
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Evan menghentikan kegiatan nya yang memeluk tubuh mungil Lolita, karena terdengar suara azan berkumandang, memanggil para umat muslim melaksanakan ibadah wajib mereka,
" sayang..."
" mas , mau sholat di masjid..." pinta Evan
" bang..." ucap Lolita, menatap wajah Jhon, karena Lolita masih cukup takut untuk keluar ruangan jika tidak penting- penting sekali,
Jhon keluar dari ruang rawat inap, menuju ke nurse station, untuk menanyakan kepada perawat jaga, bisakah atasannya sholat ke masjid, tentu saja perawat harus menanyakan kepada dokter, atas permintaan pasien dan keluarga pasien
setelah perawat jaga selesai melakukan komunikasi melalui via telepon, perawat jaga menjelaskan bahwa dokter tidak mengizinkan karena hari ini, baru terhitung hari ketiga Evan melakukan perawatan di lingkungan rumah sakit, namun Jhon meminta perawat jaga untuk memberi akses kepada Jhon untuk menghubungi langsung dokter DPJP yang menangani Evan,
setelah Jhon menjelaskan semua nya, bahwa Evan akan menjadi tanggung jawab nya, dan dua bodyguard akan mampu menangani Evan, belum lagi adanya Lolita yang akan menemani Evan menuju masjid yang disediakan oleh pihak rumah sakit, sebagai fasilitas layanan publik...
Lolita harus rela tubuh nya di balut jas Evan yang ukurannya sampai sebatas betisnya, agar Lolita terlindungi dari tatapan pasien lainnya,belum lagi topi milik Jhon, menutupi wajah cantik Lolita, dan masker agar tertutup sempurna,
" bang..."
" Lolly kayak begini...."
" sudah mirip residivis..." ucap Lolita, sengaja bergurau saat berjalan mengikuti langkah kaki Evan yang merengkuh bahu Lolita dengan posesif
" iya..."
" itu polisi nya posesif banget, mbak..." ucap Jhon menggoda Lolita
bahkan lelucon mereka membuat kedua bodyguard yang saat ini berada di belakang mereka ikutan tertawa, namun mereka tahan
" sudah..."
" tertawa saja..."
" ditahan - tahan , nanti kalian kentut..." ucap Lolita lagi, membuat mereka tidak bisa lagi menahan tawa nya, gelak tawa membingkai perjalanan mereka menuju masjid
Lolita sedang tidak bisa menunaikan ibadah nya, karena saat ini dia sedang berhalangan...
membuat nya harus menunggu bersama Jhon dan kedua bodyguard Evan di samping masjid ,berada lumayan jauh, namun masih bisa memantau Evan, posisi mereka lebih tepatnya di kursi panjang di bawah pohon mangga...
" nasib- nasib...."
" pasien nya siapa..."
" yang dikawal seperti pasien siapa..."
" yang dirawat siapa, yang dijaga siapa...." seloroh Lolita , membuat tiga pria di sana tidak lagi mampu menahan tawa mereka,
" nasib kamu, Lolly..." ucap Jhon dengan santai, sedikit menyunggingkan senyuman di wajah tampannya, dan senyuman itu diikuti oleh kedua bodyguard
" kompak kalian,...."
" senang melihat orang susah..."
" senang melihat orang teraniaya...."
" Lolly sumpah' in kaya tujuh turunan..." ucap Lolita asal
" Amin...." sahut ketiga pria disana, sambil menahan tawa mereka, agar tidak keceplosan
" jadi siapa yang kamu pilih, Lolly..." tanya Jhon dengan serius
" entah lah, bang..."
" pusing aku..."
" menikah bukanlah prioritas utama hidup Lolly...."
__ADS_1
" memberikan kenyamanan bagi Boy dan Rio, itu yang paling penting dan utama bagi Lolly..."
" cinta dan pernikahan,..."
" dua hal yang sangat rumit, dan sulit aku mengerti..."
" setiap baru , atau akan memikirkan nya saja, membuat aku mual, dan sakit kepala..." ucap Lolita serius,
sedangkan kalimat yang Lolita lontarkan membuat ketiga pria terdiam, dan mengakui , jika dua hal ini memang rumit dan ribet, apalagi berhubungan dengan perasaan dan pilihan
" kamu memilih dia, kan..." tanya Jhon dengan serius
" iya, bang..."
" sulit bagiku menerima mas Evan,..."
" aku memaafkan,namun aku tidak bisa mengabaikan luka itu..."
" meskipun aku tidak pernah mencoba mengingatnya, namun terkadang ingatan itu hadir bagaikan kolase, yang tiba-tiba muncul..." ucap Lolita dengan suara rendah
" abang mohon, bantulah Evan untuk melewati masa keterpurukannya...."
" tiga tahun pasca perceraian kamu dan dia, sangat mengguncang dunia Evan, baik hidupnya,jiwanya..."
" hingga saat ini, abang sering melihat Evan terbangun,dan termenung sendiri..."
" abang juga sering melihat nya mengigau jika sedang tertidur..."
" dia masih sangat labil, Lolly...."
" abang mohon bantuan kamu..." pinta Jhon dengan sangat memelas
" hal wajar untuk kamu mendapatkan kebahagiaan, ...."
" apapun itu abang support keputusan kamu...."
" abang bahagia jika kalian berdua bisa mendapatkan kebahagiaan kalian masing-masing...."
" untuk Bobby, abang akui dia adalah pria yang baik..." ucap Jhon lagi dengan nada yang sama
" memangnya abang pikir, ..."
" saat ini Lolly ngapain, coba.,"
" main...." ucap Lolita sedikit bercanda
" mencuci...." sahut Jhon membalas lelucon Lolita
" entahlah, bang..."
" calon mertua Lolly, tidak menerima Lolly sebagai calon menantu nya, karena status Lolly single parent, belum lagi Lolly tidak satu level dengan keluarga nya..."
" mantan mertua Lolly, lebih tepatnya Mommy Ida sudah agak tidak menyukai Lolly, karena Lolly sudah lebih dahulu move on dari anaknya...."
" Boy memberikan dukungan hubungan Lolly dengan abang Bobby, ..."
" sedangkan Rio memberikan dukungan hubungan Lolly dengan mas Evan,.."
" abang Bobby dan Lolly saling sayang, tapi ada mas Evan yang harus Lolly jaga perasaan nya, dan butuh perawatan pula, dengan tidak diketahui batasan kesembuhannya, ..."
" belum lagi , terkadang mereka asal sosor, asal peluk, asal lah..."
" lelah Lolly, bang..."
" kok begini amat hidup Lolly..." ucap Lolita mencoba mengeluarkan isi hatinya
" hidup pak amat saja tidak begitu..." sahut Jhon mencoba mencairkan suasana, membuat Lolita dan kedua bodyguard ikut permainan kata Jhon, yang sangat jarang ditemui oleh para bodyguard,yang bekerja di bawah naungan Jhon, hanya berada dengan orang-orang tertentu Jhon menunjukkan sikap dan sisi nya yang lain
__ADS_1
" maka nya Lolly masih belum memikirkan hal yang terlalu jauh, .."
" yang dekat saja belum pasti..."
" jalani saja, bang..."
" mengikuti alur kehidupan saja..." ucap Lolita dengan santai
belum juga Jhon membalas ucapan Lolita, Evan sudah berjalan mendekati mereka, dengan melukiskan seutas senyum manis di wajah tampannya,
" ayo,..."
" mas lapar..." ucap Evan segera mengajak mereka bergegas kembali ke ruang rawat inap nya kembali
.
.
setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua minggu seperti yang di jelaskan oleh dokter,
tuan Hamid dan Lolita kini kembali berhadapan dengan dokter, untuk sesi konsultasi terakhir di rumah sakit,
banyak hal yang dokter jabarkan tentang kondisi Evan, apalagi selama perawatan Evan yang hanya di observasi, tanpa adanya terapi obat-obatan, membuat Hamid bernafsu lega, namun dokter kembali mengingatkan Hamid dan Lolita, bahwa pemicu depresi Evan adalah perceraian nya, dan penolakan Lolita untuk menerima cinta Evan kembali,
kunci kesembuhan Evan terletak pada Lolita, mau menerima Evan kembali, kunci kesembuhan Evan yang satu lagi adalah Evan menerima dengan ikhlas jika itu sudah berakhir dan dia harus menata hidupnya kembali,
kunci kedua yang terpilih oleh dokter, yaitu membuat Evan menyadari makna hidup sesungguhnya, karena hidup harus terus berjalan, menerima apapun yang terjadi, karena kita hidup harus bisa menerima kenyataan, jika Evan tidak bisa move on, bukan hanya karena Lolita, karena hal lain juga nanti Evan akan lebih tertekan, jika dia tidak bisa menggapainya, intinya antara obsesi dan cinta kepada Lolita terbentang garis tipis, entah karena terluka, entah karena malu, dan entah juga karena tertantang, ....dan jika ditanya kenapa seperti itu...
itulah perasaan, tidak ada yang pasti, mulut berbicara A, namun di hati belum tentu, bahkan dengan terapi apapun, perasaan manusia sulit di jabarkan dan di selami...
terapi apa yang tepat, jawaban nya berserah diri kepada Allah, meminta padaNya, agar kita lebih ikhlas menerima apapun yang sudah dia takdir kan kepada kita, dan memberi jalan atas kesulitan yang menghadang...
pesan dokter senior di bidang spesialis kejiwaan, bukan tidak butuh obat, belum tepat mendapatkan terapi itu, namun tidak memastikan jika itu tidak akan mengulang lagi, karena tingkat emosional seseorang tidak ada yang bisa mengukur nya, kecuali diri sendiri,
dokter juga memberi terapi konseling nya pada Evan, bahwa hidup harus dihadapi, entah baik, entah buruk...
yang buruk menurut kita belum tentu tidak baik untuk kita, dan belajar menerima jika hal itu tidak bisa sesuai dengan mau nya kita, karena Allah melukiskan hal lain, hal yang lebih baik dari yang kita duga, sedikit siraman rohani dari dokter mengenai hidup
Evan berusaha mencerna ucapan dokter, walaupun hanya sedikit yang dimengerti olehnya, dan satu pesan lagi dari dokter mendekatkan diri kepada Allah, banyak- banyak belajar ilmu agama, menunaikan perintah agama , sedikit mengurangi beban perasaan, apalagi membaca Alquran, ucap dokter di akhir kalimat sebelum Evan diperbolehkan untuk pulang ke rumah
tanpa bekal obat, bekal kalimat penuh makna dari dokter cukup membuat Evan, memahami jika dirinya lah sebagai penentu baik dan buruk yang terjadi dalam kehidupan nya
positif thinking, lakukan hal-hal yang baik, perbanyak ibadah, mempertebal keimanan,dan ikhlas menerima ujian hidup, pesan dari sang dokter....
itu yang Evan tangkap dari ucapan dokter kepada nya, tentu sangat mudah diucapkan, untuk realitanya sangat sulit, tapi Evan berjanji pada dirinya untuk memperbaiki diri, demi Rio, dan untuk perasaannya pada Lolita mungkin belum bisa bagi nya melupakan, mungkin sedikit mengurangi, itu pun mungkin, namun dia berusaha, agar tidak kembali mengalami kejadian seperti ini lagi
bukan untuk si A, si B, si C, tapi untuk diri sendiri, itu pesan menohok dari sang dokter, namun cukup jitu mengena di hati Evan, saatnya dia bangkit dari keterpurukannya selama ini...
Lolita tentu akan mendukung apapun itu, yang bersifat positif bagi dia, bagi evan, bagi anaknya, dan bagi mereka di sekitarnya..
" Van......" panggil seseorang, membuat Evan menatap wanita itu dengan perasaan bergemuruh
*
*
*
*
*
*
*
ππ
__ADS_1