Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
kembali ke kisah Evan


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Kepulangan Valerie dan suami nya ke tanah air, lebih tepatnya tanah air bagi mantan isteri anaknya, bukan tanpa tujuan, sang mantan besan meminta mereka untuk melakukan kunjungan ke negara +62 lantaran sudah lama tidak bertemu dengan cucu nya, lantaran Darren ikut bersama ayahnya, tidak mau tinggal berama dengan eyang kangkung dan eyang putri nya, lantaran karena sesuatu dan lain hal


sedangkan Darren sudah lama tidak berkunjung ke makam Mommy yang telah meninggalkan sejak tangisan pertama nya di salah satu rumah sakit,


Mereka telah tiba di kota S*** setelah menempuh kurang lebih satu jam tiga puluh menit ,waktu yang relatif lebih pendek dari jarak tempuh penerbangan yang biasa mereka lalui jika pulang ke negara asalnya,


Valerie dan suaminya mengalami jetlag sebelumnya, makanya mereka memilih satu Minggu untuk beristirahat di kota J*** sebelum melanjutkan perjalanan ke kota S***, maka nya Darren sempat berjalan ke Mall, tempat biasa dia menghabiskan waktu jika berada di kota J***,


Rianti, dan suami nya, menanti kedatangan cucu satu-satunya yang masih hidup, dari anak tunggal yang mereka miliki, rasa bahagia menutupi rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi tubuh renta mereka, menanti kedatangan cucu tersayang, penerus keturunan mereka


Valerie sudah ada sopir dan pengurus mansion utama mereka yang ada di kota S, yang akan dengan sigap menjemput kedatangan mereka, namun Rianti sangat antusias menyambut cucu, dan mantan besan, mereka seakan-akan tidak mengubris permintaan Valerie, agar mereka menunggu kedatangan mereka di mansion milik keluarga Richard, kakek buyutnya Valerie


wajah tampan Darren sudah begitu membius mata beberapa orang yang melihat baik sengaja ataupun tidak, saat melihat wajah tampan Darren, tentu menuai pujian, sementara Rianti dan suami nya tidak begitu melihat wajah tampan Darren ,mereka hanya melihat Valerie dan Thomas yang datang mendekati mereka,


mereka berjabat tangan , bahkan Thomas menarik tubuh mantan besannya, dan merangkul Ahmad sambil menepuk-nepuk bahu Ahmad


" How are you...." ucap Thomas dengan ramah


" baik, bagaimana kamu...." sahut Ahmad


" just like you..." sahut Thomas


" Thomas..."


" kamu tahu, kami tidak bisa bahasa Inggris...."


" sangat sulit bagi kami mengerti bahasa yang kamu pergunakan...."


" bisa pakai bahasa Indonesia....."


" masih bisa? atau tidak...." tanya dan pinta Ahmad secara bersamaan


" of course..."


" if it's messy... forgive me..." ucap Thomas


yang mendapatkan anggukan kepala dari Ahmad


" rindu sekali kepada kamu, Rianti..." ucap Valerie


" Oh,.."


" sama, apa kabar kamu..." sahut Rianti


" baik, Alhamdulillah..." ucap Valerie


" subhanallah..."


" kamu muslim, sekarang ?..." tanya Rianti dengan wajah kaget


" iya..."


" kami muslim saat ini, sudah dua tahun terakhir, kami mengucapkan kalimat dua syahadat di negara kami..." ucap Valerie


" masyaallah...."


" Alhamdulillah..." ucap Rianti dengan wajah bahagia


" bagaimana dengan Darren...." tanya Rianti dengan hati-hati


" Hm..."


" maaf..."


" kami tidak memaksa Darren untuk memilih..."


" dia sudah mempelajari banyak hal tentang agama yang di anut nya, sesuai dengan ajaran islam, .."


" di surat menyurat dan lainnya, Darren seorang muslim..."


" namun Darren masih belum mau menjalankan nya, dan kami tidak mau memaksakan agama pada dia,..."


" terserah Darren mau apa..."


" suatu saat dia pasti mengerti dan memilih yang terbaik seperti kami ."


" doa kan saja, semoga Allah SWT memberikan hidayah ada cucu kita,....." ucap Valerie dengan sedikit bijak


" iya...." sahut Rianti lemah


" Aaminn...." sahut mereka bersama - sama


wajar saja, Darren masih mencari urusan spiritual nya, sang ayah waktu menikah dengan sang ibu memang telah mengubah agama yang dianut sebelumnya, namun tidak dengan kedua orang tuanya, di saat kelahiran Darren, ditinggalkan oleh sang ibu, dan di asuh Valerie yang notabene agamanya masih seorang Kristiani, sang ayah yang sering berada di luar negeri, sibuk mengurus urusan kantor,dan perusahaan, Darren di asuh oleh grandfather dan grandmother nya, sedari kecil mengikuti mereka dalam kegiatan keagamaan yang mereka anut, doa - doa dan lainnya, yang ikut dia pelajari

__ADS_1


hanya saat berada bersama sang ayah, Darren harus ikut yang diminta oleh sang ayah, untuk mengaji, dan melaksanakan perintah yang diajarkan oleh Rasulullah, namun disaat sang ayah tidak ada dia kembali ke ajaran agama yang dianut grandfather dan grandmother


kurangnya perhatian, membuatnya lebih banyak waktu bersama Valerie dan Thompson, namun karena perjalanan spiritual, membuat kedua nya memilih menjadi seorang muslim, namun tidak dengan Darren, dia belum menentukan meskipun di kartu identitas nya muslim, banyak hal yang diperintahkan boleh agama tidak di kerjakan, Darren masih dalam tahap krisis keagamaan, masih mencari dalam dirinya , langkah apa yang akan dia pilih


sang ayah tidak terlalu memikirkan hal itu, toh dia juga seorang mualaf setelah pencarian dalam perjalanan spiritual nya sendiri, dia yakin suatu saat Darren akan memilih agama yang tepat yang akan dia anut, dan akan dia taati dengan segenap hati nya


Darren mendengarkan percakapan yang terjadi pada mereka berempat tanpa maksud mencela,


" Eh..."


" Darren, tidak ikut ke sini , Valerie..." tanya Rianti


" ikut dong..."


" Darren sini, kenapa hanya mematung disana..."


" sini, nak...." pinta Valerie


manik mata Rianti menatap wajah tampan Darren dengan mata berkaca-kaca, tak satupun yang mengingatkan nya bahwa bocah remaja ini adalah cucu nya, karena tidak ada satupun tertinggal di Darren, Darren malah bagai pinang dibelah dua dengan sosok ayah kandungnya


" maaf..."


" tidak ada saham Alm.Riana pada Darren..." ucap Valerie, yang melihat kearah mantan besannya , yang tersirat kesedihan


" tidak apa-apa..."


" asal Darren mengakui kami adalah bagian dari hidupnya, itu sudah lebih dari cukup..." sahut Rianti dengan nada bergetar


Darren datang mendekati para orang tua, memeluk dan memberi kecupan di dahi Rianti, dan Rianti memeluk tubuh cucunya cukup lama, begitupun Ahmad, di memeluk tubuh cucu nya


" wah..."


" sekarang lebih tinggi dari eyang..." ucap Ahmad, yang mendapat gelak tawa dari semua orang


" ayo..."


" menginap lah di mansion kami, Thomas..."


" sebelum kalian menginap di mansion kalian..." pinta Ahmad


* Hm..."


" kami ikut saja, terserah maunya Darren..." ucap Thomas dengan cengkok barat yang masih sangat kental


" yah, ayo..." sahut Darren singkat


.


.


.


.


..


...


.....


.........


............


Kembali ke kisah Evan,


Setelah sarapan pagi, saat Evan segera beranjak untuk berangkat kerja, sang Mommy meminta Evan melakukan pertemuan dengan seorang wanita, pada jam makan siang nya hari ini


wajah Evan yang penuh semangat, langsung terjun bebas, dan itu terlihat sangat jelas akan perubahan mimik wajah Evan


" Mom..."


" Evan tidak mau..." ucap Evan tegas


" tidak ada penolakan Evan..."


" tunaikan perintah Mommy..." ucap Zubaidah dengan wajah serius


" Mommy, jangan paksa Evan..." ucap Evan menatap manik mata sang Mommy


" Mommy tidak memaksa..."


" Mommy meminta.." ucap Zubaidah


Evan menarik nafasnya dengan kasar,

__ADS_1


" Evan berangkat kerja..."


" assalamualaikum..." ucap Evan tanpa pamit dengan benar seperti biasa


" Evan...!!!!!......"


" Evan....!!!!!...." teriak Zubaidah dengan nada marah, yang terlihat dari rona wajah nya yang sudah memerah


" Mommy...."


" hentikan..." ucap Hamid


" Dad...!!!..." teriak Zubaidah , lupa jika di telah bersikap buruk pada suaminya


" Mommy..!!!...." ucap Hamid menatap manik mata isterinya, dengan tajam, tersirat di tidak ingin ada bantahan lagi..


setelah Zubaidah menoleh kesamping, ternyata ada Rio yang terdiam mematung, menyaksikan pertengkaran yang terjadi antara Daddy dan oma nya


melihat Rio, wajah Zubaidah berubah pias,


sedangkan Hamid sudah mengajak Rio pergi dari ruangan itu menuju ruangan lain, berusaha menenangkan jiwa sang cucu


di perusahaan, tepatnya di ruang kerja nya, Evan menghempaskan beberapa lembar dokumen secara kasar


....Tok.....Tok.....


suara ketukan, di barengi suara pintu ruangan terbuka,


" permisi tuan...." ucap Diki


" iya.."


" ada apa , Diki...." ucap Evan dengan mengurut dahi nya, yang terasa berat


" ada kiriman dokumen..."


" dari J**"...."


" Jhon yang mengirimkan nya, Tuan...." ucap Diki


Diki langsung menyerahkan dokumen yang baru saja dia dapatkan, Evan segera membuka dokumen kiriman Diki....


Wajah Evan yang kesal, berubah dengan cepat, dokumen yang dikirimkan oleh Jhon adalah sertifikat kepemilikan mansion, dan sertifikat kepemilikan apartemen yang telah dia pilih, ...


" terima kasih, Diki..." ucap Evan menyunggingkan senyuman di wajah tampannya


" Hm..."


" tuan,..."


" nyonya Zubaidah, menghubungi saya..."


" untuk mengingatkan tuan, jam makan siang, anda akan melakukan pertemuan dengan wanita di restoran ****, jalan****, ..." ucap Diki dengan hati-hati


" aku tidak sudi!!!!!....."


" ingat itu..."


" aku akan makan ditempat biasa aku dan Lolly makan siang...." ucap Evan dengan penuh penekanan


" baik, tuan...." ucap Diki dengan wajah datar, tanpa terintimidasi oleh ucapan Evan, karena dia sudah sangat hafal tabiat Evan, yang tidak suka diatur atur tentang perasaan nya


" tunggu...."


" kalau Mommy bertanya pada kamu lagi...."


" katakan....."


" aku tidak akan pernah mau dengan dengan wanita manapun, titik..." ucap Evan masih dengan nada sama dan raut wajah yang sama


" baik, tuan .." sahut Diki, membuka dan menutup pintu ruangan dengan sangat hati - hati.


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


πŸ’πŸ’


__ADS_2