pulih..." ucap dokter memberikan dukungan moral pada tuan Hamid pada sesi konsultasi ini


" bisa tanpa obat- obatan ,dokter..."


" untuk anak saya...." ucap Hamid yang tidak ingin anaknya ketergantungan akan obat psiko**** dan sejenisnya


" bisa saja, tuan..."


" tergantung kondisi pasien...."


" kita lihat dahulu selama proses perawatan di rumah sakit, kita lakukan observasi dan psikoterapi..."


" jika ini berhasil,yah syukur Alhamdulillah..."


" namun saya tidak dapat menjamin akan berhasil, yah tuan.."

__ADS_1


" artinya dalam kondisi tertentu, jika kami melihat adanya kemungkinan terburuk, tentu saya harus memberi tuan Evan terapi obat-obatan..."


" untuk memberi kestabilan pada jiwa dan fisik tuan Evan..." ucap dokter dengan serius dan lembut


" baiklah..."


" saya ikuti semua yang dokter sarankan..." ucap Hamid dengan pasrah


" indikasi penyakit mantan suami saya , tergolong jenis apa dokter..." tanya Lolita dengan penasaran


" di dalam dunia psikis, atau medis, indikasi ini sebenarnya termasuk dalam fase darurat,"


" karena bagi pasien sangat beresiko mencederai diri sendiri,..." ucap dokter L kembali menjelaskan pada pihak keluarga memberikan servis excellent sebagai dokter yang ahli dalam bidang nya


" apalagi menurut penuturan tuan evan, jika setelah dia di fase saat pasca perceraian, ..."


"dia kerap merasa sendiri, merasa tidak berguna, tepatnya putus asa, tuan Evan juga tidurnya tidak teratur, terkadang tiba-tiba terbangun saat sedang tertidur, .."


" sering insomnia karena rasa cemas yang berlebihan karena rasa takut kehilangan yang begitu besar, apalagi ,maaf..."


" nona Lolita telah memiliki calon pendamping lain, yang lebih kredibel dari dirinya, muda, tampan, terlihat lebih mapan dari dirinya tuan Evan,..." ucap dokter dengan hati-hati


" Oh iya..."


" ada hal lain yang harus saya beritahukan pada pihak keluarga jika pasien sudah keluar dari perawatan rumah sakit dan lakukan di rumah..."


" pertama - tama, hilangkan akses untuk dia dapat mencoba melakukan percobaan bunuh diri, dan pasien harus terus didampingi, artinya pasien tidak bisa hidup sendirian..."


-" kalaupun nanti tuan Evan mendapatkan terapi obat antidepr****, harus terus di konsumsi sampai saya menyatakan pasien boleh tidak mengkonsumsi obat lagi, jangan sampai pihak keluarga menghentikannya sendiri tanpa konsultasi lagi dengan dokter, kecuali pihak keluarga berkonsultasi dengan dokter spesialis jiwa lainnnya"


-" dan untuk tuan Evan, setelah keluar dari rumah sakit mohon untuk jangan membiarkan beliau mengkonsumsi alkohol dan obat- obatan terlarang, ...."


" dan yang paling penting,..."


" adalah terapi bicara dan terapi perilaku kognitif untuk tuan Evan..." ucap dokter dengan nada yang sama


" disini peran anda sangat besar nona Lolita..." ucap dokter melihat ke manik mata Lolita dengan serius


" ma...maksud dokter..." ucap Lolita sedikit tergagap


" begini , nona..."


" semua yang terjadi pada tuan Evan,..."


" akibat rasa bersalahnya yang terlalu besar, rasa cintanya yang terlalu besar, keputusan yang kalian ambil, lebih tepatnya keputusan anda cukup membuat tuan Evan sangat terpukul..."


" saya tidak menyalahkan keputusan anda..."


" wajar, sangat wajar jika langkah itu anda ambil, perempuan manapun tidak akan pernah sanggup mengalami apa yang anda rasakan.."


" namun saat ini, peran anda sangat besar bagi kesehatan jiwa tuan Evan..." ucap dokter lagi


" berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan Evan, dokter..?..." tanya Lolita dengan serius


" tergantung kondisi pasien..."


" bisa jadi kurang lebih empat sampai lima bulan..."


" bisa jadi lebih...."

__ADS_1


" seperti yang saya katakan, tergantung kondisi pasien, dan keinginan pasien, serta kesadaran pasien..."


" tentang kondisi nya saat ini, tentang hubungan dia dan anda..."


" peran keluarga, peran anda, dan satu lagi saran saya dekatkan tuan Evan dengan seorang ustadz, atau seseorang yang paham agama, agar tuan Evan sadar akan arti kehidupan...." ucap dokter menatap Lolita dan tuan Hamid secara bergantian


Hamid dan Lolita terdiam, mereka saling merenung langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya jika harus berada di kota S***, bagaimana dengan sekolah kedua putera nya, jika Evan ke kota J***, bagaimana dengan Bobby kekasih nya, tidak mungkin mereka akan tidur satu kamar lagi bertiga, kumpul ke** kan namanya, akan membuat nama baik Lolita akan buruk dimata orang apalagi calon mertua yang memang tidak suka padanya


sedangkan Hamid terdiam, tidak mungkin dia dan keluarganya membiarkan Lolita dan Evan bersama tanpa ikatan pernikahan, sedangkan saat itu saja , Lolita sudah memantapkan pilihan nya untuk bercerai dengan suaminya, artinya tipis harapan untuk Evan dan Lolita kembali bersama, untuk membuat Lolita terjun mengurus Evan dalam keadaan seperti ini


yang pasti Lolita saat ini seperti akan menelan buah simalakama, yang jika tidak membantu Evan, akan membuat kondisi Evan semakin buruk, jika dia membantu maka dia harus mengorbankan waktu selama empat sampai lima bulan itupun paling cepat, tidak ada ukuran pasti dengan waktu yang dibutuhkan untuk kesembuhan Evan


" nak...." ucap Hamid dengan merasa tidak enak


" nanti saja kita bahas, Dad..." ucap Lolita dengan seutas senyum di wajah cantiknya, agar Hamid tidak merisaukan yang akan Lolita lakukan nanti....


Lolita butuh waktu untuk berfikir jernih, bukan saat ini, pastinya, karena diapun masih ragu mau mengambil langkah apa


" Oh, iya..."


" pada terapi bicara dan terapi perilaku kognitif untuk tuan Evan, nanti di rumah..."


" beberapa yang harus diingat saat melakukan sesi ini, yaitu: tetap tenang, berbicara dengan nada yakin, validasi emosi lawan bicara, dan tawarkan dukungan pada nya....." ucap dokter lagi


" inilah cara yang terbaik untuk menolong tuan Evan, dengan mendengarkan dia saat dia menyampaikan perasaan yang dia rasakan, memberikan dorongan atau support padanya, dan berikan dia distraksi lain seperti olahraga,traveling, melakukan kegiatan- kegiatan lain yang lebih ke arah positif..." ucap dokter L menambahkan penjelasan nya lagi


" apakah ini saja diagnosis dokter pada anak saya...." tanya tuan Hamid


" untuk saat ini, saya mendiagnosa pasien a.n.Elvano Adinata, sama dengan diagnosis awal..."


" kita lihat lagi selama perawatan di rumah sakit ini, bagaimana kondisi pasien, dan akan kita nilai lagi, sekitar kurang lebih satu sampai dua minggu...."


" karena ada juga jenis atau kategori depresi dengan pola hampir sama dengan suicidal thoughts,.."


" itu lebih berbahaya lagi..."


" tingkat agresif lebih tidak menentu, kapan pun dimana pun bisa terjadi sewaktu- waktu


Deg....


Deg.....


Deg......


detak jantung tuan Hamid berdetak semakin tidak beraturan, Lolita terdiam dan mematung, raut wajah mereka berdua kian pias, mendengar penuturan dari dokter spesialis ini


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


🍒🍒


__ADS_2