
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Setelah Evan menanyakan kepada kedua putranya, apakah mereka akan menginap di hotel malam ini, atau mereka akan segera pulang ke ruko tempat ternyaman bagi mereka semua, tentu saja dijawab Boy dan Rio kembali pulang ke ruko
padahal hidup dan tinggal di ruko bukanlah tempat hunian yang layak, jauh dari kesan mewah, dan jauh dari kesan nyaman, namun bagi mereka asal bisa hidup bersama Lolita, itu sudah lebih dari cukup, karena Lolita memberikan mereka lebih dari rasa terindah di dunia, rasa cinta dan kasih sayang Lolita membuat kedua putranya memilih ruko tempat ternyaman bagi mereka, dimana pun mereka berada,
Kini Rio berada tepat di hadapan opa Hamid dan Zubaidah, tentu saja peran Boy lah yang besar akan perubahan sikap Rio sebelumnya,
duduk di bawah sofa, Rio melakukan pengakuan dosa, meminta maaf dengan benar, yang selalu di ajarkan oleh Lolita kepada
kedua putranya
walaupun wajah Rio dipenuhi lebam, namun sikap Rio sudah lebih baik dari sebelumnya
Zubaidah melangkahkan kakinya menuju ke arah Boy
" terimakasih "
" maafkan oma sebelumnya " ucap Zubaidah dengan suara parau, dan menangis di pelukan Boy
" tidak apa-apa, oma "
" Boy sangat tahu diri "
" boy bukan cucu oma " ucap Boy dengan sopan
Zubaidah memberikan jarak antara dirinya dan Boy
" kamu anak nya Lolly,...."
" bagaimana pun, Lolly adalah menantu kesayangan oma "
" meskipun dia bukan lagi menantu oma "
" dia mantan menantu terbaik oma "
" kamu "
" kamu cucu oma dan opa " ucap Zubaidah dengan deraian airmata yang mengalir deras di kedua pipinya
" oma " ucap Boy dengan menangis
" iya "
" oma kamu, cucu ku "
" kamu adalah cucu kami " ucap Zubaidah dengan terisak- isak
mereka melewati malam itu dengan rasa haru, kepergian Lolita membawa kebaikan bagi Zubaidah, Zubaidah baru menyadari ternyata Lolita memiliki dampak yang begitu sangat besar bagi kehidupan nya, yang pada masa itu tidak menyukai Boy, ternyata Boy lah yang mampu membawa Rio menjadi lebih baik
Lolita juga lah yang mengubah sikap dan tabiat Evan yang selama ini kurang baik menjadi lebih baik, dan lebih matang dalam bersikap dan berfikir,
seandainya Lolita berhasil ditemukan maka Zubaidah orang pertama yang akan meminta maaf kepada Lolita atas sikap nya selama ini, ternyata sikap baiknya selama ini hanya lah topeng, agar dirinya dinilai baik oleh orang lain, di lubuk hatinya yang paling dalam sering terbesit pikiran- pikiran buruk tentang Lolita, bahkan tidak jarang membubuhi Evan hal-hal buruk jika Lolita bertengkar dengan Evan saat mereka masih menjadi pasangan suami-isteri
walaupun itu telah lama berlalu, namun Zubaidah akan meminta maaf secara benar kali ini, untuk mengurangi rasa bersalah yang menyelimuti hatinya saat ini
mereka berdua baik Rio maupun Boy meminta Hamid dan Zubaidah pulang ke kota asal mereka, karena Rio dan Boy memutuskan untuk tetap tinggal di ruko, banyak kenangan bersama Lolita disini,
begitupun juga dengan Evan, namun Evan menolak permintaan kedua putranya, karena saat ini Evan yang akan mengurus segala sesuatu berkaitan dengan kedua putranya, bahkan dia sudah memindahkan segala kebutuhan nya di ruko, dan perusahaan nya saat ini berpindah ke kota J, sedangkan di kota S, akan di handle Diki, yang sudah pasti memiliki loyalitas tinggi dengan Evan, karena dia salah satu anak angkat sang Daddy yang paling bisa dipercaya
" tidur lah, "
" setelah mengantarkan opa dan oma "
__ADS_1
" kita akan membesuk Daddy Bobby " ucap Evan dengan suara lemah
" Daddy Bobby sakit, Dad " ucap Boy dengan khawatir
" entahlah...."
" Daddy belum tahu secara utuh cerita nya "
" karena Daddy banyak hal yang Daddy urus "
" Daddy kurang mengetahui secara pasti keadaannya Bobby " ucap Evan yang sudah memejamkan kedua matanya
" good night, Dad " ucap Rio
" baca doa terlebih dahulu sebelum tidur " ucap Evan yang sudah sangat lemah
" sudah "
" namun belum mendapatkan pelukan dari mommy " ucap Rio dengan lirih,. Boy yang mendengarkan percakapan Evan dan Rio terdiam karena Boy pun merasakan hal yang sama dirasakan oleh Rio,
rindu akan pelukan dari sang mommy yang selalu Lolita lakukan jika anak-anak sudah tertidur, Lolita pasti masuk kedalam kamar, memberikan kecupan dan pelukan, sebelum Lolita tertidur
" sini, Daddy peluk " ucap Evan yang sudah membuka kedua matanya, baik Rio maupun Boy langsung membalikkan tubuh mereka , jika Rio ke samping kanan, maka Boy membalikkan tubuhnya ke samping kiri...
tinggallah Evan tertidur dalam posisi terlentang
" nasib - nasib " ucap Evan dengan lirih
" jangan halu, Dad " ucap Rio dan Boy secara bersamaan, sesaat kemudian mereka bertiga tertawa sebelum mereka terlelap di lantai dua ruko milik Lolita
sayang.....
dimana kamu, ....ucap Evan dalam batinnya menatap langit- langit ruko, sampai dia terlelap dengan sendirinya
keesokan harinya, setelah sarapan pagi ketiga pria tampan itu, mengantarkan Hamid dan Zubaidah menuju bandara Soekarno-Hatta,
setelah salam perpisahan, Hamid dan Zubaidah segera masuk ke dalam bandara dengan perasaan yang penuh dengan sejuta rasa, bercampur menjadi satu, namun mereka harus bisa tegar, hidup harus terus berjalan
lambaian tangan pertanda berakhirnya perjumpaan mereka sampai batas waktu yang tidak mereka ketahui
Theo hanya memberikan lokasi rumah sakit tempat Bobby di rawat, karena dia masih harus menyelesaikan meeting penting pagi hari ini
saat tiba di depan pintu kamar rawat inap Bobby, yang sudah di tunggu oleh para bodyguard bertubuh tinggi, besar, dan atletis
Evan menatap wajah Boy, Boy mengherdikan bahu nya, Rio menatap kedua dengan binggung
" mungkin kita salah kamar, Dad "
" ruangan super VVIP bukan hanya satu saja kan untuk rumah sakit sebesar ini..." ucap Rio, yang mendapatkan anggukan kepala dari Evan dan Bobby, mereka segera membalikkan tubuh mereka untuk melangkah pergi menjauh dari posisi mereka sebelumnya
" tuan muda , Boy " ucap Robin dengan sopan
Rio menatap wajah sang abang
tuan muda.....ucap Rio dalam batinnya, sama halnya dengan Evan
" tuan muda, Boy "
" silahkan masuk " ucap Robin dengan sopan
" anda mengenal anak saya " ucap Evan dengan serius menatap wajah Robin
" saya mengenal tuan muda , Boy "
__ADS_1
" anda, tuan Evan "
" dan Rio " ucap Robin dengan sopan, sambil menatap wajah satu persatu dari Evan, Boy, dan Rio
mereka bertiga saling berbicara melalui tatapan mata mereka, namun tidak ada yang tahu
" silahkan masuk, "
" tuan besar ada di dalam "
" kita bicarakan di dalam saja " ucap Robin
mereka masuk ke dalam ruangan rawat inap Bobby...
ruangan rawat inap Bobby lebih luas, bahkan tersekat sebelum masuk ke dalam ruangan dimana Bobby berada,
di ruangan bagian depan tuan besar Ubaidillah Affandy duduk di sofa, dengan berbagai berkas dokumen diatas meja, yang disulap menjadi meja kerja Ubaidillah Affandy
Ubaidillah Affandy segera berdiri menyambut kedatangan para tamunya
Evan bersikap biasa saja , seperti dia bertemu dengan koleganya atau orang yang dia anggap lebih tua sama seperti Daddy nya Theo, Daddy nya James, dan Evan yakin bahwa pria paruh baya dihadapan nya saat ini adalah Daddy nya Bobby
mereka berdua berbasa-basi, dan Evan memperkenalkan kedua putranya, Rio seperti biasa bersikap seperti Lolita ajarkan bila bertemu dengan orang yang lebih tua, begitu pula dengan Boy, namun melihat ekspresi wajah Boy, Evan yakin bahwa Boy kurang terlalu menyukai tuan Ubaidillah Affandy, namun Boy cukup bisa membawa diri , sebagai seorang abang Boy memperlihatkan sikap dewasa, agar bisa menjadi contoh bagi Rio
" Evan "
" boleh saya berbicara secara pribadi dengan Boy " ucap Ubaidillah Affandy dengan sopan, Evan menatap manik mata Boy, meminta persetujuan dari Boy
" katakan saja ,tuan "
" tidak apa-apa jika Daddy Evan dan adik ikut mendengarkan apa yang tuan akan sampaikan kepada saya " ucap Boy dengan sopan dan formal
" tuan muda "
" tuan Ubaidillah Affandy adalah ayah kandungnya tuan muda Bobby "
" sebaiknya anda menyapa tuan besar dengan grandpa " ucap Robin dengan hati-hati
Evan terdiam, begitu juga dengan Rio, Robin, dan tuan Ubaidillah Affandy menunggu sikap Boy
beberapa detik dalam keheningan,
" silahkan bicara , grandpa " ucap Boy dengan sopan namun terdengar nada keterpaksaan dari sikap Boy meskipun Boy berusaha menutupi perasaannya
setelah mereka duduk di sofa, Ubaidillah Affandy menjelaskan kronologis kejadian yang terjadi pada Bobby, ketiga pria itu mendengarkan ucapan Ubaidillah Affandy dengan serius,
" bagaimana, Boy " ucap Ubaidillah Affandy dengan hati yang berdebar-debar menanti jawaban dari Boy,
" permisi " ucap Boy dengan sopan, dan memberikan Evan kode , tersirat dari manik matanya meminta Evan membiarkan Boy untuk masuk terlebih dahulu tanpa di temani Evan dan Rio,
Evan yang mengerti segera menganggukkan kepalanya, dan menahan bahu Rio untuk tidak mengikuti langkah kaki Boy.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒