
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Tuan Hamid dan Lolita masih berada di ruang konsultasi dengan dokter spesialis, dan mereka berdua sangat memperhatikan penjelasan dari dokter spesialis itu dengan wajah serius, apalagi penjelasan terakhir, yang membuat mereka semakin merasa penasaran, menurut diagnosis dokter ada jenis penyakit yang lebih berat dari diagnosis dokter di awal, dan dokter juga menjelaskan jika Evan harus di observasi selama kurang lebih dua minggu paling lama, untuk melihat perubahan perilaku Evan, apakah hanya segitu saja atau ke tahap lebih berat
" ma..ma...maksud dokter..." tanya tuan Hamid dengan penasaran sekaligus khawatir
" maksud saya..."
" kita nilai perkembangan tuan Evan selama kurang lebih dua minggu selama perawatan di rumah sakit....."
" kita observasi, kita lakukan treatment- treatment perawatan, ..."
" dan akan kita uji juga melalui tes psikologi, agar lebih detail,..." ucap dokter yang masih melakukan sesi konseling nya
tuan Hamid masih mencerna setiap ucapan yang dokter katakan
" baik, dokter..."
" saya mohon berikan terbaik untuk anak saya..." ucap Hamid dengan pasrah
" saya akan melakukan yang terbaik,pak..."
" inshaallah...." ucap dokter berusaha mengerti kegundahan hati yang dialami ayah kandung dari pasien yang saat ini membutuhkan pertolongan medis, terutama dari dia
Hamid dan Lolita keluar dari ruang konsultasi dengan dokter,
Hamid hampir saja terhuyung jika tidak di tarik Lolita untuk menjaga agar tubuh Hamid tidak terjatuh ke lantai
" Dad..." ucap Lolita dengan khawatir
" are you okay, Dad..." ucap Lolita lagi, tanpa sadar dia mengucapkan bahasa yang jarang terpakai sehari-hari, karena terkadang anak-anak nya sering mengajak Lolita berbahasa asing, demi kepentingan sekolah mereka, yang mewajibkan bahasa asing,
" iya...."
" Daddy hanya kelelahan saja, nak...." ucap Hamid dengan suara sangat rendah, dia terlalu lelah menghadapi kenyataan yang harus dia telan dalam kurun waktu bersamaan,
bagaimana keadaan isteri nya, bagaimana keadaan anaknya,sungguh melelahkan beberapa hari terakhir ini,mungkin inilah yang membuat pola makan dan pola tidur tuan Hamid menurun, yang berakibat pada kesehatan nya saat ini
Lolita mengajak mantan mertua nya untuk duduk di kursi berbahan stainless steel, khas dari rumah sakit ini
" Dad,..."
" Daddy belum sarapan sebelum kesini..." ucap Lolita dengan nada sangat pelan, dan reaksi Hamid hanya menghela nafasnya saja, seakan-akan dirinya di hujam tumpukan batu,
" untuk apa, nak..."
" apa dengan makan dan tidur, bisa membuat keadaan Evan dan Mommy kamu bisa lebih baik.." ucap Hamid dengan sendu, bahkan suara nya sangat rendah
" jangan seperti ini, Dad...."
" akan ada mentari setelah rembulan...."
" akan ada cerah setelah badai berlalu....."
" akan ada pertolongan Allah di setiap doa yang kita panjatkan..." ucap Lolita menenangkan kegundahan Hamid
seorang bodyguard yang menemani Lolita, membawa kursi roda yang baru saja di pinjamkan oleh perawat, untuk membawa Hamid kembali ke ruangan rawat inap Evan
Lolita harus ikut ke ruangan dokter , karena aka ikut mendengarkan sesi konsultasi dengan dokter, namun peringatan dari perawat tetap di patuhi oleh Lolita, saat ini Lolita mengunakan kembali Hoodie agar bisa menutupi tubuhnya agar tidak dikenali sebagai perempuan, jika tidak, akan sangat mengerikan respon para pasien yang lain selain mantan suami nya, karena tidak semua pasien berada di dalam kamar mereka, sebagian pasien yang di kategorikan membaik perilaku nya, akan dibiarkan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, agar pasien tidak merasa seperti di penjara saat berada di rumah sakit
bagaimanapun juga peringatan dari petugas medis baik dokter dan perawat harus didengar dengan baik oleh orang-orang selain petugas medis,jika mereka berada dalam lingkup rumah sakit, karena seperti itulah,
pasien akan lebih menurut kepada petugas medis, bulan karena mereka disakiti jika tidak menuruti perintah dari petugas medis, bukan...
entah kenapa setiap pasien pasti dengan sendirinya luluh jika mereka berkata sesuatu, satu kalimat perintah saja
" G, mandi..."
" ayo di minum obatnya, kalau kamu mau cepat pulang bertemu keluarga kamu..."
" lekas lah mandi, supaya tubuh kamu wangi yah..."
__ADS_1
" mandi yang benar S, jangan main-main di kamar mandi..."
" dan lain sebagainya..."
salah satu kalimat itu, kalau keluarga akan sulit mengaturnya, entah kenapa dengan petugas medis mereka mau menuruti nya
satu hal yang paling penting, pasien sangat sulit minum obat jika berada di rumahnya, atau di lingkungan nyaman mereka, bahkan keluarga rela datang ke rumah sakit, meminta agar si pasien di edukasi untuk minum obat, karena kalau di rumah pasien ogah' ogah an untuk hanya menelan obat yang harus rutin di konsumsi nya, agar si pasien tidak kambuh penyakit nya,
pasien juga tidak berani pegang- pegang petugas medis berjenis kelamin perempuan, bukan karena mereka semua ahli bela diri, mungkin para pasien takut akan jarum suntik, mungkin yah, allahualalam bisawaf, ...
karena Lolita sangat takut berada di ruang lingkup pasien yang sejenis dengan Evan, yang butuh penanganan medis khusus ini, mau tidak mau Lolita harus mendengar peringatan dari petugas medis, dan dia juga selalu meminta salah satu bodyguard menemani kemanapun langkah kaki jika berada diluar kamar rawat inap Evan
begitu sampai di dalam ruangan Evan, tuan Hamid berpindah duduk dari kursi roda menuju ke sofa, sedangkan Lolita segera membuatkan Hamid air teh hangat,dan sarapan pagi yang sudah kesiangan, daripada Hamid tidak makan sama sekali, tidak mengapa jika dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya, itu yang dipikirkan oleh Lolita
" Dad..."
" makan dan minum lah,..."
" demi Mommy dan mas Evan..."
" Daddy harus kuat, harus tabah..."
" mereka akan sedih jika mengetahui kondisi Daddy memburuk karena mereka..."
" yah, Daddy..." pinta Lolita dengan nada suara yang lembut
Hamid tidak berdaya, tidak nafsu makan, tapi harus dipaksa makan oleh mantan menantu nya, setiap makanan yang lolos di tenggorokan nya terasa seperti menelan butiran pasir, sangat sulit,
Lolita yang melihat raut wajah Hamid tidak bersahaja seperti biasa, seperti beberapa tahun yang lalu, membuat Lolita merasa bersalah, begitu terpukul kah, mantan mertua nya, jika di lihat dengan seksama, bobot tubuh Hamid lebih menyusut dari beberapa tahun terakhir , Lolita mengurut dahinya yang sedikit sakit, sambil menghela nafasnya
Lolita membuka handphone yang baru saja dia ambil dari nurse station, ternyata banyak sekali panggilan telepon dari Bobby yang dia abaikan, pesan suara, pesan singkat, bahkan panggilan video yang terabaikan
" maaf, bang..."
" mas Evan di rawat di rumah sakit,.."
" Lolly belum bisa hubungi abang, nanti Lolly luangkan waktu pada saatnya nanti.."
" oh iya, jangan beritahu anak-anak..."
" nanti Lolly yang memberikan penjelasan kepada mereka dan abang,...."
" mohon bersabar yah bang.."
" love u , Honey..." pesan singkat yang Lolita kirimkan kepada Bobby, karena Lolita takut jika dia melakukan panggilan video ataupun panggilan suara akan membuat Evan memendam perasaan sedih, dan sakit hati yang akan memperburuk keadaan psikologis nya
, Lolita tidak mau itu terjadi
Evan terbangun dari tidurnya, sosok Lolita yang dicarinya saat memindai ke seluruh ruangan rawat inap
hatinya sakit, perasaannya langsung berubah panik,
" mana Lolly..."
" mana Lolly..."
" mana isteriku..." ucap Evan dengan nada panik
Jhon berusaha menenangkan Evan, tapi Evan kembali berulah,
" tidak..."
" dia meninggalkan aku.."
" dia..."
" tidak...."
" tidak...." ucap Evan sambil menutup telinga nya dengan gusar
" dia pergi...."
__ADS_1
" dia membenciku..."
" tidak...tidak..."
" dia mencintaiku..."
" dia meninggalkan aku..."
" tidak kau yang berkhianat, aku yang meninggalkan nya..."
" Tidak........" teriak Evan dengan gelisah, seakan-akan dirinya sendiri disana,
Jhon dan dua bodyguard berusaha menenangkan Evan, bahkan Hamid mendekati Evan agar Evan tidak berlaku impulsif seperti ini, kalau tidak dia akan menerima terapi obat-obatan yang tidak diminta Hamid, alias ditolak oleh pihak keluarga, kalau seperti ini kelakuan, bisa- bisa semakin berat riwayat medis nya Evan
Lolita yang saat ini sedang berada dikamar mandi , mendengar keributan di luar, membuat Lolita bergegas mempercepat aktivitas nya di kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, dan buah hajat lah sekalian
ceklek, handle pintu kamar mandi di buka,
" Astagfirullah Allazim..." ucap Lolita dengan suara yang meninggi beberapa oktaf
apalagi sudah ada dua perawat jaga pagi itu yang saat ini bekerja pada jam shift mereka,
" mas...."
" mas...." teriak Lolita sambil menangkupkan kedua tangan di rahang Evan
" mas..."
" look at me..."
" please..." ucap Lolita dengan lembut menatap manik mata Evan, berharap Evan membalas menatap manik mata Lolita
" Love..." ucap Evan yang sudah tidak se agresif sebelumnya
" nona..."
" kita lakukan restrain, bagaimana..." tanya salah satu perawat jaga, yang tubuhnya sudah di banjiri keringat,
ternyata bergulat dengan Evan tidak lah mudah, apalagi Evan jago bela diri, membuat mereka semua kelimpungan,
" saya masih bisa menjaga nya, suster..."
" maaf..." ucap Lolita menolak jika Evan kembali diikat walaupun tidak mungkin melukai Evan
Evan memeluk tubuh Lolita dengan posesif, mencium, bahkan melu***m.at bibir Lolita di depan khalayak ramai, handai tolan, membuat mereka semua yang berada di dalam ruangan rawat inap Evan, memalingkan wajah mereka dari adegan uwuh-uwuh
" maaf, nak..." ucap Hamid kepada dua orang perawat jaga
" Oh..."
" tidak apa-apa, pak..."
" memang sudah tugas kami...."
" permisi..." ucap dua perawat jaga sembari keluar menuju nurse station lagi, sambil menggaruk tengkuk mereka masing-masing yang tidak gatal
*
*
*
*
*
*
*
🍒🍒
__ADS_1