
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Dalam masa perawatan di rumah sakit, siapapun orangnya, tidak akan betah untuk berlama-lama di rumah sakit, meskipun diberikan fasilitas paling nyaman sekalipun, senyaman- nyamannya rumah sakit lebih nyaman di rumah sendiri, meskipun hanya sebuah gubuk. Tidak pernah terbayangkan oleh Lolita dia akan merasakan kembali dampak buruk dari sebuah pertengkaran. Di masa lalu Lolita harus berurusan dengan segala macam hal berbau rumah sakit, dikarenakan kecelakaan lalulintas yang pernah Lolita alami, bahkan kecelakaan itu masih saja sering menghantui dirinya, di saat- saat tertentu.
Lolita merasa jenuh dan malas jika harus berurusan dengan Evan, karena selalu berakhir seperti ini, sifat Evan yang begitu arogan dan semaunya, membuat Lolita kesulitan, entah apa saja itu, jika itu barang yang Evan suka dan Evan mau, harus selalu dia dapatkan, jika itu barang yang Evan tidak suka dan tidak Evan mau, harus pergi sejauh mungkin dari dirinya, seperti kondisi Lolita saat ini, oleh karena itu Lolita paham betul jika dirinya tidak akan bisa lepas dari cengkeraman Evan, namun Lolita sudah tidak sanggup lagi untuk hidup bersama dengan Evan, Lolita hanya ingin menjalin hubungan silaturahmi yang baik antara dirinya dan Evan, biar bagaimanapun juga ada Rio yang harus mereka perhatikan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan mental Rio.
James mendorong kursi roda yang Lolita duduk dengan manis di dalamnya, menuju taman yang tersedia di dalam kawasan rumah sakit, sesekali James menatap wajah cantik Lolita yang melamun sepanjang perjalanan menuju taman
" apa yang menjadi bahan lamunan kamu, Lolly ? " ucap James dengan penasaran
" kehidupan aku , bang " ucap Lolita
" nih " ucap James menyodorkan cokelat, karena melihat ekspresi Lolita masih sama seperti sesaat lalu, Lolita menerima nya dengan cepat dan tersenyum
" terima kasih, bang "
" luv "
" luv, deeh babang tampan " ucap Lolita memuji James yang telah memberikan nya cokelat merk terkenal kelezatannya. James membantu Lolita membuka bungkus cokelat, tanpa perlu aba-aba Lolita melahap cokelat dengan antusias.
" jikalau kamu harus memilih, siapakah yang akan kamu pilih, Lolly ? " ucap James dengan penasaran, sedangkan Lolita menatap ke arah danau buatan yang berada di dalam taman rumah sakit
" entah lah, bang "
" mungkin bagi beberapa orang , Lolly perempuan yang paling bahagia "
" karena diperebutkan oleh para lelaki "
" Alhamdulillah, Lolly harus bersyukur kepada itu "
" akan tetapi di sisi lain Lolly merasakan sangat lelah , baik fisik maupun mental, bang "
" terus terang hal ini membuat tidak nyaman juga bagi Lolly " ucap Lolita dengan menghelakan nafasnya dengan berat
" sebenarnya kalau boleh Lolly berpendapat "
" hubungan pria dan wanita tidak harus memiliki suatu ikatan yang menjerat kemerdekaan baik laki-laki maupun perempuan "
" hubungan silaturahmi, lebih indah loh bang, daripada harus menjadi hubungan pernikahan namun saling menyakiti "
" terus, hubungan persahabatan "
" dengan berteman, bersahabat, kita pasti memikirkan untuk memberikan yang terbaik untuk teman kita, sahabat kita " ucap Lolita
" tapi dengan berteman dan bersahabat "
" ada juga orang-orang yang tidak baik " ucap James
" iya "
" abang memang benar "
" dan kita bisa memberi jarak karena ketidakcocokan itu "
" sedangkan pernikahan, kita terikat dengan janji suci, dan itu menyesakkan jika di dalam pernikahan terjadi toxic, harus bertahan dari berbagai sudut pandang orang lain, yang terkadang mengilas pendapat sendiri "
" bagi diri kita sendiri pendapat kita rasional, tetapi bagi pasangan kita irasional "
" terus seperti itu, sampai di suatu titik entah sang suami atau sang istri akan...yah,. itu " ucap Lolita
" pemahaman kamu ini, mengacu pada pendapat masyarakat modern "
" masyarakat liberal, artinya kamu lebih suka suatu hubungan tanpa status , begitu ? " ucap James
" tidak "
" bukan seperti itu, bang "
" saat ini Lolly di dalam fase penyembuhan diri sendiri "
" agama yang Lolly anut, sangat jelas, hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah sebuah pernikahan, dan itu sakral "
" untuk menghindari perbuatan z.i.n.a. "
" Lolly dengan mas Evan sudah mengakhiri hubungan suami-istri, dan Lolly berharap mas Evan pahami itu, tapi apa ? , mas Evan semakin... Ah "
" abang Obby ? "
" Lolly hanya membuka peluang, karena hidup dengan status janda cerai hidup, ternyata tidak semudah itu pemirsa, pandangan buruk sangat tajam dilayangkan untuk kami para perempuan dengan status ini "
" tidak terpikirkan namun terasa, dan sangat terasa, bukan untuk Lolly "
" tapi untuk Rio "
" Lolly takut jika Rio mengetahui status Lolly, dan orang-orang mencibir Lolly di depan Rio "
" itu, bang " ucap Lolita menghelakan nafasnya dengan berat "
" seperti nyonya Melani, ibunda nya abang Bobby "
" berfikir seperti itu juga " ucap Lolita lagi
" kamu bisa kok "
" Menikah saat ini juga, tanpa memikirkan ini , memikirkan itu "
" kamu juga bisa kok "
" untuk hidup tanpa menikah, tanpa harus memikirkan cibiran dari orang lain "
" toh hidup kita yang menjalani nya "
" susah kita yang rasa "
" bahagia juga kita yang rasa " ucap James dengan mengemukakan pendapat nya
Tanpa mereka berdua sadari jika Boy sudah datang dengan membawa satu buah ice cream dengan cone, Boy memilih untuk duduk menjauh dari posisi James dan Lolita, agar mereka berdua lebih leluasa bercerita, Boy tahu sang mommy membutuhkan teman untuk berbagi cerita, dan itu bukan Boy.
" susah kita yang rasa "
" bahagia juga kita yang rasa "
" itu sangat benar, bang "
" akan tetapi di dalam kehidupan Lolly, ada Rio "
" prioritas utama Lolly saat ini adalah Rio, dan Boy "
" Lolly tidak mau Rio menjadi anak yang kekurangan kasih sayang keluarga yang utuh, meskipun kami telah bercerai "
" sedangkan untuk Boy, Lolly ingin dia merasakan bagaimana rasanya memiliki kasih sayang orang tua "
" akan tetapi bagi Rio Lolly harus tetap bersama mas Evan, dan bagi Boy Lolly harus memilih bang Bobby padahal nyonya Melani tidak menyukai Lolly yang hanya remahan rengginang " ucap Lolita, dan James masih dengan setia mendengarkan sesi curhat Lolita dan tertawa kecil mendengar lelucon dari Lolita
" wah "
" ribet banget ternyata hidup kamu, dik "
__ADS_1
ucap James dengan santai, sedangkan Lolita tertawa terbahak-bahak mendengarkan kalimat ucapan yang disampaikan oleh James , Lolita yang masih tertawa tanpa sengaja membuat ice cream tersenggol di ujung hidung Lolita, membuat James menyapukan bekas ice cream dengan tissue, tindakan cepat James, sangat manis ketika ada salah satu pengunjung tidak sengaja melihat kearah Lolita dan James, dan itu mendapatkan caption di foto yang sengaja diambil secara candid camera oleh dokter Liliane yang dikirimkan oleh dokter Liliane ke adiknya James, yang seusia dengan dirinya.
" terima kasih, bang "
" sudah mendengarkan hal-hal receh dalam hidup Lolly " ucap Lolita
" kalau abang boleh menyampaikan saran ke kamu "
" jadilah diri sendiri "
" suka katakan suka, tidak katakan tidak "
" sakit katakan sakit, senang katakan senang "
" jangan suka menyiksa diri sendiri "
" kalau kamu selalu sibuk menjaga perasaan orang lain , sedangkan kamu tidak menjaga perasaan kamu sendiri "
" artinya kamu juga sudah dzolim terhadap diri kamu sendiri "
" dan orang lain juga belum tentu mau, belum tentu suka apa yang kamu lakukan " ucap James, membuat Lolita terdiam
" Hm "
" Lolly akan mempertimbangkan saran dari abang " ucap Lolita dengan menganggukkan kepalanya
" harus kamu ingat "
" bahagia itu kita yang rasa "
" bahagia kan diri kamu sendiri terlebih dahulu "
" tentu saja dengan sendirinya akan memancarkan kebahagiaan untuk orang lain juga "
" khususnya anak-anak kamu "
" mereka tidak akan bahagia jika melihat kamu terluka "
" dan untuk soal Rio "
" cepat atau lambat laun, dia akan menerima kenyataan "
" dan harus menerima nya, di saat nya nanti "
" yakinlah itu "
" Rio tidak selemah seperti apa yang kamu bayangkan, dik "
" dia itu seorang pria " ucap James dengan lembut, membuat Lolita mengangguk- anggukan kepala nya
" ngomong- ngomong "
" mana niih calon kakak ipar , Lolly ? "
" gelar tidak salah - salah "
" status masih jomblo "
" mupeng dong " ucap Lolita menggoda James, sedangkan James yang digoda Lolita malah tertawa terbahak-bahak
" kamu yah "
" sudah pinter godain abang "
" Hm " ucap James mencubit pipi Lolita dengan pelan, dan Lolita pun ikut tertawa akan ucapan nya sendiri. James melirik ke arah jam yang ada di tangan sebelah kanan nya,
" ayo "
" Boy "
" ayo " ucap James memanggil Boy mengajak pulang bersama
Sedangkan saat Lolita meninggalkan dirinya, Evan nampak begitu cemas, melihat tulisan pesan yang Lolita berikan membuat Evan menjadi lebih tenang. Evan segera membersihkan tubuh nya yang terasa gerah, bahkan di dalam ruangan rawat inap Lolita, sudah ada Jhon yang membawakan semua pesanan Evan. Kini Evan sudah tampil dengan tampan dan gagah
" kamu tadi dari mana , Love ? " ucap Evan yang merasa Lolita terlalu lama meninggalkan ruangan
" Oh "
" tadi setelah pemeriksaan ke bagian radiologi Mommy meminta Boy mengajak mommy ke taman " ucap Boy, agar Evan tidak berfikir buruk, apalagi ada James yang membantu Lolita, Bahkan James membantu Lolita berbaring di kasur pasien.
" tidak perlu repot-repot, dokter " ucap Evan sedikit ketus, apalagi tatapan matanya yang tajam ke arah James, namun James bukanlah termasuk orang yang mudah terprovokasi, dia sibuk menatap Lolita, menghindari kontak mata terhadap Evan, agar tidak terjadi hal yang akan merugikan dirinya
.
" abang pulang dulu yah, dik "
" sudah makan malam, segera istirahat, dan minum obatnya "
" agar tubuh kamu tidak merasakan sakit lagi " ucap James segera beranjak dari kamar rawat inap Lolita
" terimakasih, bang " ucap Lolita sambil tersenyum manis, dengan sedikit melambaikan tangan ke arah James, begitu pula dengan Boy, bahakan James mengacak rambut Boy dengan gemas
Pada saat James menghilang di balik pintu,
Lolita menatap tajam ke arah Evan, Lolita tidak suka cara Evan memperlakukan orang yang telah membantu dirinya, menghibur dirinya, bahkan orang yang menjadi motivator dirinya, Lolita tidak suka Evan melakukan hal buruk kepada James, sedangkan Evan hanya terdiam mendapatkan tatapan tidak suka dari Lolita
" mas " ucap Lolita, yang Evan tahu maknanya Lolita kesal dengan sikap yang Evan tunjukkan kepada James tadi. Boy hendak beranjak meninggalkan Lolita, namun dengan cepat, Lolita meraih lengan Boy dengan tangan kanannya yang tidak terbalut sling, akan tetapi terpasang cairan infus, Boy segera menghentikan langkah kakinya,
" ada apa , Mom ? " ucap Boy dengan lembut
" tetap lah disini, nak "
" temani mommy " ucap Lolita dengan suara yang bergetar menahan takut
" kenapa dengan kamu , Love ? " ucap Evan dengan khawatir
" mas "
" Lolly boleh jujur, Lolly merasa ketakutan "
" Lolly merasa takut dengan mas Evan " ucap Lolita dengan bersembunyi di balik punggung Boy
Deg....
Deg....
.
" A...A...Aku " ucap Evan menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya
" iya " ucap Lolita dengan hati-hati
Evan segera memalingkan tubuhnya, berlawanan arah dari posisi sebelumnya, menahan rasa sakit di relung hati nya mendengarkan ucapan wanita yang sangat dia cintai, kemudian Evan mendekat ke arah Lolita
" kenapa, Love ? "
" kenapa kamu takut dengan aku "
__ADS_1
" apa karena aku menyakiti kamu "
" lagi " ucap Evan dengan nada suara yang sudah bergetar, sedangkan Lolita langsung segera memalingkan wajahnya, tidak mau bersitatap dengan manik mata Evan, Evan paling bisa bermain dengan perasaan Lolita
Padahal perasaan Lolita yang sesungguhnya, Lolita sangat ketakutan akan sikap Evan yang selalu menang sendiri, egois, dan selalu memaksa kehendaknya, tanpa peduli dengan orang lain, meskipun perasaan cinta Evan sangat besar kepada Lolita , akan tetapi sikap posesif Evan terlalu dominan, yang mengikat pasangan nya dan Lolita kelelahan menghadapi sikap Evan yang seperti itu. Jhon segera menepuk pundak Evan untuk menyadarkan Evan
" baiklah "
" mungkin kamu kelelahan "
" makanlah terlebih dahulu "
" Jhon sudah membawakan semua yang kamu suka "
" dan sudah diperbolehkan dokter untuk memakan makanan itu " ucap Evan mencoba mengalihkan pikirannya yang kepalang negatif
" selepas magrib nanti mas ada urusan "
" setelah urusan selesai nanti , mas pasti akan datang kesini lagi " ucap Evan dengan nada suara yang lembut
" tidak usah, mas "
" mas istirahat saja di tempat mas "
" sudah ada Boy yang menemani Lolly"
" Boy sudah dipastikan bisa menjaga Lolly dengan baik " ucap Lolita tanpa menghadap ke arah Evan. Bukan tanpa sebab Lolita kesal dengan Evan, Evan sudah bertindak anarkis kemarin malam , yang berakhir memperparah keadaan Lolita, wajar jika Lolita takut jika Evan akan mengulangi lagi perbuatannya.
Evan menyadari penolakan Lolita, jika dulu Evan selalu memaksakan kehendak nya, saat ini Evan mencoba berdamai dengan keadaan. Dia tahu kesalahannya, mengapa Lolita bersikap seperti ini, karena ulahnya sendiri, kenapa dia baru saja menunjukkan penolakan pada Evan, dia yakin jika mantan isteri nya, masih sangat menghargai orang lain, tidak ingin harga diri mantan suaminya jatuh di hadapan orang lain
" iya "
" baiklah "
" mas akan menginap di mansion Buya "
" Rio pasti akan menanyakan kamu,sayang "
" nanti mas telepon jika sudah sampai di mansion Buya " ucap Evan sembari kembali duduk ke sofa
Azan magrib berkumandang di handphone milik Lolita, karena semua yang menjaga Lolita para lelaki yang bukan muhrim bagi Lolita, dengan terpaksa Lolita meminta bantuan kepada perawat jaga untuk memapah tubuhnya ke kamar mandi, sekalian dia mau buang air kecil. Evan mengajak Lolita dan Boy untuk sholat berjamaah di dalam kamar rawat inap Lolita, tentu saja tanpa Jhon, karena Jhon berbeda keyakinan. Sholat berjamaah dengan mantan isterinya, salah satu hal yang dirindukan oleh Evan, ini sholat berjamaah pertama bagi Evan dan Lolita pasca perceraian, semoga hati Lolita tergugah akan ketulusan Evan saat ini, di dalam benaknya Evan
" Love "
" mas, pulang yah " ucap Evan lembut mencium punggung telapak tangan Lolita yang terpasang jarum infus, kemudian Evan mencium puncak kepala Lolita, dengan pasrah Lolita mengangguk-anggukan kepalanya saja, tubuhnya lemah tidak bisa menolak perlakuan Evan kepada dirinya.
Pada saat Evan mencuri kecupan di dahi , dan pipi Lolita, Lolita tidak memperlihatkan ekspresi bahagia, hanya bersikap datar saja, Jhon melihat itu, tipis harapan Evan mendapatkan Lolita kembali, ucap Jhon didalam batinnya
" Boy "
" Daddy titip Mommy kamu yah, nak " ucap Evan sembari mengelus puncak kepala Boy, Boy menyambut dengan menyalami Evan dengan takzim,
" iya, Daddy " ucap Boy singkat
" Nyonya, permisi " ucap Jhon dengan memberi hormat kepada Lolita
" iya, bang "
" jangan panggil Lolly dengan sebutan nyonya lagi, bang "
" Lolly tidak pantas mendapatkan kehormatan itu." ucap Lolita dengan sopan. Jhon hanya diam saja tanpa mengubris pernyataan Lolita, Evan terdiam saja akan sikap yang ditunjukkan oleh Lolita, dan memang benar adanya, status mereka berdua bukanlah lagi pasangan suami isteri , Jhon masih menyapa Lolita dengan sapaan yang sama , berharap Lolita akan tetap selalu menjadi nyonya Elvano Adinata putra Hamid Atmaja . Evan hanya diam melihat dan mendengarkan interaksi antara Lolita dan Jhon, Evan segera mengucapkan salam dengan perasaan terluka.
Lolita mengikuti anjuran dari dokter, apalagi James secara pribadi menangani Lolita, tentu saja Lolita harus menuruti semua saran James untuk cepat pulih, Lolita memikirkan biaya rumah sakit yang tidak akan murah, dan itu salah satu yang membuat Lolita tidak nyenyak tidur, darimana dia akan membayarkan biaya rumah sakit, sedangkan uang kiriman Evan dimasukkan tabungan beku untuk Rio, dan tabungan untuk biaya pendidikan Rio, begitu pula dengan kiriman dari Bobby. Uang sehari-hari didapatkan dari keuntungan usaha, dengan memikirkan hal itu membuat Lolita tertidur dengan sendirinya, tenggelam dalam pemikirannya sendiri, tanpa sadar jika sang kekasih sudah berada di kamar rawatnya. Bobby memandang wajah kekasihnya dengan cinta
" Dad " ucap Bobby menatap wajah Daddy kandungnya. Ubaidillah Affandy menatap intens wajah wanita yang dicintai anak kandungnya, Lolita yang tertidur tidak menyadari kehadiran tamu di dalam kamarnya,
Ubaidillah Affandy menatap tubuh Lolita dari atas sampai bawah, sungguh Ubaidillah Affandy merasa kasihan kepada Lolita, dengan kondisi kepala yang di perban, lengan nya terpasang sling atau shoulder support,dan kaki yang terbalut gift
" bagaimana keadaannya ? " ucap Ubaidillah Affandy
" belum tahu, Dad "
" besok, akan Obby coba tanyakan lagi dengan dokter yang merawatnya " ucap Bobby dengan sopan
" kamu yakin pilihan kamu ? " ucap Ubaidillah Affandy
" inshaallah "
" Lolly yang terbaik buat Obby , Dad " ucap Bobby dengan serius
" maka perjuangkan "
" semoga dia berjodoh dengan kamu "
" Daddy akan merestui pilihan kamu, selama pilihan kamu itu baik " ucap Ubaidillah Affandy segera beranjak menuju keluar ruangan,
dengan Bobby mengantar sampai ke pintu kamar rawat inap Lolita saja, karena Ubaidillah Affandy menolak untuk di antar sampai keluar rumah sakit
" kamu jaga saja dia " ucap Ubaidillah saat tiba di muara pintu kamar
Bobby sudah mandi dan wangi, menidurkan tubuh nya disamping Lolita, aroma shampoo menyeruak di indera penciuman Lolita
" kenapa kamu bangun "
" Hm " ucap Bobby
" Hm "
" ternyata kamu, bang "
" kapan kamu sampai kesini ? " ucap Lolita tanpa membuka mata nya
" baru saja "
" lumayan lama , habisnya kamu tidur, seperti koala " ucap Bobby menatap wajah Lolita
cup....kecupan mendarat di pipi Lolita
" ih " gumam Lolita, sambil mengerucutkan bibirnya
Cup.....kecupan mendarat di bibir Lolita
" bang " ucap Lolita merengek, dengan suara sedikit terlonjak kaget
.....Shuuuuuuuttttt.......
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒