Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
berdamai dengan waktu


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di dalam mobil yang hanya terisi tiga penumpang saja, dua laki-laki dan satu perempuan, yang bertemu secara tidak sengaja dan terlibat dengan tidak sengaja pula, mencintai satu perempuan yang sama, membuat mereka sebagai pesaing satu sama lain, namun dengan adanya anak di sisi mereka masing-masing yang membutuhkan figur orang tua yang lengkap, hanya Lolita yang bisa memilih diantara Bobby atau Evan sebagai pasangannya kelak. Yang menjadi pertanyaannya apakah itu mudah ? ,maka jawabannya tentu saja sulit bagi mereka bertiga, khususnya Lolita, bukanlah hal yang mudah bagi dirinya, Evan jelas sebagai sosok yang baik sebagai seorang ayah, dan Bobby sampai saat ini penilaian terhadap dirinya masih baik sikap dan sifat Bobby tidak satu pun yang membuat Lolita merasa tidak nyaman, ada juga keburukan Bobby, namun itu masih di batas kewajaran , namun hubungan antara Lolita dan Bobby terhalang restu dari keluarga kedua belah pihak, Rio dan Melani, walaupun Melani hanyalah ibu sambung bagi Bobby, Lolita merasa wajib mendapatkan restu dari Melani juga karena antara Lolita dan Amelia yang notabene nya ikatan seorang ibu sambung dan anak sambung berhubungan dengan baik, Lolita tidak menginginkan sebuah pernikahan tanpa restu dari orangtua dan orang terkasih lainnya , dan itu tidaklah mudah bagi Bobby maupun Lolita, syarat yang diajukan oleh Lolita membuat Bobby tidak merasa nyaman ,dan berbeda pandangan dari dirinya.


Beberapa kali mereka mempermasalahkan masalah yang sama yang tidak pernah akan ada habis-habisnya jika dibahas, dan tidak pernah ada solusi dari bahasan mereka, yang ujung-ujungnya pasti berakhir dengan saling diam, dan selesai tanpa membicarakan topik pembicaraan itu lagi, Lolita dan Bobby sudah tidak tahu bagaimana lagi cara menyatukan pendapat untuk permasalahan itu lagi, yang berbeda dari Evan, Bobby masih bisa menahan diri untuk tidak memaksakan pendapatnya jika itu bertentangan dengan pemikirannya, berbeda dengan Evan yang pasti menuntut pasangannya harus mengikuti apa saja yang dia inginkan, oleh karena itu Lolita bertahan mempertahankan Bobby sebagai calon suaminya.


Pembicaraan terjalin antara Bobby dan Evan terdengar serius terlihat dari gurat wajah mereka yang terkesan formal padahal pembicaraan yang cukup biasa bagi dua orang pria yang saling mengemukakan pendapat, namun hal ini cepat atau lambat laun pasti akan menjadi hal yang harus diperbincangkan dengan lebih intens sebagai seorang pria dewasa, bukan seperti anak-anak memperebutkan sesuatu dengan perkelahian, Bobby sempat merasa menyesal akan tindakan yang dilakukan oleh dirinya di beberapa minggu yang lalu yang akhirnya membuat kondisi b Lolita semakin memburuk, dan Bobby tidak mau itu terulang kembali terjadi kepada kekasih hatinya, Bobby memastikan kepada dirinya bahwa hal itu jangan sampai terjadi kembali, oleh karena itu Bobby menahan diri untuk tidak terpancing dengan kalimat- kalimat sarkas yang terkadang di ucapkan oleh Evan, dari beberapa kali pertemuan, Bobby sedikit banyak mengenal sosok pribadi pesaing nya, yang cukup membuat Bobby merasa semakin yakin dengan pilihan hatinya, dan Bobby akan mempertahankan Lolita untuk tetap selalu di sisinya.


Begitu pula dengan Evan semakin merasa harus berusaha mendapatkan kembali Lolita bagaimana pun caranya, Evan harus bisa memenangkan hati Lolita kembali, Evan masih sangat merasa yakin di dalam relung hati Lolita yang paling dalam pasti masih menyimpan perasaan cinta kepada Evan, karena manusia tidak ada yang sempurna, jika itu karena di masa lampau Evan memiliki perilaku yang tidak baik maka Evan berusaha untuk mengubah perilaku itu, apabila di masa lalu Evan memiliki keinginan yang bertolak belakang dengan Lolita, Evan berusaha untuk mengalah demi kebahagiaan rumah tangga mereka di masa yang akan datang, Evan tidak ingin lagi menjadi sosok suami egois seperti selama ini, walaupun terkadang masih begitu nampak sisi Evan seperti itu , namun Evan berusaha untuk mengurangi kadar keegoisan nya, dan memberikan kesempatan Lolita untuk berargumentasi seperti Bobby , sedikit banyak dengan mengenal sosok Bobby, Evan belajar untuk menjadi sosok pria sejati.


Mereka berdua masih saling mendengarkan curahkan hati masing-masing di tempat yang sama, karena perjalanan menuju restoran yang sudah di reservasi sebelumnya berjarak lumayan jauh dari mansion Theo dan Asha, sehingga mereka berdua memiliki banyak waktu untuk saling mendengarkan cerita dari berbagai topik pembicaraan, termasuk pembicaraan yang cukup serius. Bagi Evan , kalimat yang Bobby tujukan kepada dirinya membuat Evan merasa sedih apalagi ucapan Bobby yang secara langsung menghujam ke relung hati Evan yang paling dalam, memang benar Rio membutuhkan sosok ayah dan ibunya, Evan sendiri membutuhkan sosok Lolita, namun Lolita sudah mempunyai kehidupan lain, yang baru saja dia jalani oleh , dan Lolita sangat menikmati hidup nya saat ini, apakah Lolita akan menerima kehadiran Evan kembali, atau akan tetap sama seperti keputusan sebelumnya. Pembicaraan antara Bobby dan Evan harus terhenti karena mereka sudah sampai di lobby restoran di salah satu hotel terbaik di kota J, terlihat dari mobil Theo yang berada tepat di depan mobil yang dikendarai Evan sudah terparkir sempurna di lobby hotel, Theo sudah nampak menginjakkan kaki di lantai, dan mengulurkan tangannya untuk menyambut sang isteri tercinta yang sudah nampak anggun dengan gaun malam yang dia kenakan,di tunjang dengan heels lumayan tinggi, sedikitnya mengimbangi tinggi tubuh sang suami, yang masih saja terlihat timpang, walaupun heels yang digunakan Asha sudah yang lumayan tinggi


berbeda dengan Lolita yang masih mengunakan sepatu khusus, agar cidera kaki nya pulih dengan sempurna, Bobby sudah menurunkan kursi roda ,untuk mobilitas Lolita, padahal sebelum pergi, Lolita sudah menolak, namun Lolita tidak mampu menolak permintaan dua pria yang over protective, tidak akan bisa membantah, hanya menuruti saja, apapun perintah dari sang maha benar,dan sang paling benar. Bobby mendorong kursi roda, membantu Lolita menaiki lift menuju lantai paling atas, private room yang sudah di reservasi, menampakan gemerlap lampu kota J di ketinggian hotel ternama itu, mereka sudah memilih menu yang akan mereka nikmati malam ini. Cara makan ala orang barat, yang sangat mementingkan table manner, di acara dinner mereka saat ini, , tanpa suara, tanpa dentingan sendok yang beradu dengan piring, Bobby dan Evan berniat membantu Lolita untuk menikmati hidangan yang dimulai dari setiap urutan menu dinner. Namun menu yang dipilih Lolita tidak terlalu sulit, sehingga mereka berdua hanya menatap wajah cantik Lolita saja.


Dalam soal pilihan menu, Lolita sebenarnya termasuk pecinta daging meskipun tidak harus daging sapi bisa jadi daging ayam, daging bebek, atau pun daging ikan , apapun olahannya, namun steak bukanlah menu tepat pilihan untuk menjadi menu santapan malam Lolita malam ini , Lolita sedikit detail melihat menu, untuk memudahkan diri nya menyantap makanan, tanpa bantuan orang lain..


menu appettizer, yang dia pilih hanya lah jenis vegetable salad, untuk main course , Lolita memilih Herb Crusted Chicken Breast Served with Mash potato and santeed fresh vegetable,dan menu terakhir hanya banana flambe sebagai menu dessert pilihan Lolita


" maaf " ucap Lolita, dia mengucapkannya, karena dia hanya mengunakan tangan kanannya, meski tidak begitu buruk, tekanan sendok pada piring berbunyi cukup nyaring,


membuat semua hanya tersenyum menanggapi ucapan Lolita, Evan mengelap bibirnya Lolita yang agak belepotan terkena saus , posisi Evan di sebelah kiri, memudahkan Evan membantu Lolita,ketimbang Bobby. Namun Bobby sudah bersahabat dengan takdir, seolah-olah yang di lakukan Evan, sudah bukan hal yang harus dia cemburu i lagi, yang dia harus marah- marah tidak jelas, kedewasaan sikap Bobby inilah yang menjadi nilai tambah untuk Lolita yang mempertahankan hubungan mereka agar terus berlanjut


" permisi " ucap Evan sembari menarik kursi nya, hendak berdiri, dia bergerak menuju toilet


.


.


" ayang " panggil Bobby sambil menggenggam tangan Lolita, membuat Lolita mengalihkan pandangan ke arah Bobby


" ayo, kita ganti panggilan sayang, biar beda dengan saingannya abang " ucap Bobby


Lolita tertawa dan diikuti Theo beserta Asha


" Hm "


" nanti akan kita pikirkan bersama yah "


" panggilan sayang yang tepat untuk kamu dan aku "


" untuk kita " sahut Lolita dengan lembut, menatap wajah kekasihnya yang terlihat menggemaskan di matanya


.


.


shuuuuuuuttttt.....ucap Asha saat Evan perlahan mendekat,


" weekend ini , main ke mansion aku saja, beibs " ucap Asha


" ayo kita akan mengadakan barbeque " ajak Asha dengan penuh semangat


" kami sudah ada planning, beibs " ucap Lolita dengan hati-hati


" apa ! " ucap Asha terkejut dan sedikit kepo


" rencana nya sih mau menonton film di bioskop bersama anak-anak dan para karyawan aku, beibs " ucap Lolita, Asha melirik kearah suaminya, karena Theo tidak terlalu suka berada di dalam bioskop, yang bisa mereka lakukan di mansion mereka saja. apalagi di mansion Theo sudah dilengkapi dengan salah satu fasilitas itu


" yah, mulai nih "

__ADS_1


" mulai ada orang yang mau merayu nih " ucap Theo menggoda isteri nya, membuat Lolita dan lainnya tertawa dengan tingkah pasangan dihadapan mereka


" Bee " ucap Asha dengan merengek


" masa bodoh "


" tidak akan mempan , aku sudah kebal "


" dari rayuan pulau kelapa kamu ini , Honey " ucap Theo jual mahal


" Bee "


" aku akan memberikan kamu service luar biasa spesial deh "


" dua hari berturut-turut " ucap Asha dengan puppie eyes , namun Theo masih berlagak jual mahal


" tiga hari " ucap Asha sambil mengangkat jari nya menunjukkan angka tiga, namun Theo membuka semua jari yang tersisa


" HaH ! "


" Lima " ucap Asha dengan wajah kaget


" Alamak "


" aku bisa menjadi suster ngesot nanti ,bang "


" apakah abang tidak kasihan sama aku " ucap Asha dengan wajah terkejut , yang nampak begitu mengemaskan bagi Theo


" kan bisa di cicil dong , Honey "


" bukan cash tetapi kredit saja dengan suku bunga "


" nanti abang kan bisa menikmati bunga- bunga kreditnya " ucap Theo sambil menaikkan dan menurunkan kedua alisnya dengan wajah penuh kemenangan, tak lupa senyuman smirk di wajah tampannya


" iya deh "


" deal " ucap Asha dengan pasrah saat beberapa waktu, adegan drama di hadapan mereka bertiga, tentu saja membuat gelak tawa mereka pecah,termasuk Asha dan Theo.


Mereka semua berdamai dengan waktu, bahkan tanpa canggung Evan melontarkan guyonan dan lelucon ke Bobby, setelah dinner yang mereka nikmati, tidak lagi terasa aura permusuhan di antara mereka berdua baik Evan maupun Bobby, jika pun pada akhirnya, salah satu dari mereka berjodoh dengan Lolita, yang lainnya harus merelakan kebahagiaan untuk orang yang mereka cintai.


Malam sudah semakin larut ,pandangan mata Lolita sudah semakin sayu, Bobby melihat keadaan Lolita sudah tidak memungkinkan lagi untuk Lolita meneruskan perbincangan meski sedang hangat-hangatnya, prioritas utama bagi Bobby adalah Lolita, begitu juga dengan Evan, Lolita nomor satu di dalam hidupnya. Mereka berdua, baik Evan dan Bobby saling melirik, siapa yang akan bertindak duluan.


" ayo kita pulang "


" Honey "


" sepertinya Lolita sudah mulai mengantuk " ucap Theo, memecahkan masalah yang di hadapi Bobby dan Evan


" maafkan aku " ucap Lolita merasa tidak enak


" bagaimana ? "


" apakah kamu masih bisa menahan rasa kantuk nya ? " tanya Bobby pada Lolita, dijawab Lolita dengan mengelengkan kepalanya,


" kamu atau aku ? " tanya Bobby ke Evan


" boleh " pinta Evan dengan hati-hati


" ya sudah "

__ADS_1


" nanti biar aku saja yang menyetir, kamu pasti sudah lelah " ucap Bobby


Evan segera mengendong tubuh Lolita dengan ala bridal style, sedangkan Bobby mendorong kursi roda yang digunakan oleh Lolita tadi saat masuk ke dalam restoran


malam ini, mau tidak mau, mereka berdua harus bekerjasama demi Lolita, dan mereka berdua juga harus menginap di mansion Theo, bukan karena renovasi ruko belum rampung, akan tetapi bau dari dinding yang baru saja selesai di plester, belum bisa langsung di cat hari itu juga, kalau pun tidak di cat, dan memilih untuk memasang wallpaper pada dinding, tetap saja masih butuh waktu untuk mengeringkan plesteran pada dinding ruko, melihat Lolita yang sudah terlelap dengan pulas nya, membuat Evan segera keluar dari kamar Lolita,


bahkan Asha juga sudah tertidur di dalam dekapan sang suami, Theo mengendong tubuh Asha ala bridal style menuju kamar utama,


begitu pula dengan anak- anak, mereka sudah tertidur di daam kamar mereka masing-masing, dikarenakan besok masih ada rutinitas harian yang harus mereka lakoni, yaitu sekolah, untuk menuntut ilmu


sedangkan para pria Bobby , Theo, dan Evan , kini mereka sedang mengobrol di ruang keluarga, untuk melanjutkan obrolan mereka di restoran tadi, mulai dari topik ringan, sampai topik lumayan berat, bahkan topik penting sekitar usaha yang mereka geluti. mereka menjalin relasi di bidang bisnis, tidak dipungkiri , meski dalam cinta mereka berdua baik Evan maupun Bobby merupakan saingan dalam cinta, tidak dengan bisnis, mereka bisa menjadi relasi yang baik, mereka saling menguntungkan jika menjalin kerjasama, begitu pun dengan Theo,


Mereka harus menyingkirkan ego mereka jika berada di dunia bisnis, kecuali jika itu saingan bisnis, maka mereka harus mencari relasi yang solid, agar kerajaan bisnis mereka dapat mencapai puncak. Evan sudah tidak lagi merasa canggung saat berbicara informal pada Bobby, mereka tidak memilih percakapan berisi tentang Lolita, tentu hanya akan menjadi debat kusir saja, yang tidak akan habis dalam satu dekade jika di bahas.


Hari sudah cukup larut, mereka memilih memisahkan diri,untuk mengistirahatkan tubuh mereka agar besok lebih fit, kamar tamu yang disediakan oleh Asha tidak terlalu besar, sehingga mereka berdua memutuskan , Maria yang akan menemani Lolita tidur, dan mereka berdua tidur berdua dengan satu ranjang yang sama . Bobby tanpa perlu waktu lama, dia sudah mengistirahatkan tubuh nya, dia dengan cepat sudah berada di alam mimpi, Evan sedikit sulit memejamkan kedua matanya, dia sedikit melamun dan bermonolog dengan dirinya sendiri sepanjang malam sampai dia tertidur dengan sendirinya, sedangkan Evan sedang melamun perkara nasib dirinya, anak nya, dan Lolita, dari perbincangan tadi, Evan dapat menilai ,jika Bobby terlalu baik jika di bandingkan dengan dirinya, tiba-tiba Evan merasa sedikit insecure, akan diri nya sendiri,


Jika sampai mantan isterinya memilih Bobby, hal wajar, dari aspek apapun , Bobby orang yang terbaik dan tepat jika bersanding dengan Lolita, padahal Evan tidak tahu saja, sepak terjang Bobby di masa silam nya, sebelum mengenal Lolita, dan sebelum di tempa Theo, tidak akan ada Bobby yang dikenal baik seperti saat ini. Beda nya, Bobby puas nakal sebelum menikah, sedangkan Evan nakal sesaat setelah menikah. Manusia tidak ada sempurna,. tempat salah dan dosa, suatu hal wajar jika pelajaran hidup sangat berharga, jadi jangan pernah berhenti belajar, karena hidup memang sebuah perjuangan panjang tanpa henti, dan perjuangan adalah pelajaran hidup yang paling berharga, membuat kita mengerti arti hidup yang sesungguhnya di dunia yang hanya sementara. terus belajar menjadi lebih baik, hari ini, esok ,dan seterusnya, nikmati saja yang terjadi, karena semua sudah ada yang atur, tinggal berserah diri pada Nya, meminta jalan keluar terbaik dariNya, hanya itu yang bisa kita lakukan selama sisa hidup


.


.


.


.


.


..


Rutinitas harian di kala pagi hari untuk hari ini, riuh suara Rio, Rava dan Ravi, sebelum mereka memulai sarapan pagi ini , Theo yang sudah terbiasa dengan pola tidur di negara nya, sebenarnya agak sulit menyesuaikan dengan pola di negara +62, sehingga hanya, saat jam sarapan pagi, less person, tentunya Theo.


anak-anak sudah mulai berangkat sekolah, begitupun dengan Bobby dan Evan,


" Van, aku menunggu kamu di kantor aku " ucap Bobby sebelum beranjak dari kursi meja makan


" iya, bang " ucap Evan


Lolita dan Asha saling menatap, dan Lolita mengherdikan bahu nya


" Mom "


" Mommy "


" bolehkah Rio meminta adik yah " ucap Rio saat hendak beranjak dari kursinya


Uhhuk... Uhhuk......


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


πŸ’πŸ’


__ADS_2