
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Demi memenuhi permintaan sang adik, Boy rela menempuh perjalanan dari kota J*** ke kota S*** dengan waktu tempuh perjalanannya sama dengan Evan dan Rio lakukan sebelumnya,
tidak mengapa, meski ini penerbangan pertama nya, tanpa di temani siapapun, Boy merasa harus mulai mandiri di usia nya yang sudah remaja, yang sudah bisa mengurusi urusan nya sendiri
di kedatangan domestik,
sudah ada Rio yang semangat menyambut kedatangan sang abang di kota kelahiran Rio, dan selalu menjadi tempat yang dirindukan oleh Rio
" abang...." teriak Rio , saat melihat siluet yang dia yang yakini itu sebabnya kakaknya, mendengar suara khas sang adik, Boy menoleh ke sumber suara, tampilan Boy casual, dengan mengenakan kemeja lengan panjang, celana berbahan chinos,dan melengkapi penampilan nya dengan topi merk aalah satu brand terkenal, tak lupa jam brand terkenal melingkar di pergelangan tangan nya,
bak model terkenal, penampilan dan wajah Boy banyak membius para gadis muda, bahkan ibu- ibu muda memandang kagum wajahnya yang lebih ke warga asing daripada warga pribumi,
adik..?...
banyak orang melihat ke arah mereka, Rio juga tidak kalah tampan, namun wajah Rio masih di dominasi khas pribumi, wajah mereka sangat tampan, namun dengan khas yang berbeda, dengan ciri yang berbeda, jika di sandingkan, satu khas asia, satu lagi khas barat,dan tentu saja, kalau diminta untuk memilih, sangat sulit sekali melakukan itu, hal yang sangat sulit adalah memilih di antara dua barang terbaik, dan dua sifat baik, sulit bukan
aksi berpelukan, dan mencium pipi sang abang selesai , Rio dengan tidak tahu malu melakukan itu di depan umum, Rio sangat menyayangi Boy, begitu pun Boy, mereka saling melengkapi satu sama lain, meski tidak sedarah, baik Rio dan Boy tahu akan itu
Rio merasa sangat beruntung mendapatkan seorang abang, yang selalu akur segala hal, dan satu tipe dengannya, Boy pun merasa sangat bahagia memiliki keluarga, ada ibu dan adik yang menyayangi nya, dan ada dua ayah juga yang menyayangi nya, namun jika diminta memilih saat ini, dia pasti akan memilih Bobby, bagaimana pun baiknya Evan, Bobby tetap orang pertama yang menerima, dan mengakui dirinya sebagai seorang anak
jika Lolita memiliki juri, dan juri itu adalah kedua anaknya, maka setiap kandidat memiliki satu pendukung, tentu saja itu akan sama saja hasilnya,tidak mengubah keadaan yang terjadi
di dalam mobil,
" abang.."
" nanti kita menginap di mansion opa Hamid, ..."
" hari ini, ..."
" besok hari nya baru kita akan menginap di rumah opa Harun..."
" bukan karena mansion opa Hamid lebih besar, tapi Rio mau memperkenalkan abang dengan opa dan oma, terus keluarga besar Daddy..."
ucap Rio dengan penuh semangat
" iya, nak.."
" kamu tidak berkeberatan kan..."
" dan sapa Daddy juga yah ..."
" seperti Rio ....." ucap Evan dengan senyuman di wajah tampannya
" Daddy akan memperkenalkan kamu sebagai putera daddy.." ucap Evan lagi dengan nada yang sama dengan sebelumnya
namun apa dikata, hanya Rio dan Evan yang menyambut Boy dengan antusias, yang lainnya hanya sekedar basa-basi menghormati Evan saja, terlihat dan terasa oleh Boy saat mereka tiba di mansion Hamid
berbeda dengan perlakuan yang Boy terima dari keluarga sang Mommy, padahal hubungan Lolita dengan abangnya hanyalah hubungan saudara tiri, tapi Yudha memperlakukan Boy sama seperti dia memperlakukan Rio, sedikit tidak nyaman yang dia rasakan saat menginap di mansion Hamid, namun Lolita selalu mengajarkan kepada anak-anak nya jika bertamu harus bisa-bisa membawa diri, harus ada memenuhi adab bertamu
Boy sudah diperlakukan asing, seperti malam ini, Rio sudah dalam rengkuhan sang oma, Zubaidah tidak henti mengajak Rio bercerita, lama tidak bertemu Rio terbesit pikiran buruk di hati Zubaidah untuk melanggar persetujuan nya sendiri waktu itu,
Zubaidah ingin Rio dalam asuhan nya, dia ingin Rio berada di mansion nya, tidak di Jakarta, namun Zubaidah mempersiapkan beberapa kemungkinan, untuk merebut Rio ke sisinya agar bisa menyetir anak bungsu nya,
" Mom..."
" kenapa Mommy dari tadi tidak bersikap hangat dengan Boy..." tanya Evan saat mereka hanya berdua di dapur
" hanya perasaan kamu saja, Van..." ucap Zubaidah datar sambil menyiapkan makan malam
" tapi terlihat, Mommy..."
__ADS_1
" bukan seperti Mommy biasanya..." ucap Evan pelan
Zubaidah menghela nafasnya, mengatur agar dia tidak terpancing emosi akan ucapan anaknya
" Van.."
" dia bukan cucuku...." ucap Zubaidah datar
" tapi Lolly menjadikan Boy anaknya, dan itu berarti anak aku juga, Mom..." ucap Evan masih dengan nada yang sama
" Mommy tidak peduli,...."
" tidak tahu, tidak mau tahu kehidupan Lolita si mantan isteri kamu itu..."
" bagi Mommy , Rio satu- satunya cucu Mommy dari kamu...." ucap Zubaidah yang mulai tersulut emosi
" Mom..." ucap Evan yang ikut tersulut emosi
" Ehem...." suara berdehem dari Hamid
" kalian berhenti lah..."
" seluruh keluarga sedang datang berkunjung..."
" apa kalian ingin memperlihatkan keburukan keluarga kita di depan anggota keluarga yang lain..." ucap Hamid tegas
membuat Evan dan Zubaidah menghentikan pertengkaran yang terjadi diantara mereka
tanpa mereka sadari Boy berdiri di sana bersama Rio yang menggenggam telapak tangan sang abang
sesi makan malam,
sesi makan malam di kediaman keluarga Hamid pertama membawa pesan tidak mengenakan bagi Boy, namun dia berusaha menutupi perasaannya, Rio beberapa kali melirik sang abang,
setelah sesi makan malam selesai, Rio bersama para sepupunya, Rio memperkenalkan Boy dengan para sepupunya,
dunia anak-anak, mereka berkenalan tanpa ada batas, tanpa tahu permasalahan yang terjadi pada orang dewasa, mereka langsung dekat, bercerita dan membaur satu sama lain, satu frekuensi tentu lebih enak
" Rio,..."
" menginap di mansion pakde..."
" ajak abang kamu, juga..." ucap Farel tanpa ekspresi, namun Farel memeluk tubuh keponakan nya, dengan rindu yang tertahan, dan menghujami puncak Rio dengan kecupan
Farrel memang dingin sikap nya, namun hatinya sangat hangat, sosok seorang anak sulung, namun dengan karakter introvert, tentu sulit terbaca oleh orang lain
" Rio sudah janji menginap di rumah opa harun, besok..."
" maafkan Rio, pakde..." ucap Rio dengan sopan
" semoga kamu betah di sini, Boy..."
" bagaimana kondisi Mommy kalian..." tanya Farel ,menatap Boy dan Rio bergantian
" Alhamdulillah..."
" sudah baikan , pakde..." sahut Boy
" sudah tahu pelaku nya, Van?..." tanya Hamid ikut pembicaraan di ruang keluarga
" Lolly tidak tahu,dan Lolly tidak mau menggugat nya..."
" aku sudah akan mengurusnya, namun Lolly menolak,..." sahut Evan
__ADS_1
Farel diam saja, memang seperti itu sifat mantan adik iparnya, selalu menolak untuk menghukum orang yang mencelakai nya, seperti biasa, Farrel juga mengenal Lolita sedari mereka masih bujang gadis, dulu nya, Farrel sempat memiliki perasaan dengan Lolita, namun karena ternyata yang secara diam-diam dia sukai, berpacaran dengan adik kandungnya sendiri, dan melangsungkan pernikahan setelah mendaftar kuliah,
Bahkan wanita yang mengaku- ngaku jika dia memiliki hubungan dengan Evan secara terang-terangan menyakiti Lolita, Lolita tetap tidak mengubris nya, sebelum dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, itulah menjadi titik dimana Lolita melepaskan cintanya pada Evan, bukan hanya karena wanita itu sering menyakiti Lolita, namun karena Evan juga lah yang telah mengkhianati nya,
" kapan mulai ajaran baru..." tanya Hamid
" satu minggu lagi, opa..." sahut Rio
" artinya satu Minggu kalian akan disini kan ..." tanya Hamid
" tidak opa,..."
" Rio akan menginap di rumah opa Harun, besok..." ucap Rio
"tapi nanti Rio menginap disini lagi, opa..." ucap Rio menenangkan Hamid yang berubah sendu
" bagaimana kalau kita jalan jalan ke pantai..." ucap Justin
" Dhia, mau..."
" boleh yah, ma..." ucap anaknya Mia, kakak perempuan Evan yang di sapa neng kalau di rumah
" asik...." ucap Lukman yang usianya seumuran dengan Rio
" tapi opa Harun..?..."
" Rio janji dengan opa Harun, pakde..." ucap Rio
" nanti opa hubungi opa kamu,..."
" sekalian kita jalan bareng..."
" sudah lama kita tidak liburan keluarga..."
" ajak sekalian mertua kalian, nak...." ucap Hamid, yang mendapatkan anggukan kepala dari Farel dan Mia
Boy, ...bukan hanya Boy, ternyata Rio terdiam, akan penuturan Hamid
di benak mereka sama, jika Boy memikirkan Bobby dan Lolita, maka Rio memikirkan liburan keluarga tanpa Lolita, wajah mereka berdua berubah masam..
" kalian berdua, kenapa...?..." tanya Evan
" mau ke kamar mandi, Dad..."
" permisi..." ucap Rio dan Boy secara bersamaan, mereka saling melirik, kenapa seperti satu hati...
mereka beranjak dari duduknya menuju ke kamar mereka masing-masing,padahal di kamar mereka hanya merebahkan tubuh mereka di atas kasur, dengan raut wajah penuh arti
*
*
*
*
*
*
*
🍒🍒
__ADS_1