
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Tingkah Evan yang memberikan reaksi bahwa dia saat ini tidak nyaman dengan pernyataan Lolita pada kalimat terakhir, membuat Evan sedang tidak baik-baik saja
" mas..." ucap Lolita, bahkan Lolita berinisiatif memberikan Evan kecupan di bibir Evan
" mas...." ucap Lolita lagi sambil melakukan hal yang sama
" mas..."
" Lolly takut mas begini..."
" kita membahas ini, agar mas bisa merasa lebih baik..."
" bukan untuk mas menjadi terluka..." ucap Lolita sambil melakukan hal yang sama seperti dua kali ucapan sebelumnya, dan kali ini memeluk tubuh Evan...
Evan terdiam, butuh waktu bagi nya untuk memahami apa yang ingin Lolita sampaikan kepada nya
Evan memeluk tubuh kecil Lolita...
" maaf..." ucap Evan singkat
" maaf untuk apa,mas..."
" hentikan ucapan itu..."
" bukan hanya mas yang bersalah, Lolly juga bersalah..."
" hentikan ucapan itu,..."
" hentikan,mas..." ucapan Lolita sambil menangis dengan terisak-isak di dalam dekapan Evan
mereka berdua berakhir dengan tangisan yang sangat memilukan, bahkan Hamid dan Jhon ikut menitikkan airmata, sungguh kisah mereka sangat menyedihkan, wajib diangkat menjadi sebuah kisah dalam tulisan, seperti saat ini yang author lakukan, yang memang pada kenyataan ini adalah sebuah kisah nyata,yang author angkat, namun dibuat semenarik mungkin agar dapat dinikmati oleh pembaca π..tapi bukan kisah hidup author yahπ
saling mencintai namun tidak mungkin bisa bersama, karena atas kuasa Allah semua atas kuasa Nya, manusia hanyalah menjalankan takdir yang terlukis di lauhul mahfuzh... Allahualalam bisawaf...
setelah membutuhkan waktu untuk mereka mencerna keadaan
Lolita malah tertidur di dalam dekapan Evan, karena sedari semalam Lolita lelah memikirkan segala hal, baik buruk nya, apapun itu, sampai kepalanya terasa penuh, belum lagi waktu bertemu dengan dokter di sesi konsultasi tadi membuat beban batin di hati Lolita, banyak perasaan yang dia jaga, banyak hati yang harus dia lindungi,
entahlah kepalanya sangat berat, belum lagi berbincang dengan Evan , dia membutuhkan otak untuk berpikir keras, mencari kalimat yang tepat agar menjaga perasaan Evan tanpa menyakiti perasaan Evan dengan kenyataan yang harus mereka hadapi, Lolita sungguh lelah, tubuhnya tidak mampu menerima semua, Lolita tertidur dengan lelap di dalam dekapan sang mantan suami nya
Evan mendengar dengkuran halus dari Lolita menatap wajah cantik Lolita, membelai wajah Lolita dengan sangat lembut agar Lolita tidak terbangun,
Lolita dan Evan berbaring bersisian, bahkan Evan memeluk tubuh Lolita dengan hangat,di hadapan tuan Hamid dan Jhon,dan Evan pun tertidur dengan sendirinya
mereka bagaikan menonton film layar lebar secara langsung, atau menonton televisi tanpa mengganti channel televisi...
" Jhon..." ucap tuan Hamid
" iya, tuan besar..." sahut Jhon dengan sangat sopan
" saya harus menjaga isteri saya.."
" titip mereka berdua..."
" awasi Evan..."
" saya takut dia melakukan kesalahan..."
" mereka begitu...." ucap Hamid dengan sopan, dan Hamid tidak mampu meneruskan kalimatnya, karena yah orang dewasa pasti mengerti maksud tuan Hamid
" saya mengerti, tuan..."
" tuan Evan tanggung jawab saya..."
" begitupun dengan nyonya Lolita ..." sahut Jhon dengan sangat sopan dan serius
" baik..."
" saya permisi..." ucap Hamid sambil mengucapkan kalimat salam khas muslim diakhir kalimat nya
sebenarnya Jhon sudah mulai mengantuk, dia mulai menekan-nekan pangkal hidung agar menghilangkan rasa kantuknya,namun masih sulit untuk di lawannya, dia tertidur pula dengan posisi duduk sambil memangku laptop yang masih setia menyala,
perawat jaga yang sudah berkali-kali mengetuk pintu tidak mendapatkan respon dari keluarga pasien yang menjaga pasien, memilih untuk meninggalkan ruangan, dan memilih untuk kembali ke nurse station
" bagaimana,...." ucap perawat B
__ADS_1
" tidak di buka pintu,nya..."
" tidak enak lah, masuk tanpa permisi..." ucap perawat A
" memang nya kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu..." ucap perawat C
" sudah ,sih..."
" tidak ada sahutan dari dalam..."
" mana berani aku masuk..." ucap perawat A
" masalahnya, ini paket, banyak banget..."
" mau diapakan...."
" kalau disini, nanti diambil pasien lain,kita yang pasti kena getahnya..." ucap perawat C
membuat perawat A,B,C,D,E,F menghela nafas secara bersamaan
" kenapa , suster...."
" wah..."
" banyak betul, kantong nya.." ucap pasien inventaris, istilah untuk pasien yang dipekerjakan oleh rumah sakit, karena saat dia pulang, keluarga dan para tetangga menolak kedatangan nya, dengan alasan inilah, anu lah, padahal pasien sudah mampu berinteraksi, bahkan bekerja seperti manusia pada umumnya, hanya saja mereka masih terus melakukan terapi obat secara rutin dan berkala,
" Hush...."
" jangan di ganggu pak Trisna.."
" punya orang, kalau punya suster, pasti kami kasih bapak..." ucap perawat D
" Oh...." ucap pasien inventaris dengan ber-Oh ria
" dua laki-laki tampan di depan,siapa, suster.." ucap pasien inventaris lagi, sambil menunjuk kearah dua bodyguard yang duduk di kursi pengunjung
" nah, itu dia...." ucap perawat B, mendekati dua bodyguard Evan
"permisi,mas..." ucap perawat B dengan ramah
" iya..." sahut salah satu bodyguard Evan
" tadi saya sudah ketuk pintu, tidak ada sahutan dari dalam...."
" tolong di bawa kedalam,pak.."
" takut nya nanti di ambil pasien lain yang tidak mantap di ruangan nya...."
" nama nya juga pasien kebutuhan khusus, kita tidak mungkin menyalahkan mereka atas kecerobohan kita..."
" mohon dibantu dipindahkan ke ruangan nya, pak...." pinta perawat B dengan sopan
kedua bodyguard Evan saling melirik, mencoba menjawab, sebenarnya mereka juga tidak berani, tapi mau bagaimana lagi, daripada mendapatkan Omelan Jhon, mereka lebih baik masuk ke dalam saja....
"nanti, kita telepon terlebih dahulu tuan Jhon.."
" itu lebih baik..."
" aku tidak berani,bro..."
" kalau kamu berani, masuk saja, aku mengekori kamu..." ucap bodyguard 1 ke bodyguard 2,
dan bodyguard 2, menganggukan kepalanya, kemudian mengelengkan kepalanya, dia pun tidak berani dengan Jhon yang terkenal di seantero bodyguard dibawah kepemimpinan Evan,siapa yang tidak mengenal Jhon..
Jhon merasakan getaran di saku jas yang dia kenakan, dengan malas, dia mengangkat handphone nya, dan mengiyakan saja ucapan dari lawan bicara nya
tak berselang lama, pintu kamar rawat inap Evan terbuka,
banyak sekali kantong belanjaan yang dipesan oleh Lolita, untuk menu makan siang,,
suara berisik membangunkan tidur Lolita, namun Lolita sulit bergerak karena Evan malah mengeratkan pelukannya di pinggang Lolita
" mas.."
" bangun dulu..."
" waktu nya kamu makan siang,..."
__ADS_1
" oh iya, sholat dulu,gih.." ucap Lolita lembut, Evan dengan langkah gontai menuju kamar mandi,
" tunggu..." ucap Lolita, sambil menuju botol air minum, karena ruangan tidak disediakan dispenser
" minum terlebih dahulu..." pinta Lolita
" terimakasih, Love..." ucap Evan sambil menyunggingkan senyuman di wajah tampannya, Evan minum satu botol air mineral ukuran sedang, dan segera ke kamar mandi menuntaskan hajat kecilnya
" bang..."
" tolong yang ini beri untuk perawat jaga,.."
" dan yang ini untuk kita..." ucap Lolita seperti biasa, ramah dan sopan kepada siapapun
" Lolly..."
" berapa hari lagi , Evan di sini..." tanya Jhon tanpa sungkan
" belum pasti, bang..."
" kata dokter paling lama dua minggu..."
" tergantung kondisi mas Evan nya, gimana..." ucap Lolita sedikit galau, karena harus berpisah dengan anak-anaknya yang harus kembali beraktivitas setelah liburan mereka..
bahkan Rio dan Boy harus berangkat pulang ke J*** , dua hari lagi, tanpa didampingi Lolita, cas sudah pasti, tapi bagaimana, dia saja terkurung disini demi kesembuhan mantan suami nya
"kamu......." ucap Jhon terhenti,kala pintu kamar mandi terbuka
" kamu pesan apa saja, Lolly..." tanya Jhon mengalihkan arah pembicaraan
" Oh..."
" menu makan siang..."
" terus mas Evan tadi kan mau rujak cingur..."
" abang mau.."
" tadi Lolly pesan lebih juga..." ucap Lolita kepada Jhon, tahu bahwa obrolan mereka harus berganti arus,
" Oh iya ..."
" P, dan W.."
" kalian suka rujak cingur..."
" aku pesan lebih juga, untuk kalian..." ucap Lolita masih dengan gaya bahasa Lolita yang seperti biasa, hangat pada siapapun
" terimakasih, nyonya..." ucap kedua bodyguard Evan secara bersamaan
" jangan sungkan..."
" kan belanja nya pake uang tuan kalian.." ucap Lolita sedikit bergurau
Evan yang mendengar nya tertawa akan gurauan mantan isteri nya, Evan mendekati Lolita dan memeluk tubuh Lolita dari belakang, meletakan kepala nya di ceruk leher Lolita, jangan tanya Lolita dia sedikit sulit dengan kondisi ini, namun dia meneguhkan hati nya bahwa ini hanya sementara sampai Evan mulai sadar akan kondisi yang sebenarnya
" mas...."
" sudah, ih..."
" malu di lihat banyak orang...." ucap Lolita pelan, namun masih terdengar oleh penghuni kamar, karena suasana memang hening
" baik..." ucap Evan mencium puncak kepala Lolita, yang memang tubuh Lolita kecil,tidak lebih dari 155cm, yang sangat berbeda dari tinggi tubuh Evan, Lolita butuh mengangkat kepalanya jika menatap Evan, seperti nya nasib tidak beruntung bagi nya, yang memiliki tinggi badan yang tidak cukup tinggi, mungkin dia ambil dari gen sang Alm. Mommy, yang sama kecil darinya
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
ππ