
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Selama dalam perjalanan menuju ke kantor, Evan masih merasakan rasa yang tidak nyaman di dalam dirinya, namun entah kenapa yang membuat nya seperti itu. Bahkan pada saat Evan berjalan melewati para karyawan nya Evan memberikan raut wajah yang tidak bisa diartikan oleh para karyawan Evan, walaupun biasanya Evan memang tidak memberikan senyuman ramah seperti umumnya atasan terhadap karyawan, setidaknya Evan mengangkat tangan kanannya membalas sapaan para karyawan, minimal tatapan mata, terhadap orang yang menyapa Evan, kali ini ekspresi wajah Evan begitu datar tanpa memberikan reaksi apapun.
Bahkan saat Diki yang sudah mengetuk pintu, dan berdiri di hadapan Evan, Evan masih tidak bergeming dari lamunannya
" Tuan "
" Tuan " ucap Diki mencoba membangunkan Evan dari lamunannya
" Astagfirullah Allazim " ucap Evan terkejut melihat Jhon yang berada di hadapannya
" maaf tuan "
" dari tadi saya ketuk pintu tuan "
" tidak ada sambutan " ucap Diki dengan sopan
" tidak apa- apa , Diki " ucap Evan, membaca kembali berkas dokumen yang ada di depannya
" kamu baik-baik saja , tuan " ucap Diki dengan penasaran
" lumayan " ucap Evan dengan singkat
" Tuan "
" setelah makan siang "
" akan ada pertemuan dengan klien ABC, Co , di hotel P di jalan B " ucap Diki mengingatkan Evan agenda yang harus di penuhi Evan,sesuai urutan schedule yang telah di persiapkan sehari sebelumnya
." baik "
" terima kasih, Jhon " ucap Evan
" tunggu, Diki " ucap Evan sedikit menaikkan nada suaranya
" iya ,tuan " ucap Diki segera membalikkan tubuhnya,padahal dia sudah mulai beranjak pergi menuju pintu keluar
" pernahkah kamu merasakan sesuatu yang aneh pada diri kamu? "
" seperti merasakan tidak nyaman "
" cemas, dan khawatir, "
" aneh ,gitu "
" tidak tahu tidak nyaman karena apa, dan cemas karena apa, serta khawatir tentang apa, seperti itu "
" dan itu membuat kamu terus memikirkan hal itu " ucap Evan
Diki mencoba memahami pertanyaan dari Evan, Diki mencoba menyelami perasaannya Evan, sehingga suasana tiba-tiba hening, Evan menanti jawaban dari Diki selama kurang lebih dua puluh detik ,
" bagaimana ? " ucap Evan dengan raut wajah serius
" pernah " ucap Diki dengan singkat
" kapan ? " ucap Evan dengan serius
" akhir bulan " ucap Diki dengan memperlihatkan barisan gigi putih nya
" semprul " ucap Evan sambil melempar pena kearah Jhon, Evan tidak terima dengan jawaban Diki atas hal yang dia pertanyaan dengan serius
" aku serius ,Diki "
" aku merasakan sesak dan nyeri pada dada ''
" sejak semalaman aku merasakan tidak nyaman, bahkan sangking tidak nyaman nya tidur aku semalam terganggu "
" seperti sesuatu yang buruk terjadi, tapi tidak ada "
" entah lah "
" aku tidak mengerti " ucap Evan
" kita panggil dokter saja, tuan "
" siapa tahu anda sedang ada masalah "
" dengan pada bagian jantung anda,tuan " ucap Diki yang mencemaskan keadaan Evan, karena Evan menyebutkan sesak dan nyeri pada dada
" terserah kamu "
" kamu sudah mempersiapkan materi untuk menemui klien kita ? " ucap Evan dengan wajah tidak nyaman
" baik "
" sudah "
" saya akan membuat janji dengan dokter keluarga Atmadja "
" Hm "
" sekalian di hotel P, saja tuan "
" untuk menghemat waktu " ucap Diki, sambil mengetik ke iPad nya. Evan hanya mengangguk- anggukan kepala,dengan gerakan merapikan meja kerja nya, karena sebentar lagi mereka akan melakukan pertemuan sesuai dengan janji sebelumnya
Diki segera melakukan hal yang sama , mempersiapkan diri dan beberapa file untuk di perlihatkan kepada klien Evan yang akan bekerjasama.
✓
✓
" apa keluhan kamu , Van ? " ucap dokter Idham kepada Evan
" di bagian dada aku "
" aku merasakan tidak nyaman , nyeri, dan sesak , dokter " ucap Evan dengan frustasi
__ADS_1
mendengarkan keluhan pasien nya saat ini, , tanpa menunggu lama dokter Idham segera melakukan tindakan medis yang dibutuhkan,dari mengecek nadi,vital sign lainnya,...
" semua baik,Van "
" denyut nadi, irama jantung baik "
" tekanan darah juga baik, bahkan kadar oksigen dalam darah kamu juga baik "
" tidak ada masalah "
"" namun jika keluhannya masih berlanjut "
" lebih baik kamu segera datang ke rumah sakit untuk memeriksa secara keseluruhan "
" segera melakukan medical check up, Van " ucap dokter Idham memberikan penjelasan cukup lugas
" penyakit dari keluhan saya ini apa,dokter ? "
" sungguh saya merasa tidak nyaman " ucap Evan dengan frustasi
" bagaimana dengan pola tidur malam kamu, Van ? " ucap dokter
" tidak baik "
" karena aku gelisah, dan tidak nyaman tadi, membuat tidur aku terganggu " ucap Evan
" apa kamu memiliki masalah yang kamu pikirkan dengan serius ? " ucap dokter
" tidak ada "
" hanya terkadang yah masih terbesit sesal "
" masih wajar lah " ucap Evan
" Van "
" kamu sudah menghubungi anak kamu ? " ucap dokter Idham hati - hati.
dokter Idham,adalah dokter keluarga Hamid Atmadja,yang sudah bekerja bertahun- tahun untuk keluarga Atmadja,sedikit banyak masalah pribadi keluarga itu pun dia mengetahui
" maaf "
" jika saya lancang, Van " ucap dokter Idham lagi
Deg...
Deg...
Deg...
detak jantung Evan serasa berdetak semakin kencang,...
" Astagfirullah Allazim " ucap Evan
" biasanya seorang ayah atau ibu "
" pasti nya begitu "
" Hm "
" ikatan batin seorang anak kepada orang tua ataupun sebaliknya "
" meski tidak tertulis spesifik di beberapa literatur ataupun jurnal kesehatan "
" tapi bonding atau ikatan ,sudah pasti ada diantara ibu dan anak, ayah dan anak, atau anak kepada orang tua nya " ucap dokter Idham
" terima kasih dokter "
" aku melewatkan hal itu "
" dan tidak pernah terpikirkan oleh aku sebelumnya "
" mungkin terjadi sesuatu kepada anakku yang tidak aku ketahui " ucap Evan
Setelah selesai melakukan pemeriksaan,dokter Idham segera pergi meninggalkan Evan di salah satu kamar hotel, dan Evan segera men dial contact person anaknya, yang terdapat foto ganteng Rio, diberi nya nama My Dear Rio,contact penting dalam handphonenya Evan.
My Lovely, untuk mantan isteri nya, dan masih tersimpan di daftar panggilan cepat
Bahkan di wallpaper handphone Evan menampilkan foto mantan isterinya dan Rio, yang sedang tersenyum bahagia , itulah yang menjadi penyemangat hidup bagi Evan, cukup memandangi wajah orang terkasih bagi Evan, sudah membuat Evan sangat merasa bahagia sekaligus merasa sedih.
Sambungan telepon seluler di handphone Evan tidak ada jawaban dari sang anak,sudah berkali-kali Evan terus mencoba men dial contact Rio, tetap saja panggilan dialihkan , yang terdengar hanyalah suara dari sang operator
Tok....Tok....Tok...suara ketukan di pintu kamar hotel Evan di ketuk
" tuan "
" tuan Edmund dari perusahaan ABC, Co"
" sudah berada di lobby hotel " ucap Diki dengan sopan
" baik "
" ayo, kita harus segera menemui beliau " ucap Evan sembari mengenakan jas nya kembali, merapikan dasi, dan merapikan penampilan nya agar terlihat baik, walaupun di dalam perasaannya Evan masih diliputi gundah gulana. Akan tetapi pertemuan hari ini membahas bisnis penting mengenai kontrak kerjasama dengan perusahaan besar, yang memiliki value, yang tentunya akan menaikkan level perusahaan Evan,
Waktu dan tenaga Evan dihabiskan untuk meningkatkan nilai perusahaan, meningkatkan properti- properti yang di milikinya, untuk dia berikan kepada Rio dan Lolita, Evan tidak mau terulang kembali, dimana semua aset-aset kekayaan yang dimiliki oleh Evan habis begitu saja. Oleh karena itu Evan mengumpulkan kembali hasil usaha, membangun kerajaan bisnis, memupuk aset-aset berharga miliknya untuk diberikan kepada Lolita, hanya inilah upaya Evan bisa kembali rujuk dengan Lolita, karena menurut Evan, dia masih memiliki kesempatan untuk itu.
Perbincangan kerjasama berjalan baik, kontrak kerjasama masih harus di revisi ulang,untuk memenuhi point - points tambahan,sesuai permintaan kedua belah pihak, dan telah disepakati pertemuan selanjutnya,dengan agenda penandatanganan kontrak kerjasama di negara N
pukul.20.00 wib...
Evan masih mencoba menghubungi Rio dan Lolita, akan tetapi tetap tidak ada balasan dari kedua nomor yang dihubungi Evan. Evan mengurutkan dahinya,sejenak berfikir kemana Rio ? , apa yang terjadi kepada mereka ?, dan lain sebagainya begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam otak nya. Meskipun berkali- kali tidak ada jawaban, Evan masih mencoba untuk ber positif thinking, walaupun tidak dapat dipungkiri terkadang terbesit pikiran buruk di dalam pikirannya
Masih ada satu kontak telepon seluler yang bisa Evan hubungi , namun Evan cukup tahu diri, Evan merasa malu hanya sekedar untuk berbicara dengan Asha, karena Asha cukup mengenal Evan, begitupun sebaliknya, apalagi sejak perceraian Evan dan Lolita, Evan tidak pernah menghubungi Asha sama sekali, secara tiba-tiba Evan menelfon Asha, apa kata dunia ,di dalam batinnya Evan. Oleh karena itu Evan mengurungkan niatnya untuk men-dial kontak Asha
Yang Evan lakukan saat ini hanya mencoba positif thinking saja, siapa tahu handphone Rio dan Lolita habis baterai, atau mereka meninggalkan handphone nya di rumah, karena Evan sangat tahu betul kebiasaan Lolita yang sedikit ceroboh meletakkan barang- barang berharga, dan penting miliknya , Oleh karena itu Evan segera membersihkan tubuhnya, menguyur tubuhnya dengan air,dan mulai membasuhnya dengan wudhu dan sholat.
Setelah menyelesaikan ibadah sholat nya, Evan baru merasakan lapar , dengan cepat Evan beranjak dari sajadah,menuju area dapur untuk mengisi makanan ke dalam tubuhnya
__ADS_1
" kamu mau makan , Van ? " ucap Zubaidah
" iya, Mom " ucap Evan dengan singkat
Zubaidah menemani anak laki-lakinya di meja makan,sembari memperhatikan tingkah anaknya
" sini, Mommy saja yang membereskan sisa nya "
" kamu tidur sana gih " ucap Zubaidah
" biar Evan saja , Mom " ucap Evan , sambil memberikan ibunya senyuman di wajah tampannya, dengan cekatan Evan membereskan semua yang tersaji di atas meja,dan mencuci piring yang telah dipakai nya tadi
Kini Evan memilih duduk di sofa yang berada di ruang keluarga, membuka channel televisi , sembari menunggu dirinya mengantuk
" kamu kenapa, nak ? " ucap Zubaidah dengan sedikit serius
" perasaan Evan tidak enak , Mom "
" meski Evan sudah melakukan semua saran- saran dari Mommy "
" Evan masih merasa...."
" dan Evan takut terjadi sesuatu kepada lolly dan Rio " ucap Evan dengan frustasi
" kamu sudah menghubungi , Rio ? "
" atau Lolly ? " ucap Zubaidah dengan serius
" sudah, Mom "
" akan tetapi tidak ada jawaban "
" itulah yang menambah kekhawatiran Evan, Mom " ucap Evan dengan mengernyitkan dahinya, sedangkan Zubaidah yang mendengarkan penuturan dari Evan ,ikut merasakan kegundahan pada hatinya. Apakah yang di khawatirkan oleh Evan ada benarnya, apalagi Evan memiliki insting yang kuat terhadap orang yang dia sayangi, mungkin benar terjadi sesuatu kepada cucu dan mantan menantu nya
" Mom "
" Mommy " ucap Hamid , memanggil isteri tercinta. Hamid berjalan terus hingga mendekati ruang keluarga
" looh "
" kalian belum pada tidur ? "
" memang sedang membahas apa ? "
" serius sekali "
" sudah malam loh " ucap Hamid dengan penasaran, rasa ingin tahu Hamid cukup besar, mereka membahas apa, dalam batinnya Hamid
" Dad "
" bagaimana nih "
" Rio, Daddy " ucap Zubaidah sudah merubah nada bicara nya sedikit gemetar pertanda dia gugup. Hamid terkejut dengan apa yang menjadi penuturan sang isteri. Sedangkan Evan mulai menceritakan kegelisahan yang dia rasakan sejak semalaman ,dan bagaimana saran dari dokter Idham
" Van "
" kalau sampai malam ini Lolly masih tidak bisa di hubungi "
" dan Rio juga sama,artinya mereka pasti mengalami sesuatu "
" semoga itu bukan hal yang buruk " ucap Hamid dengan serius. Hamid bahkan menghelakan nafasnya sembari mengucapkan kalimat-kalimat istighfar
" bergegas lah "
" lihat keadaan mereka , supaya kita tahu kepastiannya "
" penerbangan malam ini sudah tidak mungkin ada lagi "
" kamu berangkat ke J besok pagi "
" Daddy juga akan meminta Buya untuk melihat keadaan mereka, besok " ucap Hamid memberikan saran
" Evan sudah pesan online tadi, Dad "
" sebelum Evan pulang ke mansion " ucap Evan
" mommy, akan membantu kamu untuk berkemas, Van " ucap Zubaidah
" tidak perlu Mommy "
" Evan bisa berkemas sendiri saja "
" hanya sedikit yang Evan bawa " ucap Evan
" Hm "
" Evan boleh balik ke kamar"
" Mom "
" Dad " ucap Evan segera beranjak berdiri dari posisi sebelumnya. Hamid dan Zubaidah mengangguk- anggukan kepalanya,
*
*
*
*
*
*
*
🍒🍒
__ADS_1