Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
nasib si bubur


__ADS_3

❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️


Di tempat berbeda, lebih tepatnya di mansion Theodore, kehadiran Rio tentu saja sangat diharapkan oleh anak-anak Theo, mereka memiliki hobi yang sama, dan saling melengkapi dalam pertemanan. Kedatangan Rio kemarin sore, tidak terlalu baik kesannya bagi anak-anak Theo, membuat Rava dan Ravi mencoba mencari tahu alasan kenapa Rio merasa begitu sedih, dengan lugas Rio menceritakan kejadian yang baru saja menimpa keluarganya di ruko, membuat Rava dan Ravi ikut tersulut emosi , mengapa sampai itu terjadi, dan dengan alasan apa , tiba-tiba ada orang menyakiti sahabat ibunya. Saat makan malam mereka mempertanyakan tindakan apa yang sudah orang tua mereka lakukan untuk membalas perbuatan orang yang menyakiti Lolita


Namun Asha harus bersikap bijak, menjelaskan kepada anak-anak tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan, semua akan menerima hukum sebab dan akibat, akan ada masa orang yang telah berbuat buruk memetik buah dari perbuatan nya sendiri, ucap Asha dengan diplomatis, dan tentu saja hal itu membuat anak-anak terdiam, dan mencerna ucapan Asha, menimbang apakah ini bisa mereka terima di akal pikiran mereka, termasuk Rio. Rio yakin sang ibu pasti akan mengatakan hal yang sama seperti Asha, namun hal itu masih bertentangan dengan hati kecilnya, masih tersimpan luka dan dendam di hatinya.


Rio merasa sedikit tenang, saat Bobby melakukan panggilan video, yang memperlihatkan kondisi Lolita, secara tidak langsung sedikit mengurangi rasa tidak nyaman nya sejak sore hari ini. Akan tetapi ada yang sedikit mengganjal di hati Rio ,saat wanita itu yang melakukan tindakan kekerasan kepada Lolita menyebutkan jika Lolita seorang janda,


apa itu arti janda, sampai- sampai Rio dengan cepat googling apa maksud dari kata itu, betapa kagetnya Rio mengetahui makna kata tersebut. Apakah ada yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya selama ini, dan itu tidak boleh diketahui oleh Rio, jika benar Lolita single parent, artinya dia tidak akan pernah merasakan lagi kehangatan kasih sayang dalam keluarga yang utuh.Malam hari ini Rio semakin merasakan kian sesak di dalam relung hati nya, merasa sangat lelah, hingga tanpa sadar dia tertidur dengan sendirinya .


Pagi hari di mansion Theodore ,


Pada saatnya sarapan pagi, Rava dan Ravi masih begitu senang,saat melihat kehadiran Rio,berada di mansion mereka, walaupun suasana hati Rio masih sama seperti sebelumnya, bahkan terlihat jelas di raut wajah Rio yang nampak begitu sendu,hingga membuat Rava dan Ravi harus memutar otak untuk menghibur Rio


" Rio "


" kamu mau apa "


" menu sarapan pagi hari ini " ucap Ravi membuka obrolan ringan sebelum memulai sarapan pagi mereka


" apa saja, bang " ucap Rio dengan tidak bersemangat, Rio berusaha tegar,akan masalah yang masih menggelayuti pikirannya saat ini


meskipun sang mommy, subuh tadi sudah melakukan panggilan video ,untuk membangun kan Rio menunaikan kewajibannya, mandi dan lainnya sebelum berangkat ke sekolah, dan sang mommy pun mengatakan bahwa dirinya baik - baik saja,meminta Rio untuk sabar menunggu nya pulang ke ruko,dan untuk sementara ini, Rio harus berada di mansion Theo dan Asha ,sampai Lolita selesai dalam masa perawatan di rumah sakit


" Aunty "


" Rio mau ketemu dengan mommy " ucap Rio sebelum mereka memulai sarapan pagi hari ini


" baik "


" nanti kita kesana "


" tapi Rio janji yah "


" mau sekolah terlebih dahulu yah , Rio kan anak soleh " ucap Asha, dengan bujuk rayuan pulau kelapa, yang berbuah manis, sebuah anggukan kecil dari Rio


Pada sesi sarapan pagi telah selesai, Asha segera mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan suami, anak- anaknya ,dan juga Rio...


" Honey " ucap Theo ,melihat isteri cantik di hadapannya yang sibuk membenahi dasi...


" sayang " ucap Theo lagi dengan lembut, Asha tidak segera menyahuti Theo , membuat Theodore merekatkan pelukan , dan Asha menatap manik mata suami nya,. Tersirat kesedihan di dalam manik mata Asha


" baiklah "


" kali ini saja ini terjadi "


" aku tidak mau Lolly mengalami ini lagi "


" jika terjadi lagi,maka aku lah orang yang akan memisahkan mereka " ucap Theo dengan hati-hati, menahan gejolak perasaan di hati nya


Asha tahu,jika suami nya juga mengalami beban batin, yang satu sahabat nya,dan yang satu nya lagi sahabat isterinya Asha, sedangkan mereka sebagai mak comblang,tentu mengalami turbulensi atas hubungan sahabat baik mereka


Asha membalas pelukan sang suami


" Bee "


" aku berharap mereka segera bersama "


" mereka orang baik "


" semoga Tuhan memberkati jalan cinta mereka " ucap Asha dengan tulus


" semoga tuhan memberkati mereka ,Amin " ucap Theo juga dengan tulus


" mommy "


" Daddy " ucap Rava dan Ravi secara bersamaan, yang naik beberapa oktaf karena orang tua mereka berada di dalam kamar utama


" baik lah mommy "


" baik- baik di rumah, yah "


" jika pergi membesuk Lolita kabari aku yah sayang"


" kami pergi terlebih dulu " ucap Theo memeluk dan memberikan kecupan kepada isterinya


bergantian mereka merangkul dan memberi kecupan kepada Asha baik Rava, Ravi, dan Rio

__ADS_1


.


.


..


..


..


..


..


.


..


..


di kota berbeda di kota S,


Entah kenapa perasaan Evan merasa tidak enak ,dia dilanda kecemasan. Akan tetapi entah apa yang membuatnya merasa tidak nyaman...


" Van "


" kamu dari tadi melamun "


" apa yang kamu pikirkan ,nak ? " ucap Zubaidah dengan penasaran


" entah lah, Mom "


" kenapa hati dan perasaan Evan tidak tenang "


" sejak semalaman " ucap Evan dengan frustasi


" makan lah dengan baik "


" tidak baik menyantap makanan dengan sedih, apalagi sampai melamun "


" pamalik , nak " ucap Zubaidah memberikan saran kepada anak nya Evan. Sedangkan sang daddy Hamid hanya menatap tanpa berkomentar. Evan menuruti saran dari sang mommy tanpa memberikan bantahan seperti biasanya,


yaah bagaimana lagi,nasi sudah menjadi bubur...


apa mau dibuang si bubur...


saat ini, Evan mencoba mengolah nasib bubur menjadi sajian yang layak untuk disantap,dengan menambahkan berbagai lauk,kuah dan sebagainya, menjadikannya bubur yang enak disantap


Ini hanyalah sebuah istilah dari perumpamaan dari suatu menyikapi kegagalan, sedangkan dalam arti sesungguhnya , Evan mulai memperbaiki sikap dan perilaku buruknya,menjadi lebih baik dengan memperbaiki diri,membekali diri dengan ilmu tauhid, bukan menerima ,namun mencoba menerima nasib pernikahan nya yang kandas akibat ulahnya sendiri,..


Ada anak diantara mereka,yang harus dijaga hati nya,walaupun masih belum pernah bertemu dengan sang mantan,komunikasi tetap mereka jalin,apalagi saat menanyakan kabar,atau hal kecil lainnya,seperti kebutuhan Rio yang belum di penuhi Lolita,dan kiriman untuk Rio,yang masih wajib di penuhi oleh Evan


.materi yang didapat Rio ,tidak seperti anak korban divorce lainnya,yang di irit- irit bahkan tidak diberi oleh sang ayah


Rio cukup beruntung,sang daddy melebihi nominal yang ditetapkan hakim untuk kebutuhan Rio. Lolita terkadang memperingatkan Evan ,untuk mengirimkan nafkah kepada Rio sewajarnya saja tiap bulannya,namun Evan seolah buta dan tuli, tidak mengindahkan komplain dari sang mantan. Bukan hanya itu saja,terkadang Evan masih mengirimkan sejumlah uang, dengan digit yang tidak kecil ,selain dari santunan tiap bulan yang Rio dapatkan, dengan alasan untuk jajan Rio ,untuk baju Rio,dan lain sebagainya,alasan yang di buat- buat oleh Evan


Padahal, salah satu alasan lainnya di dalam hati Evan,masih sangat mencintai mantan isteri, sedangkan Evan tidak mempunyai hak lagi untuk memberi nafkah kepada sang mantan ,kebutuhan Rio lah alasan yang masuk akal sebagai tameng maksud tersembunyi Evan. Namun terlalu polosnya Lolita menganggap alasan Evan benar adanya, uang yang sudah sangat berlebihan,berbeda dengan saat statusnya dahulu,membuat Lolita berinisiatif membuka kan Rio tabungan dan deposito,uang hasil daddy Evan dan dirinya,untuk bekal pendidikan Rio. Sesi sarapan pagi di keluarga tuan Hamid selesai Tuan Hamid mulai membaca koran,duduk di teras rumahnya.


Sejak beberapa bulan, dan di tahun kedua pasca perceraiannya , Evan lebih memilih untuk hidup dan tinggal di kediaman orang tua nya. Evan merasa seperti lebih bisa melindungi diri nya sendiri ,dari godaan pergaulan teman- temannya, daripada dia hidup di apartemennya,


saat ini Evan baru saja membeli apartemen baru sebagai hunian nya dan menjual apartemen lama yang memiliki kenangan pahit bagi dirinya , tempat Evan melakukan beberapa tindakan yang tidak baik bersama perempuan, atau sekedar kumpul bersama teman-temannya yang membawa pengaruh negatif baginya.


Di apartemen baru, milik Evan sesekali dia datang dan kunjungi jika Evan pulang kerja terlalu malam , atau ketika saat dia merindukan anak dan isterinya,...ralat mantan isterinya, karena dia terlalu malu untuk memperlihatkan sisi terendah di hadapan kedua orang tuanya. Evan membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, hanya sekedar meluapkan rasa sesal, sedih, yang masih menggerogoti relung hati nya yang paling dalam, menangis, teriak, bahkan meratap kebodohannya, kesalahannya.


Evan berdiri di depan kaca, tanpa dia sadari jika sejak dari tadi Evan bermonolog dengan dirinya sendiri mengingat masa - masa hidup bersama Lolita, apa saja yang dilakukan oleh Lolita, melayani nya dengan telaten, seperti saat ini ketika Evan hendak berangkat kerja, Lolita pasti memasangkan dasi,sekarang dia dengan cekatan memasang sendiri dasi,merapikan jas, memakaikan Evan kaos kaki dan sepatu, bahkan mengantarkan Evan sampai di depan rumah, kemudian menyalami Evan dengan penuh takzim, sambil mengembangkan senyuman manis, sampai mobil tidak terlihat oleh Lolita


" apa yang sedang menjadi lamunan kamu , Van ? " ucap Zubaidah


" Aakh "


" bukan apa- apa , Mom " ucap Evan, menutupi perasaan yang sesungguhnya


" ada yang menganggu pikiran kamu,nak "


" mommy melihat tingkah laku kamu tidak seperti biasanya "


" mommy bisa merasakannya kegelisahan kamu " ucap Zubaidah dengan penasaran

__ADS_1


" entah lah, Mom "


" perasaan Evan tidak tenang "


" Evan tidak tahu apa itu " ucap Evan dengan mengerenyitkan dahi nya


" istighfar dan ber sholawat "


" insyaallah bisa membantu pikiran dan perasaan kamu lebih tenang ,nak " ucap Zubaidah memberikan saran kepada Evan, yang berbuah anggukan kepala dari Evan


Setelah mencium punggung telapak tangan kedua orang tuanya dengan takzim ,kini Evan mengucapkan salam ,dan pamit menuju mobil untuk dia kendarai menuju perusahaannya,yang kini sudah semakin pesat, karena dia sudah mulai fokus menata hidupnya kembali


" Dad " ucap Zubaidah dengan singkat


" Hm " ucap Hamid hanya berdehem saja, yang masih fokus membaca koran,sambil terus membalikan setiap lembaran kertas koran yang sudah Hamid baca


" Mommy bersyukur Evan sekarang lebih baik, "


" namun kenapa tidak dari dulu sebelum mereka bercerai "


" Allah mengetuk hati Evan "


" sehingga tidak perlu seperti ini nasib cucu kesayangan kita, Rio " ucap Zubaidah dengan nelangsa


" istighfar ,Mom "


" astagfirullah Allazim " ucap Hamid


" segala sesuatu sudah kehendak Allah "


" segala sesuatu sudah tertulis di lauhul mahfuzh "


" kita hanya manusia "


" harus belajar menerima dengan ikhlas "


" segala sesuatunya yang sudah ditakdirkan Allah untuk kita jalani "


" dan wajib bagi kita berusaha dan berdoa "


" tapi yang menentukan hidup bahkan mati kita hanya Allah "


" cukup ikhlas dan ridho akan kehendak nya ,titik " ucap Hamid,dengan tegas namun santai, dan Zubaidah melakukan perintah sang suami,untuk istighfar,memohon ampun akan ucapannya yang tidak sengaja terlontar di lidahnya yang tidak bertulang


"Dad "


" bagaimana jika kita menjodohkan Evan dengan anaknya pak Fuadi ? " ucap Zubaidah mencoba membuka obrolan pagi,sembari pak Hamid menyeruput kopi nya


" sudah lah, Mom "


" Evan sudah lebih baik dari sebelumnya saja sudah cukup bagi kita "


" soal jodoh "


" biar Allah yang mempertemukannya "


" tugas kita sebagai orang tua "


" mendoakan yang terbaik untuk anak cucu kita "


" dan merestui jodoh untuk anak kita, dan "


" inshaallah kalau kita yakin,allah pasti memberikan Evan jodoh yang paling baik dari yang terbaik, aamiin " ucap Hamid dengan menyelipkan sepucuk doa untuk anaknya


dalam hati nya, Hamid masih sangat memikirkan nasib anak dan cucu nya . Di usia senja Hamid dan Zubaidah ,masih saja, harus merasakan sakit nya perasaan menahan beban batin yang masih saja menghinggapi mereka , mungkin Allah sengaja memberikan ujian ini,agar hamba Nya selalu mengingat dan selalu berdoa agar di beri kemudahan,kelancaran,dan lainnya. Hanya saja beban yang mereka berdua rasakan saat ini cukup menyita waktu dan pikiran mereka. Hamid hanya berharap semoga saja akan ada hikmah dari setiap ujian yang Allah berikan kepada mereka sekeluarga.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


🍒🍒


__ADS_2