
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Satu Lembar daun yang telah terjatuh tidak akan pernah membenci angin yang menerpa dirinya sehingga membuat dirinya terjatuh begitu saja, membuat dirinya pergi begitu saja entah kemana,
entah membuat dirinya terjatuh di atas tanah, atau terjatuh diatas gubuk yang telah usang, atau terjatuh menjauh ke atas air yang mengalir yang membawa nya pergi menjauh dari dahannya, atau bahkan tertiup angin menjauh dari pohon yang menjadi tumpuan nya selama ini yang dia tidak tahu entah dimana dan kemana dia akan berlabuh
bukan tidak mampu melawan, dia hanya menjalankan takdir yang telah Allah ciptakan untuk dirinya, yang akan dia lakukan hanya lah menerima dan mengikhlaskan semuanya sesuai dengan ketentuan sang pemilik alam semesta
Allah memberikan sesuatu, baik menurut ciptaan Nya, belum tentu terbaik menurut Allah, buruk menurut ciptaan Nya , belum tentu terburuk menurut Allah, semua yang terlukis di lauhul mahfuzh, adalah takdir yang harus dijalani setiap yang bernyawa, bahkan nyawa satu ekor nyamuk pun tidak luput dari takdir Allah,
sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, Allah memberikan akal dan pikiran untuk manusia, agar manusia berfikir bagaimana mengatasi setiap segala sesuatu dalam dirinya, dalam hidupnya,
berusaha dan berdoa adalah jalan yang masih bisa bisa dilakukan, tanpa berpangku tangan menerima saja dengan pasrah,
padahal kata pasrah juga memiliki makna yang positif dan cukup baik,apa bila kita mau berfikir dengan bijak,
seperti yang terjadi pada mereka saat ini,
jika sebelumnya Evan yang begitu terpukul atas penolakan Lolita terhadap perasaannya yang masih dengan tulus mencintai Lolita, saat Lolita meninggalkan mereka secara tiba-tiba, Evan menjadi sosok yang kuat, karena dia harus bertahan bukan hanya untuk dirinya sendiri, akan tetapi ada Rio yang membutuhkan dirinya sebagai leader yang akan menuntun anaknya Rio menjadi sosok seorang pria yang kuat, apalagi Evan telah mendengar cerita dari Boy secara keseluruhan tentang Rio dan Lolita yang sempat terjadi keributan sebelum Lolita pergi menghilang tanpa jejak
namun Evan perlu ekstra kesabaran menghadapi Rio yang semakin menutup diri dari setiap orang, termasuk dirinya, entah kenapa Rio bersikap seperti itu, Evan sangat ingin bertanya langsung kepada anaknya apa yang menyebabkan Rio bersikap seperti itu,
apakah ada yang tidak diketahui oleh Evan alasan yang jelas akan perubahan itu,
Evan meminta bantuan buya Yahya dan umma Bilqis untuk bisa menjadi teman curhat Rio, namun Rio masih teguh dengan sikapnya, bahkan Evan mengajak Rio ke spesialis di bidangnya , seperti yang dia lakukan setelah konseling dengan terapisnya , namun tetap saja gagal, Rio benar-benar menjadi sosok yang sangat introvert, membuat Evan semakin frustasi, Evan takut putra kesayangannya akan mengikuti rekan jejaknya,
di saat-saat seperti ini, biasanya Lolita selalu hadir menjadi sosok yang akan menjadi teman curhat nya, memberikan Evan semangat, memberikan Evan sesuatu yang membuat dia semakin percaya diri, dan positif thinking akan segala sesuatu,terus terang saja Evan sangat merasa kehilangan sejak Lolita tidak diketahui keberadaannya,
di saat Evan frustasi, sosok Lolita selalu hadir membayangi dirinya, sehingga dia selalu mengingat bagaimana cara dia mengatasi dirinya disaat-saat seperti ini, Lolita tidak ada, tapi akan selalu ada di sini, gumam Evan dalam hatinya sambil meletakkan tangan nya kearah bagian dadanya
aku harus bangkit, harus bisa membanggakan Lolita demi aku, demi anak-anak, dan demi Lolly,
Lolly pasti bersedih jika tahu aku tidak bisa bertanggung jawab kepada anak- anak, jika aku terpuruk,
aku harus bisa bertanggung jawab terhadap anak-anak sampai Lolly pulang, dia pasti akan bangga dengan apa yang aku lakukan,
iya, aku harus bisa membuat Lolly bangga dengan diriku,....ucap Evan di dalam batinnya, memberikan spirit dan support agar dia harus bisa mengatasi dirinya dalam keadaan pelik seperti ini
oleh karena itu, dalam beberapa hari sejak Lolita dinyatakan hilang, Evan menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya, sosok yang baru, bahkan Hamid dan Zubaidah, salut dengan perubahan sikap yang Evan tunjukkan kepada mereka, terus terang saja Hamid dan Zubaidah sangat bahagia saat ini, karena inilah yang mereka harapkan selama ini, namun disisi lain Hamid merasa sangat bersedih mantan menantu nya menghilang begitu saja tanpa kabar berita apakah Lolita masih hidup atau sudah tiada,
satu sisi Hamid merasa sangat bahagia, dan disisi lainnya Hamid merasa sangat terpukul, Lolita banyak memberikan energi positif terhadap Evan, apakah ini harga yang pantas dibayar karena perubahan sikap Evan...
tidak....
tidak....
tidak harus seperti ini, akan tetapi kenapa ini harus terjadi, apa yang hendak Allah tunjukkan kepada mereka, hanya menjadi rahasia ilahi segala sesuatu nya, Wallahualam bissawab, hanya Allah SWT yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya
" Rio...."
" ini sudah kenaikan sekolah...."
" bahkan ujian sekolah akan diadakan sebentar lagi..."
" kamu mau mengambil kuliah di bidang apa , ..."
__ADS_1
" Rio....."
" kamu harus mempersiapkan segala sesuatunya sejak sekarang, karena akan mempengaruhi masa depan kamu, Rio..." ucap Hamid dengan hati-hati
1...
2....
3....
bahkan sampai menit ke tujuh tidak ada jawaban dari Rio
" Rio....."
" bagaimana...."
" apakah kamu mau ikut opa ke kota asal kita, Rio..." ucap Hamid lagi dengan hati-hati,
1...
2....
3....
bahkan sampai menit ke tujuh tidak ada jawaban dari Rio
bahkan itu terjadi berulang-ulang, sampai Boy sudah tidak mampu lagi untuk bersabar dengan tingkahnya Rio
" opa..."
ucap Boy dengan penuh penekanan, sampai semua urat di lengannya menonjol saat Boy mengeratkan kepalan pada tangan nya
Boy menggeret tubuh Rio menuju lantai bawah, namun Rio terus melakukan perlawanan, tidak mau mengikuti langkah kaki Boy, namun dengan bobot tubuh dan emosi yang membuncah jelas saja tenaga Boy berkali-kali lipat dari tenaga Rio
" lepaskan...."
" lepaskan....
" " b,re.n*g,se***k..."
" ke.pa.ra***...."
" anj**...." ucap Rio dengan suara lantang, mengucapkan kalimat- kalimat caci maki kepada abangnya, yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya,
Hamid dan Zubaidah yang mendengarkan ucapan Rio sampai sangat terkejut mengapa sampai cucu kesayangannya menjadi liar seperti ini, menjadi sosok yang menakutkan seperti ini, sosok yang sangat ditakutkan oleh Zubaidah selama ini, dan hari ini terjadi tepat di depan mata mereka Rio bersikap lebih dari Evan sebelumnya
Hamid terpaksa memapah tubuh sang isteri yang nyaris ambruk, Hamid tidak bisa menyusul kedua bocah remaja yang dalam masa labil mereka,
Hanan buru-buru keluar dari kamar mandi setelah mendengarkan keributan di lantai dua,
" Hanan...."
" tolong cucu-cucu ku, nak...."
" mereka pergi......."
__ADS_1
" aku tidak tahu mereka kemana...." ucap Hamid berteriak yang diselingi dengan suara isak tangis Zubaidah yang terdengar sangat pilu
bahkan Hamid ikut menangisi keadaan para cucunya, sambil terus beristighfar dan berdoa agar cucu-cucu nya selamat tidak terjadi kecelakaan
Hanan memacu motor sport miliknya dengan kecepatan tinggi, sambil memasang earphone di telinga nya, menghubungi Theo untuk mengirimkan bala bantuan, dan menghubungi Evan sembari dia berlari menuju lantai dasar ruko
tentu saja baik Theo maupun Evan segera bergerak cepat, sebelum terjadi apa-apa kepada Rio dan Boy
Boy yang sudah dikuasai emosi dan ditunggangi oleh bisikan syaitan, memacu mobil dengan kecepatan tinggi, menuju tempat yang dia pikirkan sejak di dalam ruko, Rio tidak lagi membantah ucapan Boy, dan tidak lagi melakukan perlawanan, namun sepanjang perjalanan mulut Rio pedas mengucapkan kalimat sumpah serapah, cacian dan makian
Boy membanting setir ke sebelah kiri dengan mengerem cepat, dan mobil terparkir secara asal-asalan, Boy bahkan membanting pintu mobil bagiannya dengan kasar, membuka pintu mobil disamping Rio dengan kasar
" turun kamu....!!!!....."
" sini kamu......."
" lawan sepadan untuk kamu cuma aku...."
" abang kamu....." ucap Boy dengan naik beberapa oktaf dan penuh penekanan
" abang aku...."
" hei ...."
" sadar, anak mommy cuma aku..."
" ingat cuma aku...." ucap Rio dengan sarkas dengan naik beberapa oktaf dan penuh penekanan
" apa...!!!!......" ucap Boy dengan menyunggingkan bibirnya tentu saja dengan wajah merah padam
" bang***sat..." ucap Boy dengan kasar, sambil memberikan hantaman di wajah tampan Rio
" b,re.n*g,se***k..." ucap Rio ketika terjatuh, dan Rio segera bangkit membalas perbuatan sang abang
" ke.pa.ra***...." ucap Boy yang sudah kehilangan akal sehatnya
" anj**...." ucap Rio yang sudah kehilangan akal sehatnya
terjadi baku hantam di antara mereka berdua, sampai mereka puas melepaskan emosi mereka yang sudah tertahan selama dua minggu lebih terhitung sejak Lolita menghilang
mereka saling memukul, memberikan perlawanan terhadap pukulan lawan, di lapangan hijau, yang ada danau buatan yang tidak terlalu dalam sebagai hiasan di tempat itu,, mereka masih terus bergelut diatas hamparan rumput hijau, di temani gerimis hujan, tidak menyurutkan semangat mereka untuk saling menjatuhkan lawan, namun energi mereka semakin lama semakin terisi, memastikan lawan hancur tidak tersisa, mungkin sampai salah satu diantara mereka mati, mungkin itu yang terjadi jika tidak ada yang melerai mereka berdua
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
ππ