
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Salah satu perawat yang sedang kerja pada shift siang itu, segera bergegas menuju ruang khusus isolasi untuk pasien baru, dengan kategori atau indikasi gawat atau darurat, sedangkan rekan perawat lainnya, segera melaporkan kepada dokter jaga, jika saat ini terjadi insiden di ruang isolasi tersebut, tentu saja,dokter beserta tuan Hamid dan tuan Harun segera ikut langkah dokter ke ruangan yang di tuju,
terlihat Evan berusaha membuka ikatan tali fixir yang membelenggu dirinya di ranjang khusus pasien dengan kondisi tersebut,
" dokter, bagaimana..." tanya salah satu perawat jaga
" lakukan pengecekan vital sign, sekarang..."
ucap dokter dengan tegas
" pak..."
" bapak..."
" siapa nama bapak..." tanya dokter berharap pasien menjawab pertanyaan yang baru saja dia ajukan, tapi Evan malah bersikap semakin agresif, dengan gumaman di bibirnya
dokter melihat tingkah pola Evan saat ini, harus segera mengambil tindakan medis, berupa penatalaksanaan cepat agitasi, yaitu segera melakukan rapid sedation atau rapid transquilization
" maaf..."
" bapak nya pasien yang mana.." tanya dokter D,
" saya,..." ucap tuan Hamid tegas
" Hm.."
" maaf , bapak sebelumnya..."
" tadi saya mencoba sesi wawancara dengan pasien ..."
" pada tahap ini, kondisi pasien menurut saya butuh obat antipsiko**** atip***..."
" yang akan kami masukan melalui suntikan..."
" fungsi nya untuk pasien lebih tenang,..."
" bagaimana, bapak.."
" jika bapak menyetujui nya, maka akan segera kami proses..." ucap dokter D
" obat untuk apa itu, dokter...." tanya Harun
" obat jenis ini, saya gunakan untuk pasien agar lebih tenang, ..."
" yah efek sampingnya dia akan tertidur, ..."
" agar dia bisa sedikit bisa mengendalikan lonjakan perasaan yang timbul karena perasaan negatif yang dia pikirkan..."
" mungkin setelah beberapa hari dirawat..."
" kami akan lanjutkan dengan psikoterapi, jika keluarga meminta nya..."
" untuk terapi obat yang akan kami berikan, sesuai dengan kebutuhan saja pak, jika pasien sudah sadar kondisi nya, sudah bisa menerima apa yang dia alami, dan bisa lebih komunikatif..."
" kami akan mencoba observasi pak Evan, dengan melanjutkan yang saya katakan tadi psikoterapi..."
" bagaimana, pak..." ucap dokter D sedikit lebih memperjelas sesi konsultasi nya
" kalau bisa jangan di beri obat- obat yang ini, dokter..."
" kalau masih bisa di apa tadi dokter.." ucap Harun
" psikoterapi, pak..." sahut dokter
" nah iya itu, lakukan itu saja dokter, ..."
" kami takut ada kenapa-kenapa dengan anak kami..." ucap Harun mewakili Hamid yang diam tidak berdaya, karena otaknya cukup sulit mencerna keadaan saat ini
" akan kami coba itu, sesuai permintaan keluarga..."
" kita lihat dulu, pak..."
" kalau ternyata bapak Evan masih membutuhkan obat , .."
" akan kami lanjutkan terapi nya, jika tidak sesuai seperti tadi yah, pak..."
" dan nanti akan saya laporkan dengan dokter spesialis yang akan menangani bapak Evan..."
" selanjutnya nanti pihak keluarga akan berkonsultasi dengan beliau.." ucap dokter D
__ADS_1
" siapa dokter yang pegang anak saya, dokter..." tanya Harun
" Oh..."
" dr.L, Spkj...." sahut dokter D
" baik, terimakasih, dokter..." ucap Harun
sedangkan Hamid saat ini hanya menyugarkan rambut nya, Hamid sangat tidak menyangka jika nasib putera bungsunya akan berakhir di rumah sakit khusus ini, sungguh ironis bagi dirinya,
Harun menepuk pundak Hamid
" Har, kuatkan diri kamu..."
" istighfar...."
" semoga saja ini belum terlambat...." ucap Harun
" benar, pak..."
" semakin cepat pasien mendapatkan penanganan medis, ..."
" inshaallah akan semakin cepat pemulihan pasien..." ucap dokter dengan hati-hati
" baik, dokter..."
" lakukan sesuai prosedur...." ucap Hamid dengan suara yang bergetar, menahan tangisnya
" Astagfirullah Allazim..." ucap Hamid yang hampir saja terjatuh ke dinginnya lantai rumah sakit, jika Harun tidak memegangi tubuh Hamid sudah pasti Hamid akan tersungkur di lantai,
" Jhon..." ucap Harun
sedangkan Jhon memberi kode kepada anak buahnya untuk membantu Harun membopong tubuh Hamid ke tempat lebih nyaman
Jhon bukan tidak mau membantu Harun ataupun Hamid , prioritas nya adalah Evan, bahkan Jhon harus meninggalkan J**, demi Evan, karena Diki yang menjadi asisten Evan di kota S*** harus mengurus beberapa meeting penting yang harus ditinggalkan Evan beberapa hari ini, karena kedatangan Lolita dan anak-anak nya
Jhon tidak menyangka ,jika kedatangan nya di kota S*** harus menyaksikan kondisi sahabat sekaligus atasannya harus dalam keadaan seperti ini, siapa yang harus disalahkan, ingin menyalahkan Lolita sang mantan isteri, sangat tidak adil, karena semua sudah berakhir pada masanya, menyalahkan Evan juga, tidak bisa dibenarkan, karena manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, tidak ada yang salah jika berusaha memperbaiki nya, namun apalah daya semua sudah serumit ini, andai saja Evan bisa ikhlas, tidak akan terjadi hal seperti ini
tapi mau menyalahkan hati, juga tidak bisa, perasaan itu tidak terlihat dan tidak juga terbaca, seperti banyak pepatah,.." dalamnya laut, dalamnya samudera masih dapat diukur, namun dalamnya hati seseorang tidak akan ada yang mampu mengukur nya..."
seperti rasa cinta Evan, terpampang nyata di depan mata, tapi apa yang harus dilakukan saat ini, adalah memberi Evan terapi, itu yang terbaik, daripada disembunyikan akan memperparah keadaan psikis Evan saja, apalagi dokter menyarankan agar Evan mendapatkan perawatan dulu di rumah sakit, agar dokter bisa menilai tingkat penyakit nya Evan
dokter masih meyakinkan keluarga pasien agar Evan di rawat inap, bukan soal rawat inap atau tidaknya yang membuat Hamid belum memutuskan keputusan nya, namun memikirkan bagaimana reaksi anak-anak nya yang lain, tentu saja jika ke rumah sakit ini, indikasinya g*** itu saja, apalagi sudah terdaftar sebagai pasien disini, akan menyebabkan karier dan lain nya ikut terseret kedalam nya, itu
" dokter..."
" kami izin sholat dulu sebelum mengambil keputusan..."
" ini keputusan sulit bagi pihak keluarga.." ucap Harun mewakili Hamid
" Oh,.."
" silahkan..."
" kalau begitu saya izin isoman juga, pak..."
" nanti jika bapak sudah memberikan keputusan..."
" kabari perawat jaga yang sekarang berada di nurse station..." ucap dokter D
" iya...dokter.."
" permisi.." ucap Harun kepada dokter, sembari mengajak Hamid berdiri dan berjalan menuju mushola yang ada tersedia di rumah sakit
tangis kesedihan tumpah ruah di atas sajadah Hamid, dan Harun memandang nya dengan rasa iba, mereka memerlukan waktu tiga puluh menit, bukan karena sholat nya yang lama, karena zikir mereka yang lumayan banyak, agar Allah memberikan ketenangan batin di hati mereka saat ini
Hamid telah memutuskan bahwa anaknya akan dia rawat inap kan, agar Evan bisa menerima kondisi nya dengan baik, semoga saja akan ada perubahan ke arah yang lebih baik, doa sang ayah di dalam setiap sujud nya
Hamid memilih kamar super VVIP di rumah sakit tersebut,
dokter binggung akan permintaan keluarga, karena rumah sakit hanya menyediakan kamar VIP saja, tidak ada embel-embel super, atau suite, V nya double pun tidak ada
perawat juga menjelaskan bahwa kamar VIP rumah sakit ini berbeda dengan rumah sakit dengan lainnya, bukan karena tidak mau melengkapi fasilitas yang ada seperti rumah sakit biasa, hanya jika sampai seperti ruang rawat inap rumah sakit biasa, di takutkan, pasien akan melakukan tindakan menciderai dirinya sendiri, apalagi kasus pada Evan, cukup beresiko jika fasilitas terpenuhi seperti fasilitas VIP di rumah sakit biasa
bahkan lubang colokan untuk men charger handphone ada di nurse station, agar meminimalisir resiko
Hamid terpaksa harus menyetujui nya,dari pada apa yang dikhawatirkan pihak rumah sakit terjadi, dan keluarga merasa dirugikan, lebih baik mengikuti prosedur rumah sakit, itu pilihan terbaik saat ini
" Daddy..."
" maafkan Lolly..."
__ADS_1
" maaf, ..." ucap Lolita yang mengambil punggung telapak tangan Hamid bahkan Lolita sudah bersimpuh di hadapan Hamid.
Lolita menangis dengan terisak-isak, membuat Hamid pun turut menangis , mereka larut dalam kesedihan, bahkan Jhon ikut menitikkan airmata nya, bola matanya memerah
" sudah ,nak...."
" bangkit lah...." ucap Hamid dengan suara parau khas orang menangis
Lolita memeluk tubuh Hamid
" Dad..."
" maafkan , Lolly..." ucap Lolita memeluk tubuh mantan mertua nya, Lolita sudah sangat sayang pada mantan mertuanya, seperti sosok ayah baginya, begitupun Hamid
" keluarga pasien..." ucap perawat C
" biar saya yang mengurus administrasi nya, tuan..." ucap Jhon, sembari berjalan mendekati perawat yang sedang duduk di nurse station
" kamu pulang lah, nak.." ucap Hamid
" tidak, Dad..."
" biar Lolly yang jaga Evan..."
" Lolly sudah menganggap mas Evan seperti kakak laki-laki Lolly..."
" percaya lah pada Lolly, Dad...."
" Lolly akan menjaga mas Evan dengan sepenuh hati..." ucap Lolita dengan sedikit mengiba agar sang mantan mertua menyetujui permintaan nya
Hamid masih tampak menimbang,
" kalau Daddy tidak ada di samping Mommy,.."
" Mommy semakin gelisah..."
" lebih baik, Daddy jagain mommy."
" apalagi disini banyak fasilitas tidak terpenuhi, Lolly kasihan dengan Daddy...." pinta Lolita masih dengan cara yang sama
" tubuh mungil kamu tidak akan bisa menandingi kekuatan Evan, nak..." ucap Hamid
" apalagi tubuh, Daddy..." ucap Lolita tidak mau kalah
" saya yang akan ikut menjaga tuan Evan, tuan besar...." ucap Jhon yang sudah berdiri di dekat mereka
" benar itu, Ham...."
" isteri kamu juga saat ini membutuhkan kamu di sisinya..." ucap Harun ,ikut mendukung permintaan anak perempuan nya
" tapi kami merepotkan kamu, nak..." ucap Hamid merasa tidak enak....
" bukan masalah, Dad..."
" Daddy dan keluarga, masih tetap Lolly anggap keluarga sendiri..."
" Lolly tidak merasa keberatan, .."
" ku mohon, Dad,..."
" pulanglah, mas Evan disini biar menjadi tanggung jawab Lolly..."
" dan ada abang Jhon yang ikut menemani Lolly disini..." ucap Lolita meyakinkan Hamid
dan pada akhirnya Hamid mengiyakan permintaan dari mantan menantu nya
*
*
*
*
*
*
*
🍒🍒
__ADS_1