Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
ketemu lagi


__ADS_3

🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


Sedari pagi, Lolita sudah sibuk menerima pesan chat dan membalas pesan chat tersebut, bahkan telepon dari customer , beberapa pelanggan dari nada bicara sedikit kecewa, karena sang owner tidak berada di tempat, berkali- kali Lolita mengucapkan permintaan maaf melalui sambungan telepon. Lolita mengatakan kepada pelanggan nya meskipun tidak dilayani oleh dirinya akan tetap sama saja, bila di bahas dengan Siska, karena Siska adalah orang yang Lolita tunjuk untuk membantu Lolita dalam menghandle pekerjaan yang tidak bisa di lakukan saat ini,


Lolita masih nampak menimbang pemikiran yang ada di dalam pikirannya kenapa para customer nya merasa kurang nyaman berbicara dengan Siska, orang yang dipercayakan oleh Lolita dalam menerima pelanggan. Setelah menyadari apa yang salah, kenapa customer nya sedikit tidak nyaman dengan Siska, Lolita tertawa, karena Lolita melupakan jika Siska sangat miskin senyum, wajah cantiknya sangat dingin, dan Siska juga tidak banyak omong seperti karyawan nya yang lain , berbeda dengan Mona, dan lainnya, namun kenapa memilih Siska dan bukan yang lainnya, Siska cukup pintar dalam memenuhi permintaan pelanggan dan mengerti bagaimana memberikan service kepada pelanggan walaupun kekurangan nya satu itu, sedangkan karyawan Lolita yang lainnya sudah diberikan tugas masing-masing, yang tersisa hanyalah Mona, oleh karena itu Mona diminta Lolita untuk mendampingi Siska. jika Mona yang diberikan tugas mengantikan Siska itu sangat tidak mungkin karena Mona memiliki kekurangan dalam banyak hal, Mona cukup ceroboh dan teledor jika berurusan dengan tanggung jawab, langkah yang tepat untuk berhubungan dengan para pelanggan diberikan kepada Siska dan Mona agar mereka berdua bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Lolita ingin segera pulang ke ruko, namun hal itu tentu saja mendapatkan larangan dari Evan dan Bobby, karena kegiatan tukang dalam merenovasi pasti berisik, menimbulkan suara gaduh yang akan menganggu pola tidur Lolita, sedangkan Lolita terkadang masih tiba-tiba tertidur setelah selesai minum obatnya


Weekend,..


Hari yang di tunggu- tunggu, mereka sekarang berada di Salah satu Mall terkenal di kota J , kedatangan mereka di Mall, itu menarik pengunjung lain, mereka datang di dalam barisan yang dilindungi oleh barikade bodyguard yang diperintahkan oleh Theo, karena Theo harus memastikan keamanan isteri dan anaknya.


Mereka berjalan menuju lantai paling atas gedung mall tempat dimana mereka akan menikmati film yang sudah menjadi newseller atau pun trendseller saat ini, mereka berjalan secara beriringan, bagaikan gerombolan artis yang hendak melakukan jumpa pers, atau sedang berjalan di red carpet, wajah tampan nan mempesona dan cantik yang rupawan membius para pengunjung lainnya meskipun mereka berada di Mall yang terkenal untuk kaum menengah ke atas saja , mereka terus saja berjalan menuju ke tempat tujuan dengan body guard yang berada di setiap sisi tubuh mereka.


anak-anak berjalan bersama, dengan bodyguard mereka masing-masing , begitupun juga dengan Theo dan Asha, mereka bagaikan pasangan artis terkenal dengan pengawalan ketat dari bodyguard, sedangkan untuk iringan terakhir Lolita di dampingi dua laki-laki tampan, dengan tinggi tubuh hanya beda berapa centi saja, untuk wajah,aura ketampanan Evan dan Bobby begitu menggoda kaum hawa, dengan kharisma masing-masing. Para asisten mereka, baik Theo, Evan, maupun Bobby terpaksa harus ikut, mengikuti boss mereka, atas perintah mutlak tak terbantah,


Tanpa mereka sadari, jangankan para pengunjung lainnya, para pegawai Lolita dibuat kagum dengan cara berjalan, pakaian yang terkesan good looking , yang lebih parahnya lagi sikap Bobby dan Evan yang dengan posesif melindungi Lolita di sisi kanan dan kiri, di bantu Jhon mendorong kursi roda Lolita membuat jiwa Jones para karyawan Lolita meronta-ronta, termasuk Ami, Rena, Tina dan Maria


" Mommy " teriak Mona yang baru tiba, namun karena Mona tipe orang yang ceroboh, Mona tanpa sengaja menginjak tali sepatunya sendiri yang terikat tidak terlalu baik ,membuat Mona terjatuh dengan cantik di lantai Mall, masalahnya, wajah Mona penuh dengan bekas noda ice cream yang di beli nya tadi, sebelum bertemu rombongan Lolita


Lolita menepuk jidatnya sendiri, akan kelakuan karyawannya satu ini


" ayo, cepat bangun, Mona "


" bersihkan wajah kamu di toilet,dik " ucap Lolita yang berada dihadapan Mona


" hiks...hiks......"


" Mommy " gerutu Mona dengan wajah jeleknya


membuat Lolita tersenyum melihat tingkah lucu Mona, Mona seperti adiknya sendiri, begitu pula dengan rekan kerja Mona yang lainnya


" ayo, bangun, dik " ucap Lolita dengan lembut, sambil mengulurkan tangannya


" tapi Mom "


" baju Mona...." ucap Mona, sambil Mona melihat kearah baju nya, yang sudah rusak terkena ice-cream,dan kini malah membuat noda di pakaian yang dia kenakan


" mas "


" abang "


" biarkan Lolly menemani Mona ke toilet, terus mencarikan baju untuk Mona "


" abang sama mas, ikuti anak- anak saja terlebih dahulu "


" siapa tahu mereka rewel "


" mau beli ini, beli itu, atau mau beli apa "


" tidak enak dengan Asha dan abang Theo " ucap Lolita dengan lembut, sambil menatap kearah Bobby dan Evan secara bergantian


" kan ada teman Mona yang lain, sayang "


" Siska " ucap Bobby menatap Siska


" baik, tuan " ucap Siska dengan segera


" tidak apa-apa, bang "


" aku yang mau membantu Mona, lagi pula aku mau ke toilet " ucap Lolita


" kalian , ikuti nyonya " perintah Evan pada bodyguard nya


" iih "


" tidak usah deh ,mas "


" sudah ada siska, dan Maria yang menemani Lolly dan Mona "


" tidak enak "


" di lihatin orang, tuh " ucap Lolita sedikit menunduk, karena sedari tadi Lolita tidak suka dengan perlakuan seperti ini, akan tetapi dia tidak bisa menolak, karena mengajak Asha, resiko nya harus begini nih, tapi masalahnya, Bobby dan Evan ikut- ikutan pamer kekuasaan,


mentang- mentang yang punya Mall, perlakuan yang terlalu berlebihan sangat tidak di sukai oleh Lolita.


Evan hendak melayangkan protes, namun Bobby memberikan Evan kode untuk menghentikan aksinya, dan menuruti permintaan Lolita, jika tidak, Lolita pasti memilih untuk pulang, atau apa saja sesuai maunya. Entah kenapa sejak pasca perceraian di masa lampau, membuat Lolita sedikit lebih berani menunjukkan sisi nya yang lain, yang lebih ingin menjadi diri sendiri, tidak suka di paksa, Lolita lebih suka mengikuti nalurinya, lebih ingin mengeksplorasi diri sendiri, mengenal Lolita kurang lebih tiga tahun lebih membuat Bobby paham apa yang Lolita mau, atau tidak, hanya dengan melihat dari rona wajah Lolita, seperti saat ini, ekspresi wajah Lolita menunjukkan bahwa Lolita merasa tidak nyaman.


Bobby menatap Siska, dan Siska mengerti maksud dari tatapan sang majikan, dia pun menganggukan kepalanya dengan patuh


" lebih baik kita segera menyusul ,anak- anak " ucap Bobby dengan cool, membuat Evan tidak bisa berkutik ada yang lebih dingin sikapnya daripada dirinya, sehingga mau tidak mau Evan menuruti kemauan dari mantan isteri. Akan tetapi entah kenapa perasaan Evan saat ini, sangat kesal, entah kenapa, perasaannya mengatakan bahwa dirinya jangan sampai Lolita luput dari pengawasan nya,


Evan memang memiliki intuisi cukup peka terhadap sesuatu yang buruk,tapi apa itu, dia tidak tahu, maka nya dia sangat enggan menuruti kehendak mantan isteri nya, Evan takut terjadi sesuatu pada mantan isteri nya ,jika Lolita terlepas dari pantauan nya,


dan memang betul, intuisi Evan, sedari jauh, sudah ada dua orang mengamati mereka dari kejauhan.


.

__ADS_1


.


" nyonya, mau ikut ke toilet juga ? " tanya Siska yang berada di belakang kursi roda, karena itu juga alasan Lolita untuk menemani Mona menuju ke toilet


" sepertinya belum sih , Siska"


" terima kasih atas tawarannya "


" atau kamu yang sudah kebelet ?" sahut dan tanya Lolita


" nanti saja , Mommy, kita akan menunggu Mona dan Maria selesai terlebih dahulu " sahut Siska


" sudah "


" tidak usah banyak cingcong deh "


" kakak di kursi roda, tidak akan kemana- mana dalam kondisi begini "


" kemana lagi kakak bisa lari "


" tuntaskan urusan kamu ,dik "


" kakak tunggu disini, tidak akan apa-apa " ucap Lolita bicara informal pada pegawainya


Siska agak ragu, namun dia juga tidak bisa menahannya terlalu lama, hanya sekedar membuang air kecil, mungkin tidak apa- apa meninggalkan Lolita barang sebentar saja , toh tidak akan terlalu lama


Siska segera masuk ke dalam toilet menyelusuri koridor menuju toilet, sedangkan Lolita mematung dengan kursi roda di pinggir dinding koridor toilet


keadaan sepi, moment tepat buat wanita itu mendekat,


......Flash.....


air minuman olahan berukuran jumbo tertumpah di wajah Lolita, menggenangi seluruh tubuhnya,


untung saja air minuman itu tidak panas, hanya hangat saja, meski begitu membuat Lolita kaget, dengan situasi saat ini


kalimat istighfar terucap dari bibir kecilnya, dengan suara bergetar


" Olivia " ucap Lolita


wanita itu yang disapa Lolita dengan Olivia ,hanya tersenyum smirk melihat hasil karyanya yang sudah membuat Lolita berlumuran air minuman yang sengaja dia tumpahkan di tubuh Lolita


" maaf yaah, tidak sengaja " ucapnya dengan angkuh, dengan tatapan tajam, tersirat dari ucapannya jika yang barusan saja terjadi, hal yang disengaja nya


" tidak tahu diri "


" peringatan terakhir dari gue "


" kamu harus menjauhi CALON SUAMI GUE ! "


" ngerti enggak Elo ! " ucap Olivia dengan lantang, Olivia berjalan anggun nan sombong meninggalkan Lolita yang sudah basah kuyup akibat tumpahan air minuman olahan berukuran jumbo,


seorang anak ABG kategori remaja, namun diatas usia Rio, dibawah usia Boy, mendekat ke arah Lolita, setelah Olivia meninggalkan Lolita dengan kondisi seperti itu


" Tante, tidak apa-apa " tanya remaja itu


namun Lolita tertunduk malu, dengan kondisinya saat ini


" ini..." ucap anak itu kembali mengajak Lolita bicara, sambil menyodorkan sapu tangannya kepada Lolita


" terima kasih, sayang " ucap Lolita lirih, sambil mengelap wajah nya yang sudah lengket akibat air minuman olahan yang sengaja dilempar diwajahnya


" Oh "


" Tante Lolly "


" Hm "


" Lolita, kan, nama Tante " tanya anak itu lagi


Lolita mengangkat kepala nya, melihat sosok di hadapannya, sambil mencoba mengingat, siapa anak ini...


" Hm "


" Darren, bukan yah " tanya Lolita,


" iya , Tante " sahut Darren


" masyaallah "


" ketemu lagi kita, yah nak "


" tambah tinggi dan tampah tampan kamu yah Darren " ucap Lolita membelai lengan Darren dengan penuh sayang


" Hm "

__ADS_1


" Tante "


" kenapa Tante diam saja "


" Tante bisa saja membalas perlakuan wanita tadi " tanya Darren, membuat Lolita tersenyum lembut, Lolita membelai pipi Darren yang duduk berjongkok


" nak, kejahatan tidak mesti harus dibalas kejahatan "


" akan datang masa , dimana orang itu akan mendapatkan teguran, bisa jadi dari orang lain allah akan menegurnya, bisa jadi hal- hal kecil yang tanpa dia sadari itu adalah hidayah yang datang padanya "


" kita tidak perlu mengotori tangan kita dengan perbuatan yang sama seperti orang itu, karena hanya akan menambah dosa kita saja " ucap Lolita dengan seutas senyum membingkai wajah cantik Lolita,sedangkan Darren menatap lekat manik mata Lolita, tatapan mata yang begitu dia rindukan, sosok seorang ibu..


" Mommy " ucap Darren tanpa sadar, membuat Lolita sempat kaget ,sesaat kemudian Lolita tersenyum sumringah


" boleh "


" panggil Mommy juga boleh, nak " ucap Lolita


tanpa Lolita sadari jika ucapan yang baru saja dia ucapkan, memberikan harapan kepada anak remaja itu, bahkan setelah pertemuan mereka beberapa tahun lalu, selalu lekat di ingatan Darren sosok seorang ibu di perlakuan Lolita terhadap Rio dan dirinya di pertemuan singkat namun berkesan di relung hati Darren, bahkan Darren sedikit menyesal kenapa pada saat itu, dia tidak meminta nomor ponsel Lolita, sekedar basa-basi dan bertemu jika dia berkunjung di negara ini. tanpa mereka berdua duga hari ini, ketidaksengajaan pertemuan mereka, Darren tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia segera meminta nomor ponsel Lolita


" nyonya ! " teriak Siska dengan wajah pias,


" apaan sih "


" kamu bikin kaget saja "


" aku stroke, tanggung jawab, kamu " ucap Mona, yang mengomel tanpa rem


" mommy !" teriak Mona, setelah melihat kondisi Lolita


....shuuuuuuuttttt....


" kalian berdua berisik banget sih "


" kalian bantuin kakak , mandi, dan ganti baju saja daripada berisik " ucap Lolita tidak mengubris ekspresi dua pegawainya


" tidak usah banyak tanya " ucap Lolita,


" kalau begitu biar aku yang akan mencarikan baju, dan perlengkapan lainnya buat mommy "


" kamu cepat bantuin , mommy saja, Mona "


" cepat kita cari toilet yang ada kamar mandi nya "


" cepat "


" sebelum kita bertiga di pecat tuan Bobby " ucap Siska berbisik di telinga Mona dan terdengar juga oleh Maria yang membuat raut wajah mereka bertiga nampak tegang dan kaku


tubuh Mona mendadak mematung dengan wajah pias


" pe....pe...pecat...." ucapnya dengan gagap, setelah kesadarannya penuh


" disana "


" aku yang akan membawa mommy kesana "


" itu ruang khusus pegawai, biar aku saja yang menghandle "


" kamu susul kami kesana " ucap Mona dengan gemetar


mereka harus bergerak cepat sebelum Bobby , dan siapapun mengetahui kondisi Lolita saat ini, jika tidak, bukan hanya pekerjaan yang menjadi taruhannya, bahkan nyawa mereka di pertaruhan di sini.


entah kenapa Darren sedari tadi mengikuti langkah Lolita , Maria dan Mona,


Mona tidak peduli dengan keadaan di sekitar nya, yang di tahu dia harus segera mengurus Lolita,


ternyata, Darren memerintahkan bodyguard yang mendampinginya untuk berjaga di sekitar ruangan, mereka tidak terlalu ketara, karena mereka semua memakai pakaian casual, bila di awasi dengan jelas, mereka terhubung melalui earphone, disalah satu lubang telinga mereka


mereka butuh waktu, mulai dari Lolita membuka pakaian, mandi, memakai pakaian lagi, belum lagi menganti arm sling baru, dan ankle shoe, mengeringkan rambut Lolita, dan memperbaiki riasan..


*


*


*


*


*


*


*


🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2