Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
saya ikhlas


__ADS_3

🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴


Perubahan sikap pada diri Evan , yang cenderung lebih parah dari sikap sebelumnya, membuat Lolita tidak berkutik, seperti saat ini, Lolita hendak ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya karena merasa gerah, dan akan melaksanakan sholat nya, Evan secara posesif ingin ikut kedalam kamar mandi,


drama untuk membersihkan diri berakhir dengan bujuk rayu, seperti yang Lolita lakukan pada anak usia balita, coba bayangkan betapa lelah Lolita menghadapi sikap Evan, sedangkan Jhon yang melihat tingkah Evan turun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" abang Jhon, mau makan apa nih..."


" dan tolong coba tanyakan juga sama bodyguard abang di depan, mereka mau pesan apa....."


"Lolly mau pesan makanan..." ucap Lolita dengan nada sopan


" samakan saja dengan pesanan kalian, nyonya..." sahut Jhon dengan formal


" aku....."


" aku... " ucap Evan dengan manja memeluk tubuh Lolita


" tadi yang pertama ditanyakan mau makan apa..."


" mas Evan, kan..."


" Hm.." ucap Lolita gemas dengan tingkah laku Evan yang kekanakan


" iya yah..."


" habisnya kamu tanya pria lain, sayang..."


" aku kan tidak suka...." ucap Evan dengan gaya khas jika dia merajuk


" tapi abang Jhon dan anak para bodyguard disini kan karena ,mas..."


" tidak boleh begitu, mas..."


" mas harus menghargai orang lain..." ucap Lolita mengingat Evan bagaimana cara bersikap


" maafkan aku, Jhon .."


" aku bersalah kepada kamu..." ucap Evan dengan sopan layaknya Lolita mengajarkan bagaimana cara yang baik meminta maaf dengan orang lain


Jhon tersentuh dengan sikap Evan seperti ini, yang tidak pernah dia lakukan selama ini, malah Evan cenderung cuek dengan segala hal, dengan kejadian menimpa rumah tangga Evan , setidaknya banyak perubahan sikap yang signifikan pada diri Evan


menu makan malam dari rumah sakit tidak di konsumsi oleh Evan karena tidak sesuai dengan minatnya, apalagi mengunakan piring khas rumah sakit, kalau mereka mengatakan ompreng untuk piring berbahan stainless terbaik, yang tingkat kebersihan nya terjamin, namun karena tidak ada menu yang sesuai dengan lidah Evan, tentu saja Evan menolak nya setelah melihat dan mencium aroma yang kurang menurut lidahnya


untung saja mereka di rawat di ruang VIP, jika di ruangan lain, tentu saja Evan harus bersedia makan makanan nyang tersedia di rumah sakit agar dia bisa mengisi perut lapar nya, jika tidak mau, tentu akan di paksa untuk menghabiskan nya


pesanan yang telah di delivery order oleh Lolita telah sampai, security rumah sakit memeriksa barang bawaan kurir, baru boleh melewati pemeriksaan lanjutan, kini pesanan berada di meja nurse station, aroma wangi pesanan tentu menyeruak masuk kedalam indera penciuman


" say, coba kamu lihat logo nya..."


" dimana mereka memesan makanan..." ucap perawat E


perawat F menelan saliva nya dengan susah , sedikit mendelik kedua matanya


" wah..."


" bukan level kita, bro......."


" yang hanya pegawai honorer ini..."


" habis gaji satu bulan, dalam satu hari..." ucap perawat G


" yah..."


" nasib - nasib..."


" yah sudah ..."


" kita pesan serbu saja a.k.a serba sepuluh ribu..."


" titip uang dengan wak nen, singkatan dari uwak senen...." ucap perawat H


" iya, sebentar ,..."


" aku serahkan ini terlebih ahulu dengan keluarga pasien..." ucap perawat L


perawat berjenis kelamin laki-laki itu dengan inisial L , berjalan mendekati ruang rawat inap Evan, dan mengetuknya


" nona..."


" ini dari kurir, katanya anda melakukan pemesanan ..." ucap perawat L


" terimakasih, pak..." ucap Lolita dengan lembut


" nona..."

__ADS_1


" kalau bisa , saya mohon dengan sangat, sebisa mungkin jangan keluar dari ruangan ini, yah nona..."


" pasien dalam ruangan ini mayoritas laki-laki..."


" anda cantik, sangat cantik..."


" saya memperingatkan nona, tidak ada maksud apa-apa, selain untuk mengingatkan nona, resiko, sangat beresiko...."


" pasien pria lebih agresif terhadap lawan jenisnya,.."


" maka nya untuk bangsal pria, mayoritas dijaga perawat laki-laki...."


"maka nya sebelumnya saya katakan, kalau bisa yang jaga tuan Evan laki-laki saja..."


" tapi yah, tuan Evan mau nya anda, nona..."


" jadi mau tidak mau, anda harus bisa tetap berada di dalam ruangan ini, tanpa lalu lalang ke luar ruangan, karena resiko itu, nona..." ucap perawat L


" oh iya..."


" saya yang berterima kasih, pak..."


" sudah diperingatkan sebelumnya..."


" sebisa mungkin, saya mematuhi permintaan dari kalian..." ucap Lolita mengerti permintaan dari perawat jaga yang saat ini sedang berdinas pada jam kerjanya


" oh ,iya , nona...."


" saya mohon dengan anda, agar tidak keluar dari ruangan rawat tuan Evan sampai selesai tuan Evan dirawat disini..."


" bukan kenapa- kenapa..."


" ini murni untuk keselamatan anda, nona..."


" anda cantik, sangat cantik...."


" sedangkan seluruh pasien penghuni bangsal ini, mayoritas laki-laki,...."


" sangat beresiko untuk nona, kami takut akan resiko pelecehan yang akan anda dapatkan dari pasien lainnya, apalagi pasien laki-laki cenderung berperilaku agresif terhadap lawan jenis nya, itu..."


" itu yang kami khawatirkan, nona..."


" saya harap, nona memaklumi permintaan kami dan juga peringatan kami sebelumnya.." ucap perawat L dengan sopan


" oh , iya..."


" terimakasih, pak..."


" sudah diperingatkan..." ucap Lolita tidak kalah sopan dari perawat L


masyaallah, manisnya sikap adik tuan Evan ini...gumam perawat L


" baik, kalau begitu saya permisi..." ucap perawat L


" tunggu, pak .." ucap Lolita menghentikan langkah perawat jaga


" apa yang bisa saya bantu, nona..." ucap perawat L mencoba memberikan servis excellent nya


" ini ..."


" mohon di terima yah, pak..." pinta Lolita sambil menyerahkan dua buah bingkisan ke tangan perawat L


" jangan , nona..."


" maaf...." ucap perawat L, karena dia tidak mau beresiko mendapatkan ceramah agama dari supervisor yang sedang berjaga di shift kerja sore ini


" ambil saja, pak...."


" saya ikhlas..."


" ambil lah...." pinta Lolita


" kami tidak diizinkan untuk menerima apapun dari pasien ataupun keluarga pasien, nona..."


" maaf..." ucap perawat L


" tidak apa-apa..."


" jika kamu kena teguran, nanti saya yang akan mengatakan nya bahwa saya lah yang memaksa kamu..."


" mohon di terima..." ucap Lolita dengan sangat lembut,dan sedikit memaksa


" baik..."


" terima kasih, nona...." ucap perawat L, sembari menuju keluar kamar rawat inap Lolita

__ADS_1


kemudian perawat L menyampaikan kepada para reka sejawatnya, tidak perlu memesan menu makan malam mereka, karena sudah di beri oleh keluarga pasien di kamar rawat inap VIP.A, tentu saja mereka merasa bahagia akan rezeki yang mereka dapatkan


pagi hari,


seperti biasa, perawat pasti akan melaksanakan pekerjaannya , yaitu memeriksa kondisi pasien, menanyakan kepada pihak keluarga bagaimana kondisi pasien terkini untuk di ruangan VIP, jika di ruangan biasa, perawat akan datang ke kamar satu persatu melihat kondisi pasien secara langsung, sebelum melakukan handover,


proses timbang terima pada saat jam pergantian dinas antar shift, begitupun dengan jenis profesi lainnya, yang berkutat di dunia medis


dokter DPJP atau dokter spesialis yang bertanggung jawab dengan kondisi pasien nya selama dalam proses perawatan dalam ruang lingkup rumah sakit, pasti melihat kondisi langsung pasien, dan berkonsultasi dengan pihak keluarga


di sini, dokter berjenis kelamin laki-laki, mengunakan jas putih, ciri khas dari profesi nampak gagah dan berwibawa, dengan kacamata menghiasi wajah tampannya yang sudah cukup berpengalaman dalam hidup,


disini, di ruangan ini, Evan mengutarakan segala hal dalam permasalahan hidupnya, tanpa di tutup- tutupi lagi, atas permintaan Lolita yang duduk diatas pangkuan Evan atas permintaan Evan, sungguh pemandangan yang tidak menyenangkan bagi Jhon dan sang dokter


tapi bagaimana lagi, ada ada saja tingkah pasien, sehingga dokter terbiasa dengan hal- hal absurd yang dilakukan oleh pasien, termasuk Evan, meskipun Lolita menunjukkan wajah malu yang luar biasa akan tingkah Evan seperti ini


Hamid sudah ikut mendengarkan pengakuan dari Evan, bagaimana hidupnya saat bersama Lolita, saat setelah berpisah dari Lolita dan Rio, karena sebelum Lolita mengabarkan jika dokter akan datang untuk visite, Hamid sudah berada di sana,


disini lah tuan Hamid, bersama sang dokter spesialis, menatap tingkah Evan yang luar biasa diluar logika, Hamid malu, kenapa sikap anaknya semakin menjadi- jadi seperti ini


" kalau begitu, kita bahas lagi di ruangan saya, tuan dan nona..."


" akan tidak baik jika di bahas disini..."


" tidak apa-apa kan pak Evan..."


" saya pinjam nona Lolita sebentar..."ucap dokter dengan nada serius namun lembut


" kenapa tidak di sini saja, dokter..." tanya Evan dengan curiga


" dengan anda kan sudah, saya lakukan..."


" sekarang saya harus mengedukasi keluarga tuan...."


" seperti saya lakukan kepada tuan tadi...." pinta dokter dengan nada yang sama


" memang nya saya tidak boleh tahu..."


" dokter..." ucap Evan yang masih tidak terima jika dia harus berpisah dari Lolita


" mas..."


" Lolly juga mau melakukan sesi konseling seperti mas lakukan,..." ucap Lolita


" katakan saja disini, seperti yang aku lakukan tadi.."


" tidak ada yang aku tutupi kan Lolly..."


" karena kamu lah hidupku, cahaya ku, surgaku, dunia ku..." ucap Evan masih tidak terima, bahkan nampak kegelisahan dalam tingkahnya


mau tidak mau, Lolita harus menenangkan Evan dengan memeluk tubuh evan di hadapan Hamid, dokter, bahkan Jhon, seolah-olah dunia hanya lah milik mereka berdua


" mas..."


" please..."


" jangan seperti ini,..."


" Lolly butuh waktu mengantarkan dokter dan Daddy untuk berbicara private,..."


" boleh yah, mas...." ucap Lolita sambil mengelus- elus dada Evan seperti selama ini yang dia lakukan untuk menenangkan Evan yang sedang kalut


" baiklah..."


" jangan terlalu lama..."


" aku akan mencari kamu..." ucap Evan


" nanti mas bisa telepon Lolly, kan..." ucap Lolita


yang mendapatkan anggukan kepala dari Evan, padahal handphone Lolita habis baterai , masih di charge di nurse station


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


🍒🍒


__ADS_2