
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Perjalanan pulang ke rumah sangat di nantikan oleh Evan, bukan ke rumah miliknya, atau pun apartemen miliknya, akan tetapi rumah sang ayah, karena akan sangat tidak baik jika Evan ditinggal untuk hidup sendiri, masih sangat beresiko jika tetap sesuai maunya Evan,
kenapa Evan menyetujui hal itu, tentu saja dengan bujuk rayuan pulau kelapa milik Lolita yang mampu membuat Evan bertekuk lutut di hadapan wanita yang mampu membuat hatinya gonjang-ganjing, bahkan hampir mencelakakan dirinya sendiri, yang menunjukkan betapa rapuhnya dia tanpa Lolita disisinya
" Jhon..."
" mampir dulu ke restoran apa ,gitu..."
" aku lapar..." ucap Evan dengan semangat, karena saat ini Lolita berada duduk di samping sisi sebelah kirinya, , dan Evan terus menggenggam telapak tangan Lolita, begitu posesifnya, hingga telapak tangan Lolita sampai berkeringat sangking lama nya dan eratnya genggaman tangan dari Evan
" mas, kendor" kan sedikit, kenapa..." ucap Lolita dengan lembut
" kenapa, Love...." ucap Evan dengan menatap sayang ke arah Lolita
" bukan kenapa- kenapa...."
" lihat nih...." ucap Lolita masih dengan sopan dan lembut, karena telapak tangan Lolita sudah mulai basah karena air keringat
" tidak ada apa- apa...." ucap Evan yang tidak menyadari kesalahannya
" ini basah, mas..."
" basah karena keringat..."
" lepaskan dahulu yah...." pinta Lolita yang sudah mulai tidak nyaman dengan air keringat, dan sudah capek dengan tangan di posisi seperti itu sedari tadi
" iya...iya..."
" cerewet betul nyonya Elvano.." ucap Evan dengan tersenyum
itu dulu, mas...gumam Lolita dalam batinnya...
" baik..." ucap Evan singkat sembari melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Lolita,namun sebelum itu Evan memberikan kecupan pada punggung telapak tangannya Lolita, tentu saja ada keterpaksaan di dalam relung hati Lolita, namun aku mah bisa apa...pasrah...itulah kata yang tepat untuk saat ini
mereka sampai di restoran yang di kehendaki Evan, mereka mulai memilih menu yang akan mereka pilih sesuai dengan selera mereka
Lolita, Evan ,dan Jhon berada dalam satu meja ,sedangkan para bodyguard nya memilih untuk duduk di meja lain, yang masih terjangkau dari sudut pandang mereka
kenapa Lolita meminta untuk berada satu meja dengan Jhon, karena Lolita tidak ingin Bobby salah sangka dengan nya, bagaimana pun Lolita kini menjalani LDR sudah lebih dari dua minggu, walaupun lebih satu atau dua hari tetap saja terhitung dua minggu lebih...
dan Lolita takut ,jika Bobby memata-matai dia, setidaknya Lolita memiliki saksi, bahwa dia membantu Evan, bukan karena CLBK kembali, itu points penting bagi Lolita,
" mas..."
" aku permisi ke toilet yah..." ucap Lolita kepada Evan, takut Evan bersikap impulsif jika tiba-tiba Lolita pergi tanpa sepengetahuan Evan, dan Evan segera menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari permintaan Lolita
" Van....." teriak seorang perempuan dari kejauhan, memindai restoran, ternyata sosok pria yang selama ini dicari oleh nya, ada di pelupuk mata nya saat ini
perempuan itu datang mendekati Evan dengan setengah berlari, senyuman menghiasi wajah nya, tapi tidak untuk Evan,
suara detak di dadanya semakin bergemuruh, pertanda saat ini dia tidak sedang baik-baik saja, bahkan keringat mengalir di dahinya yang
" jangan..."
" jangan mendekat...." ucap Evan tergagap
Jhon melihat kearah manik mata Evan, Jhon menghembuskan nafasnya dengan kasar, wajahnya sudah mengatupkan rahangnya, tatapan matanya yang tajam dan membara, bila dia mampu memancarkan laser atau api di matanya, maka perempuan itu sudah habis terbakar atau terpanggang karena tatapan matanya
__ADS_1
perempuan itu tidak peduli dengan ekspresi Jhon, ataupun Evan, dia terus saja melanjutkan langkah kaki nya dengan cepat,
" Van...."
" aku merindukan kamu...." ucap perempuan itu lagi dengan suara mendayu-dayu
" tidak...."
" jangan mendekati aku lagi..."
" tidak Lolly..."
" jangan...." ucap Evan meremas kepalanya dengan kuat,
Jhon mengkode para bodyguard untuk segera pindah ,dan membawa pulang Evan, bukan karena apa... Jhon tidak ingin Evan kembali harus berurusan dengan dokter spesialis itu lagi, cukup satu kali saja Evan dirawat di rumah sakit itu, selanjutnya bisa melalui terapi lain, tanpa mengulangi kejadian awal sampai Evan di rawat inap, Jhon tidak ingin itu terjadi kembali
" Van...."
" kita pulang...." ucap Jhon tegas, sambil merangkul bahu Evan, disini Jhon melihat tubuh dan merasakan tubuh Evan bergetar hebat, pertanda jika saat ini dia terserang panic accident, reaksi tubuh yang ketakutan akan sesuatu terjadi kembali lagi , yang membuat nya kehilangan Lolita dalam hidupnya,
hal ini akan menyebabkan Evan mengalami reaksi berlebihan, dan yah tahu lah sendiri akan berakhir kemana, tentu itu tidak akan mudah lagi bagi mereka, yang telah berhasil membuat Evan merasa nyaman, takut usaha mereka akan sia-sia, Jhon melangkahkan kakinya segera menjauh dari perempuan tidak tahu diri ini, yang berhasil merusak rumah tangga sahabatnya
caci maki, sumpah serapah setia terucap dalam benaknya, jika musuh di hadapan nya saat ini seorang pria, sudah dipastikan akan diselesaikan secara jantan oleh Jhon, namun karena yang dihadapinya saat ini iblis berwujud betina munafik, solusi yang sangat baik saat ini, menghindari nya saja, terbukti selama kurang lebih tiga tahunan ini mereka tidak bertemu, dan walaupun perempuan ini memaksa ingin bertemu tetap saja mereka bisa mengatasi nya...
tapi tidak hari ini, saat ini, di saat kebebasan Evan untuk pertama kalinya keluar dari rumah sakit, Evan malah dikejutkan dengan pertemuan tidak sengaja dengan perempuan ini
Jhon sudah membawa Evan ke area parkir, sedangkan Lolita sudah di hubungi Jhon untuk segera menyusul ke area parkir, Jhon hanya mengatakan jika Evan mendadak sakit, tanpa menjelaskan apa-apa
Lolita mempercepat gerakan kakinya untuk segera sampai ke mobil , jaraknya sudah sedikit lagi sampai ke mobil minibus mewah, bewarna putih,dengan flat mobil yang diyakini itu milik mantan suami nya, kira-kira hanya membutuhkan tujuh langkah kaki saja, lengan bagian atas Lolita di cengkeraman kuat oleh orang
kalimat umpatan keluar dari bibir seorang wanita cantik,namun tak secantik wajahnya Lolita, untuk sesaat Lolita terpekur di posisi nya, mendengar semua ucapan wanita tak berakhlak, berkali-kali Lolita mengumandangkan tasbih,tahmid, dan kalimat istighfar agar meredam emosi yang sudah mulai merasuki dirinya
" tuan ..."
" nyonya....." teriak bodyguard melihat kearah di samping mereka, hal yang tidak mereka sangka akan terjadi, Jhon yang menghawatirkan Evan takut Evan akan kenapa-kenapa, maka nya bodyguard tidak diutus untuk membawa Lolita ke area parkir, yang malah membuat mereka melihat Lolita di siksa oleh wanita yang menyebabkan rumah tangga Evan berakhir,
Evan yang dari tadi sudah lumayan membaik,ikut melihat ke arah jari telunjuk bodyguardnya, betapa terkejutnya dia melihat keadaan Lolita yang sudah kacau, sempat dilerai oleh pengunjung yang hendak masuk kedalam restoran
tentu saja mereka bergegas menyelamatkan Lolita dari amukan wanita itu, Lolita terjatuh,dengan luka lecet di sekujur tubuhnya,
" Evan sudah menjadi milik aku..."
" janda ga***tal,..."
" jangan pernah mengambil milik orang..." ucap wanita itu dengan jumawa ,karena Lolita tidak bisa melukai dirinya sama sekali, apalagi di tonton oleh orang membuat dia harus mempermalukan Lolita di khalayak ramai
" dasar j..a***lang tidak tahu diri..."
" kamu yang tidak tahu malu...."
" sudah merusak rumah tangga orang, masih juga menyakiti orang yang sudah kamu sakiti...." ucap Jhon yang sudah berdiri tegap di hadapan wanita itu
....Hu...... teriak para pemirsa ke arah wanita itu,semua yang tadi menatap Lolita dengan jijik, kini beralih menatap wajah wanita itu dengan jijik, dan mencibir
namun dengan tidak tahu malu, dia memanggil Evan dengan mesra dan manja dihadapan semua orang, sedangkan Evan sibuk memeluk tubuh kecil Lolita yang terjatuh lemah,di lantai area parkir, Evan segera mengendong Lolita ala bridal style,
" diam!!!!!!....."
" tutup mulut kamu, sebelum mulut kamu ..."
__ADS_1
" aku robek tidak bersisa...."
" dia isteri aku, akan selalu menjadi isteri aku..."
" kepa****t, wanita *****,!!!!!...." teriak Evan dengan lantang yang naik beberapa oktaf, wajahnya sudah seperti akan menyembulkan asap, suasana riuh, mendadak hening seketika
Evan berjalan cepat, membopong tubuh Lolita yang sudah penuh luka, menuju mobil mereka, Jhon segera membantu membuka pintu mobil, agar Evan leluasa meletakkan tubuh Lolita di kursi penumpang
" pak ke rumah sakit..." ucap Jhon cepat, belum pak sopir menjawab, Lolita sudah menginterupsi pak sopir untuk membawa Lolita pulang ke rumah Harun, karena tidak mau Harun menunggu lama kepulangan nya,
" kita ke rumah sakit yah, sayang...." pinta Evan dengan khawatir
" tidak apa-apa,mas..."
" hanya segini saja..."
" bisa Lolly obati sendiri,...."
" nanti sampaikan salam untuk Mommy dan Daddy, ..."
" maaf Lolly harus menginap di rumah Daddy Harun...."
" mas harus positif thinking..."
" jangan gegabah, jangan cemas..."
" ingat tidur, makan teratur, dan sholat untuk menenangkan jiwa mas agar lebih tenang,dan nyaman....." ucap Lolita dengan lembut agar Evan menuruti ucapan nya
" aku akan menunggu kamu di rumah Daddy..." pinta Evan
" mas...."
" hargai orang tua kita..."
" maaf, mas..."
" lebih baik mas pulang saja ke mansion Daddy Hamid yah...."
" nanti kita bisa video call...." pinta Lolita dengan nada yang sama
Evan terpaksa menuruti kehendak dari mantan isteri nya, bagi Evan permintaan Lolita adalah titah baginya, dia akan selalu menuruti apapun itu yang dikatakan oleh mantan isterinya
*
*
*
*
*
*
*
*
🍒🍒
__ADS_1