
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Beberapa minggu ini begitu banyak hal yang harus dilalui Bobby, dari kontrak kerjasama yang sedikit mencurigakan, insiden Melani yang datang ke ruko berakhir dengan sang kekasih dan anaknya yang harus melakukan perawatan di dalma rumah sakit, belum lagi hari ini Bobby harus melihat kejadian yang tidak pernah terbayangkan oleh Bobby sebelumnya. Bobby tahu dengan status Lolita, dan siap dengan konsekuensi jika dia memilih menikahi seorang single parent, yang harus bersedia menerima Rio sebagai pake lengkapnya, akan tetapi jika dirinya juga harus menerima kehadiran mantan suami Lolita, apakah mungkin hatinya bisa menerima itu, dan itu tidak lah mudah bagi Bobby yang memiliki karakteristik dominan terhadap pasangan, apalagi Lolita adalah pilihan hatinya.
Bobby memilih mengadu kepada sang pemilik hati, mengadu akan luka nya,akan kegundahan hati nya,
Bobby lebih memilih mengadukan nasibnya kepada sang maha pencipta, mengadukan perasaannya yang diambang kegalauan tingkat tinggi, berfikir seperti ini salah, seperti itu mungkin benar, bisa iya, bisa tidak, tidak ada yang pasti, meskipun bertanya langsung kepada Lolita hasilnya tidak begitu jauh, pasti meminta Bobby untuk bersabar, berdoa , itu saja, tanpa ada solusi lain, seperti menerima ajakan Bobby untuk menikah, menerima lamaran yang sudah berkali-kali Bobby ucapkan , walaupun terkadang Bobby mengucapkannya dengan bercanda, namun respon Lolita selalu itu-itu saja, tidak ada yang lain. Apalagi seperti saat ini, saat kembalinya Evan di kehidupan Lolita, sudah bisa dipastikan akan menjadi semakin sulit dan rumit kisah cinta Bobby dan Lolita.
Bobby tersandung restu sang mommy, Lolita tersandung restu sang anak, ditambah dengan kehadiran Evan, seperti jatuh tertimpa tangga pula mereka berdua. Bobby semakin ragu kehidupan asmaranya akan berjalan mulus seperti yang selalu Bobby harapkan.
" Dad "
" aunty sekarang menunggu kita di kamar Mommy " ucap Boy kepada Bobby
" Hm " ucap Bobby hanya berdehem saja
" Daddy Rio dan Rio sudah pulang "
" ayo, Dad " ucap Boy , dan Bobby segera bangkit dari posisi sebelumnya. Tanpa disadari Bobby ,jika dia sudah cukup terlalu lama berada di salah satu fasilitas rumah sakit , masjid yang disediakan jika pengunjung atau keluarga pasien hendak melaksanakan sholat,
Asha yang masih sibuk bercengkerama dengan Lolita ,tidak menyadari jika Bobby dan Boy berjalan menuju ke arah mereka berdua. Jiwa kepo Asha meminta Lolita untuk menceritakan mulai dari A sampai Z ,setelah dirinya memutuskan untuk keluar dari kamar rawat inap Lolita, belum selesai Lolita menjelaskan kepada Asha, dan belum juga Asha bertanya lebih lanjut , seperti apa keputusan Lolita ,apa yang akan dilakukan nya, dan belum lagi dia melancarkan beberapa rangkaian saran yang menurut nya baik, serta mempertanyakan bagaimana sesungguhnya perasaan Lolita kini terhadap Bobby
" Ehm"
" Ehm"
" Ehem" ucap Theo hanya berdehem saja, berpura-pura seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, agar Asha dan Lolita terhenti berbicara, namun baik Lolita maupun Asha tidak juga mengubris kelakuan Theo
" Honey "
" aku kehausan nih " ucap Theo mengalihkan pembicaraan Asha dan Lolita
Boy langsung menuju ranjang pasien lalu memeluk tubuh sang Mommy, kemudian mencium dahi Lolita, dan menghujami rambut Lolita dengan kecupan
" sayang "
" jangan menciumi rambut Mommy dong "
" bau, nak "
" jangan di cium - cium lagi Ah "
" Mommy malu, nak " ucap Lolita kepada Boy, namun Boy tidak mengubris perkataan Lolita
bahkan dengan posesif ,dia mengelus puncak kepala Lolita,dan setengah mendekap tubuh Lolita, bermanja-manja seperti Rio dengan Lolita berinteraksi
" wah "
" kasihan deh aku sama kamu, Beibs " ucap Asha
" kenapa, Sha ? " ucap Lolita dengan penasaran
" punya mantan suami, posesif "
" punya anak Rio, dan Boy , prosesif "
" Eh, punya calon suami sama, juga prosesif "
" apes banget, hidup kamu, Beibs " ucap Asha sambil tertawa kecil , menggoda Lolita
Lolita mendengar penuturan dari sahabat nya ,tentu ikut tergelak tertawa bersama sahabatnya. Sedangkan para lelaki yang berada di sana hanya terdiam, apa yang dikatakan Asha benar adanya. Mau mengelak bagaimana pun juga,tidak akan pernah bisa
" Honey "
" ayo kita pulang, aku sudah sangat lelah "
" sudah ada Boy dan Bobby yang akan menjaga Lolly " ucap Theo mengajak istrinya pulang ke mansion mereka, yang di jawab Asha dengan satu kali anggukan kepala
" Lolly "
" aku cabut yach " ucap Asha sambil cipika cipiki
" Oke "
" hati - hati di jalan yah "
" bang "
" Sha " ucap Lolita dengan sopan
" Ok "
" bye semuanya " ucap Asha sembari membuka handle pintu kamar, dan berjalan keluar kamar menuju lobby rumah sakit
" sudah makan malam ,bang " ucap Lolita dengan lembut kepada kekasih hatinya, Bobby memaksakan diri untuk tersenyum saat Lolita menatap kearah wajah Bobby ,sambil menggelengkan kepala nya
Malam ini Boy sudah merasa sangat kelelahan, aktivitas Boy cukup dapat hari ini di mulai sejak pagi berjalan mengelilingi rumah sakit, menemani Asha berjelajah kuliner , padahal Boy masih berstatus sebagai pasien di rumah sakit ini
" Mom "
" Boy, mau balik ke kamar yah "
" Boy sudah sangat mengantuk nih, ngantuk berat " ucap Boy, sambil menahan mulut nya yang menguap
__ADS_1
" ngantuk apa mau telepon-teleponan sama ayang beibs kamu " ucap Lolita menggoda Boy, sambil memainkan rambut anaknya
" beneran mengantuk loh, Mom " ucap Boy sesekali menguap lagi
" Oke "
" silahkan kamu balik ke kamar kamu, sebelum bobok jangan lupa untuk sikat gigi , wudhu, lalu baca doa sebelum tidur " ucap Lolita sebelum memberi izin, yang dibalas Boy dengan mengangguk- anggukan kepala nya, dan kembali mengecup pipi Lolita
" good night, Mom "
" nice dream "
" love you, Mom " ucap Boy
Dan kini hanya tersisa Lolita dan Bobby di dalam kamar rawat inap Lolita. Sesekali Lolita mencuri tatapan kepada Bobby, begitupun dengan Bobby, mereka berdua sama - sama menunggu pasangan mereka membuka percakapan
" bang " ucap Lolita lembut
" Hm " ucap Bobby hanya berdehem saja, memandang wajah cantik Lolita Di dalam benaknya Bobby saat ini begitu kesal,dan marah, akan tetapi hati Bobby juga tidak bisa menghentikan perasaan cinta, dan rindu walaupun hanya berpisah beberapa jam saja. Secara refleks tubuh Bobby mendekat kearah Lolita, bahkan segera memeluk tubuh Lolita, menyalurkan kerinduan yang mendalam, kegundahan hati nya, setelah memeluk kekasih hatinya, seolah-olah semua beban yang menghimpit nya ,menguap begitu saja
" Hm "
" apa sayang " ucap Bobby yang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lolita
" bang "
" abang sudah makan "
" Hm " ucap Lolita
" belum " ucap Bobby dengan singkat
" yah sudah, kalau begitu kita pesan makanan ,yuk "
" Lolly juga masih lapar banget " ucap Lolita
" iya "
" tapi abang mau makan ini dulu, yah " ucap Bobby mengelus bibir Lolita bewarna merah Cherry. Tanpa menunggu jawaban Lolita, Bobby segera memberi kecupan di bibir Lolita
1... detik
2...detik
3....detik
4....detik
.
.
Lolita tidak melakukan perlawanan,dia juga menikmati sentuhan Bobby, untuk pertama kali Lolita menyetujui keinginan dari kekasihnya. Lolita hanya memberi kepastian kepada Bobby,bahwa hanyalah dia pria yang Lolita harapkan menjadi suaminya nanti, Lolita takut dengan kedatangan Evan,membuat mereka berdua ragu untuk meneruskan hubungan mereka, mungkin dengan membiarkan Bobby mencumbu dirinya ,membuat Bobby merasa yakin bahwa Lolita pun mencintai Bobby sepenuh hati,dan hubungan mereka semakin baik. Kecupan yang berubah menjadi ciuman membuat kelelakiannya menegang,meminta lebih...lebih...dan lebih
Bobby memberikan sentuhan di daerah sensitif Lolita, dengan cepat Lolita menangkis nya, Bobby kembali meremas bukit kembar Lolita, lagi-lagi Lolita menepisnya,dan mengelengkan kepalanya. Bobby tidak melepas pang********, kembali Bobby bergerilya menyentuh punggung Lolita memberikan rangsangan nan e.ro*t.is, Lolita nampak menggeliatkan tubuhnya,dan itu memang sedikit memancing nafsu bi.r***i Lolita,apalagi dia pernah merasakan manisnya *** - ***....
klik.....
pengait bra bagian belakang, dibuka Bobby tanpa disadari Lolita, sentuhan terus menerus yang dilancarkan oleh Bobby menuju bukit kembar Lolita, membuat tubuh Lolita meremang- remang, m.er.eman.g nikmat
Lolita terpaksa harus mendorong tubuh Bobby,,
Astagfirullah Allazim....
ucap Lolita saat tubuh mereka sudah berjarak,
" bang " ucap Lolita dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca. Lolita menginginkan nya, sangat menginginkan untuk melakukan itu....
sungguh memabukkan,
akan tetapi status mereka yang belum muhrim ,untung kesadarannya cepat pulih,jika tidak mereka akan terjebak dosa besar,yang akan terus-menerus di lakukan. Karena itu sangat nikmat,dan bikin nagih untuk melakukannya. Lolita sadar, jika saat ini Bobby butuh menyalurkan hasratnya,tubuh Bobby yang hangat ,dengan irama detak jantung lebih cepat dari biasanya, bahkan Lolita sempat merasakan kejantanan Bobby yang sudah berbeda ukuran dari sebelumnya. Bobby mencoba menetralisir kondisi tubuh nya,segera mengambil baju untuknya yang berada di dalam lemari ,dia juga segera menuju ke kamar mandi untuk meredam gejolak itu.
.
.
.
Setelah keluar dari kamar mandi, tubuh Bobby merasa segar kembali. Bobby memilih merebahkan dirinya di kasur yang disediakan untuk keluarga pasien, Lolita tersenyum melihat wajah kekasih nya, yang nampak begitu kelelahan.
" bang "
" kamu kelelahan yah ,bang " ucap Lolita duduk di bibir kasur yang ditempati oleh Bobby, sambil mencoba meraih lengan Bobby
" jangan sentuh aku "
" abang capek banget ,mana tadi abang harus meredamnya , sayang " ucap Bobby dengan menutup kedua matanya, membuat Lolita tidak mampu menahan tawa nya, Lolita sedikit tergelak, membuat Bobby sedikit mendelik kan mata nya
" Ck "
" mana pelaku utama nya tertawa pula "
" puas kamu yah "
__ADS_1
"Hm " ucap Bobby dengan kesal, sedangkan Lolita masih saja menertawakan sikap Bobby
" maka nya bang "
" Gercep dong "
" cepat-cepat di halal'in dong, bang "
" biar abang tidak melakukan meditasi terus " ucap Lolita mengoda Bobby
" Yook "
" sekarang "
" kita ke penghulu " ucap Bobby mengajak Lolita dengan serius
" enak saja, "
" tidak semudah itu Ferguso " ucap Lolita sedikit mendelikkan kedua bola matanya
" mau bagaimana lagi, mbak "
" babang tamvan ini sudah tidak sabar menunggu " ucap Bobby dengan kecewa
" yah ,bang "
" kita akan menikah "
" syarat dari Lolly , tidak muluk - muluk, kan "
" cukup dapat restu dari kedua orang tua kita dan Rio, itu saja bang "
" kalau kita berdua sudah mendapatkannya "
" hayu urang balik ka sirah ,ayuena " ucap Lolita dengan lembut
" hayu, ayuena " ucap Bobby dengan cepat
" heleh- heleh,...engke ,akang "
" restu na " ucap Lolita sedikit sewot
" sudah, Ah "
" kita makan dulu, ayo" ucap Lolita dengan lembut ,sambil menggenggam telapak tangan Bobby, namun di tolak oleh Bobby
" jangan pegang - pegang dulu, sayang "
" kepala abang masih sakit banget " ucap Bobby menatap manik mata Lolita, membuat Lolita tanpa aba-aba,langsung meletakkan telapak tangan nya ke dahi kekasih nya
" sayang "
" please "
" kepala abang yang di bawah yang duluan sakit ,dan buat kepala yang ini baru saja ikutan sakit "
" jangan kamu memberikan sentuhan apapun dulu sama abang "
" abang takut , abang tidak mampu menahan nya lagi " ucap Bobby dengan mata terpejam. Dengan gerakan cepat Lolita langsung menarik telapak tangannya yang berada di dahi Bobby, segera menjauh menuju meja bar, yang telah tersusun aneka makanan yang baru saja dia pesan sedari Bobby berada di kamar mandi,
" ayo, bang "
" kita makan dulu " ucap Lolita mengajak kekasih hatinya. Bobby menurut dengan ajakan Lolita, karena Bobby memang sudah sangat lapar. Sejak kedatangannya sore tadi dia belum makan sesuatu apapun. Lolita dengan telaten menata makanan di piring makan Bobby, sedangkan Bobby mengarahkan Lolita ,apa saja yang ingin dia santap,
" mana lagi, bang " ucap lolita
" Hm "
" sudah "
" cukup ini dulu " ucap Bobby, lalu Lolita menyerahkan piring ke hadapan Bobby, tak lupa Lolita menyiapkan air mineral di samping piring Bobby. Kemudian Lolita segera mengisi piring makannya juga dengan menu yang dia inginkan, mereka makan dalam diam, tanpa membahas apapun. Begitu selesai makan malam , Lolita hendak membereskan meja bar, gerakan Lolita segera dihentikan oleh Bobby. Bobby mengambil alih tugas Lolita,dan meminta kekasihnya untuk segera beristirahat,
Lolita menuruti saja mau kekasih nya. Lolita segera membersihkan diri di kamar mandi,dan segera merebahkan diri ke kasur pasien.
" bang " ucap Lolita menatap Bobby yang merebahkan diri ke kasur yang berada di samping kasur pasien
" Hm " ucap Bobby hanya berdehem saja
*
*
*
*
*
*
*
ππ
__ADS_1