Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
di Apartemen Daddy


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Evan tetap akan pendiriannya, tidak menggubris permintaan sang ibu kandung, yang menginginkan agar dia kembali menata hatinya, kembali membina rumah tangga dengan wanita soleha pilihan sang ibu,tidak seperti sebelumnya, apalagi melihat Evan sudah pulih dari keterpurukan nya beberapa tahun silam,


cukup malam, Evan pulang ke mansion Daddy Hamid, sebenarnya dia sangat enggan untuk pulang, yang pasti akan mendapatkan tauziah dari sang ibu, tetapi anaknya Rio sedang menginap di mansion sang Daddy mau tidak mau, dia harus pulang.


Evan sudah membersihkan tubuhnya, dan turun ke lantai dasar untuk mengambil air minum, karena teko di kamarnya telah tandas isinya


" Van...."


" kenapa kamu tidak menemui gadis itu.." ucap Zubaidah dengan kasar


" apalagi, Mom..."


" kenapa Mommy seperti ini, akhir- akhir ini..."


" memaksa Evan untuk menikah..." ucap Evan dengan wajah lelahnya


" Mommy hanya ingin kamu bahagia, Van..." ucap Zubaidah dengan ritme yang tidak baik


" Evan sudah sangat bahagia, Mom..."


" berhenti menjodohkan Evan dengan wajah wanita manapun, mommy..." ucap Evan dengan nada tinggi


" kamu harus menikah, titik..." ucap Zubaidah


" Tidak...!!!...."


" Evan hanya akan menikah dengan Lolly..!!!!..." ucap Evan dengan suara lantang


" kalian sudah bercerai, Van..!!!!..."


" tidak akan bisa menikah lagi..." ucap Zubaidah dengan sedikit berteriak, dan wajah yang sudah memerah menahan emosinya


" Hentikan!!!....." teriak sang Daddy


Evan berlari ke dalam kamarnya, mengendong tubuh Rio keluar menuju mobil miliknya yang terparkir di garasi, Evan melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang


" Diki..."


" besok bereskan pakaian Rio dan pakaian aku yang di rumah Daddy,.."


" bawa ke apartemen ..." ucap Evan dengan tegas


" besok handle kantor, aku ada kerjaan penting " ucap Evan pada sambungan telepon seluler sebelum Evan mengakhiri nya


Evan membawa masuk tubuh Rio yang masih tertidur kedalam apartemen miliknya yang baru saja dia beli beberapa tahun ini, Evan merebahkan tubuh Rio, dia memberi kecupan ada wajah Rio


memandang lekat setiap inchi bagian tubuh anaknya, dia sangat menyesal, sungguh menyesal, membuat dirinya sendiri terluka akibat perbuatan nya sendiri, menyesal akibat hal itu membuat anaknya menanggung akibat perbuatan nya, jika kata menyesal dapat menyelesaikan masalah, jika kat menyesal dapat mengembalikan Lolita pada nya, sudah pasti Evan akan mengukir kata menyesal di setiap kalimat yang dia lontarkan, akan dia pahat di setiap bangunan, akan dia dirikan monumen dari kata menyesal...


tapi kata itu hanya sebuah kata yang tidak berujung,


Evan terlelap sendiri, karena tubuhnya terlalu lelah hari ini, dia menyibukkan diri dengan berbagai agenda yang harus dia selesai kan


sedangkan Zubaidah menangis histeris di pelukan suaminya, saat dia berteriak-teriak memanggil Rio dalam gendongan Evan, Hamid menutup mulut isterinya agar tidak terdengar oleh Rio, kasihan jika cucu nya harus menyaksikan pertengkaran Evan dan isterinya


" Mommy...." teriak Hamid, saat isterinya tidak dapat mengontrol diri nya


Zubaidah terjatuh ke lantai, tubuh tua nya tidak lagi dapat mengendong sang isteri, dia hanya mampu memapah sang isteri untuk duduk di sofa


Hamid memberikan isterinya air mineral, dan Zubaidah meminumnya hingga tandas


" Mommy...."


" apa yang kamu lakukan..." ucap Hamid dengan nada suara yang lembut, menatap isteri nya dengan kasihan


" Mommy hanya ingin Evan menikah lagi..."


" ingin melihat Evan bahagia, apalagi Lolly juga sudah menemukan pria lain..."


" Mommy tidak ingin Evan terluka, suami ku..." ucap Zubaidah masih dengan suara parau, airmata nya saja masih mengalir deras


Hamid menghapuskan airmata yang membasahi kedua pipi Zubaidah,


" ayo, kita istirahat,..."


" sudah malam..." ucap Hamid


Zubaidah menuruti perintah sang suami

__ADS_1


.


.


.


.


..


..


waktu subuh,


Rio menggerjap-ngerjapkan kedua matanya, apakah dia bermimpi ,karena tempat ini berbeda saat dia tidur


namun ada sosok sang Daddy, Rio yakin jika sang Daddy yang membawa nya kemari


" Dad ..."


" bangun,..." ucap Rio sambil menggoyangkan tubuh sang ayah


" Hm..." gumam Evan yang masih malas membuka matanya


" ayo, Dad..." ajak Rio lagi


Evan menggerjap-ngerjapkan kedua matanya, ,sama yang dia lakukan seperti sang putera, entah siapa yang meniru siapa, wajah dan tingkah mereka sangat mirip, seperti pinang di belah dua,


mereka berdua menuju dispenser untuk minum air mineral, mereka berdua pun ke kamar mandi menuntaskan hajat kecil mereka, dan segera membersihkan tubuh mereka, tak jarang mereka bermain sabun, saling menggosok punggung,dan mereka berdua langsung menunaikan subuh dengan tertib


" Dad .."


" kalau ada Mommy, kita pasti sudah menyantap masakan Mommy..." ucap Rio sambil mengerucutkan bibirnya


" iya..."


" nanti Mommy akan ikut kita menginap di apartemen Daddy


" memangnya rumah kita kenapa, Dad..." tanya Rio dengan tatapan menyelidik


Evan berusaha mencari alasan yang masuk di logika Rio, agar Rio tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi nantinya


rumah itu sudah hendak di beli lagi oleh Evan, namun bukan karena Evan tidak sanggup membelinya kembali, namun si pembeli rumah Lolita tidak mau menjual rumah itu, dengan alasan betah tinggal disana


setelah mengucapkan salam, sambungan video melalui Skype, memperlihatkan wajah cantik Lolita


" Mommy....." ucap Rio dengan manja


" baru satu hari sudah merengek...." ucap Boy yang tiba-tiba muncul dengan membawa masakan sang Mommy


" Mommy, ..."


" Rio lapar..." ucap Rio dengan nada di buat-buat kelaparan


" Loh, biasanya oma Ida sudah bikin sarapan..." ucap Lolita


" Rio dan Daddy lagi di apartemen Daddy, Mom..." ucap Rio


" Mom..."


" rumah kita kenapa?..."


" koq Daddy tidak tinggal di rumah kita..."


" apa kita tidak akan kembali ke kota S*** lagi...." tanya Rio beruntun


wajah Lolita nampak pias, binggung harus menjawab apa, sama seperti yang terjadi pada Evan


" Rio..."


" ini sarapan kamu nak..." ucap Evan sambil menyajikan sarapan untuk anaknya di meja makan


" mana Daddy..." tanya Lolita, dan Evan mendekat kearah ponsel yang masih berdiri di atas meja makan, dengan tiang penyanggah


" mas...."


" Rio menanyakan rumah...." ucap Lolita


" iya..." sahut Evan singkat

__ADS_1


" mas jawab apa...." tanya Lolita


" belum mas jawab...." ucap Evan


" iya, Mom..."


" Daddy belum jawab..." sahut Rio, sambil menata roti miliknya


" rumah kita kan , Mommy jual nak..


"


" buat beli ruko..." ucap Lolita sesuai Kenyataan nya


" Oh..." sahut Rio yang hanya ber Oh ria


" Mommy nanti kita tinggal di apartemen Daddy..."


" keren loh, Mom " ucap Rio


" iya, .."


" mungkin nanti kita akan menginap..." sahut Lolita ambigu


" ok..."


" abang...dua hari lagi susul Rio yah, ke kota S***..."


" sama Mommy...." ucap Rio


" kalau Mommy belum bisa, nak..."


" lihat nih..."


" kan kata dokter empat sampai lima bulan lagi baru bisa beraktivitas normal..." sahut Lolita membuat alibi untuk penolakan nya


" Oh iya, yah, Rio lupa, maaf Mommy..." ucap Rio


mereka terus bercengkerama melalui Skype...sampai akhirnya Lolita harus memutuskan sambungan video nya, karena akan memulai aktivitas harian nya


sedangkan di mansion Hamid, sang isteri jatuh sakit, tapi Zubaidah tidak ingin jika Hamid memberitahu keadaannya saat ini pada anak-anaknya, termasuk Evan, Zubaidah juga tidak mau di bawa ke rumah sakit


setelah membantu sang isteri makan, Hamid meminta dokter keluarga untuk datang ke mansion nya, dan telah memberikan Zubaidah obat untuk mengatasi sakitnya,


dokter keluarga menyarankan kepada Hamid untuk memeriksakan kesehatan Zubaidah secara detail dengan datang ke rumah sakit untuk melakukan medical checkup, namun si empunya tubuh tetap tidak mau alasan ini lah anu lah,


perubahan sikap Zubaidah sudah dirasakan oleh Hamid, sebelum pertengkaran Evan dan isterinya, Hamid juga heran kenapa beberapa bulan belakangan ini, isterinya selalu memaksakan kehendaknya pada Evan, tapi selalu dengan kalimat yang sama,


" aku ingin melihat Evan bahagia ",


" hanya Evan yang masih aku pikirkan "


" kasihan cucu ku, Rio..."


selalu ini yang dia pikirkan, terlalu sering melamun, terkadang beberapa kalimat ambigu di lontarkan oleh Zubaidah pada Hamid


" jaga kesehatan, Daddy...."


" belajar mandiri, mengerjakan kebutuhan Daddy yang ini, yang itu, .."


yang lebih membuat Hamid kesal, kalimat isterinya yang akan mencarikan Hamid isteri baru, yang sesuai dengan pilihannya,dan Hamid harus menerimanya, yang membuat Hamid sampai berang, hingga Hamid harus pergi keluar rumah demi meredam emosi nya,


setelah kembali ke dalam rumah, isterinya telah tertidur, beberapa kali, isterinya selalu tertidur, di luar kebiasaannya, walaupun Hamid curiga ada yang tidak beres dengan isterinya, tetap saja Zubaidah sulit di ajak komunikasi jika diminta untuk berobat ke rumah sakit


hari ini, puncaknya, ketika dokter meminta Zubaidah melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, harus tidak harus Hamid mencari cara agar sang isteri harus mau dibawa ke rumah sakit, dengan bantuan putera sulungnya, sedikit paksaan jika sang isteri memberontak


sayangnya Farel masih berada di luar negeri untuk melakukan survei di beberapa cabang anak perusahaannya disana, dalam waktu yang cukup lama,


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


🍒🍒


__ADS_2