Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
kita lihat besok


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Jika di dalam ruangan rawat inap Lolita dipenuhi suara pukulan ,dan erangan, entah dari mulut siapa yang pasti dari beberapa pria yang terlibat baku hantam demi memuaskan emosi mereka yang sudah tidak bisa mereka rahan, seperti anak kecil yang berkelahi tanpa sebab yang pasti, mempertahankan sudut pandang masing-masing, menyatakan diri sendiri paling benar, bukan untuk memutuskan siapa yang akan menjadi pemenang seperti pada tanding gulat atau pertandingan bergengsi lainnya, hanya melampiaskan emosi dan ego sebagai seorang pria saja.


Padahal di ruangan yang berbeda, Lolita sedang berjuang hidup yang membuat dirinya harus menahan rasa sakit dan kesadarannya, diambang hidup dan mati, suara para petugas medis yang membantu Lolita seperti lantunan melodi, bahkan tepukan ringan dokter di tubuhnya, untuk mempertahankan Lolita dalam kesadaran, apalagi saturasi oksigen dalam tubuh Lolita semakin melemah, mau tidak mau dokter melakukan tindakan medis tanpa pengunaan anastesi yang akan beresiko tinggi terhadap nyawa Lolita. Jika setelah Lolita diberikan tindakan medis sempat tertidur, itu karena reaksi tubuh Lolita yang didera kelelahan luar biasa, dan juga efek dari kekurangan darah, akibat kecelakaan yang tidak sengaja terjadi.


" tu - tu - tuan, ini rumah sakit "


" to- to- tolong bijaklah dalam bersikap "


" banyak pasien yang membutuhkan istirahat "


" mohon jangan membuat kegaduhan " ucap dokter berusaha menenangkan para pria yang bertikai, dengan nada suara yang bergetar karena ketakutan.


Asha di tuntut berfikir cepat, sebelum baku hantam para pria terulang kembali, Asha segera men-dial kontak yang pasti akan membantu Asha mengatasi masalah ini dengan segera, kemudian Asha menarik lengan dokter untuk keluar dari ruangan dengan di dampingi satu bodyguard Theo, segera pergi menuju emergency room. Sepanjang koridor rumah sakit, Lolita masih menghubungi kontak yang pasti akan menguntungkan dirinya dalam situasi ini, Salah satu Harun, apalagi Asha mengetahui kedatangan Harun setelah bercengkerama dengan Lolita kemarin sore,


" malam, Dad " ucap Asha membuka percakapan


" iya, nak "


" kenapa kamu menelepon Daddy ? "


" apa terjadi sesuatu kepada Lolly " ucap Harun dengan khawatir


" Hm "


" Daddy, saat ini sudah berada dimana ? " ucap Asha tanpa menjawab pertanyaan dari Harun


" Oh "


" kami masih dalam perjalanan menuju rumah sakit " ucap Harun, masih penasaran


" seberapa dekat ,Dad ? " ucap Asha berusaha menormalkan nada suaranya, tentu saja membuat Harun bertanya kepada pak sopir yang saat ini mengantarkan mereka berdua menuju rumah sakit tempat dimana Lolita dirawat inap


" mungkin, kurang lebih 12 menit lagi " ucap Harun


" Ok "


" Asha akan menunggu kalian di lobby rumah sakit " ucap Asha


" baik " ucap Harun


" pak, boleh saya minta anda untuk mempercepat laju kendaraan "


" aku merasakan terjadi sesuatu pada anakku " ucap Harun dengan nada khawatir


" baik, pak " ucap pak sopir, yang langsung menancapkan gas, hingga membuat spidometer naik dari kecepatan semula


" ada apa, sayang ? " ucap Amelia dengan penasaran


" entah lah "


" aku tidak tahu "


" Asha menanyakan posisi kita "


" dari cara dia bicara aku merasa dia menyembunyikan sesuatu " ucap Harun dengan cemas


" istighfar, sayang " ucap Amelia dengan nada suara yang lembut. Kecepatan laju kendaraan yang ditingkatkan oleh pak sopir, membuat Harun dan Amelia datang lebih cepat dari prediksi sebelumnya, Harun dan Amelia tidak menunda- nunda waktu, mereka segera melesat meninggalkan pak sopir setelah memberikan uang sesuai dengan arga yang tertera, bahkan memberikan tips sebagai upah yang berhasil memangkas waktu tempuh perjalanan.


" Dad " ucap Asha langsung mengajak Harun dan Amelia mengikuti langkah cepat nya,


" apa yang terjadi dengan Lolly ? " ucap Harun sepanjang mereka melangkahkan kaki secara cepat di koridor


" Lolly "


" Lolly kritis, Dad " ucap Asha dengan deraian air mata yang sudah jatuh tanpa henti, ketika sudah sampai di depan emergency room


" Masya Allah "


Astagfirullah Allazim "


" Laillahaillallah " ucap Harun dan isterinya dengan mengatupkan kedua tangannya ke wajah mereka masing-masing


Asha menceritakan kronologis kejadian yang dibuat dengan tertata rapi, seperti sebuah proposal, dengan berbohong demi kebaikan semua orang, berharap Lolita segera berhasil diselamatkan, Asha akan melakukan pengakuan dosa, dan menyamakan cerita versi mereka berdua, agar Harun dan Amelia tidak menghakimi Asha dan lainnya.


Seorang perawat menyerahkan blangko persetujuan tindakan medis untuk segera di tandatangani oleh Harun sebagai pihak keluarga yang sah di mata hukum, tentu saja mau tidak mau Harun harus menandatangani, dan memasrahkan hidup anaknya di ruang operasi, berharap Lolita berhasil diselamatkan terlepas dari apa yang menimpa Lolita, mereka bertiga terdiam dan termenung, hanyut dalam pemikiran masing-masing, bahkan Amelia beberapa kali mengelus-elus lengan suaminya , memberikan ketenangan bagi suaminya, Amelia tahu bagaimana perasaan Harun yang cemas dengan hidup anak yang berjuang di dalam ruangan yang berada di depannya


Di tempat yang sama, di dalam ruangan berbeda, jika dokter bergelut dengan alat-alat medis di emergency room, maka seorang pria yang baru datang bergelut dengan alat- alat khas miliknya, tidak melukai, namun cukup menyakiti para kaum pria yang bertindak anarkis di ruang rawat Lolita. Semua pria tanpa terkecuali diamankan oleh Adam, untuk yang terluka, Adam sudah meminta perawat dadakan yang didatangkan secara khusus oleh Adam segera membantu semua orang tanpa terkecuali untuk merawat siapa saja yang terluka


" terima kasih, uncle " ucap Asha


sambil mencium punggung telapak tangan Adam dengan takzim


" Loh "


" kamu ada disini, Adam " ucap Harun


" iya, bang " ucap Adam


" Hm "


" bukannya kamu ada di negara K " ucap Harun


" Oh "


" baru saja tiba, bang "


" dan mendengarkan kabar dari Asha jika Lolly di rawat disini "


" mampir sebentar "


" dan mohon maaf ,bang "


" aku izin pulang terlebih dahulu, masih ada yang harus aku kerjakan " ucap Adam dengan sopan


" Ok "


" hati-hati di jalan "


" mohon. doanya agar Lolly bisa selamat dan sehat " ucap Harun dengan sendu

__ADS_1


" pasti ,bang "


" kabari keadaan Lolly jika sudah selesai operasi "


" permisi, bang " ucap Adam dengan sopan


sebelum keluar dari ruangan tunggu operasi


tanpa menoleh, Adam berlalu pergi,karena dia saat ini Adam,masih harus melaksanakan tugas penting yang harus dijalankannya Namun sebelum pergi , Adam sudah memperingatkan ketiga pria tampan yang membuat keributan di dini hari itu dengan ancaman yang tidak main-main, Asha bisa bernafas lega, karena ke-tiga pria tampan itu hanya mengangguk patuh atas ucapan yang baru saja Adam katakan.


Harun tidak memperhatikan orang lain, karena dirinya hanya sibuk memikirkan kondisi anak gadisnya yang sedang berjuang untuk hidup di meja operasi. Bagaimana pun kokohnya Harun yang menanti lampu indikator operasi padam di depan emergency room tentu sangat lah tidak mudah bagi seorang ayah, Amelia yang melihat kesedihan, dan kecemasan Harun berusaha menghibur Harun dengan mengajak Harun bersalawat dan beristighfar , yang bukan hanya berdoa untuk keselamatan Lolita, tapi juga menenangkan hati Harun dan Amelia secara tidak langsung.


" Bee " ucap Asha mendekati suami nya, melihat wajah suami nya yang sudah ada plester melengkapi wajah tampan Theo


Di saat bersamaan, Evan mendekati posisi Harun dan Amelia yang duduk di kursi pengunjung di depan emergency room


" Daddy "


" Mami " ucap Evan sambil sujud dan mencium dengan takzim punggung tangan Harun dan Amelia secara bergantian


" Oh "


" kamu sedang berada disini, Van "


" kapan kamu tiba ? " ucap Harun


" iya "


" kemarin pagi, Dad " ucap Evan, saat Harun menoleh ke samping kanannya


" Loh, ternyata ada Bobby juga disini " ucap Harun dengan polosnya, karena dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di sini sebelum kedatangan nya di kota ini, sesaat yang lalu bukannya Bobby tidak mau langsung mendekati Harun ,hanya saja posisi Evan lebih dahulu mendekati Harun dan Amelia, mereka baru saja terlibat perkelahian sengit ,tidak mungkin bagi mereka semua untuk duduk damai bersama, namun dengan adanya Harun mengubah stigma di otak mereka. Bobby langsung mendekati Harun dan Amelia setelah Harun melihat dan menyapa dirinya


" Daddy "


" mami " ucap Bobby sambil sujud dan mencium dengan takzim punggung tangan Harun dan Amelia secara bergantian, bahkan Theo mengikuti apa yang dilakukan oleh Evan dan Bobby ,


" Eh "


" kenapa dengan wajah kalian ? " ucap Amelia, membuat semua orang tanpa terkecuali terdiam mematung, membuat suasana semakin hening, tanpa seorang pun yang berani menjawab pertanyaan dari Amelia.


" Hm "


" mereka semua selesai latihan kick boxing, Mom "


" sebelum mereka sampai kesini " ucap Asha memecahkan kecanggungan yang baru saja terjadi. Harun dengan kondisi tidak fokus menatap mereka semua secara bergantian, tanpa mampu berfikir apa-apa selain anaknya, namun gerakan mata Harun seperti gerakan slow motion, membuat Evan, Bobby, dan Theo bagaikan dikuliti melalui manik mata Harun, padahal Amelia yang masih penasaran bukannya Harun


" apa kabar Hamid, Van ? " ucap Amelia


" Daddy baik "


" Mom " ucap Evan


" Oh "


" dimana Rio dititipkan ? " ucap Amelia, membuat Harun menoleh kearah isterinya, bahkan Harun melupakan cucu kesayangannya


" Rio ada di rumah Buya, Dad "


Harun hanya mengangguk- anggukan kepala nya masih tidak fokus dengan keadaan di sekitar, walaupun sebenarnya Harun binggung kenapa malam ini Lolita harus berada di ruang operasi, padahal Lolita sudah sempat videocall sebelumnya. Harun melihat tidak ada yang janggal dari anak nya, namun kenapa pada saat dia tiba di rumah sakit , anak gadisnya malah berada di dalam ruang operasi. Entahlah, Harun belum bisa banyak bertanya dengan orang - orang yang menyaksikan secara langsung kejadian di ruko. Helaan nafas Harun yang terdengar berat membuat Amelia segera mengelus - elus punggung suaminya, mencoba memberikan kekuatan kepada sang suami agar mampu melewati masa-masa ini yang tentunya berat bagi keluarga mereka. Mereka berdua sama- sama beristighfar terus menerus dalam hati mereka masing-masing, berharap Allah memberikan terbaik untuk Lolita


.


.


.


.


..


Lampu indikator operasi padam,


Sebagai pertanda bahwa sudah tuntas kerja tim medis menyelamatkan Lolita, entah berhasil dengan selamat, atau berhasil melakukan hal yang terbaik seperti yang selalu seorang dokter katakan ketika tidak berhasil menyelamatkan nyawa pasiennya . Harun segera berdiri menghampiri dokter yang mengenakan pakaian bedah, diikuti oleh pengunjung lainnya


" dokter "


" bagaimana kondisi anak saya ? " ucap Harun dengan terburu-buru, dan raut wajah yang begitu cemas dan lelah


" puji tuhan "


" operasi berjalan lancar tuan " ucap dokter nampak mengembangkan senyuman di wajahnya ,agar bapak pasien lebih tenang, walaupun sesaat melirik ke arah Theo


" Alhamdulillah " ucap Harun dan Amelia secara bersamaan , sedangkan Theo memberi kode kepada sang dokter agar tidak memberikan penjelasan lebih detail terkait tindakan medis malam ini yang dilakukan secara urgent.


" terus, dokter " ucap Harun dengan penasaran, membuat seorang dokter mencoba menjawab dengan tenang agar pihak keluarga tidak terlalu tegang dan khawatir


" untuk saat ini "


" kita masih harus menunggu pasien tersadar terlebih dahulu "


" besok hari "


" kemungkinan kita harus melakukan pemeriksaan lagi "


" melakukan pemeriksaan radiologi, untuk memastikan bahwa tidak ada retakan atau apa saja pada bagian dalam tubuh pasien "


" Rontgen,atau CT-SCAN atau MRI "


" tergantung kebutuhan , yang mana yang akan dipakai untuk melihat beberapa kemungkinan-kemungkinan yang terjadi " ucap dokter


" kemungkinan apa, dok ? " ucap Harun dengan raut wajah yang sangat serius


" kita lihat besok, pagi saja pak "


" untuk malam ini "


" alangkah baiknya bapak, dan pihak keluarga yang lainnya segera beristirahat "


" jika pasien sudah tersadar, pasti akan kami kembalikan ke ruangan rawatnya lagi "


" Puji Tuhan "

__ADS_1


" pasien sudah melewati fase kritis, itu points penting nya "


" permisi ,pak " ucap dokter kepada Harun dan Amelia dengan sopan, sedangkan Theo kembali memberi kode kepada dokter untuk tidak beranjak pergi, sang dokter memberi kilatan emosi kepada Theo di melalui manik mata nya


" Ki "


" tolong kamu antar Daddy dan Mami ke ruangan Lolita " ucap Asha yang membaca situasi saat ini, tanpa menunggu lama, seorang bodyguard Theo yang merasa dipanggil namanya segera menuntun Harun dan Amelia untuk mengikuti langkah kaki nya


Sepeninggal kedua orang tua Lolita, kini dokter James ahli bedah, nampak sangat begitu murka terhadap ketiga pria tampan di hadapannya ,terlihat dari wajah tampan James yang memerah, begitu juga dengan manik matanya, selain itu terdengar dari nada suara nya begitu penuh penekanan


" kalian tahu ! "


" Lolly meregang nyawa karena kalian "


" kondisinya begitu buruk, dan kami hampir tidak bisa menyelamatkan Lolly " ucap James , membuat semua orang tanpa terkecuali terdiam, sehingga suasana begitu hening, hanya terdengar suara James yang penuh penekanan saja.


" kami bahkan tidak bisa melakukan operasi "


" karena kondisi Lolly yang sempat tidak sadarkan diri "


" kami hanya bisa menangani pendarahan luka robek pada kepala, dan telapak tangannya Lolly "


" pembuluh darah vena Lolly robek "


" dan itu membutuhkan penanganan segera "


" tetapi untuk operasi besar, kita tunggu besok, itupun melihat kondisi Lolita, dan seberapa parah kerusakan bagian dalam " ucap James, penjelasan James membuat Asha menangis di dalam dekapan Theo


'' James "


" aku mohon "


" upayakan keselamatan Lolly "


" berikan semua terbaik untuk Lolly, kerahkan semua kemampuan terbaik kamu , James "


" please " ucap Theo dengan memelas, membuat James melakukan inhale exhale,dan memalingkan wajah nya kearah lain


" kita lihat saja besok "


" aku akan melihat hasil dari pemeriksaan radiologi "


" kalau memang hasilnya buruk, mau tidak mau kita menunggu kondisi Lolly membaik, baru bisa kita lakukan operasi besar "


namun jika hasilnya baik, tentu saja Lolly hanya akan tetap dalam fase perawatan di rumah sakit, dan dilanjutkan dengan fase pemulihan di rumah pasca trauma fisik " ucap James


" berdoa saja ,semoga tidak terjadi patah tulang tengkorak dan lainnya "


" trauma kapitis yang terjadi pada Lolly malam ini termasuk lumayan berat "


" karena membuat Lolly sampai tidak sadarkan diri , dan mengalami muntah "


" artinya Lolly mengalami gegar otak


" Oh iya "


" lebih baik kalian semua segera pulang "


" biar saja AKU yang menjaga Lolly " ucap James tegas dan penuh penekanan, membuat


semua orang terdiam


" Honey, kamu pulang lah " ucap Theo kepada Asha dengan lembut


" Lolly " ucap Asha menangis di dekapan Theo


" pulang lah , Honey "


" kamu bujuk dan ajak lah daddy Harun dan mami Amelia pulang ke mansion kita "


" kasihan mereka berdua sudah cukup umur , untuk menjaga Lolly nanti biar aku yang akan menjaganya " ucap Theo dengan lembut


" kita juga harus memikirkan Rava dan Ravi , Honey" ucap Theo membuat Asha mengangguk-anggukan kepala dan segera pergi ke ruangan Lolita


" James, kumohon " ucap Theo menghentikan langkah kakinya James dengan mencengkeram lengan atas James, walau dengan tampang kesal James menghentikan langkahnya


" James, malam ini biar aku saja yang akan menjaga Lolly "


" aku berjanji, tidak akan terulang lagi "


" promise " ucap Theo dengan memelas dan serius, membuat James menghelakan nafasnya dengan berat


" ini rumah sakit, tolong hormati itu "


" tidak ada kata untuk terjadi kedua kalinya "


" terjadi sedikit saja keributan "


" aku sendiri yang akan mengusir kalian,dan mengatakan kondisi sesungguhnya kepada Daddy-nya Lolly " ucap James dengan tegas, kemudian James langsung meninggalkan mereka di depan ruang tunggu emergency room


" kalian dengar apa yang dikatakan James "


" kalian berdua pulang lah "


" aku yang akan menjaga Lolly disini " ucap Theo yang langsung segera duduk kembali , karena Theo sangat kelelahan malam ini, dan sangat mengantuk, Theo malas untuk berdebat kembali dengan dua pria yang menyebalkan bagi Theo.


*


*


*


*


*


*


*


🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2