
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
perjalanan dari ruko milik Lolita menuju ke mansion Asha cukup jauh, Lolita yang masih dalam perawatan, dan masih wajib mengkonsumsi obat, tubuhnya meminta jatah...
untuk segera diistirahatkan, hal wajar jika Lolita gampang sekali untuk tertidur, reaksi tubuh terhadap hal asing, sama seperti bersin.
Hal biasa saja jika seseorang bersin, padahal bersin merupakan salah satu reaksi tubuh, terhadap benda asing seperti debu, kuman yang masuk ke rongga hidung, dengan refleks tubuh mengeluarkan nya melalui bersin, atau buang gas yang terjadi karena ada nya gas di dalam perut yang harus dikeluarkan reaksi dari gerakan usus.
begitu pun dengan tidur, tapi kalau tidur melulu, itu nama nya pemalas.... gedubraaak....hehehe....
Lagi asik-asik bercerita dengan Asha , tanpa Lolita sadari jika dia telah tertidur setelah menunaikan ibadah ashar, dengan terpaksa Asha meninggalkan Lolita di sofa, Asha membenarkan posisi tidurnya Lolita, melihat Lolita yang seperti nya enak untuk tidur sore, Asha ikut tertidur di lantai yang beralasan ambal empuk, hingga mereka berdua tidak menyadari jika sang suami Asha sudah pulang lebih awal, karena sudah janjian dengan Bobby, akan dinner di restoran yang sudah mereka reservasi sebelumnya. dan bagaimana dengan anak-anak mereka ? anak- anak mereka tentu saja di rumah dong, asalkan para orang tua memenuhi list permintaan yang anak-anak mereka ajukan, , jika para orang tua sedang melakukan ngedate seperti hari ini. Evan mendengar berita dari Rio,bila sang mantan isteri akan berangkat dinner bersama kekasih dan sahabatnya, tanpa malu, dia segera meluncur ke mansionnya Asha
Bobby dan Evan berdiri saling bersisian,
membuat Theo tertawa melihat mereka secara bergantian
" masalah buat elo ! " ucap Evan menatap wajah Bobby yang ikut melihat wajah Evan, mereka berdua saling melemparkan pandangan tersirat persaingan. Bobby bersikap seperti biasa calm down nan datar jika di hadapkan kondisi seperti ini , yang bertolak belakang dengan sikap Evan jika dalam kondisi seperti ini
" tidak "
" tidak ada masalah buat aku " ucap Bobby
Theo meninggalkan Evan dan Bobby yang masih bertanya apa yang ditertawakan oleh Theo terhadap mereka
menelisik bagian tubuh masing-masing, kalau saja ada yang salah, atau kurang
kalau saja pada saat itu saingan gue di masa lalu tidak segera gue singkirkan dengan segera, mungkin nasib gue tidak jauh berbeda dari nasib si Bobby, yang harus menahan sakit melihat kekasih bersama sang mantan, walaupun sudah menggenggam hati pasangan, melihat pasangan masih bersikap baik dengan mantan, tentu terluka meski tak berdarah.... Theo bermonolog dengan dirinya sendiri sembari berlalu meninggalkan bobby dan Evan
melihat Theo mematung, di depan ruang keluarga, Bobby dan Evan yang mengikuti langkah Theo, mengikuti arah mata Theo yang memindai seluruh bagian ruangan
isteriku....ucap Theo dalam batinnya
, senyum mengukir di wajah tampannya yang sudah matang di usianya,
" kenapa ,bang ? " tanya Evan,
usia Theo yang berjarak satu tahun diatas Evan
beda dengan Evan dan Bobby yang hanya berbeda beberapa bulan , lebih tepatnya dalam satu tahun yang sama. Evan dan Bobby menahan tawa mereka, gaya tidur Asha yang bertolak belakang dengan gaya tidur Lolita, merupakan ciri khas Asha, menurut Theo itu kelebihan yang di miliki Asha, jarak usia yang lumayan jauh, tentu membuat Theo lebih banyak mengalah, dan dewasa. Berbeda dengan Lolita dan Evan hanya beda dua tahun lebih, ke cek cok an rumah tangga yang sering melanda mereka juga ,mungkin karena tingginya ego masing-masing
Theo membangunkan Asha, Asha berusaha mengumpulkan kesadarannya, mencharge ulang ingatannya
Hoa..Hoam......
" sudah pulang, Bee " tanya Asha, padahal suaminya berada disisinya, jelas sudah pulang, pertanyaan yang tidak perlu ada jawaban, semestinya
berhubung tidak ada bahasan, atau mungkin kepolosannya Asha, Theo memaklumi kalimat-kalimat Asha yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban
" bangunlah, Honey, yok kita mandi " ajak Theo, sambil mengerlingkan kedua matanya, mengangkat dan menurunkan alisnya secara cepat, tak lupa menyunggingkan senyum penuh arti
" gendong " sahut Asha dengan manja
Theo menyerahkan punggung nya untuk dinaiki oleh Asha, dan tas kerja Theo di pegang oleh Asha
sembari dalam perjalanan menapaki anak tangga, Theo dan Asha bercengkerama,
terkadang Asha menghujami pipi Theo dengan kecupan
sedangkan pria dewasa yang memandang wajah Lolita, saling melirik, melihat pergerakan lawan , sedangkan Maria, melihat dua orang dewasa di hadapannya hanya terdiam, dan mencuri pandang, mengelengkan kepala nya
" nyonya "
" Mommy, bangun dong Mom " ucap Maria, sambil menggoyangkan paha Lolita, bagian itu lah yang aman untuk dia sentuh.
Lolita melenguh, dan menguap...
" ini sudah jam berapa, Maria " tanya Lolita dengan suara parau khas bangun tidur
" setelah sehat, seperti nya, aku akan berhenti minum obat itu, Maria "
" membuat aku lupa waktu, dan tidur terlalu lelap "
" sebenarnya enak, nyeri pada kepala tidak terlalu ketara, jika meminumnya "
" tapi efeknya aku jadi mudah sekali tertidur dengan sangat pulas " oceh Lolita yang masih enggan untuk bangun dari tidurnya
.
.
.
.
__ADS_1
" Ehem "
" bahkan di sentot tawon pun, kamu tidak berasa kan ,sayang " ucap Bobby, yang segera duduk di lantai, yang dialasi ambal
" sudah pulang, Beibs "
" mana ada, ngaco Ah kamu ,bang " sewot Lolita berusaha bangun dari posisi sebelumnya dengan di bantu oleh Maria. Lolita mencoba mencari bekas gigitan tawon, yang dimaksud oleh Bobby, ke seluruh tubuhnya
" mana "
" tidak ada tuh "
" gigitan nyamuk saja tidak ada " ucap Lolita sambil memeriksa ke setiap jengkal seluruh tubuhnya Lolita
wajah Evan sudah pias dari rona sebelumnya
Bobby merasa diatas angin, melihat raut wajah lawan cintanya
awas kamu yaah, ucap Evan dalam batin nya, sambil menatap tajam wajah Bobby, akan tetapi Bobby nampak santai menanggapi sikap Evan yang merasa terintimidasi oleh ucapan Bobby
" sudah Ah "
" tolong kamu bantuin saya dong , Maria " ucap Lolita
" biar abang saja yah , beibs " pinta Bobby
" sudah Ah , mending kamu mandi sana,gih " ucap Lolita dengan lembut, biasa nya Lolita selalu membelai wajah sang kekasih,namun karena ada Evan, Lolita tidak mau memancing ikan di air yang keruh, dia hanya meminta Bobby untuk lekas membersihkan diri.
Maria membantu Lolita untuk segera ke ruang tamu yang biasa dia tempati kala berkunjung di mansion Asha, Bobby segera bergegas melaksanakan perintah sang calon nyonya yang masih berdiri di samping tubuh Lolita siapa tahu Lolita membutuhkan bantuan Bobby, walaupun Lolita sering menolak dengan alasan melatih otot kaki untuk tidak kaku jika sering digerakkan dan itu juga merupakan latihan yang disarankan oleh terapis dan dokter spesialis tulang. Namun sebelum mereka berjalan terlalu jauh dari posisi sebelumnya , Lolita segera meraih lengan Bobby, dan Lolita sempat berbicara sangat pelan, yang hanya dibahas oleh Lolita dan Bobby, mereka berdua bercerita dengan serius, sehingga Maria berjalan mundur menjauhi Lolita dan Bobby memberikan privasi tuannya. Bobby menganggukkan kepalanya, kemudian menatap ke arah Evan dan menganggukkan kepalanya kembali
" mas "
" kamu ikut abang Obby yah "
" mas " pinta Lolita lembut dengan senyum di wajah nya,maklum mantan suami nya ini, sedikit agak kolok'an, a.k.a manja, jika tidak di rayu, sehingga Lolita terbiasa melakukan rayuan pulau kelapa, Evan yang sedari tadi sudah jengkel, karena merasa di cuekin oleh Lolita, sedikit bahagia, akan perhatian kecil Lolita, apalagi senyuman di wajah Lolita , bukan lah senyum terpaksa, Evan tanpa di pandu segera mengekori langkah Bobby, sedangkan Lolita di bantu oleh Maria menuju kamar tamu Asha yang biasa dia tempati setelah Lolita memberikan kode kepada Maria untuk segera mendekati posisi Lolita saat ini, karena Lolita terkadang masih keram jika diajak jalan sedikit jauh
.
.
Kumpulan para anak - anak laki-laki di mansion Asha, nampak biasa saja, meskipun merasa baru saja berkumpul, tidak seheboh para anak gadis jika pertama kali bertemu, dan berkumpul, pasti mereka heboh bermain, bercanda, bahkan ngerumpi. Mereka antusias bertemu, namun tidak terlalu heboh, mereka menceritakan banyak hal baik Rava, Ravi,dan Rio, tidak dengan Boy,karena Boy sudah menjadi seorang anak remaja, tentu bahan pembicaraan nya sedikit berbeda.
" aunty "
" uncle "
" Hm "
" bolehkah mereka untuk datang berkunjung kesini "
" hanya sekedar kumpul saja , aunty, uncle "
" bagaimana aunty, uncle ? " tanya Boy dengan hati- hati
" yah "
" silahkan saja, Boy "
" asal.... "
" kamu harus menjaga adik-adik kamu ,bagaimana ? " ucap Theo, mewakili Asha dan juga dirinya
" Oh itu "
" kirain Boy apa "
" ha-ha-ha "
" kalau hanya itu mah , Ok Boss " ucap Boy dengan wajah bahagia, dan sedikit selebrasi
" nih "
" untuk kalian nanti memesan makanan " ucap Theo sambil menyerahkan uang lebih dari dua puluh lembar bewarna merah yang terdapat dua tokoh penting,pahlawan dan proklamator kemerdekaan I
" uncle"
" ini sih kebanyakan " ucap Boy dengan ekspresi terkejut, saat menerima sanggu alias uang tip dari Theo
" sudah, tidak apa-apa "
" aku terima saja pemberian dari uncle " ucap Theo, sambil menepuk pundak Boy ,dan sedikit mengacak rambut Boy
" beneran nih, uncle "
__ADS_1
" Alhamdulillah "
" terima kasih banyak , uncle " ucap Boy dengan raut wajah yang begitu bahagia, secara spontan Boy meraih telapak tangan Theo dan mencium dengan takzim
" Yu hu "
" Alhamdulillah " ucap Boy sambil setengah berlari menuju kamar tamu, tempat dirinya dan Rio beristirahat, Boy segera meletakkan uang yang baru saja dia terima ke dalam dompet nya
Mentari kian tenggelam, kembali ke peraduan...
setelah isya, mereka hendak meninggalkan mansion Asha, sebenarnya Lolita beberapa kali menolak ajakan untuk dinner ,karena dia takut akan tertidur, tubuhnya tidak bisa mentolerir penolakan yang akan merusak acara dinner yang pastinya terkesan romantis untuk sebuah hubungan yang terjalin antara pria dan wanita, Lolita tahu itu, apalagi Asha berkata dinner ini untuk ngedate bareng , namun dengan kehadiran Evan tentu saja itu tidak akan pernah menjadi romantis, oleh karena itu Lolita semakin mempunyai alasan untuk menolak. Namun Evan dan Bobby sudah berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang memalukan mereka bertiga, apalagi ada Theo dan Asha, sebisa mungkin mereka pasti berusaha menahan diri untuk tidak terpancing emosi.
meskipun Lolita memaksakan diri untuk tidak tertidur, namun masih saja, kedua bola mata Lolita terpejam, seperti saat ini, Lolita tidak mengenal tempat bahkan di dalam mobil Lolita kembali terpejam, untung saja ada seltbelt yang melilit di tubuh bagian depan, menahan tubuh Lolita agar tidak terjatuh dan terantuk ke depan,
" apa Lolly, tertidur ? " tanya Evan yang berada di kursi pengemudi , didepan kursi Lolita
" iya " sahut Bobby sambil melirik ke sebelah kanannya, membuat Evan memperlambat laju kendaraannya
" kapan waktu dia kontrol ulang, cek up lagi ? " tanya Evan
" hari rabu depan " sahut Bobby
" aku tidak bisa menemani nya "
" maafkan aku " ucap Evan dengan sendu
" aku yang akan membawa dia untuk kontrol ulang pemeriksaan "
" aku juga yang akan menjaga mereka " ucap Bobby tanpa menoleh ke arah depan
" bagaimana ? "
" kapan kamu akan menyelesaikan urusan kamu dengan Lolly ? " tanya Bobby dengan nada rendah
Evan tidak menyahut pertanyaan dari Bobby dengan cepat, dia butuh waktu untuk berfikir, bagaimanapun ada ketakutan di dirinya, takut akan kemungkinan yang tidak ia inginkan.
" aku pasti akan menyelesaikan urusan kami "
" akan tetapi aku masih membutuhkan waktu, nanti pasti akan aku lakukan "
" aku butuh waktu yang tepat untuk membicarakan nya dengan Lolly " ucap Evan kemudian
" Hm "
" jangan terlalu lama menunda ny "
" baik kamu ataupun aku, kita harus siap dengan segala resiko "
" menunda nya hanya akan menorehkan luka semakin dalam "
" dan jangan ada lagi pertengkaran seperti waktu itu, itu hanya akan menyakiti nya, aku tidak mau lagi itu terjadi "
" kalaupun aku yang tidak akan terpilih oleh Lolly "
" dengan lapang dada aku ikhlaskan Lolly bersama kamu "
" jika Lolly sampai tidak memilih aku, artinya aku bukanlah yang terbaik untuknya "
" begitu pula dengan kamu, itu berlaku untuk kita berdua "
" ini berat bagi aku, sangat berat "
" tidak semudah ucapan yang baru saja aku katakan "
" namun aku akan berusaha legowo " ucapan Bobby sangat menohok bagi Evan,
setiap untaian kalimat yang keluar dari mulut Bobby seakan-akan mewakili perasaannya juga yang sedang dilanda gundah. Akan tetapi ucapan Bobby yang baru saja Bobby ucapkan itu benar adanya, sangat benar, salah satu dari mereka harus mengalah, atau....
pikiran itu terlintas di otak Evan, tapi dia langsung segera menepisnya
pikiran apa itu, apakah dia akan sanggup menjalankan sesuatu yang baru saja terbesit di pikirannya.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒