
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Bobby butuh waktu cukup lama, meredam emosi nya, h.as**rat " ingin # itu, bagaikan menaiki roller coaster, membuat kepala nya sakit luar biasa,
bunyi pintu kamar mandi terbuka, Lolita segera, berdiri, dengan wajah tertunduk, raut wajah Lolita sangat imut di pandang Bobby, tapi Bobby memutuskan untuk tidak memberi kecupan ataupun mendekati Lolita, bukan apa-apa, Bobby hanya takut jika dia menyentuh Lolita kembali, h.as**rat " ingin" # itu , pasti akan timbul kembali, tentu dia akan lebih agresif lagi dari sebelumnya, karena rasa itu sudah sampai di ubun-ubun kepalanya, saat ini saja Bobby masih menderita
" sayang...."
" ada obat sakit kepala..." tanya Bobby
" ada..."
" tadi Lolly juga habis meminumnya..." ucap Lolita masih menundukkan kepalanya
" kamu sakit, ayang beibs...." tanya Bobby khawatir
" Hm..."
" mungkin karena terbangun , kali bang..."
" kepala Lolly tiba-tiba sakit...." ucap Lolita jujur
membuat Bobby tertawa terbahak-bahak, dan Lolly mengangkat kepalanya, kenapa sang kekasihnya tertawa begitu puas, bahkan menyurutkan sisa airmata di sudut matanya
" ada apa, bang..." ucap Lolita bertanya dengan polosnya
" kamu itu sama dengan abang, sayang..."
" sama-sama kentang...." ucap Bobby mengacak- acak rambut Lolita
" kentang...." ucap Lolita, mengulangi ucapan sang kekasihnya
" kentang...."
" kena tanggung..."
" yang tadi,...."
" atau mau kita terusin...." ucap Bobby mengedipkan sebelah matanya
" ish...."
" mau nya..."
" tidak, Ah...dosa...." ucapan Lolita dengan malu
" yah...sudah..."
" tidak usah, uhah- uhah,...."
" di grepesi"in saja, boleh...." ucap Bobby mencari sela mendapatkan apa yang diinginkan nya
" big No..."
" sama saja, dosa..." ucap Lolita sambil mendelik kan kedua matanya, Bobby tersenyum dengan tingkah kekasihnya, Bobby langsung menarik tubuh Lolita mendekat ke dalam pelukan nya, melilitkan kedua tangannya di pinggang Lolita
" sudah, deh..."
" nanti abang juga yang susah..."
" tidak usah peluk- peluk lagi..."
" ntar abang " ingin" # itu...."
" Lolly tidak mau tanggung jawab...." ucap Lolita yang berada dalam dekapan sang kekasih hatinya
" sebentar saja..."
" maka nya jangan gerak- gerak..."
" abang hanya mau memeluk kamu sebentar..." ucap Bobby dengan suara serak
Lolita membiarkan sang kekasih memeluk tubuh nya, terus terang saat ini Lolita sangat terluka, apalagi menyaksikan secara langsung sang kekasih melangsungkan pertunangan tepat di depan kedua matanya, walaupun tidak menyaksikan adegan tukar cincin, tetap saja, Bobby saat ini sudah bertunangan dan milik wanita lain,
Bobby pun sama, bagaimana dia akan mengatasi ujian kali ini, yang sangat sulit, satu sisi ingin mempertahankan Lolita sebagai kekasih, satu sisi perusahaan yang dia bangun sendiri, atas kerja kerasnya, sedang dalam ancaman orang tua, tentu akan berdampak bagi finansial nya, ini bukan pilihan, ini neraka baginya saat ini
" bagaimana, Boy..."
" apa dia akan membenci abang,..."
" bukan kehendak abang, ayang beibs..." ucap bobby begitu lirih di telinga Lolita
" kita harus sabar..."
" pelan- pelan ngomongnya, dengan anak-anak..."
__ADS_1
" yah, mau bagaimana lagi, ..."
" Boy melihatnya, ..."
" kalau dia kecewa, sih wajar- wajar saja, bang..."
" nanti kita kasih dia pengertian.."
" ok....." ucap Lolita dengan lembut menenangkan jiwa sang kekasih hatinya,sambil mengelus- elus punggung lebar Bobby
" kata nya, mau minum obat..." tanya Lolita yang sudah merenggangkan posisi berpelukan nya
" iya,..."
" tapi abang lapar,..." ucap Bobby dengan manja
" ayo, kita turun...."
" Lolly panaskan lauk,..." ucap Lolita yang sudah mengiring Bobby ke arah pintu keluar, dan Bobby menuruti akan ajakan sang kekasihnya, bahkan Bobby mengendong tubuh Lolita di punggung nya, sembari menuruni anak tangga
mereka makan malam yang terlalu malam, bahkan nyaris pagi, kalau orang muslim ini jam makan sahur jika pada bulan ramadhan
" sayang...." ucap Bobby dengan hati- hati
" Hm...." sahut Lolita
" Hm..."
" tadi..." Bobby kesulitan mengatakan yang sesungguhnya terjadi setelah Lolita meninggalkan acara
" Hm...."
" katakan saja..."
" Lolly akan mendengarkan nya dengan baik .." ucap Lolita penuh kelembutan, sambil menggenggam telapak tangan Bobby seakan-akan memberi spirit pada kekasihnya
sulit bagi Bobby, bahkan berkali-kali Bobby menghelakan nafasnya, seakan-akan dia menderita asma, sesak di dada yang menghimpit meski dia sudah menarik dan mengeluarkan nafas secara teratur
" Mommy memaksa abang untuk melanjutkan acara itu...." ucap Bobby menatap manik mata sang kekasihnya, akan kah ada kesedihan terlukis di dalam manik mata Lolita
" Hm...."
" yah teruskan saja, tidak apa-apa...." ucap Lolita mencoba tersenyum walaupun sebenarnya dia kecewa
" abang melanjutkan acara itu, ..."
" kamu tahu, beibs...."
" Finn..."
" Finn mengkhianati abang..." ucap Bobby yang tanpa disadari nya, dia mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah dan sedih secara bersamaan
mendengar ucapan Bobby, membuat Lolita kaget, dia pun sama, tidak menyangka jika Finn akan berbuat seperti itu
" jadi..."
" sekarang...."
" apa keputusan abang...." ucap Lolita dengan hati-hati
mereka terdiam, tanpa satu pun yang akan memulai pembicaraan lagi, mereka tengelam dalam pemikiran masing-masing
Bobby merebahkan tubuhnya di pangkuan Lolita, dan Lolita mengelus-elus rambut tebal Bobby, memberikan kenyamanan, apalagi keluhan Bobby, sakit kepala, karena mereka baru saja mengalami lonjakan emosi dan h.as**rat yang harus mereka tahan
" sayang aku, cinta aku..."
" bolehkah abang, mengambil langkah..."
" menyelamatkan perusahaan abang terlebih dahulu sampai enam bulan ke depan...."
" apakah kamu akan tetap setia menunggu aku..." ucap Bobby yang sudah menatap manik mata Lolita dari pangkuan Lolita
Lolita membelai wajah tampan kekasihnya, dan memberikan support tanpa batas, memberikan kalimat yang menyejukkan hati
" Lolly akan selalu menunggu abang..."
" kapan pun..." ucap Lolita dengan lembut
" tapi Lolly tidak mau berjanji.." ucap Lolita masih dengan nada yang sama
" kenapa..? .." tanya Bobby sedikit takut jika sang kekasih akan meninggalkan nya
" janji itu adalah hutang..."
" Lolly tidak mau berhutang, jika karena sesuatu dan lain hal...."
__ADS_1
" seperti abang bukan takdirnya Lolly, dan Lolly bukan takdirnya abang..."
" artinya kita berdua harus saling mengikhlaskan satu sama lain, jika itu kehendak Allah.."
" kalau dari hati Lolly yang paling dalam, hari ini dan seterusnya hati Lolly sudah terpaut, dengan pria tampan ini nih..."
" semoga abang adalah takdir untuk Lolly..." ucap Lolita dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya yang cantik
" semoga kamu takdirnya abang,.." ucap Bobby sambil melingkarkan tangannya di perut Lolita
" aamiin..." ucap Lolita, begitupun Bobby, meski hanya di hatinya, Bobby sudah meng Aamiin kan ucapannya sendiri
Lolita masih setia mengelus-elus rambut tebal Bobby, hingga Bobby tertidur dengan pulas, dan Lolita segera beranjak meninggalkan sang kekasih yang tertidur di atas sofa,
jika dia masih di sana, Lolita takut setan akan membisikkan sesuatu yang tidak diinginkan ,yang akan membuat mereka berada di kungkungan lembah dosa
Lolita mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan pagi mereka , sebelum dia tertidur lagi ,dan Lolita kembali ke kamarnya meninggalkan kekasihnya yang sudah tertidur di atas sofa lantai dua
Boy yang terbangun, segera turun ke lantai dua, di lihatnya sang Daddy tertidur di sofa dengan sangat lelap, tergurat lelah, sedih di wajah Bobby meski sudah tertidur dengan nyenyak tetap saja masih bisa di rasakan oleh Boy ,entah kenapa perasaan nya terhubung dengan Bobby padahal mereka tidak terikat hubungan darah, yah hubungan emosional lah yang mengikat hati mereka
Boy membaringkan tubuhnya di bawah sofa, yang sudah dilapisi ambal tebal, yang masih enak jika dijadikan untuk sekedar tidur- tiduran
.
.
.
menjelang subuh ,
Lolita bersiap memasak untuk menu makan mereka, sampai selesai masak Lolita masih melihat ayah dan anak itu masih tertidur dengan pulas,
Lolita memutuskan untuk subuh sendirian, dan akan membangunkan Boy dan Bobby, kira - kira setengah jam lagi, agar tidak terlalu lama jarak dengan sarapan, selama ini mereka akan bercengkerama dulu sesudah sholat subuh, dan sebelum sarapan pagi
Lolita sedikit mencubit perut Boy dan Bobby, karena mereka masih enggan membuka mata, padahal waktu subuh sebentar lagi akan segera berakhir, syukur Alhamdulillah, cubitan maut Lolita berhasil membangunkan mereka berdua...
apalagi aroma kopi di pagi hari menusuk indera penciuman mereka,untuk Boy masih di sediakan susu oleh Lolita, entah kenapa pagi ini, Boy meminta kopi pada sang Mommy,
sensasi menyeruput kopi, ingin dia rasakan...ucap Boy kepada sang Mommy, mau tidak mau Lolita membuatkannya, yah..sesekali tidak ada salahnya juga, pikir Lolita
Boy ingin bertanya, tapi dia memendam pertanyaan nya, dia hanya takut jika apa yang ditakutkan nya akan terjadi, dia pasti tidak akan menyukai itu ,dia hanya diam, lebih tepatnya mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, jika memang kemungkinan berburuk setidaknya dia akan menjadi pelindung bagi sang Mommy
" enak, kan....." ucap Bobby mencoba mengajak sang putera berbicara
" Hm..."
" lumayan..." sahut Boy sambil menganggukkan kepalanya
Bobby terus mengajak putera nya mengobrol santai, dengan berbagai topik pembicaraan..
setelah dipikir Bobby mendapatkan cela untuk dia bicara dari hati ke hati, apalagi Lolita sudah meninggalkan mereka berdua
" Ehem.... "
" Ehem..."
" maaf...."
" maafkan, Daddy,yah nak..." ucap Bobby dengan menundukkan wajahnya
" Hm...."
" bagi Boy, Daddy.... "
" Daddy terbaik..." ucap Boy menatap manik mata Bobby
Bobby memeluk tubuh anaknya dengan prosesif, tanpa mereka sadari mereka meneteskan air mata
" kamu akan selalu menjadi putera Daddy,..."
" putera kesayangan Daddy..."
" kebanggaan Daddy..." ucap Bobby dengan suara parau, Boy hanya menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti maksud dari Bobby, dan mengiyakan setiap kalimat Bobby lontarkan kepada nya
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒