
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Di belahan bumi yang berbeda di mana Alice berada saat ini, seorang pria tampan yang semakin terlihat dewasa di meja kerjanya nampak begitu serius membaca setiap lembar dokumen yang dia buka satu persatu. Suara ketukan di pintu ruangan yang saat ini dia berada, tak mampu membuat pria tampan yang semakin dewasa itu mengalihkan pandangan.
" tuan " sapa sang tamu , yang tidak lain orang yang selalu mendampingi Evan dalam kondisi apapun
" ya "
" ada apa, Ki " tanya Evan yang masih tanpa menatap lawan bicaranya
" tuan menonaktifkan ponsel anda, tuan ? " tanya Diki
" Oh " sahut Evan singkat, langsung mencari ponsel di dalam jas yang dia gantung, dan melihat ke ponselnya yang sudah tidak ada daya sama sekali,dan memperlihatkannya kepada Diki,
" mati, dan aku baru akan mengisi daya ponsel "
" ada pesan untuk aku, Ki ? " tanya sang pemilik perusahaan.
iya, saat ini Evan sudah diangkat tuan Hamid sebagai Presdir di perusahaan sang ayah, dikarenakan tuan Hamid sudah tidak mumpuni untuk mengurusi perusahaan itu lagi, sedangkan abangnya Evan sudah harus memikul beban yang sama di perusahaan sang ayah yang lainnya, mau tidak mau perusahaannya sendiri , harus Evan percayakan kepada orang yang sangat dia percaya untuk terus melebarkan eksistensi, Evan tidak melepaskan pengawasannya, namun saat ini Evan lebih banyak berada di perusahaan yang sudah dipercayakan tuan Hamid kepadanya daripadanya daripada perusahaan nya sendiri.
" tuan besar, meminta tuan untuk pulang ke rumah utama, hari ini " ucap Diki, langsung ke point penting nya, dan ucapan Diki langsung membuat mood Evan langsung buruk seketika.
bahkan Evan tidak kembali duduk di kursi kebesarannya lagi, Evan memilih untuk duduk di massage chair atau kursi pijat yang sudah pasti sangat nyaman yang berada di ruangannya, dengan sedikit merebahkan tubuhnya agar lebih rileks sembari menyetel ritme pijatan dan durasi pijatan
" butuh kopi, tuan " ucap Diki sedikit pelan, melihat mood sang majikan yang turun dari penilaiannya sedari tadi
" seperti biasa "
" dan aku butuh istirahat " ucap Evan tanpa membuka kedua matanya yang telah terpejam,tanpa kata Diki meninggalkan Evan yang mungkin telah terlelap.
Masih terukir luka karena penyesalan di lubuk hati yang paling dalam bagi Evan, pencarian wanita yang paling dia cintai yang hingga saat ini belum ada titik temunya, bahkan meskipun dia sendiri yang ikut dalam pencarian yang dikemas dalam perjalanan dinas, ataupun ajang perluasan bisnis di berbagai negara. Anak nya semakin bertambah tinggi yang nyaris mendekati tinggi tubuhnya, dan tentu saja semakin menduplikat rupa dirinya, kini sedang berada di negara yang berbeda dengannya, dan memilih berada bersama sang abang , dan ayah lain yang juga di panggil dengan panggilan yang sama, jika di tanya, bisakah hanya satu Daddy tanpa ada Daddy yang lain, sang anak hanya menjawab dengan jawaban yang sama
" Daddy yakinlah, cintanya Rio buat Daddy sangat besar, jangan pernah ragukan itu "
" no debat, please "
Suara lenguhan lembut terdengar dari mulut Evan , melepaskan penat yang bersemayam di dadanya, merelaksasi pikiran sedikit melepaskan penat yang Evan rasakan oleh Evan saat ini.
" lovely "
" aku merindukan dirimu "
__ADS_1
" sangat merindukan kamu, sayang " gumam Evan di dalam pikirannya, yang tanpa disadari Evan, matanya mengeluarkan titik-titik airmata meskipun matanya terpejam.
Diki yang semula memang datang untuk menyajikan segelas kopi dan kudapan untuk sang boss, mengurungkan niatnya meletakkan apa yang dia bawa ke atas meja, yang tanpa sengaja melihat airmata sang boss yang terjatuh , Diki merasa ada baiknya, saat dia memutuskan untuk tidak mengetuk pintu ruangan, sehingga ketika dia keluar pun dia sangat berhati-hati untuk tidak membangunkan sang boss, bahkan Diki memberikan pesan kepada seluruh sekertaris Evan untuk tidak masuk ke dalam ruangan , kecuali sang boss sendiri yang memerintahkan, dan juga untuk menolak semua tamu yang akan menemui Evan saat ini, bahkan meeting di re-schedule demi ketenangan Evan.
.
.
.
" dad " ucap Zubaidah, di saat dia terjaga dari tidur siangnya hari ini
" mau apa, mom ? " ucap Hamid, sembari mendekati sang isteri yang kian lama kian menyusut bobot tubuhnya
" Evan " ucap Zubaidah dengan lirih, Hamid yang mengerti kegundahan hati sang isteri , akan masa depan putera nya , namun apa daya, hati manusia siapa yang tahu, dan tidak akan pernah bisa memaksakan kehendak kita meskipun itu anak kita sendiri, karena hidup setiap orang dia sendiri yang menjalani. Sebagai seorang ayah maupun seorang ibu, sudah pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak-anak walaupun anak-anak mereka bukanlah usia kecil, karena seorang anak akan tetap kecil bagi kedua orang tua nya, termasuk Evan. Zubaidah bukannya bita dan tuli akan perasaan Evan, namun Zubaidah meminta Evan untuk realistis dalam kehidupan nya, masih ada Rio yang harus di jaga, masih ada masa depan yang cerah bagi Evan jika Evan mendengarkan apa yang diminta Zubaidah, bahkan Zubaidah telah menyeleksi beberapa perempuan sebagai kandidat isteri Evan, sehingga Evan akan menata masa depan yang lebih baik dari sebelumnya, melepaskan bayang-bayang masa lalu, dan membina rumah tangga yang indah beserta anak-anak Evan, setidaknya Evan memiliki penerus tidak hanya Rio saja.
Apalagi sudah beberapa tahun ini, Rio tidak pernah kembali ke negara asalnya, ke daerah asalnya, seakan-akan melepaskan silaturahmi diantara mereka,dan Rio menolak untuk bertemu dengan keluarga dari sang ayah, padahal selama Rio bayi hingga berusia tujuh tahun lebih Rio selalu lengket , dan sempat melakukan pemberontakan ketika sang ibu hendak memilih pria lain di sisinya , untuk mengantikan posisi Evan sebelumnya.
" dad " ucap Zubaidah kembali, menatap wajah sang suami, wajah tampannya semasa muda semakin terkikis guratan pertanda semakin berumur, tubuh gagahnya tidak mampu lagi memapah sang isteri, dan mereka sekarang sama-sama membutuhkan perawat yang merawat mereka berdua bahkan rambut hitamnya yang masih terawat, kini sudah dipenuhi warna putih.
Anak-anak yang dahulu selalu berada di rumah utama, satu persatu meninggalkan mereka berdua untuk bermukim di rumah mereka masing-masing bersama keluarga kecil mereka masing-masing, rumah yang dahulu penuh hiruk pikuk problem, penuh suara tangis, tawa anak cucu, sekarang hening dan sunyi, dahulunya terasa penuh, sekarang terasa sangat luas, hanya mereka berdua yang tersisa bersama para pembantu, dan dua perawat yang selalu bersama mereka di sepanjang waktu.
Harta melimpah, menghadirkan kenyamanan dan kemewahan ternyata tidak serta merta mampu membeli hal yang sangat penting dalam hidup, yaitu cinta kasih yang tulus.
Hamid ingin menjadi tauladan yang baik bagi anak, cucu, dan menantunya, karena manusia mati yang ditinggalkan hanya lah sebuah nama.
Nama yang penuh menebarkan kebaikan, akan meninggalkan kesan yang baik, nama yang menebarkan keburukan akan meninggalkan kesan yang buruk, dan itu tidak akan berhenti ketika jasadnya terkubur, mungkin ratusan tahun akan terus terkenang, seperti kisah-kisah pendahulu, kisah para alim ulama, dan kisah para musuh agama seperti Fir'aun lain sebagainya. oleh karena itu, Hamid berusaha menjadikan dirinya sosok yang baik bagi keluarga, dan orang lain .
.
.
Evan menatap rumah utama, mansion sang ayah, yang entah kapan terakhir dia singgah sejak pertengkarannya dengan sang ibu, yang selalu memaksa dirinya untuk menikahi perempuan pilihan sang ibu. Bukan karena egois atau menjadi anak durhaka, hanya saja Evan memilih untuk menjauhi sang ibu agar tidak lagi melukai perasaan sang ibu maupun melukai perasaannya sendiri. Evan selalu berkomunikasi dengan sang ayah tanpa sepengetahuan sang ibu, rasa sayang kepada ibunya sangat besar, Evan sangat merindukan sang ibu, namun Evan selalu menahan diri untuk bertemu karena alasan yang tadi, sehingga terkadang menjadi rumit untuk Evan bersikap bagaimana terhadap sang ibu
" Daddy " Evan langsung memeluk tubuh ringkih sang ayah setelah menyalaminya dengan penuh takzim, tuan Hamid menahan rasa harunya di pelukan sang putera. Evan bahkan tidak sungkan memberikan kecupan di dahi sang ayah
" Daddy, sehat yah " ucap Evan yang masih memeluk tubuh sang ayah, dan tuan Hamid menganggukkan kepalanya saja
" mommy, dimana, dad ? " ucap Evan setelah merenggangkan jarak diantara mereka
" setelah makan malam, mommy sudah terlelap "
__ADS_1
" apalagi sudah minum obatnya, yah pasti terlelap " ucap tuan Hamid
" kalau begitu, Daddy beristirahat lah "
" sudah malam, tidak baik bagi Daddy " sahut Evan dengan sopan
" kita bahas terlebih dahulu , agar besok ,kamu bisa mengambil sikap " ucap tuan Hamid dengan serius menatap Evan, yang pada akhirnya Evan tidak mampu menolak.
Malam ini tuan Hamid mengungkapkan keinginan sang isteri, juga pendapat tuan Hamid sendiri, dan meminta Evan untuk mengambil keputusan dengan sikap yang baik, agar tidak lagi terjadi perdebatan bahkan pertengkaran yang berakhir membuat sang isteri. Kalau dahulu, semua demi anak-anak, sekarang tuan Hamid memilih untuk si pihak sang isteri, karena keputusan orang tua pasti yang terbaik untuk sang anak, lagipula apa yang dijelaskan oleh sang isteri cukup realistis yang pasti terbaik untuk Evan.
" Nak "
" ini permintaan Daddy terakhir untuk kamu penuhi "
" maafkan Daddy, bukan Daddy ingin egois memaksakan keinginan Daddy"
" Daddy juga sudah mempertimbangkannya dengan sangat hati-hati,dan dalam waktu yang lama "
" bahkan Daddy selalu meminta kepada tuhan, untuk memberikan petunjuk akan hal ini, dan Daddy yakin inilah yang terbaik untuk kamu, nak " ucapan tuan Hamid di akhir percakapan , setelah itu tuan Hamid bangkit meninggalkan Evan yang masih terpaku ditempatnya.
Malam penuh renungan bagi Evan, dan sungguh berat baginya untuk menerima permintaan sang ayah. Seandainya dirinya memiliki jurus menghilang mungkin sejak tadi dia sudah menghilang dari hadapan sang ayah tanpa perlu beramah tamah, atau memiliki sihir yang mampu menghilangkan keinginan orang, Evan pasti sudah melakukannya tanpa harus merasa bersalah, karena tidak mampu memenuhi permintaan sang ayah dan sang ibu, hanya tuhan saja lah tahu dilema Evan malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
🌺🌺