
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Mendengarkan percakapan antara para perawat yang lebih tepatnya menghibahkan seorang pasien yang di rawat inap di rumah sakit ini dua hari yang lalu membuat dokter Liliane merasa excited juga. Dokter Liliane juga mendapatkan cerita tentang pasien ini dari mulut ke mulut para dokter, yang pernah memeriksa secara langsung, bahkan ada seorang dokter yang membocorkan identitas pasien wanita ini ke rekannya Oleh karena mengenal sosok Theo, dipikir mereka cukup sampai disitu kedekatan Lolita dengan keluarga Harrison.
Kedatangan salah seorang anak dari keluarga Linford di negara ini membuat gempar seluruh petinggi rumah sakit, apalagi James memerintahkan semua terbaik bagi Lolita kepada Martin. Melihat kedatangan seorang Martin saja membuat para petinggi rumah sakit, sudah sangat terkejut , memerintahkan para pegawainya melakukan terbaik, apalagi kedatangan langsung salah satu putra keluarga Linford. Kehadiran James di dalam emergency room membuat semua orang semakin penasaran dengan sosok Lolita, termasuk dokter Liliane, ketika para perawat menghibahkan seorang pasien dan itu Lolita, tentu saja membuat dokter Liliane merasa ikut excited, dokter Liliane membalikkan tubuhnya tiba-tiba, membuat seluruh perawat menghentikan langkahnya secara tiba-tiba juga ,
shuuuuuuuttttt.......dokter Liliane memberikan kode jari telunjuknya kearah tengah bibir
kalian ini begitu berisik " ucap dokter Liliane dengan dingin, sontak membuat para perawat semakin terdiam karena merasa bersalah membuat kegaduhan
" maafkan kami , dokter " ucap para perawat merasa bersalah karena membuat keributan di sepanjang koridor ruangan VVIP
" dan "
" kalau kalian mau tahu "
" perempuan itu juga wanita yang spesial bagi Doktor James " ucap dokter Liliane, sambil mengedipkan satu mata nya, seutas senyuman terukir di wajah cantiknya ,dan dokter Liliane segera kembali berjalan meninggalkan perawat yang masih bengong dan melongo, setelah para perawat tersadar mereka langsung teriak histeris, dengan mengatupkan telapak tangan mereka ke mulutnya masing-masing agar tidak terdengar teriakan-teriakan mereka...
" kya "
" dokter Liliane "
" tunggu "
" beri kami penjelasan dokter " ucap para perawat kepada dokter cantik itu, sedangkan dokter Liliane hanya tertawa kecil tanpa menghentikan langkah kakinya.
Harun dan Amelia segera menuju ke rumah sakit setelah menyelesaikan sarapan pagi nya di mansion Asha dan Theo
" Apakah kalian saling mengenal ? " ucap Harun sambil melihat ke arah Evan dan Bobby secara bergantian
" Tidak " ucap Evan
" iya " ucap Bobby, mereka berdua menjawab pertanyaan Harun secara bersamaan dengan nada suara yang sama. mereka berdua saling melirik, dan menghelakan nafasnya dengan berat
" iya " ucap Evan
" tidak " ucap Bobby, mereka berdua menjawab kembali secara bersamaan dengan nada yang sama membuat Harun menatap lebih intens baik ke arah Bobby maupun Evan secara bergantian. Jawaban yang mereka berikan tidak sama ,tentu saja tersirat sebuah kebohongan, walaupun sangat kecil
jangan di tanya bagaimana perasaan Lolita saat ini, Lolita begitu geram dengan kecerobohan Evan dan Bobby yang tidak bisa satu jalur dalam memberikan jawaban membuat kesan ambigu dari jawaban yeng mereka berdua berikan. Di dalam imajinasi Lolita seakan-akan dia memukuli tubuh Bobby dan Evan secara bergantian,dan berteriak dengan sumpah serapah, namun kenyataannya di dunia nyata Lolita harus memberikan jawaban yang tepat dan akurat.
" Daddy "
" jika mereka berdua saling mengenal jawabannya Iya "
" namun mereka berdua Tidak terlalu saling mengenal satu sama lain secara pribadi " ucap Lolita,menjelaskan dengan santun, sehingga Harun dan para penghuni kamar rawat inap Lolita mengangguk- anggukan kepala mereka, sebenarnya Harun masih mencurigai mereka berdua baik Evan maupun Bobby, bukan karena jawaban Lolita tidak tepat, bahkan jawaban Lolita mewakili sudut pandang kedua belah pihak. Sebagai seorang ayah Harun sangat mengenal karakter dan tabiat putri tercinta ,tentu saja jawaban yang diberikan oleh Lolita hanya sebagai tameng dari kejadian sesungguhnya, yang dirahasiakan dari diri nya, itu menurut intuisi Harun sebagai seorang ayah.
" ada apa dengan wajah kalian ? "
" apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian berdua ? " ucap Harun dengan penuh selidik, membuat Bobby dan Evan saling melirik, mereka tidak ingin jawaban mereka kembali berbeda, seperti sebelumnya, yang akan membuat sang calon mertua dan mantan mertua salah paham,dan mengetahui kejadian sesungguhnya, yang pasti akan berdampak buruk bagi mereka berdua, sedangkan buya Yahya yang baru saja memperhatikan wajah keponakan nya, ikut memperhatikan nya dengan seksama
" iya "
" kenapa dengan wajah kamu , Van ? "
" kemarin malam, buya perhatikan belum ada lebam di wajah kamu "
" apa kamu berkelahi dengan seseorang " ucap Buya Yahya kepada Evan dengan penasaran, bahkan buya ikut melihat kearah pria di posisi berseberangan Evan yang sama parahnya
" apakah kalian berdua berkelahi ? " ucap Buya Yahya dengan menatap mereka secara bergantian secara intens, begitu pula dengan para penghuni kamar rawat inap Lol,ita yang lainnya
Degg....
Degg....
Degg...
Degg....
Bahkan gemuruh jantung Evan terdengar oleh dirinya sendiri, begitupun juga dengan Bobby, pacu jantung nya berirama cukup kencang
berbohong atau jujur?...
berbohong jelas saja berdosa, jujur akan berimbas kelangsungan hubungan mereka dengan Lolita
..............Ceklekk........
" selamat pagi "
" pagi menjelang siang " ucap dan sapa Asha masuk ke dalam kamar rawat inap Lolita, berbarengan dengan
petugas bagian gizi rumah sakit,meminta piring ompreng dari rumah sakit yang isinya sudah tandas di makan Lolita, tanpa menunggu lama Boy segera menyerahkan ompreng nya ke petugas bagian gizi, sedangkan Asha beranjak menemui para tetua satu persatu, kemudian menciumi punggung tangan secara takzim kepada seluruh tetua yang baru saja menjenguk Lolita. Untuk sekedar basa basi, Asha membuka obrolan
" kalian berdua sehat, Buya dan Umma ? " ucap Asha dengan sopan
" Alhamdulillah, sehat " ucap Buya dan Umma secara bersamaan
" Hm "ucap Asha hanya berdehem saja, semua terdiam karena tidak mampu mencairkan suasana di dalam ruangan
" Oh iya, Daddy "
" mami "
" Buya dan Umma "
" perkenalkan ini James "
" dokter James "
" dan ini Boy."
" ayo kamu salim dengan semua orang nak " ucap Lolita dengan lembut kepada putranya, tanpa menunggu lama Boy segera melakukan perintah sang Mommy, mulai dari ujung kanan ke ujung kiri
" masyaallah, lelaki tampan dan soleh yah nak " ucap umma sambil mengelus puncak kepala Boy, begitu pula dengan mami sambung Lolita
" anak bujang, genteng tenan Le "
" bagaimana dengan keadaan kamu ? " ucap mami sambung Lolita kepada Boy
" terima kasih , Umma "
" terimakasih , Oma " ucap Boy dengan seutas senyuman sumringah, yah kalimat pujian dari Umma dan Oma membuat perasaan Boy sedikit melambung tinggi
" widih "
" yang mendapatkan pujian dari Umma dan mami "
" senangnya minta ampun "
" apalagi jika pujiannya semakin panjang "
__ADS_1
" bakal bagi - bagi duit nih ke pemirsa " ucap Lolita menggoda anaknya, membuat suasana canggung menjadi hangat
" dokter James "
" dokter semalam yang mengoperasi putri saya kan dokter ? " ucap Harun sambil mengingat-ingat
" iya, pak " ucap Doktor James dengan santun
" Hm "
" bagaimana dengan kondisi anakku ,dokter ? " ucap Harun yang tersirat kekhawatiran, Ketika Doktor James baru hendak menjawab, Lolita langsung memberikan James kode dengan menyentuh lengan atas Doktor James, yang saat ini duduk di bibir kasur pasien sebelah kiri
" tentu baik, dong, Daddy "
" bukti nya Lolly merasa baikan " ucap Lolita dengan seutas senyuman
Melihat Lolita mengucapkan kalimat itu, Doktor James tahu maksud dan tujuan Lolita, tapi di dunia medis harus memberikan informasi
seutuhnya kepada pasien dan keluarga pasien, agar tidak akan ada tuntunan atas kegagalan tindakan medis, walaupun para tenaga medis bekerja dengan hati- hati, resiko terburuk tetap harus dijelaskan secara detail, meminimalisir pertanyaan yang berhubungan dengan keputusan yang di ambil. Namun karena alasan yang baik, James menjelaskan nya dengan pihak keluarga Lolita, dengan sangat baik dan tidak menimbulkan goncangan perasaan yang berarti, dengan kata lain, diperhalus bahasa nya dan makna nya
" Hm "
" mohon maaf sebelumnya "
" mengapa semalam Lolly harus di bawa ke emergency room ? "
" itu dikarenakan pasien mengalami penurunan kesadaran "
" puji Tuhan, nyawa Lolly terselamatkan "
" namun karena ada nya, luka robek pada bagian kepala sebelah kanan bawah "
" maka kami harus melakukan heating atau jahit luka "
" tanpa obat bius karena mengingat kondisi pasien "
" untuk kami melakukan operasi seperti yang saya katakan semalam, itu tergantung hasil pemeriksaan radiologi "
" baik pada otak, bahu ,dan kaki "
" jika tidak ada apa-apa, atau cidera nya dalam kategori ringan ,maka kami tidak akan melakukan proses operasi "
" namun jika hasil pemeriksaan ulang di bagian radiologi terjadi gumpalan pada bagian kepala, dan retak cukup parah pada bagian bahu dan ankle kaki , yah mau tidak mau kita harus melakukan prosedur operasi "
" bapak tidak perlu khawatir, karena saya sendiri yang akan memimpin jalannya operasi Lolly "
ucap Doktor James dengan tegas dan santun
, semua orang mendengarkan Doktor James dengan seksama
" Hm "
" apakah dokter mengenal Lolly ? "
" karena sapaan Lolly hanya keluarga dekat yang menyapa Lolita sapaan itu " ucap Harun dengan penasaran
" Oh "
" itu " ucap Doktor James dengan singkat dan dia mengembangkan senyuman di wajah tampannya
" saya masih keluarga dekat Theodore, suami Asha, pak "
" karena saya ada urusan keluarga, dan mendengar berita tentang Lolly dari Theo " ucap James memilih alasan yang tepat
" dokter...." ucap Harun baru hendak mengulang pertanyaan lagi, namun segera di cegah oleh Amelia
" Daddy "
β bukan dokter "
" akan tetapi Doktor " ucap Amelia berusaha memperbaiki gelar dari James
" memangnya beda, mi ? " ucap Harun dengan penasaran
" yah jelas beda dong , Dad "
" Doktor itu atasannya lagi dokter,gitu "
" untuk gelar S3 kedokteran " ucap Amelia dengan nada suara yang lembut, dijawab Harun dengan ber Oh ria
" maafkan bapak , James "
" bapak tidak tahu "
" kalau bapak ke rumah sakit, pokoknya yang pakai baju seragam putih, atau apalah, bapak panggil dokter semua "
" maklum orang awam " ucap Harun, sedikit malu-malu, di sambut gelak tawa semua orang, yah kenyataan nya memang seperti itu,
bukan hanya Harun, mayoritas penduduk +62, jika berkunjung ke rumah sakit, entah akan berobat,atau hanya berkunjung ,jika melihat pakaian seragam rumah sakit, sapaannya kalau bukan dokter, yah suster
" tidak apa-apa, pak "
" saya maklum "
" saya tidak terlalu formal dengan gelar "
disapa James juga tidak apa-apa "
" asal jangan di sapa adik saja "
" saya rasa , saya tidak pantas di usia saya saat ini" ucap James sedikit berseloroh, bercanda pemirsa, membuat mereka semua tertawa, mendengar guyonan James
" Boy "
" kamu sudah diperbolehkan untuk pulang loh "
" bagaimana ? " ucap James kepada Boy
" Hm "
" iya, tidak apa-apa "
" pulang saja, uncle "
" nanti bayaran rumah sakit nya bengkak, jika Boy masih harus dirawat "
" kasihan mommy "
" akan tetapi Boy masih akan tetap tinggal di sini untuk menjaga Mommy " ucap Boy dengan mantap sambil melirik ke arah Mommy nya
__ADS_1
" wuih "
" masih kecil sudah memikirkan biaya, nih bocah "
" tenang Daddy kamu tidak mungkin bakal bangkrut "
" hanya karena beban biaya rumah sakit, mah kecil buat Daddy kamu, Boy " ucap Asha secara asal, tanpa filter
.
.
Degg....
Degg...
Degg.......
suasana yang tadi sudah menghangat kini kembali membeku, curam dan mencekam. Baik Boy maupun Lolita kesulitan menelan saliva
" Mommy " ucap Boy dengan lirih yang hanya terdengar oleh Lolita
Asha sungguh sahabat luar biasa, kalau tidak ada orang lain saja, Asha sudah lama di lempari bantal oleh Lolita, mulut kamu, cint,
bikin aku menangis, ucap Lolita di dalam batinnya, sambil menatap manik mata Asha dengan tajam
" iya "
" kamu cukup beruntung, Boy "
" kamu mempunyai dua Daddy yang berkecukupan "
" banyak- banyak bersyukur yah , Boy " ucap Amelia dengan lembut , mendinginkan suasana awkward
" e..eh.."
" i..iya oma " ucap Boy dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. sekilas Bobby dan Evan saling melirik satu sama lainnya, dengan tatapan yang tidak bisa di baca
" Oh ,iya "
" kita belum berkenalan "
" kamu siapa, nak ? " ucap Buya kepada Bobby dengan penasaran
" saya Bobby, Buya "
" calon suaminya Lolita " ucap Bobby dengan sopan
.
.
Degg....
Degg....
Degg.....
.
.
.
Jangan di tanya perasaan Evan saat ini, sungguh amarahnya membuncah, kedua tangannya mengepal, seakan-akan Evan ingin kembali mengulangi reka adegan semalam , bahkan raut wajahnya sudah merah padam, menahan emosi dirinya, sedangkan Lolita yang melihat perubahan dari raut wajah Evan membuat Lolita bernafas dengan tersengal-sengal, seakan-akan dia mengalami kesulitan bernafas seperti penderita asma, dan sakit di bagian kepala nya semakin kian terasa, karena perubahan mood.
Melihat kondisi Lolita , membuat James sedikit geram, James tidak peduli dengan sikap para lelaki menyebalkan di hadapannya saat ini ,satu disebelah kanan dan satu nya lagi di sebelah kiri, sudah memberi aroma perdebatan hak kepemilikan atas Lolita
" saya mohon maaf sebelumnya "
" kepada seluruh pengunjung untuk meninggalkan ruangan ini terlebih dahulu "
" saya akan mengobati pasien " ucap James dengan sopan namun terkesan tegas, apalagi dari tatapan James menatap Bobby dan Evan
, Boy sudah menekan tombol yang diberikan oleh Theo sebelum pulang, dengan langkah pasti dua bodyguard Theo yang bertugas di depan segera mengiring Bobby dan Evan segera keluar dari ruangan rawat inap Lolita
Para tetua mengerti arah pembicaraan James bukan menyinggung perasaan orang tua, melainkan kedua pria dewasa yang saat ini perang dingin, umma dan buya merasa jika keponakan nya sudah mulai menahan emosinya, segera berpikir bijak bagaimana, solusi terbaik, membuat Umma mendekat ke arah Evan, sembari berbisik-bisik, apalagi melihat kedua bodyguard masuk ke dalam ruangan
" istighfar, nak "
" Astagfirullah Allazim " ucap Umma sebanyak mungkin di telinga Evan, agar Evan mampu meredam emosi di dalam dirinya
" ayo, kamu segera mengambil wudhu, nak "
" sholat sunnah "
" ayo "
" akan Umma temani kamu sholat sunnah " ucap umma dengan nada yang sangat lembut, membuat Evan langsung menuruti permintaan Umma, tanpa penolakan
James segera menekan tombol bell emergency yang ada di dalam ruangan rawat inap Lolita, kemudian James segera memasangkan nasal canule di lubang hidung Lolita, dan segera menyetel asupan oksigen yang diperlukan oleh tubuh Lolita, seorang perawat datang dengan terburu-buru..
" iya, ada apa, Doktor ? " ucap perawat dengan polosnya
" mana sfigmomanometer, dan stetoskop " ucap James dengan tegas, bukannya menyerahkan apa yang diminta oleh James, perawat itu malah keluar lagi dari ruangan , dengan cepat ke arah nurse station, membuat
Doktor James menepuk jidatnya, kenapa perawat yang seperti ini di tempatkan di ruang super VVIP, bisa ada keluhan dari keluarga pasien bagaimana.
alamak, alamat akan di pindahkan ke ruang lain deh aku , ucap perawat dalam batinnya sembari dia berlari kencang menuju nurse station
" Doktor, ini sfigmomanometer nya "
" Hanya ada yang digital saja " ucap perawat sambil sedikit terengah-engah, sedangkan Doktor James melirik tidak suka kepada perawat jaga itu, bukan tidak suka dengan perawat nya, tapi tidak suka dengan cara kerja nya. Perawat itu hanya menundukkan kepalanya dengan takut, takut akan di berhentikan, padahal perawat tadi bukannya lupa tanpa sebab, tapi dia tadi baru saja mendapat kabar jika adiknya masuk rumah sakit di daerahnya karena wabah demam berdarah.
*
*
*
*
*
*
*
ππ
__ADS_1