Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
lepaskan, sakit


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hamid keluar dari ruang konsultasi dokter dengan langkah gontai, akan kah dia bisa menerima ini, akankah isteri nya sanggup menerima ini juga, dia harus mengungkapkan beban perasaan nya dengan siapa, siapa yang akan mendengarkan keluhannya,


tuan Hamid menyingkapkan hordeng yang terpasang di ruang intermediate,


Harun menatap manik mata Hamid , terlihat duka di **********, kesedihan yang tak tertahan di benaknya sendiri


" Ham...."


" katakan padaku...."


" apa saja yang dibicarakan oleh dokter tadi pada kamu..." ucap Harun dengan lembut, yang hampir sama dengan berbisik, karena ada Evan yang saat ini terlelap tidur


tuan Harun sedikit mengajak Hamid bergerak ke arah lain, agar pembicaraan mereka lebih nyaman, setelah Harun memberi kode kepada Jhon untuk menjaga Evan, Jhon menundukkan kepalanya pertanda dia mengerti maksud tuan Harun


Harun mengajak Hamid untuk duduk di tempat yang lenggang dari orang, sehingga akan lebih leluasa untuk berbicara


" katakan, Ham..." ucap tuan Harun dengan tegas namun lembut, Hamid mencoba mengatakan nya, namun seakan-akan ada yang mencegat tenggorokan nya, sehingga Hamid kesusahan untuk berbicara, bahkan tatapan mata nya kian nanar kemana mana


" istighfar, teman..."


" katakan padaku..."


" aku akan menjadi pendengar yang baik..." ucap tuan Harun sambil menepuk ringan pundak kepada sahabat sekaligus mantan besannya dengan tutur kata yang lembut ,


" Evan,...."


" dia harus ke dokter psikiatri, ...." ucap Hamid dengan sangat - sangat lirih, nyaris tidak terdengar karena nada suaranya kian bergetar


" dan isteriku..."


" dia mengalami Aritmia..." ucap Hamid masih dengan nada suara yang sama


" " maksud kamu..."


" Evan...."


" dan ..a..a...apa itu Aritmia..." tanya Harun yang tidak mengerti bahasa medis diagnosis dokter


" Aritmia itu, kelainan irama jantung, Har..."


" selama ini Zubaidah tidak pernah membicarakan hal ini padaku..."


" Alhamdulillah nya, tadi segera kita bawa ke sini..."


" kalau tidak , aku akan kehilangan isteri ku .." ucap tuan Hamid, sambil membungkukkan tubuhnya, dan menangkupkan kedua tangan di wajahnya, sedangkan Harun mengelus-elus punggung sahabat dan mantan besannya


" Astagfirullah Allazim..."


" istighfar, Ham..."


" Astagfirullah Allazim..." ucap dan kalimat ajakan Harun, dan Hamid mengikuti kalimat ajakan sahabat sekaligus mantan besannya


kini Hamid sedikit lebih tenang...


" Har...."


" Evan harus di rawat, tapi tidak bisa di rumah sakit biasa, harus di rumah sakit khusus...."


ucap Hamid


" Loh, kenapa..."


" apa masalah nya..." ucap Harun binggung


" dokter bagian psikiatri itu, dokter khusus yang menangani pasien- pasien dengan gangguan kejiwaan..." ucap Hamid dengan sendu


" Astagfirullah Allazim..."


" laillahaillallah...." ucap Harun dengan suara bergetar


" Lah, koq bisa, Ham...." tanya Harun lagi


" entah lah, aku juga tidak tahu..."


" kalau dokter tadi bilang, dengan berkonsultasi langsung ke dokter bagian psikiatri, biasa akan tergali lebih dalam dan spesifik penyebab dari penyakit yang di derita Evan..." ucap Hamid dengan pasrah akan ujian yang menimpa anggota keluarganya saat ini


" ada yang sudah menunggu isteri kamu, Ham..." ucap Harun


" ada Farel..." sahut Hamid


" kalau begitu, ..."


" ayo, jangan kamu tunda - tunda lagi..."


" semakin cepat semakin baik..." ucap Harun


Hamid nampak mempertimbangkan saran dari Harun,


" aku temui Farel terlebih dahulu..."


" agar dia tahu dan dia yang akan menunggu isteri ku disini..." ucap Hamid


setelah Hamid menjelaskan semua , dari A sampai Z, karena Farel anak sulung, dan dia juga harus tahu apa yang saat ini menimpa keluarga besar mereka


Farel menangis di pelukan sang ayah, begitu pun Hamid, mereka ayah dan anak yang berusaha saling menguatkan hati dan perasaan mereka,


" hapus airmata kamu, nak.."


" jaga Mommy..."


" kalau Mommy nanyain Daddy ataupun Evan,..."


" katakan saja alasan yang masuk di logika kamu,.."


" Daddy akan mengurus adik kamu terlebih dahulu..." ucap Hamid,dengan suara parau khas menangis dan Farel hanya menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari ucapan sang ayah, Farel tidak mampu berkata- kata, lidah nya kelu, bibirnya berat hanya untuk mengucapkan satu kata

__ADS_1


dosa apa yang mereka perbuat hingga harus menerima ujian sebesar ini, tapi Allah maha pengasih lagi maha penyayang, tidak mungkin Allah membiarkan hambaNya, terluka tanpa memetik hikmah, tanpa manfaat, pastinya ada yang hendak Allah ajarkan pada hambaNya, berserah diri adalah kuncinya, tawakal pada Nya, cukup itu, selebihnya tugas Allah , karena hidup menjalankan takdir masing-masing yang terlukis di lauhul mahfuzh


.


.


.


.


.


Lolita yang hendak menuju ke rumah sakit A , harus berputar arah ke rumah sakit B, setelah menghubungi sang Daddy,


anak-anak sudah aman bersama abang sambung Lolita, mereka berdua sudah diambil alih oleh sang abang dan isterinya,


jalan ke rumah sakit B lumayan tidak terlalu ramai, hingga Lolita sudah berada di parkiran mobil, namun bukan itu yang membuat Lolita gelisah, dia heran, kenapa sang mantan suami di bawa ke rumah sakit ini, bukankah rumah sakit ini khusus untuk orang - orang yang memiliki gangguan kejiwaan, dipikir Lolita


Lolita segera ke gedung khusus gawat darurat, karena Evan datang di bawa dengan ambulance rumah sakit A, dan mendapatkan surat rujukan dengan kop rumah sakit A dari dokter pertama yang menangani Evan di rumah sakit itu, dan dokter membubuhi tulisan yang hanya bisa di baca oleh dokter saja, karena beberapa kata ditulis dengan kalimat yang hanya seorang dokter yanag bisa membaca arti makna setiap kata dan kalimat yang tertuang disana


dokter yang menerima menganggukan kepala, dan bertanya kepada perawat dari rumah sakit A, siapa yang bertanggung jawab atas pasien, kemudian perawat meminta Hamid menemui dokter di ruang konsultasi yang hanya akan ada dokter, dan perawat saja, sehingga isi dari konseling hanya akan di dengar oleh sang dokter


sedangkan Evan sudah dibawa ke ruangan khusus yang di monitor perawat lewat televisi berukuran 41 inchi, dan ada satu satpam yang bertugas menjaga pasien ,


jika pasien melakukan tindakan yang bisa menciderai dirinya sendiri, atau mencoba melarikan diri, satpam dengan sigap mencegah pasien melakukan tindakan- tindakan itu


perawat A, berbisik ke perawat B....


" Ck..."


" tampan banget ,A...." ucap perawat B


" ish...."


" ganteng sih ganteng, tapi gangguan, B.."


" kamu mau..." ucap A


" enggak juga sih,..."


" tapi sayang banget..." ucap perawat B


.....pletak....suara buku di pukul di pundak kedua perawat


spontan suara Aaw terdengar dari mulut perawat A dan perawat B


" kerja..."


" ngobrol aja...." ucap supervisior yang bertugas shift siang


" pasien yang baru masuk ..."


" diagnosis nya apa..." tanya supervisor


" dari rumah sakit A..."


" single diagnosis..." ucap supervisior


" belum tergali, kak..." ucap perawat B


" mau kepoin ,Ah..." ucap perawat A


" kerja..."


" knowing every particular object saja..." ucap supervisior


" seriously..."


" don't want to know...." goda perawat A dan B


" tell me letter..." ucap supervisior cantik itu sambil mengedipkan sebelah matanya


membuat kedua perawat yang saat ini sedang kerja di shift siang itu melepaskan tawa mereka , namun mereka segera sadar, jika saat ini mereka sedang bekerja, mereka kembali fokus dengan pekerjaan nya


.


.


.


.


" permisi, pak...."


" dimana gedung IGD nya yah..." tanya Lolita, namun satpam yang ditanya nampak melongo seperti kesambet jin


" hello..."


" pak.."


" mr..." ucap Lolita berkali-kali sambil melayangkan telapak tangannya ke udara, memberi tanda seperti selamat tinggal, namun satpam itu masih mode on menatap Lolita tanpa bergeming


'


salah satu rekan satpam yang berjaga, menepuk pundak sang satpam,membuat dia tersadar,


" Oh, iya..."


" ada yang bisa saya bantu...." ucap satpam A


" Oh..."


" gedung IGD..."


" mari saya antar nona...." ucap satpam A


setelah mengantar Lolita ke gedung IGD, satpam A kembali ke posko penjagaan,

__ADS_1


" Helleh- helleh "


" geulis pisan euy...." ucap satpam A


" Alamaak...."


" bisa mimpi indah malam ini aku...." ucap satpam C


" yah, mimpi aja .."


" enggak pake basah..."


" kalau basah ..."


" terpaksa mandi junub, kalian..." ucap satpam B


emang abang , enggak tertarik gitu..." tanya satpam C


" aku lebih tertarik lihat body isteri ku..." ucap satpam B


membuat para bujang menepuk jidat mereka masing-masing


.


.


Lolita masuk kedalam gedung IGD,


" ada yang bisa kami bantu, nona..." ucap perawat A


" iya, suster..."


" Hm..."


" saya keluarga tuan Elvano Adinata Putra Hamid Atmadja..."


" Oh..."


" nona mau bertemu siapa..."


" kalau pasien saat ini berada di ruang isolasi, ruang khusus untuk pasien datang ke IGD..."


" ada satu keluarga, sekarang sedang melakukan sesi konsultasi dengan dokter di ruang ini, nona..." ucap perawat A


" boleh saya menemui pasien..." tanya Lolita


" Oh..."


" silahkan, nona..."


" dari sini, belok kiri,lurus saja, nanti nona belok kiri, ada di sana ruangan yang di jaga satpam


" nanti nona izin saja dengan satpam untuk masuk kedalam ruangan..." ucap perawat A


" terimakasih, suster..."


" mari..." ucap Lolita dengan santun


" sama-sama,nona.." perawat A melakukan servis excellent nya


" debak...."


" adiknya tuh cowok , cantik banget..."


" g.i**la..." ucap perawat B


yang mendapatkan tanda jempol dari rekannya


Lolita memasuki ruangan, bersamaan Evan membuka matanya, Evan dalam keadaan terikat membuat Lolita menitikkan airmata,


" kamu kenapa, seperti ini, mas..." ucap Lolita


pandangan mata Evan seakan tidak ada apapun, seakan-akan dunia ini tidak lah nyata baginya, kematian adalah hal terbaik dalam hidupnya,


" mas..." ucap Lolita sambil menyentuh rahang Evan


" Love..."


" lepasin, sakit...." ucap Evan meminta Lolita melepaskan tali fixir atau tali pengaman yang mengikat di kedua tangannya, dan kedua kakinya


Lolita yang merasa iba, melepas semua ikatan, namun hal yang tidak disangka- sangka, Evan mencekik lehernya sendiri, membuat Lolita menjerit, meminta bantuan, karena tubuhnya terpental dari posisi sebelumnya,


Jhon yang juga ikut mengawal Evan, membantu satpam yang berjaga, untuk menyelamatkan Evan dari tindakan bunuh diri nya, Evan diikatkan kembali di ranjang pasien,dan Jhon segera membantu Lolita berdiri dari posisinya


" nona..." ucap Jhon dengan cemas


" Jhon...."


" kenapa mas Evan...."


" kenapa ..." ucap Lolita dengan deraian airmata yang mengalir deras..


*


*


*


*


*


*


*


🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2